Thursday, February 09, 2012

Damn, I Love TJ

Bus Trans Jakarta (TJ) cukup memanjakan penggunanya untuk melakukan mobilisasi dengan cepat, tanpa harus merasakan berbagai dampak negatif dari macet. Dalam tujuan yang lebih luas, bus TJ diharapkan dapat berperan mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta. Preferensi pengguna kendaraan umum untuk menghindari macet akan lebih memilih bus TJ jika dibandingkan angkutan umum darat lainnya (selain kereta api), karena selain harga tiketnya yang terjangkau, bus TJ memang relatif cepat dengan fasilitas yang memadai.

Seiring dengan berjalannya waktu, terdapat beberapa ketidaknyamanan dalam bus TJ, berikut ini akan dipaparkan beberapa fakta, yang menyebabkan bus TJ menjadi kurang nyaman. Diharapkan uraian di bawah ini dapat menjadi masukan untuk pengelola angkutan TJ agar menjadi lebih baik. Beberapa ketidaknyamanan tersebut, antara lain:

1. Fasilitas penumpang bus TJ
Dari semua fasilitas penunjang, hanya dibahas dua fasilitas penunjang saja yaitu halte jembatan dan fasilitas jalan. Untuk fasilitas jembatan ada yang sangat tidak layak yaitu halte bus TJ Jati Padang (yang menuju arah Ragunan), kendalanya yaitu tidak ada trotoar untuk naik ke jembatan tersebut. Jika kendaraan sedang ramai, sangat susah untuk bisa naik ke jembatan tersebut karena sisi kanan berbatasan dengan saluran air dan sisi kiri berbatasan langsung dengan jalan motor. Sebaiknya pengelola bus dan pemerintah setempat membangun sedikit space di atas saluran air untuk pejalan kaki agar mudah untuk menaiki jembatan dengan aman.

Kemudian untuk di jalur TJ, coba perhatikan halte bus Warung Jati (arah ke Kuningan), ketika hujan air pasti menggenang di halte tersebut. Jika bus lewat ketika hujan (tidak hanya di Warung Jati saja) dengan kecepatan tinggi, maka pengguna kendaraan pribadi lainnya pasti kecipratan air genangan tersebut. Pengaturan tentang saluran dan resapan air agar tidak terdapat genangan sebaiknya diperbaiki, apalagi saat ini sedang musim hujan.

2. Karcis bus TJ
Penumpang diharuskan untuk membeli karcis seharga Rp 3.500 (harga normal) untuk sekali jalan. Mekanismenya, karcis tersebut sebagian disobek oleh petugas loket dan (baisanya) sebagian karcis yang telah diberikan kepada penumpang langsung dibuang ke tempat sampah.

Kebijakan karcis dengan menggunakan kertas nampaknya useless, kertas tersebut akan terbuang sia-sia dan hanya menjadi sampah, kebiasaan ini sama saja dengan tidak mendukung upaya untuk mengurangi global warming.

Ada baiknya jika karcis berupa kertas disubsitusi menjadi mekanisme kartu atau berupa koin seperti di arena permainan anak-anak. Penggunaan kartu, koin, dan atau yang lainnya (selain kertas) tentu bisa dipakai berulang kali sehingga kita bisa lebih hemat kertas, mengurangi sampah, dan lebih ramah lingkungan.

3. Waktu kedatangan jangan terlalu lama
Bus TJ dicintai karena kecepatannya, namun waktu yang ditempauh untuk tiba di lokasi tujuan bisa menjadi lebih lama jika bus terlalu lama datang. Sekalipun datang penumpang yang antri harus rela melihat bus kosong yang melaju untuk menangkut penumpang di halte selanjutnya, atau harus melihat 3 sampai dengan 4 bus yang tidak bisa mengangkut penumpang karena penuh sesak.

Manajemen waktu kedatangan bus harus dianalisis lagi, apakah jumlah armada perlu ditambah atau hanya perlu pengaturan keberangkatan yang lebih tepat lagi. usahakan bus tidak lebih lama dari 20 menit untuk tiba di setiap halte. Dengan begitu waktu tempuh perjalanan (para penumpang) bisa makin efisien.

4. Penataan antiran di shelter bus
Waktu kedatangan bus yang (kadang) terlalu lama membuat antrian menjadi sangat panjang dan tidak teratur. Pada pagi hari dan sore hari (jam pergi dan pulang kerja), tidak sedikit penumpang TJ yang berubah sikap menjadi bar-bar, mereka saling dorong bahkan sampai ada yang bertengkar di halte tersebut. Hal yang lebih menyebalkan ketika ingin masuk ke dalam bus yang penuh sesak tetap saja didorong oleh penumpang yang masih antri, tentu saja itu sangat berbahaya.

Oleh karena itu, mungkin perlu dioptimalkan petugas pada jam tersebut atau dengan membuat pembatas antrian seperti di bank. Ini sangat penting agar penumpang yang datang lebih awal dan antri lebih awal tidak didahului oleh penumpang yang datang belakangan. Kelemahan jika diterapkan alat pembatas antrian (seperti di bank), mungkin tidak bisa diterapkan di halte yang kecil, namun untuk halte yang lumayan besar, peluangnya sangat mungkin bisa untuk dipasang pemabatas antrian penumpang.

5. pemberhentian bus di setiap shelter, harus sedikit lebih lama
Poin ini ditujukan untuk sopir bus dan penjaga pinntu bus TJ, meraka harus memastikan agar tiap penumpang aman saat masuk ke dalam bus, baik ketika kondisi bus sedang penuh maupun sedang lowong.

Ketika penumpang penuh, harus dipastikan tidak ada penumpang yang bermasalah dengan pintu seperti tangan terjepit, dll. Kemudian ketika bus tidak terlalu banyak penumpang jangan terlalu cepat meninggalkan shelter, saya sering mengalami dan melihat ketika penumpang sedang membali karcis (dan berusaha lari) mengejar bus tersebut, namun (dengan sombongnya) bus TJ tersebut langsung menutup pintu dan meninggalkan shelter. Sopir harus lebih jeli melihat penunmpang yang ingin naik, dan menyisihkan 10 detik sebelum melanjutkan perjalanan agar penumpang “terakhir saat itu” dapat diangkut.

6. Kedisiplinan sopir bus dalam menekan petunjuk shelter
Petunjuk shelter saat pemberhentian sangat bermanfaat untuk penumpang yang belum mengenal tempat di Jakarta dan penumpang yang tidak bisa melihat keluar bus, misalnya ketika kondisi bus sedang penuh. Sayangnya ada beberapa bus yang (terkadang) petunjuk shelter tidak bunyi ketika berhenti, walaupun bisa dipastikan fungsinya digantikan secara manual oleh petugas pintu.

Selain itu tidak jarang pula pengumuman petunjuk shelter berbeda dengan tempat pemberhentian, misal ketika berhenti di halte DepKes, namun bunyi petunjuk shelter menunjukkan pemberhentian masih di halte Patra Kuningan. Walaupun merupakan hal sepele, namun sopir bus TJ harus sangat disiplin dalam menekan petunjuk shelter yang sesuai dengan halte tempat pemberhentian yang dimaksud.

7. AC anti virus
Kondisi bus TJ yang selalu penuh sesak sangat menyebalkan (terutama saat sore hari), penumpang yang menumpuk menyebabkan aroma menjadi beragam dan menyebabkan udara menjadi pengap. Hal ini menjadi salah satu sumber penyakit, apalagi jika ada penumpang yang flu, batuk, menderita TBC, bau badan, dan atau penumpang yang memang alergi bau tertentu.

Pihak pengelola harus memasang Air Conditioner (AC) anti virus yang dapat meminalisir kuman penyakit yang ditularkan lewat udara. Dengan begitu, walaupun bus penuh, penumpang dapat dengan tenang bernapas tanpa harus takut ketularan penyakit berbahaya. Kemudian jika AC tersebut disertai dengan pengharum kendaraan, tentu akan menjadi nilai tambah yang baik.

8. Perbaiki fasilitas pegangan tangan
Coba perhatikan beberapa bus TJ dengan cermat, saat ini ada beberapa bus yang tidak memiliki pegangan tangan di dalamnya. Kondisi ini biasanya terdapat di bagian belakang bus, penumpang yang berdiri tidak bisa berpegangan kecuali mereka yang berpostur tinggi, mereka dapat berpegangan dengan atap bus atau dengan besi yang posisinya sangat tinggi.

Rata-rata orang Indonesia tidak terlalu tinggi, oleh karena itu pegangan tangan yang letaknya terjangkau sangat diperlukan. Selain untuk kenyamanan penumpang dalam berkendara, fasilitas pegangan tangan (dalam hal ini) juga dapat menghindari seseorang melakukan tindakan asusila, terutama saat bus sedang rem. Coba bayangkan ketika bus rem mendadak tidak ada pegangan tangan, pasti mau tidak mau sesama penumpang saling mencari pegangan, yang bisa dimanfaatkan oleh orang tertentu untuk bertindak asusila.

9. Antispasi jika terjadi mogok atau hambatan lain
Pernahkan anda melihat bus TJ yang mogok sehingga menghambat bus TJ lain di belakangnya untuk melanjutkan perjalanan? Hal itu tentu sangat menyebalkan karena membuat bus TJ (yang tidak mogok) jadi terhambat, apalagi bus TJ tidak bisa keluar dari jalur busway, tentu saja bus tersebut harus menunggu bus yang mogok dapat berfungsi kembali.

Bagaimanapun caranya, pengelola TJ harus bisa mensiasasi hal ini, entah dengan menyediakan mobil derek, atau selalu menyiapkan teknisi ahli yang selalu standby, dll. Yang jelas, jangan sampai terjadi lagi, satu bus TJ yang ’sakit’ menyebabkan bus lain harus menanggung dampak negatifnya.

10. Hiburan musik
Pengelola bus TJ bisa memanjakan penumpang dengan menyetel musik baik kaset ataupun radio (terutama saat pagi dan sore hari), itu menjadi sebuah nilai tambah untuk penumpang. Dengan musik, penumpang bisa lebih enjoy dan meminimalisir efek stress di jalan. Namun satu hal yang perli diingat, volume radio tersebut tidak boleh lebih besar dari petunjuk shelter yang dibunyikan, jika volume radio terlalu kencang bisa menjadi salah satu penyebab kecelakaan.

Sepuluh uraian di atas merupakan opini penulis sebagai pengguna (yang sangat mencintai) TJ. Jika sepuluh hal tersebut diperhatikan (dan segera ditindaklanjuti) oleh pengelola bus, pasti TJ akan lebih nyaman dan akan semakin dicintai oleh masyarakat yang membenci kemacetan.

1 comment:

  1. Kok gak ada usulan tarif pelajar dan mahasiswa sih? Penting tuh kak hehe

    ReplyDelete

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter