Thursday, July 22, 2010

MEMBACA atau MEJENG

Melalui aktivitas membaca segala tabir dapat terungkap. Membaca juga dapat berfungsi sebagai ”pintu gerbang” meraih masadepan yang lebih baik, tanpa membaca kita bukan apa-apa dan akan selalu menjadi orang yang terbelakang. Negara kita juga mempunyai kepedulian dalam hal aktivitas membaca, kongkritnya tertuang dalam salah satu tujuan pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Amanat UUD’45 menegaskan ”...tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan (anti pengangguran, pen) dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (anti kemiskinan, pen)...” Pesan konstitusi yang sangat mulia ini telah sejak lama diabaikan. Buktinya seiring dengan statistik angka kemiskinan yang terus menurun tapi realitanya di lapangan ibarat ”macan kertas”. Statement di atas memiliki benang merah dengan pendidikan berdasarkan theorema lingkaran setan yaitu sumber kemiskinan adalah tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang bodoh dan kurang informasi sehingga mengakibatkan akses terhadap ekonomi sangat minim, dari pendapatan yang tidak mencukupi, kemudian pendidikan dan kesehatan juga terkena dampaknya sehingga bisa merambah kepada kriminalitas karena kunci utama kemiskinan sulit diberantas.

Ternyata membaca merupakan aktivitas krusial untuk setiap orang karena lebih banyak mendatangkan manfaat dari pada mudharatnya, dengan syarat kita harus selektif dalam memilih dan memilah bacaan yang akan dikonsumsi agar tidak menimbulkan efek negatif. Biasanya kalau kita membaca buku atau koran seputar ilmu pengetahuan dan informasi akan cepat bosan, ingin cepat selesai, dan mengantuk. Sebaliknya untuk bacaan yang tidak mendidik biasanya akan semangat untuk dibaca, menarik minat dan dicari-cari walaupun frekuensi kuantitas peredarannya dibatasi serta dibandrol dengan harga selangit. Bacaan ”racun” tersebut sangat beredar ditengah globalisasi saat ini, diperlukan adaptasi dan filter diri untuk menghadapi globalisasi yang sarat kompetisi dan menurut penulis secara pribadi lebih banyak mendatangkan efek negatif.

Definisi Keliru Membaca
Banyak motif yang melatarbelakangi seseorang untuk membaca, pembaca harus bisa membedakan jenis bacaannya sehingga strategi membaca yag tepat dapat diterapkan. Cara membaca buku pelajaran, koran, dan komik tentu berbeda, membaca koran dan komik dapat dijadikan sebagai sumber informasi dan sekedar hiburan pelepas penat tetapi membaca buku pelajaran tidak bisa dilakukan sambil lalu kemudian dilupakan begitu saja. Membaca harus dilakukan dalam kondisi yang rileks agar maknanya dapat terserap dengan baik. Dalam hidup kita selalu harus melakukan choices dan mendatangkan tradeoff terhadap hal lainnya, jika kita memilih membaca maka jadikan aktivitas tersebut akan mendatangkan return yang maksimal di kemudian hari.

Aktivitas membaca dapat menjadi beban bagi orang yang malas, padahal itu bisa menjadi bumerang untuk dirinya. Banyak pelajar dan mahasiswa yang menjadikan membaca sebagai mejeng. Definisi mejeng disini yaitu dengan menjadikan buku hanya sebagai pemanis simbol sosok intelektual yang penuh kebohongan. Padahal masih banyak eksistensi dari kaum tidak berpunya yang kesulitan mengakses buku.

Walaupun tujuan akhir dari membaca dan mejeng adalah mendapatkan nilai akhir untuk memenuhi kebutuhan akan informasi dan pengetahuan, tetapi terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara keduanya. Membaca dilakukan berdasar jumlah yang dibacanya (objektif – nilai ordinal), semakin banyak membaca semakin banyak pengetahuan, wawasan, dan informasi yang didapat. Sedangkan kalau mejeng ”bersama buku” berdasar tempat membawanya sambil ”memperlihatkan” buku atau mungkin membacanya (subjektif – nilai kardinal), maksudnya sarat dengan penilaian orang sekitar terhadap orang tersebut. Apalagi kalu jenis bacaannya ”mahal dan bergengsi”, bacaan tersebut akan menjadi prestise kalau dibaca di tempat umum (untuk kemudian dijadikan bahan pembicaraan, pen) walaupun setebal kitab suci.

Mindset diatas harus diubah. Jangan jadikan membaca sebagai beban, tetapi jadikanlah sebagai gudang ilmu dalam upaya menmba pengetahuan dan informasi yang dilakukan secara sadar, berkesinambungan, dan terus menerus agar tidak menjadi orang yang terbelakang. Jangan pula merasa enggan atau malu untuk membaca di tempat umum, manfaatkanlah waktu luang dan masa muda dengan membaca agar di hari kelak tidak menjadi orang yang sia-sia.

Minat Baca di Indonesia

Di Indonesia minat baca masih tergolong rendah, hal ini bisa dibuktikan dengan data statistik. Prestasi pendidikan di Indonesia tertinggal jauh dibawah negara-negara Asia lainnya seperti Singapura, Jepang, Malaysia, dll. Bahkan jika dilihat dari indeks sumber daya manusia, yang salah satu indikator keberhasilannya adalah sektor pendidikan, posisi Indonesia kian menurun dari tahun ke tahun.

Indikator rendahnya mutu pendidikan nasional dapat dilihat pada prestasi siswa. Dalam skala internasional, menurut laporan Bank Dunia, studi IEA TAHUN 2006 (International Association for the Evaluation Achievement) bahwa keterampilan membaca siswa SD di Indonesia berada pada peringkat terendah. Anakanak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30 % dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini sangat menjadikendala serius yang dialami negara kita saat ini. Bagaimana Indonesia bisa bersaing di pasar global kalau generasi mudanya saja dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk berkembang.

Pendidikan di Indonesia memang menghadapi dua masalah besar sekaligus, yakni persoalan internal dan eksternal. Secara internal sedang dilakukan berbagai penataan dan restrukturisasi strategi pengembangan yang tepat, akurat, dan akseleratif. Sementara secara eksternal berbagai tantangan dan peluang justru menunggu peningkatan tersebut agar lebih kompetitif.

Berdasarkan survey yang saya lakukan terhadap 100 orang mahasiswa dari 10 fakultas di Universitas Indonesia Depok, ternyata lebih dari 65 % menggunakan waktu mereka untuk membaca hanya sekitar 1 sampai 2 jam saja per harinya. Belum lagi tingkat preferensi kunjungan mereka ke perpustakaan yang di dominasi dengan jawaban JARANG, mereka melakukan kunjungan hanya dalam rangka menyelesaikan tugas, berdiskusi, atau mencari referensi saja.

Eksistensi Abang None Buku
Membaca berbanding lurus dengan pengetahuan yang dimiliki, setidaknya dengan membaca kita akan mengetahui sesuatu dan tidak asal bunyi. Pada lingkup yang lebih luas membaca terkait dengan kualitas hidup seseorang yang berpengaruh pada tingkat produktivitas individu dalam ”lakonnya” untuk menyumbangkan sesuatu kepada tanah air tercinta. Dengan mambca kita menetapkan tujuan bukan untuk apa yang kita peroleh, melainkan untuk menjadi apa kita dan bagaimana kita merespon informasi yang terkandung di dalamnya.

Ajang pemilihan Abang None Buku (AbnonKu) merupakan event positif yang representative menumbuhkan minat baca. Abang None Buku terpilih akan mengemban peran potensial dalam menumbuh kembangkan minat baca. Jika saya terpilih beberapa strategi yang diterapkan antara lain :

1. Program pemberantasan buta huruf
Buta huruf adalah masalah utama yang menghambat setiap negeri dalam upaya peningkatan kualitas kehidupan, biasanya faktor utama yang menjadi penyebab adalah kemiskinan. Berbicara buta huruf mengingatkan saya pada iklan layanan masyarakat ”Bagaimana mungkin? Membaca saja sulit !!”. Sungguh ini hal yang ironis di tengah kancah globalisasi yang sebagian masyarakatnya memiliki lifestle hedonisme. Untuk meminimalisasi buta huruf perlu peran swasta baik asing maupun lokal dalam pemberdayaanya. Tidak lupa konsep pemberian kecakapan hidup (lifeskill) setelah mereka melek huruf agar tidak sia-sia.

2. Pemerataan akses pendidikan
Power suatu negara bergantung dari skill masyarakatnya, banyak negara maju mengalokasikan anggaran dalam porsi besar untuk memajukan tingkat pendidikannya. Indonesia sebagai negara berkembang tentu memiliki masalah terbatasnya anggaran, tetapi setidaknya pemerintah harus memberikan subsidi kepada masyarakat agar aksesbilitas buku dalam hal ragam kuantitas dan kualitas meningkat dengan harga yang terjangkau untuk semua kalangan. Apalagi ditengah kondisi dilarangnya buku fotocopyan karena dianggap melanggar copyrights.
Selain itu Departemen Pendidikan Nasional harus membenahi kurikulum agar tidak membingungkan banyak orang dan perlu melakukan sosialisasi lebih dini kalau membuat perubahan. Jangan sampai terjadi pergantian pejabat tinggi, kurikulum juga turut berubah demi kepentingan politis semata. Sebaiknya penetapan kurikulum diteliti terlebih dahulu cost and benefitnya, siklus pergantian kurikulum diperpanjang agar penggunaan buku bisa agak lama ”life cycle-nya”, tujuannya agar tercipta efisiensi ekonomi yang akan menopang suksesnya program wajib belajar 12 tahun.

3. Menyarankan agar ditetapkannya hari membaca nasional
Penulis mengusulkan dicetuskannya hari membaca nasional sebagai event untuk mencanangkan minat baca. Kongkritnya acara ini tidak hanya sehari saja, setiap hari dilakukan gerakan wajib membaca selama beberapa menit. Hari h nya bisa diisi dengan diadakannya seminar minat baca, menggelar lomba seputar pendidikan, serta membuat kompetisi iklan layanan masyarakat tentang pentingnya membaca baik di media cetak maupunmedia elektronik.

4. Meningkatkan kepedulian terhadap kaum minoritas
Tidak sedikit kisah nyata dunia kelam pendidikan Indonesia yang dialami kelas strata bawah. Sebenarnya mereka punya semangat dan kemampuan yang besar untuk maju namun terkendala dengan biaya. Melalui peranan Abnon Buku, realita ini dapat diminimalisasi. Misalnya mendirikan organisasi yang bertujuan fokus untuk pemberdayaan mereka, misalnya menggelar eent amal seperti membagikan buku tulis, buku bacaan, alat tulis, seragam, sepatu, serta peralatan sekolah lainnya yang menunjang.

Itulah gambaran realita minat baca dan srategi yang penulis tawarkan. Perlu digarisbawahi, dari segala upaya yang kita lakukan untuk meningkatkan minat baca, semua keputusan akhir akan kembali ke masing-masing individu. Rahasianya adalah...... tidak adak rahasia. Kita tidak akan pernah ketinggalan informasi dan menjadi orang yang terbelakang sampai kita berhenti membaca. Satu hal lagi prestise bukan bawaan sejak lahir, tetapi dapat diacapi dengan membaca, bekerja keras, dan berdo’a. Marilah bersama kita menanamkan kesadaran untuk membaca setiap hari demi kemajuan diri dan Indonesia tercinta.


0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2018, May)
Britney Spears - My Prerogative