TITELIC HEAD COACH

Tiga Teladan Incubator

Find Out More Awards and Achievements

My Services

Brand Ambassador

Duta Baca DKI Jakarta

Read More

Researcher

Freelance Researcher

Read More

Tutor

Tunas Teladan College (TTC)

Read More

Head Coach

Tiga Teladan Incubator (TITELIC)

Read More

My Blog

Tuesday, September 27, 2016

Mendung di Headquarters

MENDUNG DI HEADQUARTERS

(Sebuah Kritik No Mention: Deskripsi dengan Pengembangan Observasi Menurut Spasi dan Waktu)

Pukul empat lewat tiga puluh menit, suatu mendung yang nyaman di Headquarters (HQ) Tiga Teladan Incubator (TITELIC). Matahari yang sudah condong jauh ke barat masih memancarkan sisa cahaya melalui sela-sela daun jambu dan lengkeng tepat di hadapanku. Pancaran cahaya yang biasanya setia menemani di siang hari bulan September ini, sekarang terasa meredup dan dingin, rasanya seperti lilin yang mengecil ketika mati lampu saat hujan turun.

Pada saat seperti sekarang ini, kebanyakan siswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Yang masih tersisa adalah yang tinggal di rumah petak (yang memang terletak di dalam sekolah), atau para siswa yang berada di lapangan dan atau di sekitar lapangan, plus beberapa anak TITELIC yang masih mengikuti coaching. Selasa pekan ini, tak terdengar lagi suara genjrengan gendang nyaring yang biasa dimainkan beberapa siswa ekskul Saman.

Kantin sehat SMA 3, yang hanya beberapa langkah dari HQ ke arah kanan, yang dari istirahat pertama tidak pernah sepi karena banyaknya siswa yang kelaparan ataupun kekenyangan datang dan pergi, kini hanya kelihatan beberapa batang hidung saja. Yang terlihat pun kalau bukan siswa yang telah bergulat di lapangan, tentulah salah seorang penjual makanan dan kroni-kroninya, yang walaupun terlihat lelah, mulai bersih-bersih dengan ekspresi seadanya karena mungkin uang yang masuk belum mencapai target.

Di sekelilingku, yang jelas terdengar adalah gemerisik sapu dan alat pel Pak Ganda, petugas kebersihan Gedung Barat, menyapu kelas dan peralatan dengan leluasa, tanpa terhalang lalu lalang seenaknya para siswa dan guru, yang sebagian dari mereka sering merasa menjadi penguasa di sini. Lapangan basket yang terletak tepat di hadapan HQ di sebelah kanan mulai dimanfaatkan beberapa anak pekarya dan penjual makanan, menghabiskan waktu menunggu malam.

Burung-burung gereja beterbangan di antara dedaunan pohon jambu dan pohon daun lengkeng. Sesekali terdengan siulan mereka, di sela-sela suara teriakan siswa yang ada di lapangan, suara kipas angin yang berputar di atas dan suara-suara lain yang kadang sulit diidentifikasi dari mana asalnya. Pak Ganda telah selesai membersihkan pelataran Gedung Barat. Matahari pun sudah hampir hilang di balik atap Gedung Perpustakaan Teladan 82 di hadapanku. Sebentar lagi tempat ini akan diisi oleh suara azan yang merdu – Tidak lama. Satpam yang bertugas kelihatan bersiap-siap akan pulang sambil cek situasi dan mengusir orang-orang tertentu.

Pukul enam nanti gerbang sekolah akan ditutup, semuanya akan pulang. Para penjual makanan akan berkumpul dengan keluarga mereka, beristirahat, bercengkrama, atau menyiapkan barang dagangan untuk besok. Aku pun harus bergegas beranjak dari HQ ke rumah untuk revisi paper anak bimbingan untuk lomba OIS FISIP UI dan NE FKM UI. Sementara itu, sekolahku (termasuk HQ) tertidur lelap sepanjang malam, mengumpulkan tenaga untuk menghadapi tingkah polah para “penguasa” sekolah ini yang dari hari ke hari makin sulit ditebak jalan pikirannya.

Setelah lelap dalam buaian mimpi dan angan, HQ akan bangun lagi esok paginya – lalu tidur lagi – bangun lagi – at least sampai akhir bulan Desember 2016. Setelah Desember? Kemungkinan HQ di Gedung Barat akan mendung berkepanjangan dan akan ditelan ke dalam pusaran blackhole, yang bisa jadi membatasi ruang gerak Titelic. Titelic tanpa HQ? Ibarat melihat tanpa mata, mendengar tanpa telinga, bernafas tanpa hidung, memegang tanpa tangan, dan berjalan tanpa kaki.

Monday, August 10, 2015

Infografis PPDB SMA Negeri Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015

Kelas X MIA C, SMAN 3 Jkt Tahun 2015
Meski bonus demografi menjadi peluang emas untuk Indonesia, sejumlah permasalahan SDM terus mengurangi daya saing bangsa. Fakta ini dapat dilihat dari ketidaksiapan, bahkan ketakutan banyak pihak dalam menghadapi pasar bebas ASEAN -- Generasi milenium (kelahiran tahun 2000, dst) yang saat ini mulai memasuki kelas X SMA, dalam kurun waktu empat hingga tujuh tahun ke depan akan mengisi berbagai macam pos pekerjaan, termasuk bersaing dengan SDM asing. Oleh karena itu, tensi persaingan (yang positif) harus mulai dijadikan budaya sedini mungkin.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Persaingan untuk masuk ke SMA Negeri di Jakarta pada tahun 2015 sangat tinggi. Dari keseluruhan siswa SMP/sederajat yang mengikuti UN di DKI Jakarta, yang dapat melanjutkan ke SMA Negeri di DKI Jakarta hanya 21% saja. Sebagian besar siswa lainnya melanjutkan ke SMK, MA, dll yang sederajat, baik negeri maupun swasta.  Belum lagi termasuk siswa yang belum/tidak melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi dan kendala lainnya.




- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Pada tahun 2015, jumlah siswa yang diterima di SMA Negeri paling banyak berasal dari kotamadya Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Sementara itu, dari empat jalur masuk, jalur lokal tahap 2 mendominasi penerimaan siswa baru SMA (hampir 60%).


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Dari keseluruhan jalur masuk (tahap 1 s.d 4), jika tiap kotamadya di komparasi berdasarkan banyaknya siswa di tiap jurusan (MIA, IIS, dan IIB),  maka dapat diketahui hanya di Jakarta Utara yang sebagian besar siswanya memilih jurusan sosial (IIS).


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Setelah melakukan kalkulasi dari penerimaan PPDB tahun 2015 (tahap 1 umum, tahap 2 lokal, tahap 3 umum, dan jalur prestasi), dapat diketahui peringkat 1 s.d 114 SMA Negeri di Jakarta. 

Hasil peringkat di atas tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan statistik tahun lalu (2014). Leading school tiap kotamadya diraih oleh:
  • Jakarta Selatan: SMA 8 (peringkat 1)
  • Jakarta Timur: SMA 81 (peringkat 3)
  • Jakarta Pusat: SMA 68 (peringkat 7)
  • Jakarta Barat: SMA 78 (peringkat 8)
  • Jakarta Utara: SMA 13 (peringkat 28)

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Peringkat agregat dikalkulasi dengan melihat skor akhir tiap sekolah setelah diberi pembobotan. Bobot yang diberikan sebagai berikut: (1) jalur 1 tahap umum 40%; (2) jalur tahap 2 lokal 57%; (3) jalur tahap 3 umum 2%; dan (4) jalur prestasi 1%.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Dilihat dari persentase jalur masuk, dapat dianalisis bahwa makin tinggi persentase penerimaan melalui tahap 1 umum, makin tinggi daya saing siswa terhadap sekolah tersebut.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Top rank SMA Negeri di Jakarta fokus atau melakukan spesialisasi pada jurusan science (MIA). Ketika lulus dari SMA, sewajarnya siswa dari jurusan MIA melanjutkan kuliah pada jurusan IPA agar terdapat kesinambungan dalam upaya meningkatkan scientist di Indonesia.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Dalam sistem PPDB, siswa SMP diperbolehkan memilih tiga SMA Negeri. Dari data pilihan ke-1 di tiap sekolah, dapat diketahui bahwa makin tinggi persentase pada tiap tahapan, makin tinggi faktor kesukaan (favorit) terhadap sekolah tersebut.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Dari data top rank, tiap SMA yang unggul memiliki input yang unik, yang berasal dari SMP tertentu di tiap wilayah. Dari hasil olah data, terdapat delapan SMP yang unggul dan bisa dijadikan rekomendasi untuk dipilih sebagai tempat belajar, yaitu: SMP 115, SMP 41, SMP 255, SMP 49, SMP 85, SMP 216, SMP 111, dan SMP 161.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Input bukan segalanya, tetapi input yang baik (dan unggul) akan menjadi pembeda kualitas suatu sekolah. SMP 115 memberikan kontribusi besar terhadap SMA 8. Maka itu, pembahasan spesifik terkait Semabels akan menjadi kajian yang menarik.

Dari keseluruhan siswa SMP 115 yang melanjutkan ke SMA Negeri, sebagian besar mereka diterima melalui jalur lokal (65%). Persebaran anak semabels setelah lulus masih banyak di regional Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Fakta unik lainnya, tidak ada satu orang pun lulusan semabels yang melanjutkan SMA Negeri di kawasan Jakarta Barat .


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

SMA 8, hingga saat ini masih menjadi sekolah negeri yang unggul jika dibandingkan secara relatif dengan sekolah lainnya. Sebagian besar siswa SMA 8 merupakan "hasil bedol desa" dari SMP 115. Selain SMA 8, terdapat dua sekolah yang mendapatkan "berkah" karena dipilih oleh sebagian besar siswa SMP 115, yaitu SMA 26 dan SMA 3.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Infografis ini merupakan kelanjutan dari artikel:
  1. SMA Negeri di Jakarta Dalam Statistik 2014: Panduan Memilih Sekolah Tahun 2015
  2. Pola Spasial SMA Negeri Unggulan di Jakarta
  3. Masihkah Tiga Teladan Masuk Kategori SMA Favorit di Jakarta?

Infografis ini dipersembahkan untuk:
  1. Almamater-ku; keluarga besar SMP Negeri 115 Jakarta dan SMA Negeri 3 Jakarta
  2. seluruh anak bimbingan Tiga Teladan Incubator (Titelic) dan murid dari berbagai SMA di Jakarta -- mulai dari tahun 2007 hingga saat ini
  3. semua guru dan kepala sekolah SMA Negeri di Jakarta
  4. rekan bimbingan belajar dan lembaga privat (dimana pun saya pernah mengajar)
  5. pengamat dan pemerhati pendidikan
  6. pemda DKI, terkait dengan regulasi dan kebijakan terkait pendidikan
  7. siapapun yang ingin "nostalgia" untuk mengetahui perkembangan terkini tentang sekolah (SMA) tempat dahulu mereka pernah belajar
  8. the last, yang terpenting untuk mereka... anak kelas IX SMP (dan orang tua/wali murid), yang pada tahun 2016 akan menghadapi ketatnya persaingan masuk ke SMA Negeri.

Sunday, August 17, 2014

69 Tahun Indonesia Merdeka

17 Agustus 2014, Indonesia telah 69 kali memperingati kemerdekaan. Namun, jika ditinjau dari banyak aspek, sebenarnya kita belum merdeka secara hakiki. IMHO, Merdeka adalah saat 'Soekarno Hatta' berbaris rapi di dalam dompet. Jika yang berbaris 'Pattimura' berarti masih (butuh) perjuangan.

Maksud statement tersebut sangat jelas tidak implisit, merdeka adalah suatu kondisi ketika kita terhindar dari kemiskinan (kebodohan, kemelaratan, dan apapun turunannya). Selain itu, kondisi merdeka ketika kita bukan sebagai inlander, yang  harus merasa terjajah dalam banyak hal di negara sendiri, 'takut dengan bule', dan terjebak dalam penjajahan bentuk baru, yaitu 4F (Fun, Food, Fashion, dan Film).

Pada HUT RI yang ke-69, saya akan menyajikan 6 opini dari beberapa orang hebat dengan dispilin ilmu berbeda. Berikut 6 opini tentang apa arti sebuah kemerdekaan.

Yuda Sugiarta, FKUI (Ilmu Kedokteran, semester 5)
Menurutku, Indonesia merdeka itu Indonesia sehat. Taraf kesehatan meningkat, angka kematian ibu dan anak rendah, kasus gizi buruk berkurang, penyebaran penyakit menular (infeksi) bisa ditekan, dan semua elemen masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Indonesia sehat tentunya nasib dokter juga diperhatikan. Jangan kita sebagai dokter diminta belajar selama 6 tahun tetapi jaminannya masih kurang.

Feliciana Lentini, Fasilkom UI (Ilmu Komputer, semester 3)
Merdeka yaitu bebas untuk berkarya sesuai talenta dan kemampuan setiap orang dan bebas untuk berkontribusi bagi bangsa dan dengan cara apapaun. Tapi bukan berarti karena bebas jadi bercerai berai, melainkan dengan kebebasan itulah bisa menjunjung kesatuan (in another words, freedom in unity).






Cakra Yudiputra, FEB UIN (Akuntansi, semester 3)
Kemerdekaan itu merupakan titik nol, titik awal menuju sebuah karya. Apa maksudnya? Dalam berkarya, seorang harus merdeka jiwa dan raganya, agar bisa menuangkan wujud abstrak yang ada dalam fikiran menjadi sebuah tindakan ataupun bentuk rill lainnya tanpa intervensi apa / siapapun dalam menentukan arah dan tujuannya. Kemedekaan tidak cukup hanya lepas dari penjajah dalam wujud fisik, tetapi segala bentuk yang menjadi halangan seseorang dalam berkarya merupakan "penjajah".

Wika Maulany Fatimah, FTSL ITB (Teknik Sipil dan Lingkungan, semester 1)
Kemerdekaan itu sama kayak sebuah bangunan. Membangunnya nggak bisa cuma satu bidang keahlian, tapi butuh banyak rumpun berbeda yang bekerja sama untuk ngebangun bangunan itu. Dan saat bangunan itu sudah jadi, gak cuma sampe situ aja, karena bangunan tersebut perlu dijaga, supaya gak runtuh. Dan menjaganya itu juga butuh persatuan rumpun-rumpun yang ngebuat tadi. Sama kayak kemerdekaan, banyak orang berbeda yang bersatu untuk meraih satu tujuan, kemerdekaan, dan saat sudah tercapai, masih dibutuhkan persatuan itu untuk menjaga agar tetap bersatu dan tetap merdeka. Saya harap, saya dapat menjadi salah satu bagian dari para penjaga kemerdekaan tersebut, dengan berkontribusi di bidang saya.


Pebriano Saka Perkasa, SMAN 3 Jkt (Kelas XII IPA, semester 5)
Menurut saya, arti kemedekaan bukan sekedar terbebas dari imperealisme semata, tetapi hakikat dari kemerdekaan itu adalah berdaulat, wilayah yang berdaulat dan rakyat yang berdaulat merupakan wujud dari kemerdekaan bangsa ini, sehingga bangsa kita dapat menentukan nasib dan masa depannya sendiri.





Khurryah Arinal Khaq, FPSI UI (Ilmu Pskikologi, semester 3)
Kemerdekaan adalah kita memiliki hak sepenuhnya terhadap diri kita sendiri baik secara fisik ataupun psikis tanpa harus merasa tertekan oleh pihak lain. Kemerdekaan tertinggi di era ini adalah ketika kita merasa yakin terhadap kemampuan diri dan dapat mengaktualisasikannya, seperti yang dikatakan Abraham Maslow dalam  Hierarchy of Needs-nya.

New Entry

20 Competition
National Level: 11x
90.00 Win Rate (%)
Average Trophy per Year: 3
18 Trophy
National Trophy: 7

My Team

Dedy Arfiansyah
Head Coach
Putri Mei Saimima
1st Assistant Coach
Muhammad Jihad
2nd Assistant Coach
Luthfi Ferdian
3rd Assistant Coach

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter