TITELIC HEAD COACH

Tiga Teladan Incubator

Find Out More Awards and Achievements

My Services

Brand Ambassador

Duta Baca DKI Jakarta

Read More

Researcher

Freelance Researcher

Read More

Tutor

Tunas Teladan College (TTC)

Read More

Head Coach

Tiga Teladan Incubator (TITELIC)

Read More

My Blog

Thursday, September 29, 2016

Stop Merokok

Lembaga tembakau dunia, The Tobacco Atlas, memperkirakan bahwa 84% perokok sedunia hidup di negara-negara berkembang. Sebanyak 50% total konsumsi rokok dunia dimiliki Amerika Serikat, China, Jepang, Rusia, dan Indonesia. Lembaga tersebut juga mencatat bahwa ada lebih dari 10 juta batang rokok dihisap setiap menit.

Menurut World Health Organization (WHO), Indonesia menempati urutan ketiga jumlah perokok terbanyak dengan jumlah perokok aktif sebanyak 146.876.000 jiwa. Sebanyak 75% dari jumlah perokok tersebut merupakan masyarakat menengah bawah yang memiliki pendapatan rata-rata Rp 39.038 per hari, dimana rokok merupakan konsumsi kedua mereka setelah beras (BPS, 2014).

Di Indonesia, industri rokok sangat maju serta memiliki andil sebesar 1,66% terhadap GDP, dan berkontribusi bagi devisa negara melalui ekspor sebesar $700 juta pada tahun 2014 (Harian Republika, 1 November 2015). Selain itu rokok juga memiliki kontribusi yang cukup besar bagi pemasukan negara, berupa penerimaan negara dari sektor bea dan cukai tahun 2013 yang tercatat sebesar Rp 108,45 triliun (pajak.go.id). Namun, apabila cukai rokok naik maka akan muncu lbanyak masalah seperti pemutusan hubungan kerja terhadap ribuan buruh-buruh pabrik dan petani tembakau, yang tentu akan menyebabkan penurunan pendapatan nasional dan tingkat kesehateraan masyarakat Indonesia.

Selain dampak yang ditimbulkan secara ekonomi, rokok juga dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap kesehatan yang serius dan dapat menimbulkan kematian. Di tengah eksternalitas negatif akibat rokok, perusahaan rokok memberikan kompensasi kepada kegiatan yang positif, terutama menjadi sponsor bidang pendidikan dan olahraga. Tetapi keuntungan yang didapatkan dari kompensasi tersebut diduga lebih besar dari biaya promosi dan produksi yang dikeluarkan melalui iklan rokok.

Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis eksternalitas positif dan negatif dari produk dan turunan rokok. Berdasarkan data dari berbagai sumber terkait tembakau dan output yang diproduksi, dapat diketahui sebagai berikut: 

Eksternalitas Positif:

→ Pada tahun 2014, industri rokok di Indonesia berkontribusi 1,66% terhadap GDP; Devisa negara yang dihasilkanmelalui ekspor sebesar $700 juta (Harian Republika, 1 November 2015).

→ Penerimaan negara dari sektor bea dan cukai tahun 2013 yang tercatat sebesar Rp 108,45 triliun (pajak.go.id).

Eksternalitas Negatif:

→ Cost konsumsi tembakau yang meliputi biaya langsung di tingkat rumah tangga dan biaya tidak langsung karena hilangnya produktivitas akibat kematian dini, sakit, dan kecacatan adalah $18,5 Milyar atau Rp167,1 Triliun (Kosen. S, 2007).

→ Risiko kanker paru 7,8 kali lebih besar rokok dibandingkan dengan bukan perokok; Merokok dapat meningkatkan risiko impotensi sampai dengan 50%; dan25.000 kematian di Indonesia terjadi karena asap rokok orang lain (Riset Kesehatan Dasar 2013).

→ Penduduk usia lebih dari 10 tahun yang tiap hari merokok sama dengan 48.400.332 jiwa dikali Rp 12.500 (Harga 12 batang rokok kretek) = Rp 605.004.150 (Kemenkes 2015).


Kesimpulan

Bagi para pegawai (di pabrik dan perusahaan rokok) yang menyadari bahaya rokok disarankan untuk mencari pekerjaan lain, atau (jika suatu saat kinerja perusahaan rokok turun dan kemudian dipecat) tidak bekerja pada perindustrian rokok lagi. Prinsipnya, kita tidak boleh memulai memberi dampak buruk pada orang lain (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3/77, Al Baihaqi 6/69, Al Hakim 2/66) -- Kita tidak boleh tolong-menolong dalam keburukan (QS. Al Maidah: 2), dan upahnya pun diharamkan (HR. Ahmad 1/293).

Sebaiknya masyarakat menghindari rokok, karena rokok berbahaya bagi tubuh dan merugikan, tidak sesuai dengan perintah Allah (QS. An Nisaa: 29), dan mengganggu orang lain yang tidak merokok (HR. Muslim no. 564).

Tuesday, September 27, 2016

Mendung di Headquarters

MENDUNG DI HEADQUARTERS

(Sebuah Kritik No Mention: Deskripsi dengan Pengembangan Observasi Menurut Spasi dan Waktu)

Pukul empat lewat tiga puluh menit, suatu mendung yang nyaman di Headquarters (HQ) Tiga Teladan Incubator (TITELIC). Matahari yang sudah condong jauh ke barat masih memancarkan sisa cahaya melalui sela-sela daun jambu dan lengkeng tepat di hadapanku. Pancaran cahaya yang biasanya setia menemani di siang hari bulan September ini, sekarang terasa meredup dan dingin, rasanya seperti lilin yang mengecil ketika mati lampu saat hujan turun.

Pada saat seperti sekarang ini, kebanyakan siswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Yang masih tersisa adalah yang tinggal di rumah petak (yang memang terletak di dalam sekolah), atau para siswa yang berada di lapangan dan atau di sekitar lapangan, plus beberapa anak TITELIC yang masih mengikuti coaching. Selasa pekan ini, tak terdengar lagi suara genjrengan gendang nyaring yang biasa dimainkan beberapa siswa ekskul Saman.

Kantin sehat SMA 3, yang hanya beberapa langkah dari HQ ke arah kanan, yang dari istirahat pertama tidak pernah sepi karena banyaknya siswa yang kelaparan ataupun kekenyangan datang dan pergi, kini hanya kelihatan beberapa batang hidung saja. Yang terlihat pun kalau bukan siswa yang telah bergulat di lapangan, tentulah salah seorang penjual makanan dan kroni-kroninya, yang walaupun terlihat lelah, mulai bersih-bersih dengan ekspresi seadanya karena mungkin uang yang masuk belum mencapai target.

Di sekelilingku, yang jelas terdengar adalah gemerisik sapu dan alat pel Pak Ganda, petugas kebersihan Gedung Barat, menyapu kelas dan peralatan dengan leluasa, tanpa terhalang lalu lalang seenaknya para siswa dan guru, yang sebagian dari mereka sering merasa menjadi penguasa di sini. Lapangan basket yang terletak tepat di hadapan HQ di sebelah kanan mulai dimanfaatkan beberapa anak pekarya dan penjual makanan, menghabiskan waktu menunggu malam.

Burung-burung gereja beterbangan di antara dedaunan pohon jambu dan pohon daun lengkeng. Sesekali terdengan siulan mereka, di sela-sela suara teriakan siswa yang ada di lapangan, suara kipas angin yang berputar di atas dan suara-suara lain yang kadang sulit diidentifikasi dari mana asalnya. Pak Ganda telah selesai membersihkan pelataran Gedung Barat. Matahari pun sudah hampir hilang di balik atap Gedung Perpustakaan Teladan 82 di hadapanku. Sebentar lagi tempat ini akan diisi oleh suara azan yang merdu – Tidak lama. Satpam yang bertugas kelihatan bersiap-siap akan pulang sambil cek situasi dan mengusir orang-orang tertentu.

Pukul enam nanti gerbang sekolah akan ditutup, semuanya akan pulang. Para penjual makanan akan berkumpul dengan keluarga mereka, beristirahat, bercengkrama, atau menyiapkan barang dagangan untuk besok. Aku pun harus bergegas beranjak dari HQ ke rumah untuk revisi paper anak bimbingan untuk lomba OIS FISIP UI dan NE FKM UI. Sementara itu, sekolahku (termasuk HQ) tertidur lelap sepanjang malam, mengumpulkan tenaga untuk menghadapi tingkah polah para “penguasa” sekolah ini yang dari hari ke hari makin sulit ditebak jalan pikirannya.

Setelah lelap dalam buaian mimpi dan angan, HQ akan bangun lagi esok paginya – lalu tidur lagi – bangun lagi – at least sampai akhir bulan Desember 2016. Setelah Desember? Kemungkinan HQ di Gedung Barat akan mendung berkepanjangan dan akan ditelan ke dalam pusaran blackhole, yang bisa jadi membatasi ruang gerak Titelic. Titelic tanpa HQ? Ibarat melihat tanpa mata, mendengar tanpa telinga, bernafas tanpa hidung, memegang tanpa tangan, dan berjalan tanpa kaki.

Monday, August 10, 2015

Infografis PPDB SMA Negeri Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015

Kelas X MIA C, SMAN 3 Jkt Tahun 2015
Meski bonus demografi menjadi peluang emas untuk Indonesia, sejumlah permasalahan SDM terus mengurangi daya saing bangsa. Fakta ini dapat dilihat dari ketidaksiapan, bahkan ketakutan banyak pihak dalam menghadapi pasar bebas ASEAN -- Generasi milenium (kelahiran tahun 2000, dst) yang saat ini mulai memasuki kelas X SMA, dalam kurun waktu empat hingga tujuh tahun ke depan akan mengisi berbagai macam pos pekerjaan, termasuk bersaing dengan SDM asing. Oleh karena itu, tensi persaingan (yang positif) harus mulai dijadikan budaya sedini mungkin.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Persaingan untuk masuk ke SMA Negeri di Jakarta pada tahun 2015 sangat tinggi. Dari keseluruhan siswa SMP/sederajat yang mengikuti UN di DKI Jakarta, yang dapat melanjutkan ke SMA Negeri di DKI Jakarta hanya 21% saja. Sebagian besar siswa lainnya melanjutkan ke SMK, MA, dll yang sederajat, baik negeri maupun swasta.  Belum lagi termasuk siswa yang belum/tidak melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi dan kendala lainnya.




- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Pada tahun 2015, jumlah siswa yang diterima di SMA Negeri paling banyak berasal dari kotamadya Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Sementara itu, dari empat jalur masuk, jalur lokal tahap 2 mendominasi penerimaan siswa baru SMA (hampir 60%).


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Dari keseluruhan jalur masuk (tahap 1 s.d 4), jika tiap kotamadya di komparasi berdasarkan banyaknya siswa di tiap jurusan (MIA, IIS, dan IIB),  maka dapat diketahui hanya di Jakarta Utara yang sebagian besar siswanya memilih jurusan sosial (IIS).


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Setelah melakukan kalkulasi dari penerimaan PPDB tahun 2015 (tahap 1 umum, tahap 2 lokal, tahap 3 umum, dan jalur prestasi), dapat diketahui peringkat 1 s.d 114 SMA Negeri di Jakarta. 

Hasil peringkat di atas tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan statistik tahun lalu (2014). Leading school tiap kotamadya diraih oleh:
  • Jakarta Selatan: SMA 8 (peringkat 1)
  • Jakarta Timur: SMA 81 (peringkat 3)
  • Jakarta Pusat: SMA 68 (peringkat 7)
  • Jakarta Barat: SMA 78 (peringkat 8)
  • Jakarta Utara: SMA 13 (peringkat 28)

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Peringkat agregat dikalkulasi dengan melihat skor akhir tiap sekolah setelah diberi pembobotan. Bobot yang diberikan sebagai berikut: (1) jalur 1 tahap umum 40%; (2) jalur tahap 2 lokal 57%; (3) jalur tahap 3 umum 2%; dan (4) jalur prestasi 1%.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Dilihat dari persentase jalur masuk, dapat dianalisis bahwa makin tinggi persentase penerimaan melalui tahap 1 umum, makin tinggi daya saing siswa terhadap sekolah tersebut.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Top rank SMA Negeri di Jakarta fokus atau melakukan spesialisasi pada jurusan science (MIA). Ketika lulus dari SMA, sewajarnya siswa dari jurusan MIA melanjutkan kuliah pada jurusan IPA agar terdapat kesinambungan dalam upaya meningkatkan scientist di Indonesia.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Dalam sistem PPDB, siswa SMP diperbolehkan memilih tiga SMA Negeri. Dari data pilihan ke-1 di tiap sekolah, dapat diketahui bahwa makin tinggi persentase pada tiap tahapan, makin tinggi faktor kesukaan (favorit) terhadap sekolah tersebut.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Dari data top rank, tiap SMA yang unggul memiliki input yang unik, yang berasal dari SMP tertentu di tiap wilayah. Dari hasil olah data, terdapat delapan SMP yang unggul dan bisa dijadikan rekomendasi untuk dipilih sebagai tempat belajar, yaitu: SMP 115, SMP 41, SMP 255, SMP 49, SMP 85, SMP 216, SMP 111, dan SMP 161.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Input bukan segalanya, tetapi input yang baik (dan unggul) akan menjadi pembeda kualitas suatu sekolah. SMP 115 memberikan kontribusi besar terhadap SMA 8. Maka itu, pembahasan spesifik terkait Semabels akan menjadi kajian yang menarik.

Dari keseluruhan siswa SMP 115 yang melanjutkan ke SMA Negeri, sebagian besar mereka diterima melalui jalur lokal (65%). Persebaran anak semabels setelah lulus masih banyak di regional Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Fakta unik lainnya, tidak ada satu orang pun lulusan semabels yang melanjutkan SMA Negeri di kawasan Jakarta Barat .


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

SMA 8, hingga saat ini masih menjadi sekolah negeri yang unggul jika dibandingkan secara relatif dengan sekolah lainnya. Sebagian besar siswa SMA 8 merupakan "hasil bedol desa" dari SMP 115. Selain SMA 8, terdapat dua sekolah yang mendapatkan "berkah" karena dipilih oleh sebagian besar siswa SMP 115, yaitu SMA 26 dan SMA 3.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Infografis ini merupakan kelanjutan dari artikel:
  1. SMA Negeri di Jakarta Dalam Statistik 2014: Panduan Memilih Sekolah Tahun 2015
  2. Pola Spasial SMA Negeri Unggulan di Jakarta
  3. Masihkah Tiga Teladan Masuk Kategori SMA Favorit di Jakarta?

Infografis ini dipersembahkan untuk:
  1. Almamater-ku; keluarga besar SMP Negeri 115 Jakarta dan SMA Negeri 3 Jakarta
  2. seluruh anak bimbingan Tiga Teladan Incubator (Titelic) dan murid dari berbagai SMA di Jakarta -- mulai dari tahun 2007 hingga saat ini
  3. semua guru dan kepala sekolah SMA Negeri di Jakarta
  4. rekan bimbingan belajar dan lembaga privat (dimana pun saya pernah mengajar)
  5. pengamat dan pemerhati pendidikan
  6. pemda DKI, terkait dengan regulasi dan kebijakan terkait pendidikan
  7. siapapun yang ingin "nostalgia" untuk mengetahui perkembangan terkini tentang sekolah (SMA) tempat dahulu mereka pernah belajar
  8. the last, yang terpenting untuk mereka... anak kelas IX SMP (dan orang tua/wali murid), yang pada tahun 2016 akan menghadapi ketatnya persaingan masuk ke SMA Negeri.

New Entry

20 Competition
National Level: 11x
90.00 Win Rate (%)
Average Trophy per Year: 3
18 Trophy
National Trophy: 7

My Team

Dedy Arfiansyah
Head Coach
Putri Mei Saimima
1st Assistant Coach
Muhammad Jihad
2nd Assistant Coach
Luthfi Ferdian
3rd Assistant Coach

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2018, October)
Britney Spears - I Wanna Go