Saturday, October 27, 2012

Mengkaji Investasi Pendidikan Dalam Mengembangkan SDM Pertahanan di Indonesia

Globalisasi menyebabkan ketatnya persaingan dan semakin dinamisnya perubahan dalam segala aspek kehidupan. Globalisasi dapat dipandang sebagai sebuah peluang namun dapat pula menjadi suatu tantangan. Untuk dapat menjawab tantangan tersebut dan mampu mengantisipasi perubahan yang cepat dibutuhkan strategi yang tepat, berdaya saing dan berkelanjutan. Sebagai komponen pendukung SDM pertahanan, kita harus menyiapkan dan mengimplementasikan strategi dengan cara proaktif ikut mendesain ujud globalisasi, berposisi sebagai subyek, bukan obyek yang antisipatif dalam globalisasi.

Persaingan yang makin mengarah kepada hypercompetition mengharuskan SDM Indonesia untuk menerima kenyataan bahwa pesatnya perkembangan teknologi dan informasi telah mengakibatkan penjajahan modern dalam bentuk 4F (Fun, Food, Fashion dan Film), terjadinya perebutan sumber daya, energi, dan bahan baku dengan motif kekuasaan ekonomi, serta potensi ancaman mulai dari tawuran sampai dengan peperangan. Oleh karena itu, seluruh SDM di Indonesia (kompenen utama, cadangan, dan pendukung) harus bisa bertahan (survive) dan berkompetisi dengan SDM asing. Untuk memenangkan persaingan diperlukan perumusan kebijakan yang tepat, termasuk dalam menghadapi ancaman dan gangguan yang bersifat militer dan non militer.

Lebih spesifik, pada tahun 2011, ketersediaan kuantitas SDM Pertahanan (tentara) di Indonesia yang menjadi komponen utama dalam sistem pertahanan negara masih minim dengan rasio 0,178% dari jumlah penduduk. Kemudian jika dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja, rasio SDM pertahanan hanya sekitar 0,376%. Jadi, di Indonesia tiap 1000 penduduk hanya terdapat 2 tentara. Kondisi minimnya kuantitas tentara Indonesia ditengah luas wilayah (darat dan laut) terbesar ke-7 di dunia menjadi permasalahan tersendiri. Hal ini diperparah dengan kualitas dan kesejahteraan tentara yang belum optimal. Jika dibandingkan dengan 55 negara militer terkuat di dunia (dengan asumsi mengabaikan luas wilayah), sebenarnya jumlah tentara Indonesia tiap 1.000 penduduk bukan persoalan yang serius. Namun jika terjadi ancaman peperangan seperti di negara konflik maka kita harus menyediakan setidaknya 14 sampai dengan 45 tentara tiap 1.000 penduduk. Intinya, persediaan tentara sama dengan kebutuhan akan tentara tersebut (saat kondisi damai atau terjadi ancaman), namun permasalahan terletak pada mekanisme penyalurannya (S ≠ D) sehingga D & S tidak dapat bertemu pada tempat dan waktu yang sama.

Prediksi perang di masa depan akan terjadi di kota, dimana urbanisasi semakin tinggi dan 50 persen populasi akan tinggal di kota, terutama di Asia. Lebih lanjut, Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan bahwa aspek SDM menjadi penting. SDM pertahanan (tentara) harus memiliki keahlian yang terspesialisasi, jiwa kepemimpinan, kewaspadaan, dapat beradaptasi dengan lawan, teknologi, dan mendapat dukungan dari masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah melakukan intervensi dengan melakukan pembenahan. Salah satu caranya adalah dengan peningkatan kompetensi SDM pertahanan (utama, cadangan, dan pendukung) dan terus melakukan upaya melalui berbagai kebijakan dalam rangka peningkatan kompetensi tentara dan SDM lainnya demi terwujudnya kemananan nasional.

Tulisan ini akan mengangkat dan menganalisis salah satu isu penting terkait dengan perumusan sishaneg, yaitu, bagaimana peran investasi pendidikan dalam mengembangkan SDM pertahanan. Tujuannya adalah memberikan masukan kepada pemerintah untuk membantu merumuskan kebijakan pertahanan negara. Ruang lingkup bahasan akan mencakup tiga hal yaitu: (1) Bagaimana produktivitas SDM pertahanan dapat menciptakan integritas nasional; (2) Bagaimana keterkaitan antara konsep pertahanan semesta dan investasi pendidikan; dan (3) Bagaimana skenario kebijakan investasi pendidikan dalam perencanaan dan pengembangan SDM pertahanan.

Produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pertahanan
Produktivitas adalah hasil yang dicapai tiap tenaga kerja atau unit faktor produksi dalam jangka waktu tertentu, produktivitas dapat dihitung dengan cara membagi output dengan tenaga kerja. Produktivitas merupakan salah satu indikator dari kemakmuran suatu negara (Porter, 1990). Dalam Pasay & Putra (1992), disebutkan bahwa terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi produktivitas, diantaranya adalah manajemen investasi, teknologi, mutu modal fisik dan mutu modal manusia.

Pendekatan mengukur produktivitas dalam tulisan ini adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terdiri dari beberapa indikator. Secara umum, Indonesia menempati urutan IPM ke-124 dari 179 negara dengan skor 0,617, hal ini mengindikasikan kualitas SDM di Indonesia masih terbilang rendah. Dari segi kualitas pendidikan, rata-rata lama orang Indonesia menempuh pendidikan adalah 13,2 tahun. Jika diasumsikan dengan sistem pendidikan wajib belajar 12 tahun, rata-rata orang Indonesia menempuh pendidikan SD hingga SMA saja, setelah itu mereka memilih untuk bekerja. Sebagai kompenen pendukung SDM pertahanan, tentu saja kita akan kalah bersaing dengan SDM asing jika hanya sekedar menjadi lulusan SMA/sederajat. 

Untuk menciptakan integritas nasional, maka: (1) seluruh SDM pertahanan, baik kompenen utama, cadangan, dan pendukung harus berpartisipasi dalam menjaga pertahanan nasional (total); (2) kontribusi yang diberikan diharapkan dapat bersinergi sesuai peran dan fungsi masing-masing (terpadu); dan (3) terus meningkatkan potensi dan kualitas diri agar keahlian dapat meningkat (berlanjut).

Keterkaitan Investasi Pendidikan dan Pertahanan
Pendidikan menjadi penting karena manusia merupakan salah satu faktor produksi. Individu dengan human capital tinggi akan menerima pendapatan yang lebih tinggi (karena produktivitasnya tinggi). Seperti investasi lain, pendidikan menghasilkan return (yang dapat dihitung dengan cost-benefit analysis). Tingkat pendidikan yang baik dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi (melalui endowment tenaga kerja) dan menunjang pertahanan nasional.

Gambar 1. Keterkaitan Investasi Pendidikan dan Pertahanan




Sumber: World Bank, 1991, dimodifikasi*).
*) Modifikasi skema di atas terdapat pada tinta bercetak merah, dimana (A) kompetensi dan profesionalitas; (B) perdamaian; (C) kesejahteraan; dan (D) iklim usaha kondusif.

Skema di atas menjelaskan peran SDM dalam perekonomian dan pertahanan nasional. Investasi SDM pertahanan (tentara) dan SDM komponen pendukung lainnya dapat meningkatkan produktivitas dan membentuk human capital yang menghasilkan return tinggi. Tentu saja SDM tersebut harus memiliki kompetensi dan profesionalitas berstandar internasional. Caranya dengan berkontribusi dan terus meningkatkan pengetahuan dan teknologi.

Produktivitas tinggi mencerminkan kesejahteraan suatu bangsa yang dapat dilihat dari kompetitifnya lingkup mikro dan terjaganya stabilitas makro. Efek positifnya terjadi capital inflow sehingga investasi banyak masuk ke Indonesia. Dengan iklim usaha yang kondusif, Indonesia akan dapat mengantisipasi dan mengatasi segala goncangan (shocks) yang terjadi.

Untuk mewujudkan ekonomi yang tangguh tentu para tentara menjadi komponen pendukung saja. Jika perekonomian baik, peluang konflik dan perang akan lebih sedikit (walaupun akan tetap ada dan tentara harus siaga). Namun, jika ada pihak yang mengusik negara maka tentara harus turun tangan untuk menciptakan upaya keamanan negara dengan tujuan menciptakan perdamaian.

Skenario Kebijakan Investasi Pendidikan dan SDM Pertahanan
Investasi pendidikan bertujuan membentuk human capital yang mumpuni. Strategi atau skenario yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut antara lain: (1) On the Job Training (OJT), proses yang terorganisir untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, kebiasaan kerja, dan sikap karyawan; (2) Pendidikan non-formal atau life skills, ini ditujukan untuk lulusan SMA/sederajat agar mereka tidak menjadi pengangguran dan dapat berkontribusi dalam perekonomian; (3) Migrasi, tujuannya untuk memperluas lapangan kerja sehingga tidak terjadi kesenjangan; (4) intervensi pemerintah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan (termasuk jasa kesehatan dan pengeluaran kesehatan) agar dapat menunjang produktivitas SDM; dan (5) secara khusus, untuk meningkatkan jumlah tentara diperlukan rekruitmen tambahan agar jumlah tentara dapat memenuhi kebutuhan.

Untuk mengantisipasi dan mengatasi tantangan dan ancaman yang makin kompleks, Indonesia membutuhkan SDM pertahanan yang profesional baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Secara ideal, jumlah tentara perlu ditingkatkan dan kesejahteraannya dijamin. Selain itu, SDM komponen cadangan dan pendukung dapat berkontribusi dan bersinergi dalam menjaga pertahanan nasional baik dalam kondisi damai ataupun perang. Upaya peningkatan jumlah kuantitas harus dibarengi dengan perbaikan kualitas melalui kebijakan investasi pendidikan secara komprehensif mulai dari tahap perencanaan hingga pengawasan.

Secara keseluruhan, pembahasan dalam tulisan ini dapat disimpulkan dan direkomendasikan sebagai berikut: (1) negara yang perekonomiannya baik akan memiliki SDM dengan produktivitas tinggi dan berdaya saing sehingga kecenderungannya peluang negara tersebut aman lebih besar; (2) Kebijakan investasi pendidikan (kuantitas dan kualitas) diperlukan dalam mengembangkan human capital; dan (3) Upaya pembinaan SDM komponen utama dan pendukung harus dilakukan secara simultan sehingga dapat bersinergi dalam berkontribusi. Dengan demikian diharapkan Indonesia dapat memiliki SDM pertahanan (utama, cadangan dan pendukung) yang handal sehingga pertahanan dan keamanan nasional dapat terwujud.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter