Wednesday, June 01, 2011

Inovasi Industri TPT Rendah


Berdasarkan survey BI (Desember 2010), inovasi rendah karena penggunaan teknologi terkait aktivitas R&D termasuk alokasi anggaran untuk R&D masih kurang. Anggaran riset dan teknologi di dalam negeri sejak 1969 – 2001 menurun tajam dari anggaran pemerintah.

Tabel 1. Alokasi Anggaran Riset Indonesia Terhadap PDB
*) Sangat minim dibanding pos anggaran untuk bidang lainnya seperti pemilu yang mencapai puluhan triliun Rupiah.

Berdasarkan data OECD (dalam Economist 24 April 2009) Jika dibandingkan dengan anggaran litbang negara maju yang mengalokasikan 1,7 s.d 3,6 persen dari PDB, persentase anggaran R&D Indonesia masih sangat minim.
Prediksi peringkat Indonesia dalam indeks inovasi global pada 2009 – 2013 tidak akan beranjak dari posisi ke- 74 dengan skor 4,12 (sama dengan periode 2004 – 2008), posisi Indonesia berada dibawah Singapura (16), Malaysia (35), Thailand (57), dan Filipina (58). Prediksi penilaian tersebut berdasarkan pada input inovasi langsung (bobot 75%) dan iklim inovasi (25%).

Gambar 1. Kekuatan Sumber Daya Litbang Enam Negara ASEAN

Sumber : Indikator Ekonomi Berbasis Pengetahuan. KRT, 2009 dalam Sistem Inovasi Nasional Untuk Kekuatan Daya Saing Bangsa. KU 4078 Stadium Generale, ITB, Bandung, 12 Maret 2011.
Selain anggaran, penyebab tingkat inovasi industri secara keseluruhan di Indonesia rendah dikarenakan penggunaan mesin yang sudah tua dan teknologi usang (BI, Desember 2010). Kondisi permesinan industri kain / tekstil lembaran sudah relatif tua, sekitar 35 persen mesin pemintalan talah berusia di atas 20 tahun, 60 persen berumur 10-20 tahun, dan 5 persen kurang dari 10 tahun, sedangkan pada unit pertenunan terdapat 66 persen mesin berusia di atas 20 tahun. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pada tahun 2007 pemerintah mulai menjalankan program restrukturisasi mesin industri TPT Indonesia (Egismy, 2008), dengan perincian anggaran sebagai berikut.

Tabel 2. Anggaran dan Realisasi Anggaran Restrukturisasi Mesin TPT Tahun 2007 s.d 2011

Berdasarkan data tersebut, anggaran subsidi restrukturisasi mesin industri TPT nilainya selalu menurun, hal ini dikarenakan karena daya serap pelaku industri tekstil masih kecil (hanya mencapai 61% dari target pemerintah pada tahun 2009). Selain itu dapat dilihat antara anggaran dan realisasinya belum pernah mencapai 100% (budget yang disediakan lebih besar dari pada kesiapan perusahaan industri TPT mengikuti program restrukturisasi mesin).
Program restrukturisasi menjadikan industri TPT mengalami peremajaan mesin seperti tenun, pintal, jahit, dan celup, namun program ini terkendala dengan Peraturan Menteri Keuangan mengenai tarif bea masuk tentang komponen permesinan yang dimasukkan ke Indonesia akan dikenai biaya masuk 5 persen. Tentu kebijakan tersebut membuat program restrukturisasi mesin berjalan kurang optimal karena akan bersifat kontraproduktif.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter