Sunday, May 29, 2011

Industri Sepatu Olahraga Indonesia


Analisis Daya Saing dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Sepatu Olahraga Indonesia Ke Dua Negara Importir Utama (Amerika Serikat dan Jepang) Tahun 1995 - 2000
 



Produk alas kaki (secara spesifik sepatu olahraga) menjadi salah satu ekspor andalan Indonesia, dimana share-nya 74% dan mengalami pertumbuhan 6,5% pada periode 2002-2006. Selain itu peran pentingnya sebagai ekspor non migas juga cukup krusial (tahun 2006 peranannya 2,01%). Tetapi periode sebelum itu, ketika krisis ekonomi melanda Indonesia, komoditas ini juga terkena imbas yang cukup berat dan menjadi bagian sejarah suram dalam perekonomian Indonesia. Pengaruh krisis terhadap keseluruhan aspek ekonomi mendorong para peneliti melakukan studi mengenai setiap aspek ekonomi yang dipengaruhi oleh krisis.

Salah satu aspek yang menarik perhatian kami adalah kinerja ekspor pada sektor industri, pengaruh krisis terhadap kinerja ekspor di sektor industri merupakan hal yang esensial bagi perekonomian karena sektor industri memberikan kontribusi besar dalam pergerakan perekonomian Indonesia. Sektor industri, terutama industri alas kaki di Indonesia, menjadi menarik untuk dibahas karena kekhasan karaketristik industri ini, baik dari industri yang padat karya, produksinya berdasarkan atas order yang diterima dan sebagian bahan bakunya harus diimpor, sampai mesin produksi yang digunakan merupakan mesin dengan middle technology. Sebagai bahan kajian, kami mengangkat industri alas kaki (sepatu olahraga) untuk dianalisis lebih mendalam.

Penelitian ini secara garis besar menggambarkan tentang kondisi industri alas kaki (sepatu olahraga) dan bagaimana krisis ekonomi di tahun 1998 mempengaruhi kinerja ekspornya. Saya menggunakan hasil penelitian Gembong Sukendra dan Arindra.A. Zainal (2007) sebagai landasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya saing dan pengaruh permintaan ekspor sepatu olahraga dengan faktor yang mempengaruhinya yaitu nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara mitra dagang, harga relatif sepatu olahraga, pendapatan riil negara mitra dagang (riil GDP), market share, capital stock sepatu olahraga, umur perusahaan dalam industri, jumlah tenaga kerja masing-masing perusahaan, dan komposisi modal asing.


Dimana :

  • X = rasio ekspor per output, dibentuk dari persentase 
  • RER = Riil Exchange Rate dari masing-masing negara mitra dagang (USA dan JPG) 
  • PX = harga ekspor di negara mitra dagang  
  • WPI = Index Wholesale Price Index (tahun dasar 2000) atau indeks harga perdagangan besar untuk negara mitra dagang 
  • GDP = pendapatan (output) riil negara mitra dagang  
  • CAPSTOCK = capital stock, jumlah stok modal perusahaan 
  • MS = Market Share atau pangsa pasar output di pasar dunia 
  • AGE = umur perusahaan dalam industri  
  • LABOR = jumlah tenaga kerja masing-masing perusahaan 
  • PMA = komposisi modal asing dalam permodalan perusahaan 
  • μ = error term

Sehubungan dengan keterbatasan data yang tersedia, maka ruang lingkup dalam penelitian ini menggunakan data sekunder time series pada tahun 1995 dan 2000 serta data cross section (variabel independen) dari masing-masing negara mitra dagang, dalam mengestimasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap permintaan ekspor sepatu olahraga ke negara mitra dagang. Negara mitra dagang yang diteliti adalah Amerika Serikat dan Jepang karena rata-rata nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut adalah yang paling dominan.
Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder. Variabel yang digunakan dalam penelitian sebagian besar diperoleh dari pembimbing (Prof. Dr. Ari Kuncoro), sedangkan untuk variabel lainnya didapatkan dari IFS (Internatonal Financial Statistics), Statistik Industri Menengah dan Besar yang diterbitkan oleh BPS, Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo). Periode data yang digunakan adalah tahun 1995 dan 2000.
Dalam penelitian ini, analisis pengolahan data dilakukan dengan menggunakan EViews 5. Berdasarkan perbandingan dari persamaan negara Amerika Serikat (USA) dan Jepang (JPG), maka persamaan USA lebih dapat menjelaskan proporsi ekspor Indonesia dilihat dari lebih banyak variabel independen yang signifikan dan nilai R-squared nya yang lebih besar. Selanjutnya untuk medapatkan hasil yang BLUE maka dilakukan tahap uji statistik dan ekonometrik.
Berdasarkan output EViews 5, kita bisa melihat peninjauan arah hubungan dan signifikansi dengan melihat apakah tanda variabel yang signifikan pada uji statistik konsisten dengan teori ekonomi dan jika tidak akan mencoba untuk dikemukakan alasan yang relevan bagi kondisi Indonesia. Berdasarkan hasil pengolahan data di atas, maka model dapat diinterpretasikan sebagai berikut :

Peninjauan Arah Hubungan dan Signifikansi

 

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa terdapat tiga variabel independen yang secara signifikan mempengaruhi nilai ekspor yang digambarkan dengan jumlah permintaan sepatu olahraga oleh mitra dagang dalam industri alas kaki di Indonesia pada periode tahun 1995 dan 2000, yaitu GDP (Pendapatan dari output riil negara mitra dagang), MS (pangsa pasar output di pasaran dunia), dan PMA (Komposisi modal asing dalam permodalan perusahaan). Besar dan arah pengaruhnya adalah sebagai berikut :
pertama, GDP (Pendapatan dari output riil negara mitra dagang USA):
variabel ini signifikan pada α = 0.05, dan memiliki hubungan positif
kenaikan 1 unit pada variabel GDP akan berpengaruh menaikkan proporsi permintaan ekspor pada industri sepatu olahraga Indonesia sebesar 0.223701 unit.
kedua, MS (pangsa pasar output di pasaran dunia):
variabel ini signifikan pada α = 0.05, dan memiliki hubungan positif
kenaikan 1 unit pada variabel MS akan berpengaruh menaikkan proporsi permintaan ekspor pada industri sepatu olahraga Indonesia sebesar 72.81762 unit.
ketiga, PMA (Komposisi modal asing dalam permodalan perusahaan):
variabel ini signifikan pada α = 0.05, dan memiliki hubungan positif
kenaikan 1 unit pada variabel PMA akan berpengaruh menaikkan proporsi permintaan ekspor pada industri sepatu olahraga Indonesia sebesar 0.017290 unit.
keempat, AGE (umur perusahaan):
meskipun tidak signifikan, arah hubungan sudah benar
kenaikan 1 unit variabel AGE akan berpengaruh menaikkan proporsi permintaan ekspor pada industri sepatu olahraga Indonesia sebesar 2.01E-05.
kelima, CAPSTOCK (jumlah stok modal perusahaan):
meskipun tidak signifikan, arah hubungan sudah benar
kenaikan 1 unit variabel CAPSTOCK akan berpengaruh menaikkan proporsi permintaan ekspor pada industri sepatu olahraga Indonesia sebesar 3.20E-06.
keenam, PX/WPI (harga ekspor / indeks harga perdagangan besar negara mitra dagang USA):
variabel ini signifikan pada α = 0.05, dan memiliki hubungan negatif
kenaikan 1 unit pada variabel harga eskpor di negara mitra dagang akan berpengaruh menurunkan proporsi permintaan ekspor pada industri sepatu olahraga Indonesia sebesar 726.2184 unit.
Dari hasil estimasi 8 variabel, terdapat 2 variabel yang bersifat unik, yaitu :
ketujuh, RER (Riil Exchange Rate dari negara mitra dagang USA):
meskipun sudah signifikan, ternyata arah hubungannya salah
kenaikan 1 unit pada variabel RER akan berpengaruh menurunkan proporsi permintaan ekspor pada industri sepatu olahraga Indonesia sebesar 6.824293 unit.
Terakhir, LABOR (jumlah tenaga kerja masing-masing perusahaan):
tidak signifikan dan arah hubungannya berbeda
kenaikan 1 unit pada variabel LABOR akan sangat berpengaruh menurunkan permintaan ekspor pada industri sepatu olahraga Indonesia sebesar 2.01E-05 unit.
Pengaruh competition dan economies of scale terhadap proporsi permintaan ekspor pada industri sepatu olahraga Indonesia, yang di-proxy dengan variabel GDP dan MS, sesuai dengan penelitan Gembong Sukendra, yaitu positif. Ditambah lagi dengan variabel kepemilikan PMA sebagai salah satu proxy dalam penelitian ini yang menunjukkan hasil positif.
Begitu pula dengan variabel yang bersifat mikro, yang di-proxy dengan AGE dan CAPSTOCK — meskipun tidak signifikan, karena hasil regresi menyatakan bahwa hubungannya positif. Secara umum, penelitian ini menerima penelitian Gembong Sukendra.
Variabel RER, meskipun sudah signifikan namun arah hubungannya berbeda. yaitu berpengaruh negatif. Hal ini mungkin terjadi karena secara umum, walaupun nilai mata uang domestik lebih rendah dibandingkan dengan negara mitra dagang (USA) mungkin ekspor akan mengalami penurunan, mengingat pada periode ini krisis ekonomi sangat mempengaruhi proporsi permintaan ekspor sepatu olahraga pada industri alas kaki, dan ditahun-tahun berikutnya industri sepatu olahraga seperti kehilangan daya saing dalam pasar Amerika. Sedangkan variabel PX/WPI signifikan memiliki arah negatif.
Variabel LABOR, menunjukkan tidak signifikan dan menunjukkan arah hubungan negatif, hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak jumlah tenaga kerja, maka proporsi permintaan ekspor sepatu olahraga Indoneisa cenderung akan menurun akibat bertambahnya dan terlalu banyak jumlah pekerja yang ada sehingga akan terjadi marginal diminishing of productivity yang akan berpengaruh terhadap kinerja dan output yang dihasilkan, belum lagi jika dikaitkan dengan kemampuan perusahaan dalam menjamin kesejahteraan para pekerjanya yang memang sebagian besar tidak terdidik karena industri ini bersifat padat karya.
Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa:
Pertama,
Proporsi permintaan ekspor sepatu olahraga, secara signifikan dipengaruhi oleh pendapatan dari output riil negara mitra dagang USA, pangsa pasar output di pasaran dunia, dan komposisi modal asing dalam permodalan perusahaan. Ketiga variabel tersebut memiliki pengaruh positif, hal ini dapat menjadi pedoman bagi pemerintah dalam membuat kebijakan untuk meningkatkan iklim persaingan yang kondusif agar asing lebih berminat berinvestasi menanamkan modalnya di Indonesia, tujuan akhir yang diharapkan adalah dapat meningkatkan Market Share (MS) di pasar dunia. Sedangkan variabel GDP akan sangat bergantung kepada kondisi perkonomian negara mitra dagang tersebut, pemerintah tidak bisa menaikkan/menurunkan GDP negara mitra dagang.
Kedua,
Umur perusahaan (AGE) memiliki pengaruh negatif terhadap permintaan ekspor sepatu olahraga, meskipun pengaruhnya tidak signifikan. Artinya semakin “tua” umur perusahaan maka kemampuan untuk memenuhi permintaan ekspor peluangnya akan semakin menurun. Hal ini terkait dengan product life cycle sebuah perusahaan dan sarana dan prasarana produksi (terutama umur fasilitas produksi, seperti mesin, dll) yang dimiliki perusahaan tersebut.
Ketiga,
Jumlah stok modal perusahaan (CAPSTOCK), berupa tanah, mesin, dan bangunan juga tidak signifikan, namun memiliki arah yang positif. Hal ini membuktikan bahwa perubahan CAPSTOCK tidak memiliki pengaruh besar terhadap permintaan ekspor sepatu olahraga.
Keempat,
Riil Exchange Rate (RER) walaupun hasilnya signifikan tetapi memiliki arah negatif. Hal ini menunjukkan nilai mata uang Rupiah yang rendah, karena walaupun secara teori jika nilai mata uang domestik lebih rendah maka ekspor akan meningkat tetapi kenyataannya dengan mata uang yang rendah ekspor malah sempat menurun.
Kelima,
Jumlah tenaga kerja (LABOR) memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap permintaan ekspor sepatu olahraga Indonesia. Artinya, meningkatnya jumlah tenaga kerja lebih besar pengaruhnya terhadap marginal diminishing of productivity dalam memproduksi output komoditas sepatu olahraga.
Beberapa poin pada kesimpulan di atas dapat dijadikan pedoman bagi pemerintah dalam pembuatan regulasi kebijakan yang terkait dengan industri sepatu olahraga di masa-masa mendatang. Selain pembentukan regulasi kebijakan yang mendukung dalam peningkatan market share industri ini, pemerintah juga harus membentuk iklim investasi (terutama bagi PMA) yang kondusif.
Selain itu, pemerintah perlu terus berpihak, mendukung, dan memajukan ketenagakerjaan di Indonesia terutama pekerja yang menggeluti sektor padat karya, untuk semakin meningkatkan kualitas dan skill sumber daya manusia, hal ini penting karena SDM sebagai salah satu input dalam industri alas kaki nasional dan industri lainnya secara keseluruhan.
Hal lain yang tidak kalah penting yaitu peran pemerintah dalam rangka restrukturisasi fasilitas produksi, terutama bagi perusahaan-perusahaan yang sudah “tua” agar dapat memproduksi secara lebih efisien. Dengan menggunakan input (berupa tanah, mesin, dan bangunan) yang semakin baik maka akan semakin terbuka peluang yang besar untuk meningkatkan daya saing industri sepatu olahraga (alas kaki) secara lebih kompetitif.

4 comments:

  1. assalamu'alaikum.wrwb

    saya tertarik dengan penelitian industri sepatu olahraga. skrg saya sdang nyusun skripsi ttg industri sepatu olahraga indonesia melihat pengaruh upah dan bahan baku terhadap kinerja industri seaptu olahrga.saya boleh ga dishare data dari bps ttg industri sepatu olahraga.terimakasih
    redhasutama@gmail.com
    mahasiswa tingkat akhir

    ReplyDelete
  2. Wslm wr wb.

    ruang lingkup data dalam penelitian ini hanya tahun 1995 dan 2000 saja.

    akan lebih relevan jika datanya mencapai 2009 (atau paling tidak 2008), sebaiknya kamu datang langsung ke BPS.

    Kebetulan fokus yang menjadi penelitian km
    (dalam hal ini upah dan bahan baku) datanya tersedia dari tahun 1975 - 2009.

    Ketersediaan data upah dan bahan baku klasifikasinya juga detail, misal upah dalam bentuk uang atau barang, lembur, dsb. untuk bahan baku, ada bahan baku impor, domestik, dll. Untuk mendapatkan data tsb biaya dihitung per kb.

    Btw, konsultasikan jg sm pembimbing (jangan lupa), jgn sampai kemauan km dan pembimbing berseberangan. Ok, good luck.

    ReplyDelete
  3. terimakasih atas infonya. seceptnya saya ke bps untuk mencari data upah n bahan baku import.
    sekali lagi terimakasih.

    ReplyDelete
  4. ok, sgr sj. Proses mulai dr request data s.d menerima cd data tergantung berapa banyak variabel yg diminta dan periode rentang waktu.

    Waktu itu sy 4 variabel selama 34 tahun (1975-2008) kira2 tiga s.d. empat minggu, per kb nya Rp 1.

    ReplyDelete

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter