Thursday, February 17, 2011

Antara Ekspor dan Impor Industri Kapas Indonesia


Kapas merupakan serat yang diperoleh dari biji tanaman kapas, yaitu sejenis tanaman perdu. Kapas banyak digunakan untuk pakaian karena sifatnya yang menyerap keringat sehingga nyaman dipakai dan stabilitas dimensi yang baik. Oleh karena itu, kapas berperan penting sebagai bahan baku dalam industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia.



Kebutuhan bahan baku industri TPT berupa kapas alam diperoleh 95,5% melalui impor atau produksi kapas dalam negeri tidak lebih dari 25 ribu ton dari total kebutuhan kapas sebanyak 550.000 ton (Dr. Ir. Agus Hasanuddin Rachman, M.Sc. 2010). Negara eksportir kapas terbesar di dunia adalah Cina (25%), Amerika Serikat (21%), India dan Pakistan (total 19%), dan disusul Uzbekistan, Turki, Brazil, Australia (Makalah Kapas, 2007). Indonesia hanya menjadi negara net importir kapas, salah satu penyebabnya adalah terkendalanya pengembangan benih yang masih sangat terbatas. Berikut ini adalah perincian net ekspor industri kapas Indonesia dari tahun 2001 – 2009 :


Berdasarkan data di atas, rata-rata ekspor industri kapas pada periode 2006 – 2009 mengalami penurunan dari periode 2001 – 2005 sebesar -9,54%. Dalam sepuluh tahun terakhir, hanya pada tahun 2005 saja Indonesia menjadi negara eksportir kapas. Industri TPT Indonesia sangat rentan dalam hal ketergantungan impor bahan baku kapas, jika negara eksportir tersebut menerapkan kebijakan penghapusan subsidi kapas, tentu saja kita akan terkena dampak negatifnya. Belum lagi pada awal bulan Januari 2011 terjadi kenaikan harga kapas yang dipicu oleh penurunan pasokan kapas dunia akibat Australia yang merupakan salah satu negara produsen kapas terbesar mengalami penurunan produksi karena curah hujan cukup tinggi.

Penurunan kinerja industri TPT disebabkan daya saingnya yang melemah, sedangkan penyebab lemahnya daya saing adalah ketergantungan bahan baku impor, alur tersebut berimplikasi pada sektor hilir termasuk pakaian jadi yang akan terkena dampaknya. Industri TPT di Indonesia hingga saat ini hanya mengandalkan sektor hilir yang banyak menyerap tenaga kerja saja, belum ada upaya lebih lanjut untuk mengoptimalkan sub sektor hulu.


Analisis data ekspor impor industri TPT pada gambar di atas dibagi menjadi dua periode yaitu pertama tahun 2001 – 2005 dan kedua tahun 2006 – 2009, dalam dua periode tersebut struktur ekspor belum terjadi perubahan yang signifikan dalam hal andalan komoditas ekspornya. Ekpsor industri TPT di Indonesia didominasi oleh sub sektor hilir (HS 61 dan HS 62), dan sub sektor hulu serat buatan (HS 54 dan HS 55). 

Satu hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut adalah HS 52 atau kapas, ketergantungan impor akan kapas sangat tinggi, akan tetapi selama dua periode ekspor kapas menempati urutan kelima sebagai komoditas ekspor utama dalam industri TPT Indonesia. Mungkinkah kualitas kapas dalam negeri sangat diminati dunia? Jika benar, seharusnya kapas tersebut diolah lebih lanjut agar memiliki nilai tambah yang lebih besar. Namun, jika tidak mungkin itu bagian dari inkonsistensi keterkaitan antara industri hulu dan industri hilir dalam komoditas TPT, ekspor kapas hanya dijadikan alat untuk memperoleh devisa meskipun ditengah kapasitas produksi yang rendah dan kebutuhan dalam negeri belum terpenuhi dengan baik.

1 comment:

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter