Friday, July 23, 2010

Analisis Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia Yang Berkelanjutan

3 Comment
Peranan pangan menjadi begitu penting karena merupakan suatu kebutuhan yang sangat vital untuk semua orang. Kuantitas ketersediaan pangan juga dapat digunakan sebagai salah satu tolak ukur kesejahteraan suatu bangsa, telah dibuktikan secara faktual dan empiris bahwa aksesbilitas terhadap pangan menjadi “sabuk pengaman” sebuah bangsa dari kehancuran, dimana sektor pertanian bisa mengurangi kemiskinan, mencegah kelaparan dan kekurangan gizi, dan sektor yang berdampak pada kualitas lingkungan hidup.

Jumlah pangan yang minim bisa menimbulkan dampak signifikan terhadap eksistensi bangsa. Hal ini menjadi suatu fakta ketika suatu bangsa mengalami krisis pangan, dimana permintaan akan pangan lebih besar dari penawarannya karena produktifitasnya tidak optimal, kondisi ini akan memaksa negara yang ”kelaparan” meminjam uang untuk bisa mengimpor pangan atau memperbaiki sistem pertanian tanaman pangan tersebut dari hulu sampai hilir.


Berdasarkan teori Chenery – Syrquin Growth Pattern, makin maju suatu negara maka peranan sektor pertanian terhadap GDP akan semakin menurun. Tentu saja kondisi ini sangat ironis bagi negara berkembang, dimana kebanyakan negara berkembang yang didominasi oleh sektor pertanian tidak mampu bersaing bahkan tergantung kepada negara maju. Transformasi struktural yang ideal yaitu sektor manufaktur dan jasa harus tetap bertumpu kepada sektor pertanian dan sebaliknya sektor pertanian mendukung sektor manufaktur dan jasa.

Kondisi Indonesia masih setali tiga uang dengan negara berkembang lainnya, masih rawan pangan. Maksud dari rawan pangan disini bukan karena ketidaktersediaan stok pangan melainkan karena terlalu bergantung terhadap produk pangan luar negeri dengan melakukan impor. Negara maju dapat menjual komoditasnya dengan harga murah karena pertaniannya telah efisien dan melakukan politik dumping, kemudian dampaknya untuk negara berkembang produktivitas petani menjadi turun sehingga pengangguran akan bertambah.
Tabel 1. Persentase Jumlah Pekerja Berdasarkan Sektor
Sumber: BPS, May 15, 2007

Demografi yang terkait dengan populasi penduduk turut mendukung pertumbuhan orang yang mengkonsumsi pangan tentunya akan menjadi lebih banyak. Pada tabel diatas (others include: Mining, Electricity, gas, and water, and public services), kita bisa melihat bahwa pada tahun 2007 jumlah pekerja pada sektor pertanian meningkat 1,1 persen jika dibandingkan dengan tahun 2006. Apakah intensif untuk sektor pertanian begitu menjanjikan sehingga hampir 40 persen penduduk bergantung pada sektor ini? Mari kita lihat data dibawah ini :
Tabel 2. Rural agriculture wages, since 2004
Source: BPS
 
Dari sisi ekonomi, jika harga pangan tinggi maka akan menyebabkan petani menuntut upah yang lebih tinggi, hal ini akan mengindikasikan menurunnya investasi baik domestik maupun asing. Kenaikan rata-rata nominal pendapatan petani di atas dengan kenaikan harga barang saat ini adjustmentnya tidak terlalu tepat yang akhirnya berimbas defisit anggaran kepada petani. Sedangkan perbedaan pendapatan antara Jawa dan luar Jawa terkait produktivitas kesuburan lahan pertanian di Jawa dan luar Jawa sehingga pendapatan di Jawa sedikit lebih kecil jika dibandingkan dengan di luar Jawa.

Landasan Teori dan Analisis
Kondisi pertanian dikatakan tidak menguntungkan karena terlalu bergantung pada alam, hal ini juga mempengaruhi petani dalam pengambilan keputusan berproduksi (risk and uncertanity) mengenai komoditas apa yang akan ditanam. Indonesia yang makanan pokoknya beras harus selalu bisa memenuhi stok aman nasional yang telah ditetapkan agar negara berada dalam posisi ”aman”. Tetapi sayangnya harga komoditas beras terus meningkat baik di pasar domestik maupun pasar internasional seperti pada grafik dibawah ini. Yang menjadi pertanyaan sekarang siapakah yang untung jika harga pangan
naik
Sumber: Taken from the World Bank, Indonesia: Economic and Social Update, November 2007

Peter Timmer (2002), pengamat perekonomian Indonesia khususnya pangan dari Center for Global Development (CGD), pernah memberikan usulan untuk liberalisasi perdagangan beras di Indonesia, kebijakan membatasi impor beras membuat harga beras lokal mahal yang pada gilirannya akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkkan kemiskinan. Harga komoditi yang tinggi bisa mendatangkan multiplier effect tentunya dengan bantuan subsidi dari pemerintah. Sedangkan jika harga komoditi pertanian rendah berdasarkan hasil perhitungan hanya sekitar 20-25 % rumah tangga Indonesia akan lebih sejahtera bila harga beras tinggi, dan bukanlah mereka yang miskin, maka akan merugikan penduduk miskin. Tapi kebijakan harga yang rendah bukan kebijakan yang baik pula karena tidak menggerakan perkonomian pedesaan, yang tepat adalah menentukkan harga yang optimal yang tentu saja sulit untuk dilaksanakan.

Kemudian untuk mengurangi rawan pangan kita bisa melakukan 3 hal . Pertama, pemantapan sistem secara dini, intervensi memadai. Kedua, perbaikan manajemen usaha tani, inovasi kelembagaan dan Ketiga, meningkatkan pendapatan petani dari luar sektor pertanian. Dalam hal intervensi pemerintah sebaiknya benar-benar memberikan subsidi baik Blue Box (subsidi pupuk, benih, dll) maupun Green Box (subsidi untuk bencana alam, bantuan operasional, infrastruktur, irigasi, dll). Secara grafik Pada saat panen jumlah komoditas pertanian (Q) bertambah sedangkan harganya (P) turun karena inelastis sehingga harga pangan (P) turun dan pendapatan total petani (TR) akan turun. Kalau di negara maju jika P turun maka TR naik karena secara struktural ada subsidi dari pemerintah mereka sehingga petaninya sejahtera.



Subsidi yang terlalu berlebihan juga akan mematikan petani itu sendiri pada nantinya, kita mengenal hal ini dengan nama “swasembada at all cost”, yaitu apapun dilakukan untuk memberikan subsidi kepada pertanian, padahal masih ada sekktor lain yang memiliki return yang lebih tinggi dengan resiko yang kecil. Sebaiknya pemerintah menggunakan strategi ”swasembada on tren” dikaitkan dengan surplus dan defisit produksi, jika surplus maka pertanian akan swasembada, dan jika defisit mau tidak mau sektor pertanian harus melakukan impor.
Teori Marginal Productivity of Capital oleh ekonom Pyndick juga bisa diadopsi sebagai gambaran input untuk mengeluarkan outputnya berupa komoditas pertanian. Untuk bisa meningkatkan produktivitas pertanian agar tidak melulu impor maka dikembangkanlah pertanian salah satunya dengan cara agrobisnis yang memang bukan hal yang baru lagi. Kesalahan sistem agrobisnis masa lalu sehingga kurang ada hasilnya hingga saat ini adalah pada masa lalu pada on farm produksi tidak mengembangkan sesuatu yang ada di hulu dan hilir. Oleh karena itu diperlukan supporting pollicies yang terkait dengan financing dan cost policy.
 
Kesimpulan
Permasalahan sektor pertanian kian hangat dibicarakan. Mulai dari nasib sektor pertanian pada negara berkembang masih di-undervalue-kan dari sektor yang lain sampai dengan tanpa kita disadari telah banyak kerusakan lahan yang terjadi akibat aktivitas eksploitasi pertanian di bumi yang kita cintai ini.

Banyak penyebab signifikan yang meng-undervalue-kan sektor pertanian, diantaranya dilihat berdasarkan alam (banjir, kering, hama, dll), ekonomi (harga jual turun terus sedang input naik, spread antara petani dan konsumen lebar), sosial (20 juta petani menanam di kurang dari ¼ hektar dan tidak efisien, 40% penduduk bekerja di sektor pertanian). Selain faktor yang telah disebutkan, faktor penyebab berikutnya adalah produktivitas yang minim yang bisa kita minimalkan dengan peningkatan kualitas skill dan peduli akan sustainable development.


Melalui teori Marginal Productivity kita dapat menganalisis pentingnya sektor pertanian dan bagaimana memanfaatkan lahan agar dapat awet. Hal ini dapat diaplikasikan dengan baik agar meminimalisir dan mencegah dampak kerusakan lahan yang akan berpengaruh pada stabilitas makro ekonomi (terutama inflasi), ketahanan pangan, pengangguran, dan kemiskinan. Pada dasarnya, kebijakan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dalam sektor pertanian pada tulisan ini menjadi poin penting terciptanya produktifitas pertanian yang berkelanjutan dan meminimalisir cost yang terjadi akibat rusaknya lahan pertanian.

Rekomendasi
Rawan pangan merupakan kondisi yang tidak diinginkan oleh siapapun. Oleh karena itu, hal ini haruslah dicegah dari sisi eksternal maupun internal. Dari segi internalnya adalah menerapkan kebiasaan cinta produk pertanian dalam negeri dengan cara membuat paten hasil produksi lokal dan tentu saja mengkonsumsinya. Pemerintah juga dapat berkontribusi dengan menerapkan pelatihan dan penyuluhan pertanian atau pemberian subsidi (dalam hal ini diutamakan memberikan subsidi Green Box yang tidak mendistorsi harga, baru kemudian subsidi Blue Box. Petani yang masih di undervaluekan harus lebih diberdayakan terutama dengan menggalakkan agrobisnis yang tetap peduli terhadap lingkungan hidup sehingga mereka merasa diperhatikan, kesejahteraan meningkat dan memberikan value added bagi perekonomian. Lembaga parastatal dan institusi pangan domestik yang terkait beserta FAO tetap bekerja sama untuk bisa mencapai visi pertanian tahun 2020 serta memenuhi 4 dimensi ketahanan pangan: ketersediaan, aksesbilitas, stabilitas, serta perubahan fungsi ruang dan waktu.





3 Responses so far

  1. sebenarnya kalo bicara masalah pertanian Indonesia, akan lebih baik jika kita melihat keterlibatan Indonesia pada kebijakan WTO sekarang...

  2. Mamitha Daramayang says:

    *ketika negara indonesia dilanda resesi maka sektor yang paling stabil adalah sektor pertanian
    *negara indonesia tidak akan bisa melepaskan diri dari identitas sebagai negara agraris,,
    *pertanian seharusnya dikembalikan lagi menjadi soko guru perekonomian, hal ini dikarenakan,setiap aspek yang terkait dengan perekonomian, industri, manufaktur akan selalu bergantung kepada pertanian.
    *kerangka berfikir kita bukan lagi pertanian sebagai sekadar pemenuh kebutuhan dan pendukung dari input bahan primer untuk sektor lain.akan tetapi sentra kegiatan yang saling terkait dan mendukung bidang usaha lain. apakah fungsi pemasok tidak menjadi suatu yang krusial untuk sustainability pemenuhan produksi bagi konsumsi penduduk indonesia??
    *secara prinsip, agribisnis di indonesia sudah baik dilihat dari teori dan berbagai contoh di lapangan,
    *yang harus ditingkatkan yakni posisi tawar petani sendiri sehingga muncul sedikit awareness mengenai dunia pertanian. buka mata dan buka telinga dengan lebar,
    *banyak petani yang sudah mulai berusaha dengan konsep agribisnis yang berhasil,,
    *coba perhatikan mengenai value added dari produk pasca panen dari bidang pertanian, pertanian itu luas mencakup pertanian dalam hal ini tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perikanan baik tambak maupun air tawar,
    *yang perlu diperhatikan dalam konsep agribsnis yakni *permasalahan mengenai akses pemasaran sehingga petani diuntungkan dalam usahanya, *membantu dalam hal kemudahan akses pembiayaan,sarana produksi pertanian dan mesin-mesin pertanian yang menjadikan usaha pertanian lebih efektif dan efisien,
    *bidang usaha pertanian di indonesia memang masi tergantung pada alam,tapi sekarang ini ada beberapa usaha untuk lebih meningkatkan efisiensi seperti penanaman di greenhouse,tabulampot(berkaitan dengan efisiensi lahan),sistem hidroponik,sistem aeroponik, kultur jaringan serta beberapa teknik penanaman lain untuk efisiensi dan efektivitas
    *mengenai kerawanan pangan, saat ini mulai ada program diversifikasi pangan dari deptan, konsumsi nasi telah menjadi suatu budaya di indonesia, akan tetapi tak ada salahnya ketika terdapat pengenalan akan beragam bahan pangan lain. toh saudara kita di maluku, irian tidak makan nasi, ada yang makan sagu, jagung,tiwul,dan lainnya.jadi coba lihat lagy mengenai local wisdom yang berlaku di masing-masing daerah.
    *pertanian di indonesia sekarang ini akan lebih baik diarahkan kepada ecofarming yang berkaitan dengan lingkungan sehingga ekosistem dan konstur serta kandungan tanah tetap terjaga, yang mulai terjadi sekarang yakni degradasi mineral dalam tanah. untuk itulah diperlukan pertanian organik.
    *kemudian perjuangan dalam penetapan kebijakan pertanian yang menyentuh segala aspek juga perlu diperhatikan, diplomasi terhadap masalah-masalah pertanian di indonesia, masalah kepemilikan lahan di indonesia yang nyatanya banyak sekali petani gurem yang memiliki lahan kurang dari 1 hektar??beranikah indonesia keluar dari wto??mengapa komoditas pertanian kita terkadang ditolak oleh pihak asing ketika kita ingin mengekspor??bagaimana dengan beras dan komoditas pertanian lain yang mulai dibranded oleh pihak asing??padahal itu asli INDONESIA??bagaiman dengan pelindungan hak paten atas benih yang diusahakan sendiri oleh petani,,??disitulah pertanian kita butuh diadvokasi oleh pihak pemerintahan nasional maupun di hadapan internasional bukan diprovokasi.
    *yang terpenting keminatan pemuda terhadap sektor pertanian yang mulai menurun??bagaimana solusinya??
    begitu komplek masalah pertanian hingga menyangkut segala aspek sehingga setiap konsep harus terintegrasi,
    dan yang terpenting selama manusia ada di muka bumi,selama itulah pertanian ada untuk menyokong kehidupan manusia di dunia ini.
    baca buku revitalisasi pertanian ya agar lebih bisa berpikir secara terintegrasi.
    thenk yu,,maap panjang banget

  3. Mamitha Daramayang says:

    *mengenai kerawanan pangan, saat ini mulai ada program diversifikasi pangan dari deptan, konsumsi nasi telah menjadi suatu budaya di indonesia, akan tetapi tak ada salahnya ketika terdapat pengenalan akan beragam bahan pangan lain. toh saudara kita di maluku, irian tidak makan nasi, ada yang makan sagu, jagung,tiwul,dan lainnya.jadi coba lihat lagy mengenai local wisdom yang berlaku di masing-masing daerah.
    *pertanian di indonesia sekarang ini akan lebih baik diarahkan kepada ecofarming yang berkaitan dengan lingkungan sehingga ekosistem dan konstur serta kandungan tanah tetap terjaga, yang mulai terjadi sekarang yakni degradasi mineral dalam tanah. untuk itulah diperlukan pertanian organik.
    *kemudian perjuangan dalam penetapan kebijakan pertanian yang menyentuh segala aspek juga perlu diperhatikan, diplomasi terhadap masalah-masalah pertanian di indonesia, masalah kepemilikan lahan di indonesia yang nyatanya banyak sekali petani gurem yang memiliki lahan kurang dari 1 hektar??beranikah indonesia keluar dari wto??mengapa komoditas pertanian kita terkadang ditolak oleh pihak asing ketika kita ingin mengekspor??bagaimana dengan beras dan komoditas pertanian lain yang mulai dibranded oleh pihak asing??padahal itu asli INDONESIA??bagaiman dengan pelindungan hak paten atas benih yang diusahakan sendiri oleh petani,,??disitulah pertanian kita butuh diadvokasi oleh pihak pemerintahan nasional maupun di hadapan internasional bukan diprovokasi.
    *yang terpenting keminatan pemuda terhadap sektor pertanian yang mulai menurun??bagaimana solusinya??
    begitu komplek masalah pertanian hingga menyangkut segala aspek sehingga setiap konsep harus terintegrasi,
    dan yang terpenting selama manusia ada di muka bumi,selama itulah pertanian ada untuk menyokong kehidupan manusia di dunia ini.
    baca buku revitalisasi pertanian ya agar lebih bisa berpikir secara terintegrasi.
    thenk yu,,maap panjang banget

Leave a Reply

My fav song, 1 s.d 30 September 2014
LL Cool J feat. Jennifer Lopez - Control My Self