Tuesday, November 29, 2011

Hilangnya Karakter Remaja SMA

Karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak ataupun budi pekerti (Kamus Poerwadarminta). Akhlak merupakan segala sesuatu yang muncul secara spontan tanpa pemikiran mendalam (Imam Ghazali).

Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita (Ki Hadjar Dewantara). Pembentukan intelektualitas harus dibarengi dengan pembentukan karakter, karena pada dasarnya pendidikan bertujuan mengembangkan potensi-potensi intelektual dan karakter peserta didik.

Kualitas karakter seseorang dapat menentukan martabat dan adab seorang manusia, dalam scope yang lebih luas kualitas karakter sebuah bangsa akan menentukan martabat dan adab bangsa tersebut. Indonesia terkenal memiliki budaya yang beraneka ragam dan keramahtamahan penduduknya. Namun, di sisi lain ada beberapa kasus yang menimpa remaja SMA (yang terjadi selama enam bulan terakhir) yang menimbulkan pertanyaan apakah bangsa Indonesia, terutama remaja usia SMA masih memiliki karakter?. Berikut ini akan disajikan contoh kasus yang menunjukkan remaja SMA yang tidak memiliki karakter:
  1. Mati karena kebut-kebutan ketika sahur on the road (bulan Ramadhan) 
  2. Mati ditusuk akibat bertengkar di club malam
  3. Mati di dalam penjara karena sebelumnya terlibat kasus curanmor
  4. Mati tenggelam di anak sungai, karena lari dari kejaran tawuran
  5. Mati minum racun jenis potas, akibat putus cinta
  6. Mati karena overdosis narkoba
  7. Mati karena HIV Aids

Dari 7 kasus tragis tersebut, semua melanda anak SMA dalam kurun waktu 6 bulan terakhir. Sungguh sangat disayangkan generasi muda yang harusnya bisa berkontribusi untuk bangsanya, harus mati dengan cara tersebut. Jika berbicara peluang, tentu saja kita bisa menghindari takdir buruk (mati secara tidak wajar) dengan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari hal-hal yang berbahaya (risk taker).

Hilangnya karakter untuk sebagian besar anak SMA di Indonesia disebabkan oleh beragam faktor, antara lain: perkembangan anak itu sendiri yang terbelakang, keluarga yang tidak harmonis, masalah ekonomi sulit, pergaulan yang menyimpang, school stress, dll.

Analisis yang ditekankan dalam tulisan ini membahas penyebab karakter (anak SMA) yang hilang dari sudut pandang sekolah. Tuntutan sekolah yang agak “merepotkan” menyebabkan beberapa siswa yang tidak dapat survive atau menyesuaikan diri mengalami kejenuhan atau istilah bekennya school stress. Sedikitnya ada tiga penyebab kenapa siswa mengalami school stress sehingga mereka mau “menggadaikan” dan atau menghilangkan karakter baik dalam dirinya, yaitu:

Pertama, Standard nilai lulus (KKM) yang terlalu tinggi.

Penentuan nilai KKM memang dilematis, jika nilai target terlalu rendah (misal 60 atau 65) maka akan membuat suasana KBM kurang kompetitif, para siswa yang pintar akan memiliki sedikit intensif untuk berprestasi. Sebaliknya siswa yang biasa saja (hanya) akan mengejar lolos, bukannya lulus, contoh jika KKM 65 artinya jika siswa tersebut memperoleh nilai 66 maka dia sudah dinyatakan lolos, bukan lulus.

Akan tetapi, jika nilai KKM terlalu tinggi, hal ini bisa berdampak negatif juga terhadap guru dan murid. Bagi guru, jika KKM tinggi tentu saja akan ada tuntutan untuk mengejar target tersebut, oleh karena itu tidak sedikit guru yang hanya menyuruh menghafal materi dan memberikan kisi-kisi sebelum ujian (bukannya memberikan ilmu).

Bagi murid efeknya lebih buruk lagi. KKM tinggi akan menciptakan mental remed (tidak takut jika mendapatkan nilai buruk), apalagi mereka selalu berasumsi setelah remed pasti akan mendapatkan nilai standard KKM yang ditetapkan.

Oleh karena itu standard nilai KKM yang baik harusnya disesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan murid di sekolah tersebut. Intinya jangan sampai karena dipatok harus mencapai nilai tertentu, para guru dan murid malah hanya mengejar target nilai dan tidak mendapat esensi apapun dari proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Kedua, Bidang studi yang dipelajari terlalu banyak.

Kelas X (ketika belum penjurusan), hampir semua bidang studi (baik pelajaran IPA, IPS, maupun Bahasa) diberikan kepada murid. Bahkan, ketika kelas XI dan XII masih diberikan juga bidang studi tambahan titipan (seperti Bahasa Jerman, Bahasa Jepang, Bahasa Perancis, Sinematografi, Kewirausahaan, dll).

Dengan beban studi terlalu banyak, tentu saja akan ada mata pelajaran yang menjadi beban, apalagi jika memang minat murid tersebut rendah dan memang sebenarnya kurang perlu untuk diberikan pada saat itu. Contohnya memperkenalkan bahasa asing selain bahasa Inggris memang penting, namun saya rasa itu hanyalah beban karena sebenarnya bahasa asing tersebut bisa dipelajari (dengan cepat) ketika seseorang akan melanjutkan studi/bekerja di negara tujuan. Jika tetap ingin dimasukkan dalam kurikulum, ada baiknya bidang studi ekstra tersebut tidak perlu diujikan dan masuk dalam penilaian rapor (melainkan dengan sertifikasi tersendiri).

Kemudian, mata pelajaran ekstra yang menjadi titipan tersebut sebaiknya tidak memiliki porsi pekerjaan rumah yang terlalu banyak menyita waktu sehingga mengganggu konsenstrasi untuk pelajaran inti (terutama untuk siswa kelas XII). Dengan beban studi yang tidak terlalu banyak (dipaksakan), maka siswa akan lebih bisa fokus dan mendalami bakat dan minat sesuai penjurusan yang diambil.

Kesimpulannya, jangan terlalu banyak memberikan beban studi pelajaran yang terlalu banyak kepada siswa, sebaiknya dilakukan analisis (terlebih dahulu) bidang studi yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan dan kesinambungan antara yang diberikan di SMA / MA dengan jurusan yang dibuka di PTN.

Ketiga, Ketidaksesuaian silabus dengan materi ujian PTN.

Terdapat inkonsistensi antara susunan silabus ketika SMA dengan soal-soal ujian masuk PTN. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat matriks analisis intensitas kepentingan, yang bisa diklasifikasikan sebagai berikut:
Kondisi A
Terjadi ketika kelas X semester 1, dimana tidak ada ‘tuntutan keras’ untuk berprestasi dan masuk PTN. Siswa akan dihadapkan dengan semua pelajaran (sebelum penjurusan). Pada fase ini mereka dalam tahap penyesuaian dan bersosialisasi dengan kehidupan sekolah tersebut.

Kondisi B
Saat kelas X semester 2, kondisi belajar ditingkatkan karena siswa dihadapkan dengan penjurusan yang sedikit banyak akan menentukan nasib mereka di kemudian hari. Sebagian besar beranggapan bahwa dengan masuk IPA adalah langkah awal mereka bisa sukses kelak, oleh karena itu mereka akan berjuang untuk bisa masuk IPA, walaupun untuk sebagian besar anak menganggap IPA bukan jurusan yang mereka inginkan.

Kondisi C
Fase ini (kelas XI semester 1 dan 2), para siswa telah masuk dalam penjurusan (IPA, IPS, dan Bahasa) sehingga mereka dituntut untuk lebih fokus dan bertanggung jawab terhadap jurusan yang dipilih. Mereka mulai menyadari belajar itu penting tapi belum merasa mendesak karena fase ini biasanya diisi dengan ikut organisasi / ekstra kurikuler / kepanitiaan.

Bagi kelas XII semester 1, terutama jurusan IPS, sebagian dari mereka banyak yang belum tersadar kalau serangkaian ujian tengah menanti. Hal ini dikarenakan ketika kelas X mereka “gagal” masuk IPA dan ketika kelas XI IPS mereka terbiasa dengan budaya santai.

Kondisi D
Pada saat kelas XII (untuk semua jurusan), biasanya hampir semua siswa SMA telah tersadar betapa pentingnya belajar untuk bisa sukses menghadapi ujian. Akan tatapi ketika mereka mau mulai serius belajar, materi pelajaran yang diajarkan saat kelas XII semester 2 porsinya untuk dijadikan soal UN dan PTN sangat kecil, justru soal-soal yang dikeluarkan adalah materi pelajaran ketika kelas X (ketika belum penjurusan) dan kelas XI (ketika pola belajar mereka masih sangat santai).

Tentu dengan “tekanan jiwa” yang sedang berlangsung saat kelas XII semester 2, mereka harus mengulang kembali pelajaran kelas X dan XI (sambil mengejar materi kelas XII juga). Jika hal ini terjadi, belum tentu pengajar di SMA tersebut bisa mengakomodasi kebutuhan siswa tersebut, fenomena inilah yang membuat kehadiran bimbel marak layaknya kacang goreng.

Yang perlu diperhatikan dan diubah oleh pemerhati pendidikan di Indonesia adalah korelasi antara silabus SMA / MA, persentase tingkat penerimaan siswa di PTN, dan sikap anak di kelas. Jika susunan silabus untuk tiap bidang studi telah disesuaikan dengan tingkat kepentingan dan kebutuhan, maka sikap siswa yang SMA yang berkarakter bisa diwujudkan.

Tujuan akhir yang diharapkan, tiap remaja SMA (yang berkarakter) bisa menjadi insan berpendidikan tanpa harus mengalami school stres, sehingga dapat terhindar dari tindakan konyol yang disebabkan karena masalah sepele. Tujuan lainnya yang tidak kalah penting yaitu mereka bisa diterima di PTN terbaik di seluruh Indonesia.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2018, June)
Siti Badriah - Lagi Syantik