Sunday, September 19, 2010

Kita dan Bumi : TTM


” Andaikata umat manusia kita masih mempertahankan keadaan seperti sekarang ini, umat manusia dari tahun 2008 – 2012 bakal menjalani hari-hari penuh ketakutan, pertanda awal sebelum bencana terjadi, langit diseluruh dunia akan diselimuti dengan ”awan hitam”. Selalu merasakan bencana demi bencana besar yang akan disongsong oleh dunia di masa depan, termasuk pergerakan cuaca dan meletusnya perang.” (Jucelino Nobrega da Luz)
 

Once upon a time there was a girl
In her early years she had to learn
How to grow living in a war that she called home
Never knew just where to turn for shelter from the storm
It hurt me to see the pain cross my mother’s face
Every time my father’s fist would put her in her place
Hearing all the yelling I would cry up in my room
Hoping it would be over soon

Bruises fade father but the pain remains the same
And I still remember how you kept me so afraid
Strength is my mother for all the love she gave
And every morning that I wake I look back at yesterday
And I’m OK

Yups, itulah bagian dari lirik single Christina Aguilera di album stripped nya yang berjudul I’am OK. So, apa hubungannya sama kita dan Bumi : TTM? Sebelum kita terus membaca, saya akan memperkenalkan para pemain dalam artikel ini, mereka adalah :

  • Me / I / I am = berperan sebagai pemain utama: bisa saya, bisa kamu atau siapapun yg sedang membaca artikel ini 
  • Home = kita ibaratkan sebagai Bumi 
  • Girl = ”roh” Bumi, atau ”nyawa” si Bumi  
  • Mother = maksudnya suatu tempat / daerah / lingkungan tertentu di Bumi 
  • Father = para perusak Bumi

Nah, udah pada bisa terlihat kan benang merahnya dimana? Oke bener banget, home kita sekarang sedang disakiti oleh para Father yang tidak bertanggung jawab. Dengan kemajuan zaman, perkembangan teknologi dan dalih ingin mengejar pertumbuhan ekonomi, banyak orang yang sudah tidak memiliki kepedulian lagi terhadap Mother-nya padahal efek dari global warming telah menjadi isu yang sangat booming.

Coba renungkan : ”And every morning that I wake I look back at yesterday, and I’m OK”. Wah bahaya banget nih kalimat ini, mereka (si perusak bumi) dengan sadar atau kurang sadar bangun setiap paginya dan meriew aktivitas yang telah dilakukan sebelumnya dengan berkata ”I’am OK” padahal Bumi yang semakin tua dan rentan posisinya terancam akibat ulah si father. Yang lebih parah lagi, walaupun kita (termasuk kamu yang lagi baca blog ini) bukan sebagai father tapi kadang kita jadi TTM-an nya Bumi, maksudnya Teman Tapi Merusak.

Banyak hal-hal kecil yang kita lakuin dan terasa sepele tapi ternyata itu justru merusak si Bumi, misalnya kita ga nyabut charger hp setelah di pake. Coba deh kamu banyangin kalo ada 1000 orang aja yg kaya gitu, pasti dampaknya akan sangat signifikan buat si bumi kan?

Selidik punya selidik ...
Sebelum kita maen selidik-selidikan,, sobat muda udah pada tau kan apa itu global warming? Gampangnya arti global warming itu terjadi peningkatan temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan di Bumi. Nah, apa aja sih yang ngebuat temperatur bumi jadi meningkat? Salah satu penyebabnya tuh lewat pencemaran dengan timbal yang terjadi di bumi. Dampak yang ditimbulkan karena pencemaran timbal (Pb) menurut Prof. Otto Sumarwoto dalam FGD I, Presentasi II : Pembangunan Yang Berkelanjutan pada tanggal 25 Mei 2005 yaitu : 
  • Mempengaruhi semua organ 
  • Menyebabkan anemia 
  • Pada anak-anak : menghambat perkembangan sistem syaraf pusat -- masalah neurologik, kesulitan belajar, penurunan IQ 
  • Pada perempuan : Pb yang ditimbun dalam tulang waktu hamil di remobilisasi -- masuk dalam janin - - dampak pada perkambangan otak dan syaraf 
  • Pada laki-laki : gangguan sistem reproduksi, erection dysfunction 
  • Pada orang tua : mempercepat proses penuaan -- memperpendek umur 
  • Zat padat (PM 10 dan PM 2,5) mempengaruhi paru-paru dan jantung

Tuh kan bahaya banget efek timbal untuk manusia, belum lagi timbal bersama-sama dengan penyebab perusak bumi lainnya secara akumulatif bekerja sama untuk membinasakan bumi. NASA menyatakan bahwa global warming akan berimbas pada semakin ekstrimnya perubahan cuaca dan iklim bumi. Pola curah hujan berubah dengan cepat tanpa dapat di prediksi, misalnya pada cuaca sekarang ini kita tentu bisa melihat betapa tidak dapat diprediksinya kedatangan hujan dan peluang tidak hujan.

Dampak negatif lainnya dari pemanasan global yaitu mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan, hal ini akan mengakibatkan berdampak naiknya volume air laut. Para ahli memperkirakan apabila seluruh Greenland mencair maka level permukaan laut akan naik sampai dengan 7 meter. Tentu saja ini menjadi suatu hal yang buruk karena akan membuat daratan tertentu, pantai dan pelabuhan yang ada di dunia akan tenggelam alias hilang. Pendapat senada dituturkan oleh ahli lingkungan lainnya, Imam Ernawi (Dirjen Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum) pada tanggal 3 April 2008. Beliau menegaskan bahwa ”Pada tahun 2030 terjadi peningkatan permukaan air laut 8-29 sentimeter per tahun. Kenaikan air laut itu menyebabkan tenggelamnya pulau-pulau terluar yang menjadi batas acuan teritorial”.

Tentu saja kita tidak mau kehilangan sahabat tercinta sekaligus tempat dimana kita berpijak (Bumi), oleh karena itu kita tidak boleh tinggal diam duduk manis setelah mendengar dan mengetahui bahaya diatas. Supaya kita bisa melihat secara teknis tentang kontribusi apa paling sering dilakukan anak muda untuk meminimalisir efek dari global warming, penulis akan melakukan survei kecil-kecilan lewat blog, facebook dan menyebar kuesioner di lingkungan UI pada tanggal 15/1 – 16/1 2009.

Sekedar Intermezzo : Responden adalah orang muda sebanyak 46 orang yang kisaran umurnya 17-26 tahun (masih pada muda-muda kan.....), selain itu penulis memberikan apresiasi kepada peserta polling dengan memberikan voucher pulsa senilai @ Rp 10.000 untuk 3 orang yang beruntung (diundi). Terima kasih ya teman-teman udah ikutan polling, yang belum ikutan, uhmmm........ gmn ya ? gimana mau peduli sama upaya ngatasin global warming kLo untuk dimintain tolong jawab polling ini aja bilang MALES AH !!! (T_T)

Karena, eh, Karena …
Ada gula ada semut, peribahasa tersebut sangat cocok menganalogikan anak muda. Mereka akan datang dengan sendirinya untuk melakukan hal yang mereka sukai. Begitu pula dengan global warming, hal pertama yang mereka lalukan yaitu memiliki kepedulian dan mulai melakukan aktivitas untuk meminimalisir dampak pemanasan global dari hal-hal sederhana yang mungkin mereka sukai. Dengan tema ”Jadilah Sahabat Bumi”, penulis memfokuskan diri pada anak muda yang memiliki andil penting dalam mengurangi efek global warming dan mengestimasi langkah kongkrit apa yang bisa dilakukan yang bisa dimulai dari hal-hal yang paling kecil.

Grafik disamping menunjukkan aktivitas yang bisa dilakukan oleh anak muda untuk mengurangi pemanasan global. Hasilnya ternyata teman-teman kita lebih memilih untuk melakukan penghematan kertas (28,26 %), mengurangi sampah (15,22%), kemudian posisi ketiga diikuti dengan hemat air dan naik sepeda/jalan untuk jarak dekat masing-masing sebesar 13,04 %. Aktivitas berupa penggunaan alat elektronik hemat listrik cenderung kurang disukai (4,35 %), bahkan tidak ada yang memilih untuk menggunakan produk lokal.

Tiga terakhir dari aktivitas yang terdapat dalam grafik merupakan tiga aktivitas yang kurang dipilih oleh responden. Hal ini bisa sedikit dimaklumi karena aktivitas tersebut di luar kesukaan anak muda (dalam artian bukan menjadi urusan mereka, karena akan ada yang mengurusi). Contoh dalam penggunaan alat elektronik hemat listrik dan mengganti lampu dengan yang hemat energi, hal tersebut biasanya akan menjadi urusan orang tua kita (atau siapapun yang membayar tarif listrik ^_^). Apalagi menggunakan produk lokal untuk mengurangi efek pemanasan global, sangat tidak dipilih karena dominasi barang konsumsi kaum muda banyak yang impor, belum lagi jika dikaitkan dengan kualitas dan pilihan selera yang menanggap kualitas luar negeri lebih bagus ketimbang dalam negeri padahal dengan menggunakan produk lokal kita akan mengurangi bahaya pemanasan global.

Apa Yang Bisa Anak Muda Bantu?
Upaya penanganan global warming dan misi melindungi bumi tentu tidak bisa dilakukan oleh beberapa kalangan saja, kita memerlukan sinergitas dari berbagai kalangan yang berasal dari semua lini masyarakat. Menurut Prof. Emil Salim dalam FGD I, Presentasi I Agenda Bangsa 2005 - 2025 pada tanggal 25 Mei 2005, secara ekonomi kita memerlukan Trilogi Pembangunan Berkelanjutan, dimana pembangunan berkelanjutan mengusahakan serentak : 
  • Sustainable Ekonomi, melalui pemberantasan kemiskinan dengan full employment income generating growth 
  • Sustaianable Sosial, melalui pengembangan kualitas sumber daya manusia / masyarakat dengan kohesi social 
  • Sustainable Lingkungan, dengan melestarikan ekosistem penopang kehidupan

Trilogi tersbut digunakan untuk mengatasi dan meminimalisir efek pemanasan global, selain itu trilogi tersebut juga bisa untuk mengkoreksi kemajuan zaman yang dengan dalih menggunakan teknologi canggih berusaha mengejar pertumbuhan ekonomi tetapi mengabaikan kualitas lingkungan. Oleh karena itulah diperlukan keterkaitan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Konsep trilogi diatas sangat baik, namun itu dalam tingkatan makro dan harus dilakukan oleh banyak pihak untuk mewujudkannya. Kemudian yang menjadi pertanyaan apa yang bisa anak muda bantu untuk mengurangi pemanasan global? Rasanya untuk level anak muda akan sulit jika melakukan hal-hal yang berat (apalagi jika mereka tidak suka), oleh karena itu setiap anak muda harus suka melakukan sesuatu yang bermula dari hal-hal yang kecil untuk mengurangi global warming seperti yang kita bahas diatas.

Hal yang akan sangat mungkin bisa dilakukan oleh anak muda yaitu : berdasarkan hasil survey) 
  1. Hemat kertas, 13 orang (28.26087 %) 
  2. Kurangi sampah, 7 orang (15.21739 %) 
  3. Hemat air, 6 orang (13.04348 %) 
  4. Naik sepeda/jalan untuk jarak dekat, 6 orang (13.04348 %) 
  5. Naik bis untuk jarak jauh, 5 orang (10.86957 %) 
  6. Ceritakan perubahan iklim ke orang lain, 4 orang (8.695652 %) 
  7. Ganti lampu dengan yang hemat energi, 3 orang (6.521739 %) 
  8. Gunakan alat elektronik hemat listrik, 2 orang (4.347826 %) 
  9. Pilih produk lokal, tidak ada yang memilih

Berdasarkan gambaran dari survey di atas, kita sebagai anak muda dalam berperan mengurangi pemanasan global bisa melakukan dari hal-hal yang mudah dan memang bisa nyata dilakukan dalam keseharian. Misalnya dalam keseharian pasti anak muda selalu berhubungan dengan pemakaian kertas, oleh karena itu kita harus bijak dalam menggunakan kertas dengan tidak mencoret-coret kertas jika kurang penting atau tidak nge-print jika bisa di baca di komputer.

Kemudian sampah, kita bisa melindungi bumi dengan melakukan memilih kemasan apapun yang tidak langsung dibuang (kemasan isi ulang) dan memilah jenis sampah yang dibuang, selain itu hemat dalam penggunaan air juga penting untuk menjadi agenda diri. Hal lainnya kita bisa jalan kaki atau naik sepeda jika jarak yang ditempuh dekat dan naik bus jika jarak yang ditempuh jauh karena selain mengurangi polusi kita juga meminimalisir kemacetan yang kian parah. Alternatif lainnya kita bisa menceritakan dan berbagi pengetahuan tentang bahaya global warming dan memberikan solusi bagaimana kita sebagai generasi muda bisa melindungi bumi.

Jika sebagai generasi muda kita suka dan bisa melakukan semua hal diatas maka bumi pasti akan terselamatkan dari bahaya pemanasan global. Namun jika kita tidak melakukan satu hal saja dari sembilan aktivitas diatas kita bisa di sebut sebagai TTM (Teman Tapi Merusak) bumi, bahkan kalau boleh dibilang bumi itu lebih dari sekedar teman karena menjadi tempat kita untuk hidup.

Mungkin efek merusaknya bumi tidak akan signifikan jika dilakukan oleh satu orang, namun bagaimana jika yang menjadi TTM bumi milyaran manusia di dunia. Apakah bumi akan bertahan selama 20 tahun kedepan dengan melihat kondisi-kondisi kerusakan yang ada selama ini, bahkan Ramalan Jucelino Nobrefa da Luz (Ramalan Besar Yang Mengejutkan Dunia. The Epoch Times/whs). mangatakan ”Andaikata umat manusia kita masih mempertahankan keadaan seperti sekarang ini, umat manusia dari tahun 2008 – 2012 bakal menjalani hari-hari penuh ketakutan, pertanda awal sebelum bencana terjadi, langit diseluruh dunia akan diselimuti dengan ”awan hitam”. Selalu merasakan bencana demi bencana besar yang akan disongsong oleh dunia di masa depan, termasuk pergerakan cuaca dan meletusnya perang.”

Oleh karana itu sudah sepatutnya kita ikut mengambil bagian dalam berupaya melindungi bumi tercinta kita ini dari kerusakan dan kehancuran yang parah dengan dimulai dari hal-hal sederhana, dan yang terkahir dan terpenting semoga ramalan dari Jucelino Nobrega da Luz menjadi KESALAHAN BESAR karena anak muda melakukan sembilan hal penangkal aksi nyata untuk mengurangi efek global warming.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, June)
Christina Aguilera - Fighter