Friday, September 02, 2011

Sahabat, Teman, Geng, dan Musuh

Diri kita akan selalu dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, bersama orang yang kacau anda menjadi kacau, berteman dengan teman-teman yang bahagia dan bermotivasi maka anda akan menjadi bahagia dan bermotivasi (Matthews, 2002). Sayangnya, mencari teman (yang positif) lebih sulit dari pada mencari penjerumus hal negatif (musuh). Oleh karena itu diperlukan sikap selektif (tanpa perlu berlebihan) dalam memilih teman. 

Saya mengklasifikasikan kategori hubungan sosialisasi antar sesama manusia berdasarkan konsep barang publik dalam ilmu ekonomi, yaitu barang publik bersifat non rivalry (tidak ada persaingan) dan non excludable (tidak ada pengecualian). Kategori tersebut dibagi menjadi empat: (1) sahabat; (2) teman; (3) geng; dan (4) musuh. Penjelasan lebih lanjut akan diuraikan di bawah ini.



1. Sahabat (tidak ada pengecualian, tidak ada persaingan)
Orang yang dikatakan sahabat tidak akan pernah mempermasalahkan asal-usul seseorang berdasarkan perbedaan yang ada. Sahabat siap membantu kapanpun dan di manapun, walaupun dirinya sendiri belum tentu dalam kondisi siap membantu 100%.

Persaingan dalam sebuah bingkai persahabatan biasanya lebih indah karena upaya sifat bersaing yang destruktif pasti akan diminimalisir kedua belah pihak. Intinya terdapat kerja sama (walau tanpa pamrih) yang kokoh demi kemajuan bersama.

2. Teman (tidak ada pengecualian, ada persaingan)
Level teman berada di bawah sahabat. (Mungkin) seseorang akan mudah mendapatkan banyak teman, akan tetapi dari sekian banyak temannya belum tentu memiliki banyak sahabat. Dalam pertemanan terdapat persaingan, persaingan itu sendiri bisa mengarah kepada hal positif maupun negatif. Persaingan yang positif akan meningkatkan kualitas hidup manusia karena (biasanya) akan terpacu untuk menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Akan tetapi persaingan yang negatif akan membawa kepada kesenjangan, ketidakharmonisan, bahkan permusuhan.

Seorang teman yang telah dicap “sesuatu” oleh teman lainnya, biasanya akan semakin menunjukkan “kesesuatuannya” tersebut. Contoh : (1) si A dicap malas, sehingga kecenderungan A menjadi pemalas; (2) si B dicap ganteng, maka kecenderungan B akan menjadi seseorang yang ganteng walaupun sebenernya ga ganteng; dan (3) si C selalu menjauhi komunitasnya karena ada pekerjaan lainnya yang tidak bisa ditinggal, sehingga dicap autis, dan kecenderungan si C menjadi autis, dll.

Oleh karena itu, upayakan men-judge seseorang dengan baik. Jika kita tidak kenal benar seluk beluk orang tersebut jangan asal men-judge seseorang kenapa berlaku demikian. Percayalah! pasti ada alasan kenapa orang tersebut bersikap atau berperilaku demikian. Belajarlah menghargai orang lain.

3. Geng (ada pengecualian, tidak ada persaingan)
Geng atau suatu kelompok dalam sebuah komunitas terbentuk karena kesamaan-kesamaan yang dimiliki. Oleh karena itu dalam sebuah geng cenderung tidak ada persaingan karena memiliki tujuan (visi dan misi) yang sama dan perbedaan yang ada sangat minim.

Terdapatnya pengecualian bukan antara sesama anggota dalam geng tersebut, melainkan antara geng yang satu dengan geng lainnya, biasanya sesama geng bersaing untuk menjadi yang lebih unggul. Bentuk pengecualian lainnya yaitu bagi anggota geng atau komunitas yang “menjauh dari geng tersebut” sehingga mendapatkan image buruk.

Contoh: Seseorang dalam sebuah geng sering mengenakan pakaian yang sama dalam setiap kesempatan (misal: kemeja garis-garis, kaos merah, dll) sehingga orang tersebut menjadi buah bibir (dalam gengnya sendiri) hanya karena pakaiannya tersebut -____- (childish sekali!)

Geng yang lebih tajir (biasanya) lebih mendominasi pertemanan dan serasa memiliki hak veto untuk men-judge image buruk seseorang dalam geng yang lebih kecil. NB: padahal kan ada lagunya ya:
“Lo borju jangan belagu, laga lo tuh sok tau, ini itu liat dulu, kalau belagu muke lo jauh!”.

4. Musuh (ada pengecualian, ada persaingan)
Persaingan dan pengecualian yang dimaksud mengarah kepada persaingan tidak sehat, apapun yang dilakukan orang yang sedang bermusuhan pasti selalu salah di mata yang lainnya. Oleh karena itu hindarilah memprovokasi dan terprovokasi oknum-oknum yang menebarkan kebencian. Ingat, jika kita memusuhi atau membenci seseorang bukan cuma orang yang dibenci yang menderita, tetapi dirinya sendiri juga ikut menderita.

Satu hal yang perlu diingat, (sebagai orang normal) pasti seseorang memiliki motivasi atau secara sadar untuk melakukan sesuatu atau berbuat demikian. Sebelum kita tahu seseorang atau kejadian dengan pasti janganlah ikut terprovokasi orang lain untuk memusuhi seseorang, karena selalu ada kisah atau alasan dibalik suatu tindakan atau perbuatan.

Singkatnya (Matthews, 2002):
Pertama,
Setiap hari kita terpengaruh oleh orang-orang dan sikap di sekitar kita. Kadang kala kita perlu bertindak (atau berganti teman).

Kedua,
Kunci persahabatan adalah konsentrasi pada kualitas orang lain.

Ketiga,
Anda tidak harus menghabiskan hidup untuk menjelaskan diri / memberikan alasan mengapa anda melakaukan sesuatu. Jika anda senang melakukan sesuatu dan tidak menyakiti orang lain, itu tidak apa-apa.

Terakhir,
Memaafkan tidak mudah, tetapi anda tidak memaafkan orang lain untuk keuntungan mereka. Anda melakukannya untuk keuntungan anda.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter