Friday, August 03, 2012

Lima Faktor Penentu Kemenangan

Definisi menang adalah: (1) dapat mengalahkan (musuh, lawan, saingan), unggul; (2) lulus; (3) mendapat hadiah; (4) dapat melebihi; dan (5) dinyatakan benar. Sedangkan definisi kemenangan adalah hal menang yang diperoleh dengan perjuangan berat, keunggulan, dan kelebihan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008).

Dalam tiap lini, persaingan (baik sehat maupun tidak sehat) akan selalu menghasilkan pihak yang menang dan pihak yang kalah. Pihak pemenang adalah mereka yang mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik termasuk memperhatikan hal-hal yang kecil sekalipun, sedangkan pihak yang kalah (pada saat itu) bisa dikatakan belum bisa menyamai atau menjadi lebih baik dari sang juara.

Kalimat yang berbunyi kekalahan adalah kegagalan yang tertunda dapat menjadi obat ketika kita mengalami kekalahan, yang fungsinya dapat menjadi penghibur dan memotivasi diri kita untuk bangkit. Celakanya jika dari kekalahan tersebut membuat kondisi kita semakin terpuruk sehingga menganggap kekalahan adalah sesuatu yang wajar dan merupakan “kemenangan yang tertunda”.

Kemenangan bisa diraih jika dari awal kita sudah yakin bahwa kita akan menang, pikiran positif sangat membantu membuat kita lebih percaya diri. Jika kita pernah atau sering berhasil dalam segala kompetisi (menang), maka akan membuat diri kita lebih percaya diri dan optimis dalam menghadapi kompetisi yang selanjutnya. Namun jangan terlalu percaya diri sehingga menjadikan diri kita pribadi yang sombong dan tidak mau mendengar pendapat orang lain, apalagi sampai menganggap remeh orang lain.

Untuk menjadi pemenang, sedikitnya diperlukan lima faktor yang akan diuraikan di bawah ini:

Pertama, bakat.
Bakat adalah dasar kepandaian, sifat, dan pembawaan yang dibawa dari lahir (KBBI, 2008). Setiap orang memiliki bakat yang berbeda-beda, berdasarkan bakat yang berbeda tersebut akan muncul spesialisasi. Kepandaian bersifat relatif dan berbeda untuk setiap bidang keahlian. Oleh karena itu, jika ingin menang dan sukses dalam mengerjakan sesuatu atau berkompetisi, maka spesialisasilah pada jalur yang core competence-nya kamu miliki.  

Orang yang memiliki banyak bakat merupakan anugerah tersendiri, namun kadangkala anugerah tersebut dapat menjadi bumerang untuk diri sendiri sehingga kita tidak dapat optimal dalam hal yang benar-benar kita kuasai. Belum lagi ketika antara bakat kita yang satu dengan yang lainnya saling meniadakan, tentu kita harus memilih dan menanggung konsekuensi dari aktivitas (bakat) yang tidak kita pilih. Kesimpulannya, temui bakat kamu, setelah itu fokus dan spesialisasikan diri dengan bakat yang kamu miliki dalam setiap kompetisi yang diikuti. Berani coba-coba diluar bakat merupakan hal yang baik, namun kita harus tetap realistis dan penuh pertimbangan.

Kedua, usaha.
Usaha merupakan kegiatan dengan mengerahkan tenaga (pikiran atau badan) untuk mencapai suatu maksud; pekerjaan (perbuatan, prakarsa, ikhtiar, daya upaya) untuk mencapai sesuatu (KBBI, 2008). Dari kelima faktor penentu kemenangan, faktor usaha merupakan faktor kunci dalam sebuah keberhasilan. Dengan usaha yang lebih keras secara teratur dan berkesinambungan, maka suatu bakat (bahkan sekalipun kita tidak memiliki bakat tersebut sejak awal) akan dapat dikembangkan.

Usaha berbanding lurus dengan hasil, jika kita sedang berkompetisi jangan pernah berpikir sekalipun untuk menang. Lakukanlah hal terbaik yang mampu kita kerjakan, percayalah jika kita berusaha untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih baik (agar hasilnya menjadi baik), maka output dan outcome-nya juga akan berkorelasi positif. Suatu tindakan atau usaha juga harus cerdas, jangan sampai kita berusaha terlalu keras (menyiksa diri) dalam mengejar suatu target namun mengabaikan hal-hal penting lainnya seperti keluarga, kesehatan, dll. Gunakan prinsip efisiensi dan keseimbangan.

Ketiga, keberuntungan.
Keberuntungan adalah kemujuran; keadaan beruntung; keberhasilan (KBBI, 2008). Keberuntungan identik dengan dewi fortuna yang membawa seseorang menjadi menang dan sukses. Perlu digarisbawahi, tidak ada yang namanya keberuntungan alias hoki tanpa adanya bakat dan usaha. Misalnya kamu mau masuk PTN, tapi hanya mengandalkan hoki semata tanpa usaha yang menunjang, tentu saja hasilnya akan gagal. Keberuntungan hanya milik orang yang berbakat dan berusaha! Yang dimaksud hoki di sini adalah miliknya di antara orang yang memiliki bakat dan telah berusaha, di antara mereka semua tidak ada yang menang dan sukses semua. Kadang untuk menjadi pemenang atau yang terbaik di antara yang terbaik harus melalui sesuatu yang dinamakan keberuntungan. Intinya, tidak ada hoki dengan modal nekat.

Keempat, likeability.
Maksud dari likeability adalah kemampuan untuk dapat disukai oleh seseorang. Faktor pengakuan dari orang lain terhadap diri kita jika telah memenangkan sebuah kompetisi akan menjadi sesuatu yang berharga dan membahagiakan. Kemenangan atau kesuksesan akan menjadi kurang lengkap jika kita membuat orang lain merasa sakit hati atau dirugikan. Oleh karena itu bersainglah secara sehat sehingga tidak ada pihak yang merasa tersakiti. Selain itu, jika posisi kita sedang di atas, upayakan untuk membantu posisi yang di bawah

Di mana pun kita berada, pasti ada pihak-pihak tertentu yang tidak menyukai keberadaan dan kemenangan kita. Usahakan redamlah potensi aura negatif tersebut dengan tidak menciptakan permusuhan, caranya yaitu dengan mengurangi pergaulan dengan orang tersebut dan membuat suasana senetral mungkin. Tentu saja kamu bukan robot, jika kamu terus “diganggu”, kamu harus melawan dengan cara elegan, caranya adalah tingkatkan bargaining power kamu melalui pencapaian prestasi yang lebih hebat lagi, hal ini tentu akan membuat “musuh” gentar dan membungkamkan mulutnya.

Terakhir, takdir.
Takdir adalah ketetapan atau ketentuan tuhan; nasib (KBBI, 2008). Manusia yang paling pintar dan telah berusaha sekeras apapun, tidak akan pernah bisa menang jika Allah belum mentakdirkan atau merestui orang tersebut untuk menang. Dalam berusaha, iringilah dengan berdoa meminta petunjuk dan kemudahan agar semua usaha kita bisa berhasil dengan baik. Yang perlu kita ingat, takdir bisa diubah. Kita tidak ditakdirkan untuk menjadi kalah, miskin, bodoh, dan sifat-sifat negatif lainnya. Jika (sementara ini) kita ditakdirkan seperti itu, ubahlah takdir buruk tersebut dengan takdir baik dengan cara berusaha, tentunya harus disertai dengan doa.

Kelima faktor yang telah diuraikan di atas memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya. Tidak ada yang dapat menjadikan orang menjadi sukses dengan hanya memiliki satu atau beberapa faktor di atas saja, jadi kita harus memiliki paling tidak kelima faktor di atas. Ubahlah takdir buruk menjadi takdir baik dengan cara mengasah bakat dan terus berusaha. Semoga keberuntungan terus menjadikan diri kita sebagai pemenang yang disukai dan bermanfaat bagi banyak orang.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2018, October)
Britney Spears - I Wanna Go