Thursday, September 23, 2010

Dilema Pemindahan Ibukota RI

Gemerlap dan hingar bingar Jakarta selalu saja mewarnai aktivitas yang hampir tiada henti siang dan malam. Gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan dan bisnis, serta kompleks perumahan mewah menjadi sebagian wajah dari ibukota republik ini. Hal tersebut mengukuhkan Jakarta sebagai kota yang terbaik dalam hal infrastruktur fisik berdasarkan versi Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (Pemeringkatan Daya Tarik Investasi 214 Kabupaten / Kota di Indonesia Tahun 2004).

Jakarta yang menurut sebagian orang lebih kejam dari ibu tiri dapat memanjakan “anak emasnya” dengan menyediakan ”surga dunia” dengan perpaduan budaya yang ada, fasilitas pendidikan yang modern dan beragam industri yang menguntungkan. Jakarta menjadi sebuah lahan bisnis yang lengkap jika dibandingkan dengan propinsi lainnya di Indonesia. Perdagangan, industri, dan jasa menjadi kekuatan vital nafasnya propinsi DKI Jakarta, sehingga kota metropolitan seperti Jakarta sangat menjanjikan untuk bisa meningkatkan taraf kehidupan.

Ironisnya ditengah ”kegagahan tubuh” dan ”kemolekan wajah” kota ini masih tersimpan ”luka” yang selalu membuat hati menjadi miris. Tidak sedikit rumah kumuh, tingkat kriminalitas, kemacetan, hingga jutaan pekerja informal yang bermata pencaharian sebagai pedagang kaki lima dan buruh hidup serba kekurangan.

Walaupun tidak selamanya menjanjikan taraf hidup yang lebih baik, pesona Jakarta tetap saja menjadi faktor penarik orang yang tinggal di pedesaan untuk melakukan urbanisasi. Alasannya cukup klasik, ragam dan peluang bekerja di Jakarta lebih besar dengan pendapatan yang cukup menggiurkan.

Akibat urbanisasi yang dilakukan, maka jumlah penduduk makin meningkat, sehingga lama kelamaan bisa menjadi permasalahan tersendiri. Bukan berarti jumlah penduduk yang banyak tidak baik, kalau kuantitas yang tinggi disertai dengan kualitas yang handal itu akan menjadi suatu bonus tetapi yang menjadi permasalahan mereka kebanyakan tidak memiliki skill dan hanya menambah beban Jakarta yang sudah “kekenyangan” manusia.

Dari dari hal-hal kecil yang terakumulasi, kini permasalahan ibukota kian kompleks terutama masalah kemacetan. Banyak dampak negatif yang disebabkan oleh kemacetan dan tidak sedikit pula orang “sok bijak” yang menyalahkan kebijakan dari si pembuat kebijakan tata ruang kota. Berawal dari permasalahan macet di tambah dengan masalah lainnya, muncullah topik pemindahan ibukota RI dari Jakarta.

Issue tersebut mencuat ke permukaan dan menjadi hal yang pro kontra. Menurut ayah dari Teuku Rifky Ratzarsyah (pernah tinggal di Palangkaraya selama 11 tahun), ide pemindahan ibukota RI ini sebenarnya sudah ada sejak jaman presiden Soekarno. Dahulu, maksud pemindahan ini adalah untuk memindahkan pusat pemerintahannya, kemungkinan mantan presiden Soekarno memiliki visi Palangkaraya akan mirip dengan ibukota Brazil yang dibangun di tengah-tengah hutan hujan tropis, di mana Brasilia (ibukota Brazil) memiliki tata kota yang bagus.

Tetapi sayangnya (masih menurut ayahnya Rifky), mungkin ketika itu bung Karno belum memperhitungkan deforestasi yang makin hari makin besar saja. Perpindahan ibukota negara, dengan maksud memindahkan pusat pemerintahannya saja akan menarik makin banyak orang masuk ke Palangkaraya (calon ibukota yang baru), tentu saja artinya makin banyak perlu lahan untuk menampung orang untuk tempat tinggal. Itu sama saja hutan hujan di Kalimantan lagi-lagi harus dikorbankan untuk memenuhi tujuan yang satu ini. Selain itu, setiap tahun Palangkaraya setiap tahun harus tertutup asap kebakaran hutan yang luar biasa pekatnya dan kejadian itu pasti terjadi setiap musim kemarau. Faktor tanah gambut di Kalimantan juga harus diperhitungkan jika ibukota akan dipindahkan ke Kalimantan.

Berdasarkan hasil survey terhadap 110 responden yang dibagi menjadi 3 tahap, tahap 1 dilakukan pada tanggal 15 September 2010, tahap 2 dilakukan pada tanggal 21 September 2010, kedua tahap ini polling-nya via social network (facebook, fans-page facebook, twitter). Selanjutnya tahap ke 3 dilakukan pada tanggal 22 September 2010 terhadap 71 orang siswa/i kelas XII IPS A, B dan E SMA Negeri 3 Jakarta ketika saya memberikan quiz di akhir jam pelajaran.

Hasilnya 47 orang setuju jika ibukota RI dipindahkan dari Jakarta, 44 orang tidak setuju, dan 19 orang menjawab netral. Diantara jawaban yang setuju, ada yang mengusulkan agar Jakarta pindah ke Lampung atau Jambi, secara general mereka menilai Jakarta sudah tidak layak menjadi ibukota karena sudah terlalu banyak penduduk dan macet yang selalu menjadi rutinitas. Salah satu entertainer yang juga menjadi vokalis Numan-Band, Syaputra Kamandanu (Danu) Ketika dihubungi via SMS, sangat setuju terhadap pemindahan ibukota. Ia menilai Jakarta sudah sumpek, walaupun aktivitasnya tidak terpaku dengan intensitas kesibukan perkantoran.

Sedangkan kelompok yang tidak setuju ibukota RI pindah berpendapat kalau harus ada pembenahan infrastruktur lagi karena untuk memindahkan ibukota dibutuhkan planning yang matang, grand design ibukota yang baru, dan blue print pengembangan kota. Untuk kelompok netral, mereka menilai sisi positif dan negatifnya, missal mereka setuju penduduk dipindahkan tetapi fasilitas dan investasi jangan ikut pindah, kemudian ada yang berargumen dari sudut pandang faktor historis, dll.

Ibukota negara yang memiliki peradaban modern dengan fasilitas yang memadai dan ramah lingkungan memang menjadi dambaan kita semua, tetapi semua itu akan saling bertabrakan karena terdapat berbagai kepentingan yang sulit terakomodir. Selama pemerataan pembangunan belum berhasi, maka kondisi ini akan terus memaksa orang di desa mengejar kebutuhan (mimpi) akan ekonomi yang lebih baik di kota besar.

Jika ingin Jakarta tetap menjadi ibukota RI, maka diperlukan inovasi kebijakan dan peningkatan teknologi yang tepat guna untuk mengatasi permasalahan yang kompleks di Jakarta. Proses transfer knowledge plus filterisasi hal positif menjadi isu penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah Indonesia agar tercipta pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang lebih terdistribusi secara merata. Selain itu, penataan kembali infrastruktur publik khususnya jalan dapat dirancang ulang sesuai kondisi yang ada. Kalaupun ibukota RI pindah ke wilayah lain, kemungkinan besar proses ini akan lebih lama jika dibandingkan dengan sosialisasi proses redenominasi mata uang Rupiah.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2018, July)
Celine Dion - I'm Alive