Saturday, February 25, 2012

Prospek dan Permasalahan Industri Kreatif Sebagai Andalan Dalam Ketahanan Ekonomi Nasional

Pada tahun 1990-an, dimulailah era baru ekonomi dunia yang mengintensifkan informasi dan kreativitas, era tersebut populer dengan sebutan ekonomi kreatif. Perkembangan ekonomi kreatif menjadi penting karena merupakan wujud dari upaya mencari pembangunan yang berkelanjutan melalui kreativitas, yang mana pembangunan berkelanjutan adalah suatu iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumber daya yang terbarukan .

Industri kreatif dapat berkontribusi signifikan dalam penerimaan ekspor, penyerapan tenaga kerja, menciptakan iklim bisnis yang positif, pertumbuhan ekonomi dan membangun identitas bangsa. Menurut data Studi Industri kreatif Indonesia, pada tahun 2008 merupakan ekspor industri kreatif tertinggi dari total ekspor nasional yaitu sebesar 114.925 miliar rupiah atau setara dengan 7,5% ekspor nasional. Sedangkan impor industri kreatif sebesar 10.442 miliar rupiah (setara 0,8% impor nasional), sehingga terdapat net ekspor sekitar 104.483 miliar rupiah.

Kontribusi industri kreatif bisa dikatakan cukup signifikan dalam aktivitas ekonomi dan dapat digunakan sebagai salah satu pilar untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional. Ketahanan ekonomi yang dimaksud adalah suatu kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat dan atas demokrasi ekonomi yang berlandaskan suatu pancasila yang mampu memelihara stabilitas ekonomi . Dengan terciptanya ketahanan ekonomi, tentu saja hal ini akan menimbulkan suatu kemandirian ekonomi sehingga tujuan untuk mensejahterakan bangsa Indonesia dapat tercapai.

Ditengah prospeknya yang bagus, industri ini menghadapi beberapa permasalahan, antara lain:
1. Kecenderungan kontribusi ekspor yang menurun dibanding struktur ekspor nasional
2. Kebijakan dan infrastruktur yang belum mendukung industri ini
3. Pelaku industri kreatif (kuantitas dan kualitas SDM) masih sedikit dan akses informasi kurang
4. Minimnya apresiasi terhadap pelaku industri
5. Lemahnya dukungan pembiayaan dan sulitnya untuk mendapatkan dana alternatif

Untuk meningkatkan penguatan daya saing Indonesia dalam menyongsong perdagangan global tentu prospek dari industri kreatif harus dioptimalkan dan permasalahannya harus diminimalisir. Berkaitan dengan latar belakang di atas, tulisan ini coba menjelaskan prospek dan permasalahan industri kreatif Indonesia sebagai andalan dalam ketahanan ekonomi nasional. Tulisan ini mula-mula akan membahas situasi perdagangan internasional industri kreatif berdasarkan Intra Industry Trade (IIT). Selanjutnya, dibahas pula indeks spesialisasi wilayah yang optimal memproduksi industri kreatif, selain itu polling terhadap 100 orang responden terkait industri kreatif juga dibahas sebagai argumen tambahan yang menjelaskan seputar prospek dan permasalahan industri ini.

Berdasarkan kajian rata-rata Intra Industry Trade (IIT) periode 2003 - 2008, diperoleh hasil sebagai berikut:

Data IIT di atas menjelaskan bahwa ketergantungan ekspor industri kreatif Indonesia sangat tinggi ke negara Eropa dan Amerika Serikat, sedangkan ketergantungan impor yang tinggi dari negara Asia (Taiwan, Vietnam, India, China, dan Hong Kong). Hal tersebut mengindikasikan produktivitas dan daya saing industri kreatif Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan 5 negara Asia tersebut. Selain itu, tingkat ketergantungan ekspor yang tinggi ke Eropa dan Amerika bisa membahayakan jika negara tersebut sedang dilanda krisis ekonomi, tentu saja dampaknya berupa menurunnya penjualan industri kreatif Indonesia, yang akan berujung kepada menurunnya ekspor dan berkurangnya penyerapan tenaga kerja.
Kemudian, analisis kajian Indeks Spesialisasi (tahun 2008), diperoleh hasil sebagai berikut:

Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat diketahui bahwa pada tahun 2008 DKI Jakarta memiliki indeks spesialiasi lebih dari 1, maka berarti region sangat terspesialiasi dalam industri kreatif, di mana pangsa tenaga kerjanya lebih tinggi dari rata-rata pangsa tenaga kerja dalam industri di Indonesia. Spesialisasi yang tinggi industri kreatif di DKI Jakarta akan mempercepat pertumbuhan industri di daerah tersebut.
Terakhir, dalam mendefisnisikan komoditas unggulan industri kreatif Indonesia digunakan polling terhadap 100 orang responden siswa/i SMAN 3 Jakarta. Hasilnya komoditas unggulan dalam industri ini adalah:
(1) Fesyen
(2) Musik
(3) Film, Video dan Fotografi
(4) Kerajinan, dan
(5) Pasar Barang Seni
Jika dibandingkan dengan data ekspor dan impor (2003 - 2008), maka kesesuaian komoditas unggulan berdasarkan hasil polling adalah:
(1) Fesyen
(2) kerajinan, dan
(3) Musik


Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan IIT dan Indeks Spesialisasi ,ditunjang dengan hasil polling, kesimpulan yang dapat direkomendasikan untuk meningkatkan daya saing industri kreatif di Indonesia adalah
1. Optimalisasi Industri Kreatif
Optimalisasi industri kreatif sudah menjadi suatu keharusan, sehingga dapat berkontribusi dalam ketahanan ekonomi nasional. Salah satu caranya adalah meningkatkan produktivitas komoditas unggulan Indonesia (fesyen, kerajinan, dan musik) dan mengembangkan sub-sektor lainnya yang potensial. Selain itu Industri kreatif yang memiliki region spesialisasi tinggi bisa lebih dimaksimalkan dengan menciptakan iklim bisnis yang kondusif dan faktor penunjang lainnya.
2. Ekspansi daerah ekspor
Sebagian besar ketergantungan ekspor industri kreatif Indonesia adalah ke wilayah Eropa dan Amerika, namun ketika saat ini negara-negara tersebut dilanda krisis permintaan akan komoditas industri kreatif lokal menurun, sehingga membuat penerimaan ekspor berkurang. Oleh karena itu, kebijakan memperluas daerah tujuan ekspor perlu dilakukan.
3. Meningkatkan produktivitas
Ketergantungan impor terhadap negara pada tingkat Asia seperti Korea, Taiwan, China, India, Vietnam, Hong Kong, dan Thailand menunjukkan industri kreatif Indonesia kurang berdaya saing. Strategi peningkatan daya saing yakni dengan melakukan spesialisasi keunggulan sub-sektor industri kreatif yang dimiliki dan meningkatkan produktivitas pekerjanya. Jika prduktivitas sub-sektor unggulan ditingkatkan, maka produsen akan mencapai skala ekonomi yang efisien.
4. Melakukan inovasi pada tiap sub-sektor
Pada situasi yang penuh dengan persaingan, tiap industri harus melakukan inovasi dalam bentuk apapun sehingga produk yang ditawarkan bisa diminati oleh calon konsumen. Aktivitas R&D menjadi penting karena hal ini merupakan kunci dari suatu perusahaan dalam suatu industri bisa tetap survive.
5. Peningkatan dan perbaikan infrastruktur
Infrastruktur menjadi salah satu indikator penting dalam mendukung perkembangan industri kreatif Indonesia, saat ini peringkat infrastruktur Indonesia saat ini adalah posisi 82 (Thierry Geiger, Juni 2011). Peringkat tersebut mengindikasikan harus dilakukannya upaya perbaikan agar proses produksi lebih optimal.
6. Penguatan pasar domestik
Selain tujuan ekspor, pemerintah perlu memberikan intensif berproduksi terhadap industri domestik untuk mengembangkan kinerjanya. Selain itu konsumsi dalam negeri yang besar juga merupakan faktor penting dalam mendorong permintaan industri kreatif itu sendiri.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, June)
Christina Aguilera - Fighter