Monday, September 27, 2010

Gue Juga Pengen Gaji Segitu…

Setiap manusia menginginkan kehidupan yang mewah, paling tidak semua semua kebutuhannya bisa terpenuhi.Sayangnya kebutuhan tersebut selalu dibarengi bahkan didahului oleh keinginan untuk membeli barang lainnya, sehingga manusia sebagai makhluk ekonomi tidak akan pernah merasakan kepuasan yang bersifat final, dalam artian selalu ada lagi keinginan yang baru setelah kebutuhan yang lainnya terpenuhi.

Karena keterbatasan, manusia tidak mungkin bisa memenuhi semua kebutuhannya. Oleh karena itu kita selalu dihadapkan untuk melakukan pilihan atau mengalokasikan jumlah uang yang kita miliki berdasarkan skala prioritas untuk membeli barang tertentu.

Gaya hidup (pola konsumsi) berbeda antara sesama manusia, hal ini dikarenakan sedikitnya oleh 3 hal yaitu perbedaan pendapatan, selera, dan jumlah anggota keluarga dalam sebuah rumah tangga. Diantara ketiga faktor tersebut, pendapatan lah yang berperan cukup signifikan dalam mempengaruhi lifestyle seseorang, besar kecilnya pendapatan yang diterima tergantung oleh jenis pekerjaan yang dilakoni, tingkat pendidikan dan keahlian yang dimiliki, posisi seseorang dalam pekerjaannya, lama seseorang bekerja, dan tingkat risiko yang dihadapi.

Berikut ini akan saya sajikan penghasilan / gaji dari 17 orang dengan profesi yang berbeda (penulis, penyanyi, artis, atlit, dan politikus) : (silahkan arahkan kursos ke gambar, klik kanan, lalu open link in a new tab untuk melihat gambar lebih jelas).


Ketujuh belas orang tersebut saya buat peringkat dari yang memiliki gaji terbesar hingga terkecil, namun perlu digarisbawahi pemeringkatan ini tidak akurat, hal ini dikarenakan (1) hanya membandingkan 17 orang saja, padahal masih ada orang yang lebih besar penghasilannya dari pada mereka (2) Nomimal gaji mereka diperoleh dari www.gajimu.com, mungkin gaji tersebut bisa lebih besar jika mereka ada proyek di luar pekerjaan mereja atau mungkin lebih kecil jika mereka terkena hal-hal yang tidak diinginkan.

Berdasarkan tabel di atas kita bisa melihat pencapaian gaji yang spektakuler didapatkan pada usia yang masih bisa dibilang muda (kisaran 23 – 50 tahun). Penghasilan 17 orang tersebut bisa dikatakan lebih dari cukup untuk gaya hidup kelas atas, untuk orang lokal saya mencantumkan SBY (Rp 62.497.800 per bulan) dan Luna Maya (Rp 12.500.000 per bulan). Nominal seperti itu juga masih bisa dibilang kecil jika dibandingkan penghasilan 15 orang lainnya, karena memang nilai Rupiah yang undervalue jika dibandingkan dengan mata uang luar negeri. Coba lihat gaji Beyonce yang per bulannya bisa mencapai 65 milyaran rupiah, wow!!! *MUPENG*

Memang jika kita berbicara tentang pendapatan seseorang, terkadang tidak sopan karena dianggap mengintip privacy seseorang. Namun tulisan ini dibuat bukan untuk membanding-bandingkan gaji yang satu dengan yang lainnya, di sini saya ingin memperlihatkan dan mengajak kita semua membuka mata bahwa ada golongan orang tertentu yang bisa menikmati “surga dunia”. *MUPENG LAGI*.

Coba lihat nominal dari Messi (umur 23 tahun), ketika usia belia tersebut dia bisa menghasilkan hamper 15 milyar rupiah setiap bulannya. Kemudian saya akan mengajak anda untuk melihat PNS golongan IVe yang telah bekerja selama 32 tahun yang menerima gaji 3,4 juta rupiah per bulan. Dari situ bisa ditarik kesimpulan : untuk bisa sama dengan gaji Messi 1 bulan maka PNS yang telah membanting tulang tersebut harus mengumpulkan gajinya 1 bulan selama 368 tahun, hahaha, *MUPENG TERUSS*.

Bukannya tidak mensyukuri pemberian Tuhan terhadap gaji yang kita terima, justru setelah kita mengetahui hal ini kita harus menjadi lebih termotivasi lagi untuk bisa mendapatkan gaji yang lebih layak dari pekerjaan yang kita geluti.

Jika ingin kaya secara instan (terutama yang masih muda) silahkan anda geluti bidang pendidikan dan pelatihan untuk menjadi seorang penyanyi, artis, penulis terkenal, politikus, atlit, dll. Tapi harus diingat, kita tidak perlu menjadi profesi yang saya sebutkan tadi jika memang passion kita sama sekali tidak ada di sana. Karena akan sangat percuma jika pekerjaan yang kita geluti malah menyiksa diri kita.

Sebelum mengakhiri tulisan ini saya akan menyajikan beberapa fakta (dari opini pribadi) tentang gaji atau pendapatan :
  1. Tingkat risiko suatu pekerjaan tidak berbanding lurus dengan gaji. Contoh polisi tingkat risikonya lebih besar jika dibandingkan dengan atlit, namun gaji atlit khususnya yang dari luar negeri (dan terkenal) gajinya bisa lebih besar berkali-kali lipat. 
  2. Tingkatkan gaji guru / dosen / peneliti / ilmuan jika Indonesia mau menjadi lebih maju. Kadang guru merasa diundervaluekan jika dibandingkan dengan gaji entertainer/profesi lainnya, hal inilah yang membuat pendidik/pengaar kurang “total” dalam mengajar dan banyak ikut proyek di luar profesinya. 
  3. Tingkat pendidikan memiliki korelasi positif dengan jumlah gaji, namun signifikasninya tidak begitu besar. Coba bandingkan dengan beberapa artis, penyanyi, atlit, dll, sebagian dari mereka tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi untuk bisa mendapatkan gaji yang spektakuler

Terakhir, kita jangan selalu mengejar gaji (uang) saja, ingat kebahagiaan tidak selalu dikaitkan dengan uang. Saya ingin mengingatkan anda pepatah lama : “ Kita bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja.” Maksudnya jangan habiskan sepanjang hidup anda untuk terus bekerja karena kita bukan robot, Kita harus memiliki tujuan yang jelas mau jadi apa diri kita dan untuk apa kita bekerja, jadikan pekerjaan untuk mengisi keseharian kita.

Ingat konsep kerja yang tepat, kerja dalam dunia professional tidak hanya sebatas dibayar, karena jika berasumsi demikian kita akan susah untuk menjadi orang besar, jika ingin menjadi orang besar kerjakan lah sesuatu yang lebih dari diri kita. Masalah gaji urusan kesekian, karena kinerja dan gaji berbanding lurus.

Jangan ukur nominal gaji saja, tapi ada 2 hal penting lainnya yaitu pengalaman dan kematangan. Jika gaji hanya dilihat dari segi nominal saja maka poin pengalaman dan kematangan akan menjadi kurang bermanfaat. Memakmurkan diri memang penting, tetapi jangan lupa untuk berbagi, dengan berbagi bisa memperkuat silaturahmi. Jika silaturahmi sudah terjaga insya Allah pintu rizki akan selalu terbuka untuk kita, percayalah rezeki kita sudah ada bagiannya masing-masing dan tidak akan tertukar (yang penting kita sudah ikhtiar dan tawakal kepada-Nya).

1 comment:

  1. artikel yang sangat menarik. Anda berbakat menjadi penulis... !!!
    Bikin buku, bro... biar nggak cuma mupeng. :D

    ReplyDelete

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2018, May)
Britney Spears - My Prerogative