Tuesday, July 20, 2010

Regulasi Pemerintahan PM.Stephen Harper Dalam Industri Ekstraktif Kanada

:: Tugas Pengganti UTS Ekonomi Politik 2007/8 ::
Selasa, 25 Maret 2008
Dosen : Prof.Dorodjatun Kuntjoro Djakti, Faisal Basri, SE.MA. Suryadi, SE.MA
Nilai : 82

Big Picture tulisan ini :

I. Pendahuluan
Sektor pertambangan (ekstraktif) baik yang berwujud padat, cair, maupun gas sangat krusial untuk kepentingan dan kesejahteraan umat manusia. Apalagi bagi negara yang memiliki kekayaan alam melimpah, tentu saja dapat menjadi “dewa penolong” dalam kaitannya sebagai penerimaan negara yang digunakan untuk pembangunan ekonomi. 

Industri ekstraktif juga menjadi sektor andalan negara Kanada yang notabanenya sebagai negara maju di dunia. Tetapi seiring menipisnya “hasil perut bumi” dan permasalahan yang timbul seperti pencemaran, global warming, dll maka manajerial dan operasional sector pertambangan menjadi “pekerjaan rumah utama” dari pemerintah yang terpilih dengan mendapatkan 124 kursi pada pemlihan umum tahun 2006 yang lalu. Harper, sebagai figur dari partai konservatif tentu memiliki kebijakan yang berbeda dari pemerintahan sebelumnya yang dari partai liberal. Kinerja dan efektivitas dari kebijakan Harper memang masih menjadikan Kanada memiliki prospek ekonomi padat, namun dibalik itu semua terdapat beberapa permasalahan yang mencuat dari sisi politik maupun ekonomi terutama dikaitkan dengan pertambangan Kanada baik di dalam maupun di luar negeri.

Apakah tindakan ekstraktif Kanada diluar negeri dipengaruhi oleh teori neoclassical counter revolution, yang sepanjang sejarah mengukir bahwa siapa yang kuat lah yang akan menjadi pemenang dan yang lemah pasti akan kalah dalam kaitan prospek ekonom padat pada masa pemerintahan PM. Stephen Harper?.
Untuk mengetahui hal tersebut kita akan menggunakan berbagai macam pandangan, analisis, dan fakta-fakta untuk menilai kinerja dan efektifitas produk kebijakan Harper.


II. Regulasi Ekonomi dan Sosial Industri Ekstraktif Kanada
Kanada memiliki sejarah panjang dalam industri tambang, perusahaan tambang dari Kanada mendominasi investasi tambang di seluruh dunia tahun 2003 64% perusahaan tambang Kanada melakukan eksplorasi di seluruh dunia dan pada tahun 2004 investasi Kanada mencapai $ 26,6 milyar dilebih dari 100 negara di dunia dan trennya terus naik dari waktu ke waktu. Beberapa negara yang terdapat pertabangan Kanada dan menjadi rekan utama antara lain di (Afrika: Kongo, Tanzania), (Eropa: Rumania, Bulgaria), (Asia: Filipina, Burma, Indonesia), dan (Amerika Latin: Kolombia, Chili, Venezuela).

Strategi ekspansi ke negara berkembang dilakukan berdasarkan pengalaman Kanada dalam mengelola pertambangan, pemerintah mengatakan dengan membuka pertambangkan akan mendatangkan resiko dan merusak wilayah sektor tambang seperti kondisi di pertambangan Kanada yang harus mengelola puluhan ribu tambang-tambang yang telah tutup (abandoned mine) agar tidak berbahaya bagi kehidupan sekitarnya.

Sejak kepemimpinan PM. Paul Martin (PM sebelum Harper) pertambangan Kanada di negara-negara yang disebutkan di atas sudah banyak mengalami permasalahan seperti pelanggaran HAM masyarakat setempat, pengrusakan lingkungan, serta menghancurkan perekonomian lokal dimana masyarakat lokal tidak terlibat dalam proses atau kontrak pertambangan yang melibatkan perusahaan Kanada di tanah mereka, tentu saja reputasi Kanada dimata negara berkembang teancam.

Dari fakta yang terjadi, ternyata kebijakan regulasi ekonomi dan sosial PM. Paul Martin dapat dikatakan sukses untuk Kanada namun gagal untuk negara mitra (berkembang). Bagaimanakah dengan kebijakan PM.Harper saat ini?. Harper tentu berbeda dengan Paul Martin, Harper adalah orang yang pro pasar bebas, dan bersama Amerika Serikat mendukung invasi ke irak serta pada awalnya skeptis terhadap protokol Kyoto.

Pada tanggal 14-21 Juni 2007, Harper mencetuskan the Greatest North of Canada untuk megembangkan daerah utara dengan tidak hanya memperhatikan penduduk lokal saja tetapi untuk kepentingan nasional Kanada.Untuk mewujudkan hal tersebut masih terdapat beberapa kendala, yaitu :
  1. Pada pemilu 2006 lalu ternyata yang memberikan suara hanya kurang dari 60 persen , hal ini tentu saja akan sulit untuk mendapat dukungan penuh dalam pengambilan kebijakan dan harus selalu berkompromi dalam parlemen. 
  2. 3 wilayah utara Kanada masih mempertahankan bentuk teritori bukannya provinsi dengan pertimbangan kuatnya pembuatan keputusan secara bersama-sama sehingga tidak diperlukan kepartaian yang ada, selain jatah di parlemen dari 3 wilayah ini yang hanya 1 orang saja untuk masing-masing wilayah.
  3. Pengangguran di kalangan penduduk asli dan perubahan sosial masyarakatnya (khususnya generasi muda) karena moderenisasi.

III. Produk Kebijakan CSR PM. Stephen Harper yang tidak populer – Dalam Rangka Tanggung Jawab Sosial Terhadap Negara Berkembang
Harper yang pro pasar bebas tetap memberikan ”angin segar” untuk industri pertambangan Kanada di luar negeri, hal ini didasarkan pada teori neoclassical counter revolution dimana pasar bebas penting (asumsi perekonomian terbuka). Disini digambarkan negara miskin/berkembang menyediakan sumber daya alam dan tenaga kerja murah sekaligus menjadi target pasar negara maju tanpa memperhatikan standart of living (termasuk environment). Walaupun pada akhirnya Kanada meratifikasi protokol kyoto untuk mengurangi emisi pada proses industrinya tetapi pada kenyataannya kompensasi yang diberikan untuk negara berkembang masih jauh dari harapan. Kanada tidak mau membayar penuh kompensasinya dan masih meminta peran dari negara berkembang untuk turut menanggung biaya kompensasi.

Salah satu kebijakan yang dibuat PM.Stephen Harper adalah Explicit Spatial Policy atau Regional Policy yaitu kebijakan top down yang diimplementasikan oleh pembangunan nasional yang berusaha untuk merangsang industrialisasi dalam mendesain region dengan insentif seperti grant dengan membangun pertambagan baru dengan melakukan ekspansi atau memoderenkan pertambangan yang ada. Kemudian memberikan subsidi dan perlindungan kebijakan tarif nasional tehadap industri pabrik sekunder di Ontario dan Quebec. Disini kita bisa melihat betapa berjayanya industri pertambangan kanada, industri dalam negerinya yang kaya akan sumber daya alam tetap menghasilkan, belum lagi diakumulasikan dengan outputnya dari hasil “sapi perahan” pertambangan di negara berkembang.

Kemenangan partai konservatif disini sedikit demi sedikit berusaha mengurangi kebijakan regional policy dimana berlawanan dengan subsidi publik. Karena inti dari kebjakan tersebut pada akhirnya hanya “menelurkan” proteksi yang membawa kepada rent seeking yang menghasilkan social loss, menyebabkan dispersi tingkat proteksi antar industri yang mengakibatkan adanya perbedaaan insentif serta melepaskan tekanan kepada perusahaan domestik untuk menekan biaya sampai dengan tingkat yang kompetitif secara internasional. Hal ini bisa kita tarik benang merah dengan the new growth theory yang menjelaskan mengapa ada negara seperti Kanada yang mampu terus tumbuh sementara negara lainnya stagnan, serta menerangkan peran pemerintah yang masih penting ditengah pasar bebas, walau negara maju sekalipun.

Dengan kata lain, fakta terjadinya ketidakadilan dan pemiskinan negara berkembang akibat industri pertambangan Kanadadi luar negeri bisa dilihat oleh para pendukung ekonomi klasik. Teori ekonomi neoklasik sama sekali menyerahkan mekanisme keadilan pada pasar. Dari sini kita bisa ingat “Trickle Down Effect, menetesnya kemakmuran ke bawah”. Sebagaimana kita bersama tahu doktrin ini tidak pernah terbukti benar. Jika kita bicara tentang ekonomi neoliberalisme zaman sekarang sebenarnya jiwanya tetap saja ekonomi neoklasik, mengagungkan pasar bebas.

IV. Analisis Kebijakan Regulasi Ekonomi dan Sosial PM. Stephen Harper – Penerapan CSR – Terkait Dengan Kelemahan Teori Neo Klasik.
Kanada yang akhirnya meratifikasi protokol Kyoto, berusaha menciptakan iklim lingkungan hidup yang baik dan seimbang serta aktif meghindari gobal warming sepertinya sudah mendaptkan “kendaraan” untik tetap mengoperasikan perusahaan tambangnya di luar negeri. Untuk itu analisis lebih lanjut keterkaitan antara regulasi sosial ekonomi dalam bentuk CSR yang tidak populer dengan teori neoklasik.

Hot issue global warming yang semakin menyedot perhatian publik membat Kanada yang menjadi sekutu Amerika Serikat “berani” melangkahi Amerika untuk meratifikasi protokol Kyoto. Hal ini terutama sangat terkait dengan eksistensi sektor pertambangan Kanada yang banyak terdapat di luar negeri, walaupun gembar-gembor sudah banyak terdengar tetapi hingga saat ini pengimplementasian CSR dari negara maju kepada negara berkembang belum bisa menemukan “bentuk” yang tepat. Sekali lagi disini negara berkembang yang tetap dirugikan, pertambangan terus berlangsung dengan keuntungan yang diterima Kaanda lebih besar, kemudian pengrusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan pasti ada dan itu harus ditanggung negara berkembang, belum lagi masalah-masalah lain yang ditimbulkan.

Regulasi secara ekonomi yang mengatur harga dan output tentu menguntungkan untuk Kanada karena melalui proses perencanaan dan penghitungan yang matang sebagai negara berpengalaman dalam pertambangan dan sebagai negara maju tentunya. Sedangkan regulasi sosialnya Kanada belum bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan pertambangannya di luar negeri. Belum ada bentuk hukum yang jelas dan standar kompensasi yang tepat serta menguntungkan secara muttualy exclusive. Berdasarkan kelemahan pasar bebas teori neoklasik disini yang diuntungkan disini hanya sepihak, pihak yang kuat.

V. Kesimpulan dan Saran
Kemenangan partai konservatif PM.Stephen Harper dalam pemilu 2006 lalu menghasilkan regulasi ekonomi dan sosial yang setali tiga uang dengan pemerintahan sebelumnya. Hal ini dilihat dari industri pertambangan Kanada di luar negeri (termasuk Indonesia) yang menguntungkan untuk pihak Kanada namun tidak demikian untuk negara berkembang. Walaupun protokol Kyoto sudah diratifikasi namun pengimplementasian kompensasi kepada Negara berkembang belum menemukan “bentuk” yang jelas.

Oleh Karena itu hendaknya sebelum kerjasama pertambangan dimulai harus ada kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak tanpa mengabaikan kualitas lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Sementara itu untuk negara berkembang berhati-hati dengan teori neoclassical cunter revolution yang mengindikasikan persaingan pasar bebas yang akan merugikan sendiri kalau tidak siap dan dalam bekerjasama harus bisa menerapkan alih teknologi yang berbasis pekerja lokal untuk menghindari status sebagai negara stagnan dalam the new growth theory sementara perekonomian negara maju yang berinvestasi di negara berkembang terus tumbuh.

REFERENSI
  • “Canadian mining Factsheet,” (February 2006.http://www.nrcan.gc.ca/mms/pdf/econo06_pdf 
  • Disccusion Paper :Natioan Roundtables on CSR and the Extractive Sector in Developing Countries, June 2006 – Foreign Affairs and International Trade Canada 
  • Hayter, Roger.2000.The Dynamics of Industrial Location 
  • Kanada, http://id.wikipedia.org/wiki/kanada 
  • Minewatch Canada, 2005 
  • Profile kanada, http://www.indonesia-ottawa.org/page.php?s=2130index 
  • Profile Stephen Harper, http://wapedia.mobi/id/stephen_harper?t=3.#3. 
  • Surjadi – Ekpol FEUI 2008. Handout Kuliah Teori-teori terkait Ekonomi Politik 
  • Viscusi & Vernon.Economic Regulation
 
LAMPIRAN
Teori yang digunakan:
  1. Neoclassical Counter Revolution : Pentingnya pasar bebas, perekonomian terbuka, dan kegagalan pembangunan karena terlalu banyak campur tangan pemerintah
  2. The new growth theory : - mengapa ada Negara yang mampu terus tumbuh sementara ada yang stagnan dan – peran pemerintah masih penting ditengah pasar bebas


0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter