Sunday, June 19, 2011

Penjual Cilik “Menakutkan” di Bus Kuning UI

Pada tanggal 10 Juni 2011, saya menemui pembimbing (Prof. Dr. Ine Minara S. Ruky, S.E., M.E.) untuk meminta tanda tangan persetujuan skripsi. Saat itu, beliau sedang rapat Majelis Wali Amanat (MWA) di gedung Rektorat UI lantai 8.

Setelah selesai saya langsung menumpangi bus kuning (UI) untuk segera melanjutkan aktivitas berikutnya (mengajar private ekonomi). Ketika saya menumpangi bus kuning (red: bikun) terjadi sedikit hal “menyebalkan” yang tidak pernah saya temui sejak beberapa tahun silam. Hal ini membuat saya termasuk beberapa penumpang bikun merasa geram, sampai ada seorang Ibu (dengan penampilan seperti dosen muda) yang sedikit marah dan membentak orang tersebut, kemudian pindah tempat duduk di dalam bikun. Apakah yang terjadi dan siapakah penjual cilik yang menakutkan tersebut?

Kejadian ini terjadi pada hari Jum’at (10/6) sekitar pukul 14:47 WIB. Ada seorang anak kecil, kisaran umur 7 – 10 tahun yang menjajakan dagangannya (menjual koran) di dalam bikun, memang tidak ada yang salah dari aktivitas menjual koran karena hal tersebut merupakan salah satu refleksi dari mencari nafkah yang halal. Akan tetapi, jika dalam proses menjual dilakukan dengan penuh paksaan disertai dengan tangisan maka hal itu akan menjadi sesuatu yang sangat menganggu.

Berikut ini adalah penggalan kata-kata yang saya ingat diucapkan oleh si anak "menakutkan":

1. Kak, beli Koran saya kak…. Dari tadi belum laku kak (dengan muka memelas).
Jika (calon) pembeli mengabaikan dan menolak untuk membeli maka anak tersebut terus memaksa sambil merengek.

2. Kalo gak mau beli bagi saya seribu aja kak. Seribu kan dikit kak, 1000 kak!!!
Ada (calon) pembeli berjilbab, kebetulan disamping saya yang terus menolak untuk membeli dan memberikan uang 1000. Kemudian pada akhirnya mahasiswi tersebut memberikan Rp 1000 dengan sangat terpaksa. Hal ini dikarenakan si anak “menakutkan” mengatakan : “Kak, kalo seribu aja dikit kali kak, Ngak akan jadi miskin kak kalo duit cuma 1000”. Astagfirullah! denger kata-kata iru rasanya pengen saya kasih cabe rawit mulut anak itu.

3. Kak, beli Koran saya kak, ibu saya sakit kak, saya belum makan kak.
Seperi biasa, aksinya ini dilakukan sambil merengek, mengusap-usap muka, memasang muka memelas, dan mengeluarkan kata-kata kasar seperti poin nomor 2 (1000 ga akan jadi miskin), pelit, dll.

Memang tidak semua penjual cilik seperti itu, tapi satu saja yang berperilaku seperti itu sudah sangat mengganggu, apalagi jika jumlahnya ada dua, tiga, delapan, dst (jumlahnya berkembang biak). Biasanya, aksi ini dilakukan anak tersebut di dalam bikun dengan cara berpindah-pindah tempat duduk (yang kosong) setiap kali bikun berhenti di halte. Target konsumen yang didekati menurut saya dilakukan secara random.

Bagi (calon) pembeli yang tidak mau ambil pusing tentu saja akan membeli dan atau jika ia tidak mau membeli ia akan menyerahkan sejumlah uang receh yang diminta, namun hal ini akan menjadi hambatan kecil bagi kemajuan UI secara keseluruhan. Kenapa disebut hambatan, sedikitnya ada 3 hal yang menyebabkan saya menganggap itu sebagai hambatan:

1. Mengganggu kenyamanan di dalam bikun
Apakah jika naik bikun (walaupun secara random) kita harus membeli koran? Apalagi harus dengan keterpaksaan atau rasa kasihan. UI yang memiliki visi misi menjadi world class university akan memiliki kendala kecil dengan kehadiran orang-orang seperti penjual menakutkan ini di dalam public transport-nya. Bayangkan jika ada pihak luar yang sedang melakukan penilaian tertentu tiba-tiba secara random “disambut” dengan penawaran koran yang sangat mengganggu.

2. Menimbulkan tindak kriminalitas (aksi kriminal)
Tindak kejahatan ini bisa datang dari (calon) pembeli karena (mungkin) kesal akan tindakan penjual “menakutkan” tersebut, atau bisa saja justru dari si penjual “menakutkan” itu sendiri. Hal ini dimungkinkan jika dagangannya tidak laku sama sekali dan orang tidak ada lagi yang ingin memberikan (atau mungkin pendapatannya sangat sedikit) sehingga ia akan nekat melakukan tindak kejahatan (selagi ada kesempatan).

3. Melahirkan generasi inferior
Jika kita biarkan hal ini terus terjadi, maka sebuah generasi (kecil) yang memiliki jiwa terbelakang (menjual dengan penuh paksaan dan tipu muslihat) akan lahir, tidak menutup kemungkinan besarnya nanti meraka akan menjadi “si jahat” atau dalam kata lain bersikap korup di manapun ia bekerja.


Solusi Terhadap Penjual Menakutkan
Jumlah mereka sudah lumayan banyak di bikun dan sekitar UI, oleh karena itu agak sedikit sulit untuk “memusuhi” mereka. Hal ini menurut saya agak serius sebelum eksistensi merka bertambah banyak. Beberapa solusi yang dapat dilakukan:

1. Melarang dan atau membatasi jumlah penjual koran di dalam bikun
Solusi optimal adalah melarang mereka berjualan di dalam bus, dan lebih memperketat peruntukan penumpang bikun hanya untuk mahasiswa/i, kalaupun ada penumpang umum harus ada tempat duduk khusus yang dimemang sengaja dibedakan (misal di kursi bagian belakang). Jika hal tersebut dianggap berlebihan, mungkin jumlah penjual koran di dalam bikun sebaiknya dibatasi (dalam 1 bus, mungkin hanya 1 penjual koran saja), tidak terdapat 2 s.d 4 penjual.

2. Memberdayakan mereka dalam hal lain yang bermanfaat
Pemberdayaan mereka bisa dilakukan dengan memberikan sesuatu berupa pelatihan keterampilan dan atau dalam bentuk yang lainnya.

3. Memberikan pelatihan menjual yang baik dan benar
Jika ingin tetap berjualan di UI, sebaiknya tahu tata cara yang baik dan benar dalam berjualan. Kemudian dari pihak UI sendiri menetapkan tempat mana saja yang merupakan daerah boleh dan daerah terlarang untuk si penjual “menakutkan” berjualan. Berikut ini akan disampaikan beberapa tips dan trik menjual yang baik dan benar.


Proses Menjual
Menjual tidak hanya bermakna menjual barang dan jasa, melainkan juga mengungkapkan gagasan kita agar dapat diterima orang lain. Dengan kata lain, menjual di sini mempunyai arti luas dan abstrak. Modal utama seorang penjual adalah bukan bakat, melainkan kemauan. Kemampuan dapat dipelajari dengan kemauan, kemudian kemampuan secara alamiah akan menjadi bakat kita.

Tips dalam menjual yang baik :

1. Menguasai benar apa yang akan dijual
Keberhasilan dalam menjual adalah jika kita mengetahui benar apa yang akan disampaikan. Pelajarilah ciri khas produk yang akan dijual. Apa manfaat utama penggunaannya, kelemahan, kekuatan, dan harganya.

2. Penampilan
Penampilan merupakan hal sepele yang ternyata penting untuk diperhatikan. Orang akan melihat penampilan fisik terlebih dahulu, baru kemudian mulai berbicara. Kepribadian biasanya akan terpancar dari penampilan seseorang. Sesuaikan penampilan dengan produk yang akan dijual dan atau orang yang akan dihadapi.

3. Kemauan bergaul dengan orang
Networking sangat penting untuk kemajuan suatu bisnis. Oleh karena itu, kembangkan pergaulan dengan orang lain dengan ramah, selain itu kita juga harus tanggap terhadap apa yang diinginkan orang lain.

4. Manfaatkan peluang dengan baik
Penjualan membutuhkan kesabaran, jika (calon) pembeli mulai setuju untuk membeli produk kita, seibisa mungkin jangan lepas peluang tersebut. Setelah melakukan penjualan, tetap jaga hubungan baik dengan customers, hal ini dilakukan untuk menunjukkan profesionalitas kerja dan untuk mempertahankan pelanggan loyal.

1 comment:

  1. info menarik nih untuk menangani penjual cilik, semoga dibaca oleh pihak UI terkait kawan

    ReplyDelete

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, June)
Christina Aguilera - Fighter