Friday, September 02, 2011

Inefisiensi Angkutan Umum

Kemacetan yang terjadi di Jakarta menyebabkan kerugian besar dalam perekonomian, dua di antaranya yaitu bahan bakar terbuang secara percuma dan produktivitas pekerja menjadi kurang optimal. Kemacetan dapat diminimalisir dengan manajemen lalu lintas yang lebih baik dan pemberdayaan penggunaan transportasi umum dalam aktivitas rutin sehari-hari. Dengan kendaraan umum, (secara tidak langsung) bahan bakar bisa lebih dihemat dan produktifitas bisa menjadi lebih optimal (terutama dengan menggunakan Trans Jakarta). Selain Trans Jakarta, angkutan darat ibukota lainnya yang tersedia belum memenuhi kriteria layak sebagai public transport yang memadai, banyak terdapat inefisiensi dalam angkutan umum (angkot) di Jakarta. Ketidakefisienan tersebut antara lain:

1. Sarana dan Prasarana
Fasilitas, mulai dari stasiun yang masih semrawut hingga kondisi fisik angkot (kaca pecah, kursi angkot sobek/retak, pintu rusak, sampah, debu, dan penampilan fisik sopir + kondekturnya) yang jauh dari kategori pelayanan memuaskan, mewarnai wajah transportasi publik ibukota.

Bagi kaum ekonomi kelas bawah, hal ini tidak terlalu masalah, akan tetapi untuk menengah ke atas dan kelas atas tentu akan berpikir dua kali untuk naik angkot. Mereka akan memilih menggunakan kendaraan pribadi (dengan risiko macet) dari pada tidak nyaman bila menggunakan angkot.

Oleh karena itu diperlukan upaya kerja sama untuk menata dan memperbaiki stasiun dan armada angkot menjadi lebih nyaman sehingga angkutan umum menjadi pilihan utama dalam transportasi publik.

2. Ngetem
Salah satu hal yang kurang disukai penumpang adalah angkot yang ngetem (berhenti melanjutkan perjalanan sejenak untuk mendapatkan penumpang lebih banyak) dalam waktu yang cukup lama. Bahkan terkadang angkot dipaksa harus penuh terlebih dahulu sebelum si sopir memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Ngetem-nya angkot tentu membuat penumpang kehilangan waktu (apalagi jika penumpang tersebut sedang ada keperluan yang mendesak), tentu hal ini membuat mood menjadi rusak. Alibi si sopir ngetem lama adalah untuk mendapatkan banyak penumpang, padahal bukan tidak mungkin di tengah jalan atau jalan berikutnya terdapat banyak penumpang yang ingin naik angkot tersebut.

Perlu diketahui, efek dari ngetem bisa berkontribusi menjadi salah satu penyebab kemacetan. Oleh karena itu polisi lalu lintas sebaiknya bertugas di area angkot ngetem agar durasi ngetemnya tidak terlalu lama.

3. Ngebut
Pernahkah anda melihat dua angkot dengan trayek yang sama saling berdekatan di jalan?. Hal yang pasti terjadi adalah mereka saling kebut-kebutan untuk mendapatkan penumpang lebih dulu dalam jumlah banyak dibandingkan dengan rivalnya.

Mereka bisa terlihat seperti “setan jalanan” yang sangat gila, mereka tidak mempedulikan kendaraan lain di sekitarnya. Tanpa disadari (atau justru nekat terhadap bahaya yang mengancam), justru keselamatan mereka sendirilah yang menjadi taruhannya. Bahkan tidak hanya diri mereka sendri, tetapi penumpang angkot tersebut dan orang lain sangat besar peluangnya mengalami kecelakaan.

Seolah rebutan rezeki, mereka lupa kalau rezeki tidak akan tertukar antara satu dengan lainnya. Oleh karena itu diperlukan upaya kesadaran diri kepada seluruh sopir angkot agar tidak ngebut di jalan. Sementara itu, aksi nyata yang dapat dilakukan pemerintah berupa menentukan jumlah angkot yang efisien pada tiap rute atau trayeknya agar jumlah angkot sebanding dengan penumpang potensial, dalam artian jumlah angkot tidak terlalu banyak agar setoran yang didapat bisa cukup dan mensejahterakan diri mereka, dan atau jumlah angkot tidak terlalu sedikit agar konsumen tidak merasa dirugikan.

4. Rute tidak full
Jika sedang menumpangi sebuah angkot, jangan kaget jika anda dioper atau diturunkan di tengah jalan / rute tidak full), atau tidak diantar hingga tempat tujuan anda. Motif sopir angkot melakukan hal ini ada 3 macam, yaitu: (1) Pada jam-jam tertentu (jam pulang atau pergi kerja) merupakan waktu peak, jadi jika angkot tersebut tidak berada pada rute tersebut, maka mereka akan putar balik arah seenaknya dan menurunkan penumpang yang ada untuk mendapatkan income yang lebih besar; (2) Menghindari pesaing, biasanya hal ini terjadi jika pada arah yang sama terdapat beberapa angkot (3 s.d 5 angkot), maka salah satunya akan putar balik arah; dan (3) terdapat razia pada lokasi tertentu, sehingga bagi sopir yang tidak memiliki kelengkapan surat-surat akan berputar arah untuk menghindari ditilang.

Oleh karena itu perlu kerja sama antara polisi dan tukang parkir setempat agar angkot tidak bisa berputar seenaknya (sebelum sampai pada rute terakhirnya). Biasanya tempat berputar arah terdapat di beberapa titik tertentu, sehingga polisi bisa lebih mudah mengidentifikasi tempat-tempat tersebut agar angkot (pada jam-jam tertentu) tidak berputar seenaknya.

5. Tarif palsu
Pengenaan tarif palsu tidak terjadi pada angkot jenis bus metromini atau kopaja karena tarifnya diseragamkan jauh dekat Rp 2.000. Tarif palsu biasanya dikenakan angkot sejenis mikrolet, apalagi penumpangnya orang awam yang tidak mengetahui harga. Jadi tidak ada tarif yang pasti berapa Rupiah penumang harus membayar, karena tiap kali naik dari tempat yang sama dan turun di tempat berbeda harganya pun ikut berbeda. Oleh karena itu agar konsumen tidak merasa dirugikan perlu diupayakan penyeragaman tariff angkot jenis mikrolet sehingga lebih terasa adilnya. Memang ukuran mikrolet lebih kecil dibandingkan jenis metro mini, jadi tidak menutup kemungkinan penyeragaman tarif tersebut harganya sedikit di atas metro mini.

Jika lima hal ketidakefisienan di atas dapat diatasi, bukan tidak mungkin angkot menjadi alternatif transportasi publik di Jakarta, apalagi mengingat kondisi macet yang terjadi semakin parah. Dengan beralihnya sebagian besar orang dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum, tentu saja akan berkontribusi mengurangi macetnya Jakarta, semoga.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2018, July)
Celine Dion - I'm Alive