Tuesday, July 20, 2010

Transformasi Struktural Di Negara Maju Dan Di Negara Berkembang

Review Paper Perekonomian Indonesia
Judul: “Structural Transformation in Developed and Developing Countries”
oleh El-hadj Bah (W.P. Carey School of Business, Arizona State University, October 2007)

I. Pendahuluan
Transformasi struktural merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di berbagai negara. Hampir seluruh negara mengawali pertumbuhan ekonominya dengan suatu transformasi struktural. Namun demikian, pola transformasi struktural mungkin saja tidak sama antar satu negara dengan negara lain.



Dalam paper ini, El-hadj Bah membagi golongan negara di dunia menjadi dua yaitu negara maju dan negara berkembang. El-hadj Bah kemudian menganalisa perbandingan proses transformasi struktural yang terjadi di dua golongan negara tersebut.

II. Transformasi Struktural di Negara Maju

Pada bagian awal dari paper ini El-hadj Bah memaparkan penemuan dari penelitian-penelitian sebelumnya tentang transformasi struktural. Dalam hal ini El-hadj Bah mendasarkan penelitiannya pada penelitian Kuznets (1971). Kuznets menemukan bahwa proses transformasi struktural negara maju cenderung seragam antara satu negara dengan negara lain, dimana proses tersebut terdiri dari 2 tahap. Pertama, pada awalnya sumber-sumber daya ekonomi sebagian besar dialokasikan pada sektor pertanian, yang kemudian seiring dengan pertumbuhan ekonomi alokasi ekonomi bertransformasi ke sektor industri dan jasa. Kedua, alokasi sumber-sember daya ekonomi kembali bertransformasi dari sektor pertanian dan industri ke sektor jasa. Berarti dengan adanya kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB), hasil dari sektor pertanian akan menurun, hasil dari sektor industri pada awalnya akan naik tetapi kemudian turun, dan hasil dari sektor jasa akan selalu meningkat.

Negara-negara maju ini mengalami proses pertumbuhan yang panjang dalam perekonomiannya terutama terkait dengan pertumbuhan PDBnya. Menurut Duarte dan Restuccia (2008), sebagian besar negara-negara maju mengalami peningkatan PDB yang sangat signifikan karena mereka mengalami pergeseran alokasi sumber daya ekonomi dari yang tadinya mayoritas dialokasikan ke sektor pertanian menjadi teralokasi ke sektor jasa.

III. Transformasi Struktural di Negara Berkembang
Selanjutnya El-hadj Bah mencoba meneliti transformasi struktural yang terjadi di negara berkembang. Dalam hal ini El-hadj Bah ingin melihat apakah transformasi struktural di negara berkembang memiliki pola yang sama dengan di negara maju. Dalam analisa ini, El-hadj Bah memilih 38 negara berkembang yang terletak di Sub-Saharan Afrika, Asia Timur dan Tenggara serta Amerika Latin sebagai sampel.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan ternyata teori Kuznets tidak berlaku di negara berkembang. Penelitian dalam paper ini memberikan kesimpulan bahwa negara berkembang memiliki pola transformasi struktural yang berbeda dengan negara maju walaupun memang ada beberapa negara yang mengikuti pola negara maju. Perbedaannya terletak di dua dimensi, yaitu (1) slope atau efek transisi, dimana menunjukkan sifat hubungan antara perubahan dalam bagian output sektoral dengan perubahan log GDP per kapita; (2) efek level, dimana menunjukkan level bagian output sektoral pada GDP per kapita tertentu. Selain itu, kesimpulan yang dapat diambil berkaitan dengan pola transformasi struktural, terdapat heterogenitas yang besar akan pola transformasi struktural yang ada di negara berkembang. Pada intinya, penelitian dalam paper ini memperlihatkan perbedaan pola transformasi struktural pada negara berkembang, baik dengan negara maju maupun dengan sesama negara berkembang. Perbedaan transformasi struktural antara negara-negara berkembang itu kemudian penulis jabarkan dalam golongan-golongan berdasarkan perbedaan geografis menjadi negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin.

IV. Transformasi Struktural di Asia
Penelitian transformasi struktural di Asia dilakukan penulis dengan mengambil sampel 10 negara Asia periode 1965 – 2000. Secara umum transformasi struktural di Asia memiliki kemiripan dengan negara maju, yaitu terjadi dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa. Nemun demikian, keunikan transformasi struktural di Asia terletak pada tahap transformasi pertama yaitu dari sektor pertanian ke sektor industri. 

Latar belakang dari fenomena ini coba kami analisa dengan melihat berbagai faktor yang ada. Salah satu hal yang kami nilai menjadi faktor tingginya tingkat transformasi struktural ke sektor industri adalah terjadinya manufacturing export boom di Asia sekitar tahun 1980an hingga sekarang[1]. Dalam hal ini, Asia menjadi pilihan utama negara-negara di dunia untuk memperoleh barang-barang hasil industri. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketersediaan bahan baku serta harga faktor produksi yang murah. Hal ini kemudian mengarah kepada suatu liberalisasi perdagangan. Perdagangan ekspor di Asia ini kemudian berkembang menjadi yang paling terdiversifikasi di antara negara berkembang lain di dunia dikarenakan faktor perkembangan teknologi[2]. Selain itu, faktor lainnya adalah kebijakan pemeritah beberapa negara yang meningkatkan privatisasi. Hal ini kemudian meningkatkan foreign direct investment khususnya pada sektor manufaktur yang berorientasi ekspor. Di samping itu, liberalisasi finansial juga berperan pada transformasi struktural di Asia. Dalam hal ini bank-bank mulai berperan aktif dalam memberikan pinjaman untuk investasi.

V. Transformasi Struktural di Afrika 
Penelitian transformasi struktural di Afrika dilakukan El-hadj Bah dengan mengambil sampel 16 negara yang terletak di Sub-Saharan Afrika periode 1965 – 2000. Transformasi struktural di Afrika dapat dikatakan ’anomali’ bila dibandingkan dengan penelitian Kuznets pada negara maju. Gambaran antara GDP per kapita dengan jumlah output seperti misleading, karena beberapa waktu GDP per kapita nya mengalami penurunan sementara output sektor jasa tetap tinggi. Kemudian secara keseluruhan terlihat bahwa jumlah output sektor bernilai konstan antara 1965 – 2000.

Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan tidak proporsionalnya masing-masing proses transformasi struktural yang terjadi. Jumlah output masing-masing sektor yang konstan menunjukkan proses akumulasi dan alokasi yang tidak berjalan secara kontinyu. Masing-masing sektor berjalan sendiri-sendiri tanpa dipengaruhi langsung oleh peningkatan GDP per kapita. Pergerakan output yang konstan ini tidak menggambarkan adanya pergerakan pengalihan dari sektor pertanian ke sektor industri kemudian ke sektor jasa. Hal ini dapat terjadi karena karakteristik negara Afrika yang tingkat permintaannya cenderung stabil. Tidak terdapat permintaan yang fluktuatif yang dapat menyebabkan perubahan pada struktur penawaran produksi yang akan berakibat pada pergeseran pada lapangan pekerjaan maupun output produksi. 

VI. Transformasi Struktural di Amerika Latin 
Penelitian transformasi struktural di Amerika Latin dilakukan penulis dengan mengambil sampel 12 negara yang terletak di Amerika Latin periode 1965 – 2000. Sementara pada Amerika Latin, polanya berada di “tengah-tengah”, dalam artian hubungan peningkatan dan penurunannya cukup menyerupai pola negara maju, namun jumlahnya cenderung tidak sesuai. Penurunan jumlah output sektor pertanian diikuti oleh peningkatan jumlah output sektor jasa telah bernilai tinggi walaupun di awal-awal proses transformasi berjalan serta jumlah output sektor industri yang cenderung masih di batas bawah kurva negara maju di sebagian besar negara.

Beberapa hal mempengaruhi pola transformasi struktural di Amerika Selatan. Salah satunya krisis hutang yang terjadi di sebagian negara Amerika Latin pada tahun 1982. Hal ini menyebabkan pergeseran subsitusi impor ke promosi ekspor [3]. Selain itu, kebijakan stabilisasi serta penyesuaian struktural yang dilakukan pemerintah di sebagian negara pun turut mempengaruhi transformasi struktural yang terjadi di Amerika Latin [4].

VII. Transformasi Struktural dan Stagnasi Ekonomi
Dengan terjadinya transformasi struktural, akan merubah struktur ekonomi berupa sumber daya dan output yang digunakan untuk membangun. Menurut Syrquin (1994) terdapat hubungan yang kuat antara struktur ekonomi dengan tingkat pembangunan tertentu dan pertumbuhan dan perubahan strukturnya. Hal ini terjadi sejak periode stagnasi ekonomi dan penurunan ekonomi. Misalnya saja di Amerika Latin terjadi struktural transformasi dari pertanian ke industri, di Brazil shares output jasa meningkat ketika per kapita GDP stagnan $ 5000, di negara Afrika GDP perkapita tahun 2000 sama atau lebih rendah dari tahun 1965 walaupun pengalaman struktur transformasinya telah terjadi pada tahun 1965-2000. Berdasarkan Kuznet ini merupakan puzzle karena kita awalnya mengekspektasi bahwa share output sektoral tidak akan berubah jika GDP perkapita tidak berubah.

Hal tersebut mendeskripsikan substansi dari struktur transformasi dengan penurunan besar GDP per kapita, kebalikan dari apa yang kita ekpsktasikan. Ketika negara sedang tumbuh (berkembang) dalam output sektoral maka akan mengikuti arah yang benar. Tetapi ketika negara mengalami stagnan atau penurunan ekonomi maka menjadi arah yang salah.

VII. Efek Perubahan Harga
Analisis sebelumnya, share dari output sektoral diperoleh dengan membagi nilai tambah sektoral harga berlaku dibagi GDP harga berlaku. Oleh karena itu perubahan share output sektoral dapat menyebabkan perubahan pada output dan harga relatif. Agar harga relatif tidak berubah, maka kita harus merekonstruksi nilai tambah dari share output sektoral berdasarkan harga konstan dan nilai tambah sektoral. Untuk negara berkembang hanya sedikit sekali yang memiliki data tentang indikator dalam US$ dengan tahun dasar 2000. Kebanyakan negara berkembang memiliki data dari 1970, sedangkan untuk negara maju data yang dijadikan sampel pada penelitian ini dimulai dari tahun 1971.

Dengan menggunakan regresi panel, ternyata transformasi struktural negara berkembang antara tahun 1970-2000 tidak sama dengan proses transformasi negara maju. Hal ini bisa dilihat pada contoh kasus 5 negara yang hasil regresinya menunjukkan hasil regresi dari nilai tambah dan GDP dengan harga konstan berbeda jika dibandingkan dengan hasil regresi harga berlaku. Hasilnya menunjukkan dengan harga konstan ternyata nilai R square untuk ketiga sektor (pertanian, industri dan jasa) lebih kecil, sehingga terlihat terdapat perbedaan proses transformasi struktural.

Dari pola perbedaan dari lima negara berkembang, ada satu hal yang unik. Polanya menyerupai pola proses trasnsformasi yang memiliki sektor jasa yang besar (Senegal, Brazil, Palistan, Korea, dan Ghana), negara dengan share output jasa yang tinggi dalam harga berlaku memiliki nilai tambah share jasa yang tinggi pula pada harga konstan. Untuk kasus negara maju proses transformasi strukturalnya sama dengan Kuznets, apalagi negara maju telah berada dalam tahap kedua proses transformasi struktural.
Seperti disebutkan sebelumnya, tidak terdapat satupun perbedaan yang besar antara series yang diperoleh dengan menggunakan harga tetap dan mengunakan harga berlaku. Oleh karena itu semua penemuan yang sebelumnya secara lebih lanjut untuk dijadikan ”pegangan”.

Footnote :
[1] Robinson, D., Byeon, Y. Teja, R. dan Tseng, W. Thailand: Adjusting to Success – Current Policy Issues. Washington DC: IMF, 1991, p.10.
[2] Ocampo, Jose Antonio. Structural Dynamics and Economic Growth in Developing Countries. United Nation.
[3] Morley, Samuel A. Distribution and Growth in Latin America in an Era of Structural Reform: the Impact of Globalisation
[4] Dastiar, Ghosh Ananya. Structural Change and Income Distribution inDeveloping Economies: Evidence from a Group of Asian and Latin American Countries. Delhi School of Economics, 2004.

Referensi:
- Bah, El-hadj. Structural Transformation in Developed and Developing Countries. W.P. Carey School of Business, Arizona State University, 2007.
- Bah, El-hadj M. A Three-Sector Model of Structural Transformation and Economic Development. The University of Auckland, 2007.
- Duarte, dan Diego Restuccia. The Role of the Structural Transformation in Aggregate Productivity. The University of Toronto, 2008.
- Besley, Tim, and Louise Cord. Operationalizing Pro-Poor Growth: Synthesis and Country Experiences. London: Palgrave MacMillan, 2006.
- Dastiar, Ghosh Ananya. Structural Change and Income Distribution in Developing Economies: Evidence from a Group of Asian and Latin American Countries. Delhi School of Economics, 2004.
- Islam, Iyanatul dan Anis Chowdhury. Asia-Pacific Economies: A Survey. London: Routledge, 1996.
- Morley, Samuel A. Distribution and Growth in Latin America in an Era of Structural Reform: the Impact of Globalisation.
- Ocampo, Jose Antonio. Structural Dynamics and Economic Growth in Developing Countries. United Nation.
- Robinson, D., Byeon, Y. Teja, R. dan Tseng, W. Thailand: Adjusting to Success – Current Policy Issues. Washington DC: IMF, 1991.
- Timmer. The Road to Pro-Poor Growth: Indonesia’s Experience in Regional Perspective. Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol. 40, no. 2 (August), 2004.
- Timmer. Food Security and Economic Growth: An Asian Perspective. H. W. Arndt Memorial Lecture, Australian National University, Canberra (November 22), in Asian-Pacific Economic Literature. Vol. 19, 2005.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter