Tuesday, July 31, 2012

Mencari Grand Strategy Indonesia 2050

Indonesia menduduki peringkat ke-63 dari 178 negara yang masuk dalam kategori negara-negara dalam bahaya (in danger) menuju negara gagal, pernyataan tersebut dirilis berdasarkan Failed State Index (FSI) tahun 2012. Namun, berdasarkan rilis Stability Rating for Southeast Asia 2012, Indonesia cenderung merupakan negara yang kondisinya stabil dengan menduduki peringkat ke-4 dari 10 negara. Salah satu penyebab kondisi tidak stabil sehingga menyebabkan negara gagal yaitu korupsi. Hasil survei yang dilakukan transparency.org mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara kelima terkorup di dunia (setelah Azerbaijan, Bangladesh, Bolivia, dan Kamerun) dan terkorup nomor satu di Asia Pasifik.

Semua fakta di atas merefleksikan adanya kegagalan pemerintah (government failure), kemudian persoalannya, apakah eksistensi Indonesia akan dapat dipertahankan hingga tahun 2050? Jawabannnya bisa optimis dan bisa pesimis.Tulisan ini akan mengangkat dan mencari grand strategy Indonesia 2050, yaitu bagaimana skenario optimis dan pesimis eksistensi Indonesia di dunia hingga tahun 2050. Tujuannya adalah memaparkan skenario kepada pemerintah untuk perumusan kebijakan pembangunan ekonomi. Ruang lingkup dalam tulisan ini akan mencakup tiga substansi, yaitu (1) bagaimana situasi dan kondisi ekonomi, politilik, dan militer secara global; (2) bagaimana skenario optimis yang dapat terjadi; dan (3) bagaimana mengantisipasi hambatan yang menyebabkan skenario pesimis. Pendekatan yang digunakan berdasarkan lima teori ancaman dalam kajian pertahanan, yang meliputi: balance of power, balance of threat, balance of force, balance of interest, dan security.
 
Situasi Kondisi Ekonomi, Politik, dan Militer Secara Global Per 2011
Kondisi government failure akan dapat dihindari jika suatu negara berhasil menghindari market failure dengan cara menjaga ketahanan ekonomi nasional. Ketahanan ekonomi yang dimaksud adalah suatu kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat dan atas demokrasi ekonomi yang berlandaskan suatu pancasila yang mampu memelihara stabilitas ekonomi. Dengan terciptanya ketahanan ekonomi, tentu saja hal ini akan menimbulkan suatu kemandirian ekonomi sehingga tujuan mensejahterakan bangsa Indonesia dapat tercapai.

Indikator daya beli China dan India saat ini mulai lebih cepat dari G-7 maupun G-8, sehingga diprediksi akan mengubah struktur geoekonomi dunia. Saat ini mulai terasa Cina dan India mulai berperan dalam geoekonomi dunia, dengan beberapa konsekuensinya di dalam geopolitik global. Kedua negara tersebut berinteraksi dengan negara-negara ekonomi besar G-7 dan di luarnya. Dalam jangka panjang geopolitik G-7 akan dipengaruhi oleh kegiatan kedua negara tersebut.

Tabel 1. Situasi dan Kondisi Ekonomi Global Per 2011

Sumber: Global Fire Power, diolah

Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, setiap negara (termasuk Indonesia) akan berusaha untuk meningkatkan kegiatan ekonominya. Salah satu caranya dengan meningkatkan produksi dan konsumsi minyak serta cadangan luar negeri dan emas yang dimiliki. Perhatikan bagaimana agresifnya China dan India dalam hal ekspansi ekonominya. Aktivitas perekonomian yang baik sangat ditentukan oleh situasi dan kondisi tingkat risiko politik di dalam perekonomian negara tersebut. Kecenderungan situasi dan kondisi low political risk justru berada di kelompok negara utara, terutama negara G-7.

Tabel 2. Situasi dan Kondisi Ekonomi Politik Global Per 2011

Sumber: Global Fire Power, diolah

Berdasarkan tabel situasi dan kondisi ekonomi politik global di atas, pada tahun 2011 hingga saat ini Amerika Serikat tetap merupakan “market of the last resort” untuk semua negara. Posisi Amerika Serikat sebagai negara dengan kekuatan militer nomor satu mendorong dirinya melaksanakan posisi unilateralisme (tindakan sepihak). Kenyataan ini turut membangkitkan radikalisme atau fundamentalisme yang mencuat dari negara lain sebagai sikap anti globalisasi dan anti kemapanan negara-negara besar atau kuat.

Perbedaan jumlah populasi dan kesenjangan Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercermin dari pengeluaran untuk anggaran militer menyebabkan terjadinya disparitas atau kesenjangan antar negara. Fakta ini mendukung teori balance of threat yang dikemukakan oleh Stephen M Walt. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa dalam sistem internasional yang anarkis dan cenderung pada tidak adanya distribusi kekuatan yang berimbang, maka negara akan menggalang aliansi dengan atau melawan kekuatan yang paling mengancam (Walt, 1985:8-9). Aliansi merupakan respon atas ketidakseimbangan ancaman. Asumsi dari balance of threat adalah respon yang dilakukan oleh negara atau beberapa negara terhadap negara lain yang memiliki power (militer, ekonomi, teknologi, dll) besar atau lebih besar dari yang dimiliki negara tersebut.

Skenario Optimis Grand Strategy Indonesia 2050
Berdasarkan data 55 negara yang terdapat dalam Global Fire Power, Indonesia menduduki peringkat ke-15 dalam hal purchasing power. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia senantiasa (dijaga) relatif tinggi, maka dalam kurun waktu tertentu daya beli Indonesia bisa menyetarai negara top 5 pada tahun ini. Jadi, Indonesia sebagai negara kuat berdasarkan daya beli pada tahun 2024 s.d 2049 dapat terwujud. Hal ini ditunjang oleh laju pertumbuhan kelas ekonomi menengah paling cepat di dunia pada tahun 2011 (130 juta orang) dan persentase rasio utang terhadap GDP Indonesia yang relatif rendah pada tahun 2011 (sekitar 25,49%) jika dibandingkan dengan negara maju/kuat lainnya.

Potensi besar yang ada di wilayah Indonesia merupakan modal bagi pemerintah Indonesia untuk mewujudkan target Indonesia sebagai negara kuat. Selain kekayaan alam yang melimpah, pertimbangan ini juga didasari pada kenyataan bahwa Indonesia merupakan wilayah strategis baik dari segi lalu lintas udara dan laut. Pada tahun 2011, Indonesia memiliki 438.410 angkatan bersenjata (peringkat 11 terbesar di dunia) dan 400.000 pasukan cadangan (peringkat 21 terbesar di dunia) serta tidak memiliki kapal induk. Oleh karena itu, diperlukan upaya penambahan angkatan bersenjata dengan wajib militer dan pembelian kapal induk untuk menjaga kedaulatan wilayah NKRI dalam menghadapai tantangan ke depan. Jangan sampai Indonesia menjadi perkakas kepentingan asing, bahkan menjadi lokasi pertempuran negara-negara lain yang akan merugikan kita.

Upaya Menghilangkan Skenario Pesimis Grand Strategy Indonesia 2050
Untuk menunjang perkembangan ekonomi, telah diadakan pemberdayaan berupa kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang stabil. Namun demikian, perkembangan sosial ekonomi dan pertahanan di Indonesia memang tidak sepenuhnya berjalan dengan baik. Diperlukan adanya upaya permberantasan korupsi, perbaikan birokrasi, penerapan good governance & leadership yang baik, meningkatkan kekuatan ekonomi dan maritim, serta mampu berdiplomasi dalam melakukan kerja sama internasional.

Di bidang pertahanan, persoalan perbatasan yang juga menjadi kepentingan dari negara tetangga (Malaysia dan Papua New Guinea) menjadi prioritas utama. Luasnya wilayah serta kondisi geografis yang cukup sulit merupakan tantangan pertahanan yang cukup besar. Oleh karena itu, Indonesia harus dapat menjalin kerjasama pertahanan yang saling menguntungkan dengan negara tetangga termasuk penyelesaian masalah kedaulatan wilayah untuk mencapai kestabilan kawasan secara permanen. Tujuan akhir dari stabilitas wilayah yaitu Indonesia diharapkan dapat mencapai kemandirian dan kewibawaan nasional di bidang ekonomi, politik, dan hankam.

Secara umum pembahasan dalam tulisan ini dapat disimpulkan dan direkomendasikan sebagai berikut: (1) Situasi dan kondisi ekonomi, politik, dan militer dalam lingkup global telah mulai mengalami pergeseran dominasi kekuatan baru, yaitu China dan India. Indonesia yang diprediksi menjadi salah satu negara yang memiliki peran penting harus menerapkan politik bebas aktif dan berani memposisikan diri dalam geoekonomi dan geopolitik percaturan global; (2) Strategi skenario optimis dan pesimis sangat tergantung dengan sitkon ekonomi, politik, dan militer seperti yang telah diuraikan. Indikatornya dapat diukur berdasarkan rating stabilitas kawasan dan indeks negara gagal; (3) Strategi mengatasi skenario pesimis yang utama yaitu dengan melakukan permberantasan korupsi, perbaikan birokrasi, penerapan good governance & leadership yang baik, meningkatkan kekuatan ekonomi dan maritim, serta mampu berdiplomasi dalam melakukan kerja sama internasional.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, June)
Christina Aguilera - Fighter