Monday, February 28, 2011

Tanggung Jawab dan Kepedulian dalam Kewirausahaan

Hari Jum’at, 23 November 2007, diadakan kuliah umum mata kuliah kewirausahaan di Ruang Auditorium FEUI dengan pembicara Bapak Jan Darmadi, seorang entrepreneur properti papan atas. Topik yang diterangkan adalah Tanggung Jawab dan Kepedulian dalam Entrepreneurship. Moderatornya adalah Bapak Taufik Bahaudin, seorang dosen kewirausahaan. Satu pekan sebelumnya, Bapak Taufik juga telah menghadirkan Bapak Prabowo Subianto sebagai pembicara dengan topik serupa.

Dalam kuliah tamunya Bapak Prabowo Subianto menekankan bahwa ‘business is war’. Melalui pergelutannya dalam dunia bisnis selama 12 tahun (hingga saat ini), Prabowo melihat fenomena yang digambarkan sebagai 9 dari 10 orang yang mau berhubungan bisnis dengan dirinya akan berusaha mencuranginya. “If you can be cheated, you will be cheated”. Namun kita harus tetap percaya bahwa masih ada orang-orang yang baik yang bisa menjadi rekan bisnis yang dapat dipercaya. Kita harus mampu membedakan keduanya. Selanjutnya Prabowo berkesimpulan bahwa bisnis sesungguhnya adalah perebutan sumber daya ekonomi yang secara langsung atau tidak langsung terjadi antar negara. Dalam melakukan kegiatan bisnis, pebisnis Indonesia harus tetap menjaga kepentingan nasional, jangan melakukan kegiatan yang berakibat menyengsarakan rakyat banyak, merusak bangsa dan negaranya.

Sementara itu, Bapak Jan Darmadi melihat bahwa bisnis adalah kerjasama. Setiap pebisnis harus menjadikan kepedulian dan tanggung jawab dalam arti luas termasuk terhadap negara dan bangsa sebagai dasar nilai-nilai dalam menjalankan usahanya, sedangkan “war” adalah dalam kita bersaing dengan lawan/saingan bisnis kita. Dalam bisnis, modal berupa uang bukanlah faktor utama karena masih ada faktor lain yang lebih penting yaitu keahlian, nama baik, hasil perhitungan yang teliti, kerja keras dan kita harus tetap meyakini bahwa pada akhirnya tetap harus mendapat izin dari Tuhan YME. Berikut ini adalah sebagian dari beberapa pertanyaan yang diajukan dan dijawab oleh Bapak Jan Dharmadi :

Pertama,
Q : Wirausaha yang kreatif dan inovatif melihat peluang dari pendidikan sebagai investasi, tapi di sisi lain ada pengusaha dunia yang dulunya drop-out dari kampus. Apakah tepat karena melihat suatu peluang lain, seseorang keluar dari pendidikan untuk mengejar peluang tersebut? Apakah lulusan seperti itu salah atau tepat?
JD : “Saya hanya bisa bilang, secara average kita membutuhkan satu ilmu pendidikan. Mungkin yang berhasil tanpa pendidikan yang tinggi itu, bukan orang bodoh, tapi orang yang sudah tahu tujuan, dan tahu antisipasi lingkungan. Dia sudah tahu arahnya ke mana dan sudah diantisipasi. Jika Anda sudah masuk kategori itu, Anda bisa jadi orang terkaya tapi ternyata saya belum jadi orang terkaya di dunia, ha ha ha… Antara keputusan uang dan pendidikan, saya tidak bisa menjawab, Andalah yang menentukan itu.”

Kedua,
Q : Bagaimana untuk mendapatkan modal untuk memulai bisnis?
JD : “Tindakan kita, ucapan kita, janji kita.”

Ketiga,
Q : Menurut Bapak, bisnis itu bergantung pada produk yang hebat atau sistem yang hebat?
JD : “Kita tidak bisa bedakan produk hebat dan sistem hebat. Sistem bukan yang utama untuk membuat produk yang hebat, dan bukan produk juga yang membuat sistem yang hebat. Yang dibutuhkan adalah sebuah visi, dilihat dibutuhkan untuk keadaan itu. Visi yang baik harus dikaitkan lagi dengan strategi yang kita ambil, kalau strategi berhasil, sistem pun akan bisa berhasil. Jika produk tidak bisa dibarengi dengan sistem, tak ada pengembangan yang pesat. Yang harus kita pikirkan dari titik-titik yang harus kita isikan dari background ini adalah prioritas mana yang harus kita laksanakan. Teori itu berkembang secara dinamis, bila terlalu terpaku secara teoritis, maka tidak akan ada habisnya.”

Terakhir,
Q : Kalau ingin terjun ke bisnis, sebaiknya fokus ke bisnis. Namun pengusaha lain bilang sebaiknya berdiversifikasi. Bagaimana tanggapan Bapak? Lebih baik fokus atau diversifikasi?
JD : “Saya hanya bisa menjawab, entrepreneurship itu tidak ada suatu formula, kalau punya kecil-kecil banyak, ya harus difokuskan. Saya tidak mengatakan satu lebih baik dari yang lain. Untuk bisa menjawab, ya harus mendalami lebih dulu. Tergantung situasi, kondisi dan toleransi dulu. Kalau saya fokus yang besar, nanti ada yang nanya, ingat besar dan kecil itu sangat relatif. Bagi satu orang, 1 juta udah besar, bagi orang lain belum tentu. Yang bisa saya anjurkan adalah kita harus lakukan satu hal. Kalau mau jadi entrepreneur, mulailah dari ilmu dulu supaya bisa dikembangkan dan dipraktekkan. Yang utama adalah keyakinan kita, will kita. You have to set target untuk mencapai sesuatu. Think positive, harus punya sikap yang positif di dalam diri kita.”

2 comments:

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, June)
Christina Aguilera - Fighter