Monday, November 19, 2012

Aktivitas R&D Pertahanan Sebagai Prasyarat Inovasi Alutsista

Tema: Peran Penelitian dan Pengembangan (R&D) Pertahanan Dalam Proses Modernisasi Alutsista Bagi Komponen Pertahahanan RI Menuju Ke Pencapaian MEF

Aktivitas R&D Pertahanan Sebagai Prasyarat Inovasi Alutsista

Pertahanan merupakan syarat mutlak yang harus ada. Pertahanan diperlukan dalam upaya menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara untuk mengantisipasi dan mengatasi gangguan atau ancaman yang membahayakan. Dalam rangka mewujudkan pertahanan negara yang kuat, setidaknya dibutuhkan Triple E, yaitu: (1) kekuatan ekonomi (size of Economy); (2) pendidikan serta (termasuk sosialisasi) semangat bela negara untuk komponen cadangan (Education for reserve component); dan (3) efek gentar untuk negara lain (deterrent Effect).

Faktor ekonomi menjadi indikator penting dalam mewujudkan pertahanan. Perekonomian kuat yang dimiliki developed & emerging country ternyata berkorelasi positif dengan kekuatan militernya (lihat lampiran 1), dengan kekuatan militer yang kuat bisa mencerminkan indikator pertahanan negara yang baik. Kemudian faktor pendidikan untuk SDM kompenen cadangan juga penting. Diharapkan (pada saat damai), dengan pendidikan sesuai spesialisasi yang dimiliki oleh tiap-tiap individu dapat berkontribusi terhadap perekonomian. Namun, jika negara sedang perang, komponen cadangan tersebut siap melakukan aksi bela negara melindungi NKRI. Faktor size of economy dan education for reserve component merupakan perwujudan dari deterrent effect.

Lebih spesifik, deterrent effect yang dimaksud dalam menunjang pertahanan negara yaitu ketersediaan komponen utama pertahanan (tentara) dan alutsista yang dimiliki. Jumlah tentara di Indonesia hanya 0,178% dari jumlah penduduk1 atau tiap 1.000 penduduk hanya terdapat 2 tentara (lihat lampiran 3). Sementara itu, keberadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia masih rendah dan lemah. Untuk mendukung pertahanan kita memerlukan alutsista, namun anggaran pertahanan Indonesia masih terbatas dan pembangunan alutsista itu sendiri baru dimulai pada tahun 2010.

Pengadaan alutsista (weapon acquisition) adalah kegiatan mengadakan dengan cara membeli, menyewa, meminjam pakai, memperoleh hibah untuk membina kekuatan pertahanan dan menggunakannya untuk kepentingan pertahanan suatu negara. Proses pengadaan dan modernisasi alutsista dapat dilakukan dengan produksi industri pertahanan dalam negeri atau dilakukan secara impor.

Alutista Indonesia: Antara Produksi Dalam Negeri dan Impor
Berdasarkan statistik trade map tahun 2007 s.d. 2011, dari 10 komoditas yang terkait dengan industri pertahanan hanya tembaga (HS 74) dan nikel (HS 75) yang memiliki trade balance positif (ekspor > impor), tembaga memiliki skor ISP 0,53 dan nikel skor ISP 0,961. Industri tembaga berada pada tahap growth, sedangkan industri nikel berada pada tahap maturity. Sementara, delapan industri lainnya masuk dalam kategori tahap pengenalan dan subsitusi impor (lihat lampiran 4).

Tahap growth (industri tembaga) ditandai dengan laju pertumbuhan penjualan yang tinggi serta melonjaknya keuntungan. Selama tahap ini perusahaan mencoba dan berusaha menyempurnakan produk, memasuki segmen pasar yang baru, serta sedikit menurunkan harga jual. Kemudian, tahap mature (industri nikel) ditandai dengan melemahnya pertumbuhan penjualan dan mendatarnya keuntungan. Oleh karena itu, perusahaan mencoba strategi inovasi agar bisa memperbaiki laju pertumbuhan penjualan.

Dalam teori PLC (Shenkar & Luo, 2004), dijelaskan bahwa negara yang melakukan inovasi (inovator) biasanya menciptakan inovasi produk dan cenderung melakukan ekspor. Sedangkan negara yang melakukan imitasi (imitator) biasanya harus melalui tahapan learning curve dalam proses produksinya agar skala produksi menjadi efisien.

Jika produksi mencapai tingkat efisien, maka negara tersebut akan bisa mengekspor (termasuk ke negara yang menjadi inovator). Hal ini karena jumlah produk negara imitator pasti sudah lebih banyak dari pada negara inovator, jika kondisi tersebut terjadi maka negara inovator akan meninggalkan produk yang telah diimitasi atau tetap memproduksi barang tersebut untuk dimodifikasi lebih lanjut.

Dari data statsitik di atas, pengadaan alutsista Indonesia sebagian besar masih harus melalui impor karena belum terdapat learning by doing dengan melakukan aktivitas R&D dan inovasi. Selain itu, infrastruktur dan investasi jangka panjang juga belum mendukung.

Kondisi Alutsista Indonesia
Alutsista Indonesia tidak hanya jauh dari Minimum Essential Force (MEF), akan tetapi kondisinya juga memprihatinkan. Mayoritas senjata berusia 25-40 tahun dan tak sedikit yang kurang berfungsi ketika digunakan, akibatnya tidak semua senjata TNI siap dipakai saat bertempur. Berdasarkan data GFP (2012), Indonesia memiliki alutsista sebagai berikut:

Tabel 1. Alutsista Indonesia Tahun 2011
Angkatan Darat
  • Total Land Weapons: 1.577
  • Tanks: 355
  • APCs / IFVs: 691
  • Towed Artilery: 59
  • SPGs: 0
  • MLRSs: 42
  • Mortars: 350
  • AT Weapon: 100
  • AA Weapons: 100
  • Logistical Vehicles: 1.101
Angkatan Udara
  • Total Aircraft: 510
  • Helicopters: 168
  • Servicable Airports: 684
Angkatan Laut
  • Total Navy Ships: 136
  • Merchant Marine Strength: 1.244
  • Aircraft Carriers: 0
  • Destroyers: 0
  • Submarines: 2
  • Frigates: 6
  • Petrol Craft: 31
  • Mine Warfare Craft: 12
  • Amphibious Assault Craft: 8
Sumber: Global Fire Power, 2012.

Jika dibandingkan dengan negara kelompok dua (emerging country), alutsista yang dimiliki Indonesia secara kuantitas masih belum memadai (lihat lampiran 5). Negara emerging country, yang perekonomiannya mengarah kepada developed country, terlihat mulai membangun kekuatan militernya. Hal ini ditunjang dengan terus melakukan aktivitas R&D pertahanan untuk meningkatkan kapabilitas militer yang mereka miliki.

Kendala Anggaran Dalam Aktivitas R&D Pertahanan
Aktivitas R&D di Kementerian Pertahanan RI bertugas untuk menyelenggarakan penelitian, pengkajian dan pengembangan strategi dan sistem pertahanan, sumber daya manusia, kemampuan dan pendayagunaan industri nasional serta penguasaan iptek untuk pertahanan negara (Wikipedia, 2012).

Minimnya anggaran pertahanan (jika dibandingkan dengan kebutuhan dan tugas-tugas pertahanan dalam negeri yang kompleks) menyebabkan pemerintah belum mampu untuk memodernisasi alutsista dan mengembangkan kapabilitas pertahanan Indonesia. Oleh karena itu, alutsista yang sekarang sudah ada harus dipelihara agar usia pakainya (life time) bisa lebih panjang.

Dalam konteks di luar pertahanan, inovasi rendah karena penggunaan teknologi terkait aktivitas R&D termasuk alokasi anggaran untuk R&D masih kurang (BI, Desember 2010). Anggaran riset dan teknologi di dalam negeri sejak 1969 s.d 2001 menurun tajam dari anggaran keseluruhan pemerintah.

Gambar 2. Kekuatan R&D (Selected Country)
Sumber: OECD 2012, diolah.

Jika dibandingkan dengan anggaran R&D negara maju yang mengalokasikan 1,7 s.d 3,6 persen dari PDB, persentase anggaran R&D Indonesia masih sangat minim (lihat lampiran 6). Oleh karena itu, diperlukan komitmen pemerintah untuk meningkatkan porsi dan efisiensi anggaran R&D. Inovasi hampir mustahil tanpa adanya alokasi anggaran untuk aktivitas R&D yang memadai, tidak sekedar ada. Hal ini dikarenakan alokasi anggaran dan aktivitas R&D mencerminkan dan prasyarat tingkat inovasi baik dalam konteks umum maupun pertahanan.

Peran R&D Dalam Bidang Pertahanan Dalam Mencapai MEF
Menyadari keterbatasan anggaran pertahanan yang dimiliki, maka untuk mencapai MEF, Indonesia harus mendapatkan transfer of technology dari negara importir. Setelah itu, melakukan learning by doing dengan aktivitas R&D dan inovasi. Aktivitas tersebut diharapkan dapat (1) memberikan pengaruh pada peningkatan produktivitas SDM; (2) perkembangan teknologi; dan (3) memberikan multilier effect terhadap pertumbuhan ekonomi. Peran R&D pertahanan lainnya yaitu dapat menganalisis dan memprediksi tentang fenomena yang mungkin terjadi di masa mendatang (terutama terkait dengan pertahanan) dan dampaknya bagi kelangsungan NKRI. Dengan demikian, pemerintah dapat menentukan kebijakan apa yang harus ditempuh sehingga hasilnya tepat sasaran (efektif dan efisien).

Kesimpulan
Pertahanan nasional dapat terwujud jika suatu negara memiliki triple E, (1) size of Economy; (2) Education for reserve component; dan (3) deterrent Effect. Indonesia masih terkendala dalam kuantitas dan kualitas alutsista yang dimiliki. Pengadaan alutsista sebagian besar masih harus diimpor karena anggaran pertahanan masih terbatas dan belum adanya aktivitas R&D dan inovasi pertahanan.

Upaya melakukan modernisasi alutsista dalam mencapai target MEF harus didukung oleh komitmen pemerintah untuk meningkatkan porsi dan efisiensi anggaran R&D pertahanan. Tujuan jangka panjangnya, Indonesia dapat melakukan modernsisasi alutsista sambil learning by doing melalui transfer of technology. Dalam proses transfer teknologi diperlukan adanya kemampuan untuk mengembangkan industri pertahanan domestik mulai dari sektor hulu, menengah, dan hilir. Tujuannya diharapkan terjadi rantai produksi alutsista yang kokoh sehingga trade balance industri yang terkait dengan alutsista memiliki ISP yang baik.

Inovasi hampir mustahil tanpa adanya alokasi anggaran untuk aktivitas R&D pertahanan yang memadai (dan tidak sekedar ada.) Hal ini karena alokasi anggaran dan aktivitas R&D pertahanan mencerminkan dan prasyarat tingkat inovasi alutsista. Selain itu, pemerintah perlu mengembangkan pengetahuan secara intensif dengan teknologi berbasis industri. Untuk mencapainya perlu diupayakan melalui investasi pendidikan dan R&D pertahanan. SDM yang produktif akan dapat melakukan aktivitas R&D dengan baik, sehingga secara otomatis SDM tersebut unggul secara kualitas.

Aktivitas R&D pertahanan yang optimal diharapkan dapat berfungsi dalam menganalisis prospek permasalahan (vital) yang akan dihadapi pada masa depan, termasuk solusi mengambil kebijakan dalam penyelesaian masalah. Peran terakhir dari aktivitas R&D diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas SDM (pertahanan itu sendiri) dan kemajuan teknologi sehingga memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertahanan & kemanan nasional.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter