Monday, September 20, 2010

Siapkah Universitas (Top) Indonesia Ber-Bahasa Inggris?

Berita gembira datang dari kampus makara… berdasarkan rilis resmi UI tanggal 17 September 2010, UI menempati posisi 6 terbaik di Asia Tenggara dan 40 terbaik di Asia berdasarkan versi QS World University. Indikator dari penilaian ini adalah kualitas institusi, reputasi akademis dan pegawai, serta mahasiswa dan fakultas internasional.

Dari 600 universitas di dunia, UI menempati urutan ke 236 dengan skor 42,90. Untuk peringkat per bidang UI menempati posisi 95 untuk ilmu sosial, 141 untuk ilmu kesehatan, 172 untuk seni dan humaniora, 203 untuk teknik dan informatika, dan 280 untuk ilmu pengetahuan alam. 


Bahasa Inggris sebagai bahasa gaul dunia sangat memiliki peranan penting. Bagaimana tidak? segala hal yang kita temukan di dunia internet, text-book bahkan dalam keseharian hidup hampir bisa dipastikan menuntut pengetahuan ber-bahasa Inggris kita. Tapi terkadang bahasa internasional ini menjadi momok bagi sebagian mahasiswa/i dalam memahami suatu materi dan menjadi bumerang untuk mengembangkan diri akibat minimnya pengetahuan dan atau kepercayaan diri dalam ber-Bahasa Inggris.

Hal tersebut apabila melanda sebagian besar mahasiswa di Indonesia tentu saja dapat menjadi salah satu faktor penghambat pengembangan diri dalam menghadapapi era globalisasi. Kemampuan ber-bahasa inggris juga cukup signifikan untuk rating universitas, maka itu di sini kita menyimak pendapat dua dosen handal FEUI yaitu Bapak Arianto Arif Patunru, Ph.D. dan Bapak Prof. Suahasil Nazara, Ph.D. Selain itu kita juga akan mengetahui seberapa besar preferensi kesukaan anak UI dalam kuliah yang menggunakan pengantar dengan Bahasa Inggris.

Menurut pak Aco (sapaan akrab pak Arianto Patunru) UI sudah siap dalam memberikan perkuliahan dengan pengantar Bahasa Inggris. Secara tepisah pak Suahasil juga mengatakan bahwa “UI sangat siap bahkan seharusnya siap membuka program yang menawarkan gelar internasional – bukan hanya kuliah dalam bahasa Inggris”. Berdasarkan keterangan kedua dosen tersebut (mewakili FEUI), UI sangat optimis dan sudah siap dalam memberikan perkuliahan dalam bahasa Inggris, tapi apakah realitanya di lapangan benar demikian ?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, setidaknya kita akan melihat dari sisi dosen (sebagai pihak yang memberikan materi perkuliahan) dan mahasiswa (sebagai pihak yang menerima materi perkuliahan). Dari sudut pandang dosen, masih menurut Pak Aco, jika dalam suatu mata kuliah memang sangat sulit untuk diberikan dengan pengantar Bahasa Inggris maka solusinya adalah mengajari mahasiswa secara pelan-pelan dan diulang-ulang sampai mahasiswanya ngerti (wah, baik bener ya Pak aco ^_^).

Pak Sua mengatakan bahwa “pemahaman mata kuliah berbahasa Inggris harus dua arah, mahasiswa dan dosen. Selain dosen harus bisa menyampaikan ide dalam bahasa Inggris, mahasiswa juga harus cukup bisa mengerti dalam bahasa Inggris. Jadi dua-duanya harus bisa bahasa Inggris kalau materi kuliah ingin dengan baik dipahami”. Opini dari Pak Sua sangat bisa kita terima, karena dalam hal apapun akan sangat percuma kalau sesuatu itu hanya sepihak, misalnya walaupun si dosen sangat handal dalam berbahasa Inggris dan memberikan penjelasan yang berulang-ulang sampai mahasiswanya mengerti tetapi mahasiswanya kurang menguasai bahasa Inggris maka sama saja dengan bertepuk sebelah tangan.

Dari sisi mahasiswa/i tentang kuliah berbahasa Inggris, disini kita akan melihat hasil preferensi mereka terhadap pertanyaan yang diberikan ”Apakah kamu menyukai perkuliahan dengan pengantar bahasa Inggris?”. Pertanyaan di berikan kepada 30 orang mahasiswa/i di UI dari berbagai fakultas dan angkatan, pengambilan sampel di lakukan melalui Facebook (interaksi lewat status, wall, dan chat). Hasilnya dari 30 orang yang menjadi sampel, 17 orang suka kuliah berbahasa Inggris, 10 orang tidak menyukai dan 3 orang netral. Jawaban netral karena mereka tidak bisa menjawab suka atau tidak (melainkan 50 : 50 dengan berbagai alasan yang diberikan). Sedangkan jawaban 10 orang yang tidak menyukai kuliah dengan bahasa Inggris berargumen bahwa vocab yang sulit dimengerti dan hanya menjadi suatu keharusan / kewajiban untuk mengambil mata kuliah dengan pengantar bahasa Inggris untuk sejumlah SKS tertentu, yang padahal mereka tidak suka. Terakhir, walaupun dominasi mahasiswa yang suka lebih dari 50 % tetapi semua jawaban tersebut kondisional, dalam artian suka jika dosennya memang benar-benar kompeten dalam bahasa Inggris dan untuk sebagian orang tertentu hanya suka jika mata kuliah tersebut bersifat hitungan (bukan teoritis).

Nampaknya berdasarkan survey yang saya lakukan (hanya sekedar intermezzo dan bukan untuk tujuan ilmiah), pihak dosen lah yang harus menjadi pionir dalam membuat mata kuliah dengan pengantar bahasa Inggris itu menjadi menarik dan mudah dipahami (dengan asumsi rata-rata kemampuan berbahasa Inggris anak UI cukup baik). Jika dosen sudah menghidupkan suasana dan membuat siswa ingin mengetahui lebih lanjut maka kendala bahasa akan bisa teratasi, lebih-lebih kalau si dosen bisa dengan sabar membantu mereka yang kesulitan memahami bahasa Inggris.

Lantas bagaimana sebaiknya para dosen mengakali hal ini ? Apakah diperlukan semacam pelatihan mengajar jika ingin memberikan kuliah dengan bahasa Inggris ? Menurut Pak Sua ” Mengajar itu tidak mudah, tidak semua orang pintar bisa mengajar walaupun bahasanya capleng. Jadi pelatihan mengajar selalu diperlukan.” Mungkin ini bisa menjadi cara untuk mengakali kendala tersebut, yaitu bekal mengenai tenik mengajar – bukan sekedar bekal bahasa Inggrisnya saja.

Berbeda dengan Pak Sua, Pak Aco mengatakan ”Tidak perlu pelatihan tetapi yang mau kursus silahkan, nggak usah dipaksa-paksa. Mungkin semua itu akan kembali kepada masing-masing dosen apakah mereka membutuhkan pelatihan atau tidak, jangan sampai berani mengajar dengan bahasa Inggris tetapi malah menjerumuskan mahasiswa/i.” tukasnya.

Terkait dengan suka atau tidak suka, semua akan berpengaruh pada perkembangan seseorang dan tentu berpengaruh kepada nilai akhir yang akan diterima. Biasanya orang akan sangat mudah untuk memaklumi apabila nilai yang diperoleh di kelas yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris tidak mendapatkan nilai maksimal. Apakah hal ini menjadi suatu hipotesa yang benar, jika mata kuliah yang menggunakan pengantar bahasa Inggris, rata-rata nilai kelas dan pemahaman mahasiswa/i nya menjadi lebih rendah jika dibandingkan dengan kelas berbahasa Indonesia?

Sebagai dua dosen yang kompeten di FEUI maka kedua narasumber juga angkat bicara. Menurut Pak Sua ”Hipotesa itu boleh-boleh saja. Coba kamu yang buktikan dengan ilmu statistik yang kamu sudah punya sampai saat ini, kira-kira bagaimana caranya untuk membuktikan bahwa hipotesa tersebut terjadi atau tidak.” Sedangkan Pak Aco langsung memberikan jawaban tidak percaya, beliau mengatakan ”Umumnya yang ngerti bahasa Inggris pemahamannya juga tajam. jadi mustinya hasilnya bagus. Kalau tidak, salah dosennya kali.”. Wah setuju banget tuh sama jawaban Pak Aco, terus-terus ada yang bisa bantu buat ngejawab tantangannya Pak Suahasil? ^_^

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter