Sunday, November 04, 2012

Fungsi Anggaran Pertahanan Dalam Pertumbuhan Ekonomi

0 Comment
Pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2012 tumbuh sebesar 6,3 persen (BPS No. 54/08/Th. XV). Namun pertumbuhan tersebut tergolong anomali karena tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Salamuddin Daeng, 2012). Kesejahteraan merupakan suatu kondisi dimana kebutuhan (termasuk keinginan) dapat terpenuhi. Dalam teori Maslow (1954) dijelaskan bahwa kebutuhan keamanan dan keselamatan merupakan kebutuhan aman dari ancaman, kesehatan, dan kepastian pekerjaan serta materi. 

Ancaman merupakan segala bentuk gangguan langsung, tidak langsung, terlihat ataupun tidak terlihat terhadap kedaulatan; basis-basis vital nasional (ekonomi, militer, dan informasi); penduduk; teritorial, ataupun segala bentuk usaha serangan secara konvensional, inkonvensional, maupun asimetrik terhadap suatu bangsa dalam skala nasional (Widodo, 2003). Hingga saat ini Indonesia mendapatkan banyak ancaman yang mengganggu kedaulatan NKRI. Oleh karena itu setiap komponen bangsa harus memiliki rasa kebangsaan dan nasionalisme yang tinggi. Kemudian pemerintah perlu melakukan intervensi dengan menyediakan anggaran pertahanan yang dapat menunjang pelaksanaan pertahanan itu sendiri.

Keterbatasan pemerintah dalam menyediakan anggaran pertahanan selalu dihadapkan dengan kebutuhan sektor pertahanan itu sendiri yang besar dab trade off dengan alokasi sektor lainnya di luar pertahanan. Efek negatifnya pembangunan pertahanan saat ini relatif belum dapat dilaksanakan secara optimal sehingga kapabilitas pertahanan belum mampu untuk mencegah, mengantisipasi, dan mengatasi ancaman keamanan nasional.

Pertahanan nasional yang kuat dapat diwujudkan dengan ketersediaan anggaran pertahanan yang mencukupi. Hal tersebut menjadi penting karena anggaran pertahanan (insentive system) akan berpengaruh terhadap kinerja sektor pertahanan (performance). Alokasi anggaran untuk sektor pertahanan dan sektor lainnya sangat dipengaruhi oleh kapasitas ekonomi tiap negara. Berikut ini akan disajikan fakta kapasitas ekonomi sepuluh negara di Asia Tenggara pada tahun 2012. Fakta tersebut disajikan dalam beberapa variabel yang nilainya telah distandardisasi dengan menggunakan menggunakan SPSS17 (analisis Z-Score).

Tabel 1. Kapasitas Ekonomi Sepuluh Negara di Asia Tenggara Tahun 2012 

Sumber: Lampiran Essay Tema No. 2 UTS IDE, UNHAN. Diolah.

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa dalam kurun analisis, anggaran pertahanan Indonesia berada pada 0.10340 standar deviasi di bawah rata-rata anggaran pertahanan negara lain di Asia Tenggara. Jadi, anggaran pertahanan Indonesia memang masih sangat minim jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Fakta unik ditemukan pada Brunei Darussalam, walaupun posisi Z-Score untuk Garhan dan PDB nya negatif, akan tetapi Z-Score GHK dan PDBK (anggaran pertahanan per kapita dan PDB per kapita) hasilnya positif. Hal tersebut disebabkan jumlah penduduk Brunei sangat sedikit jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Tabel 2. Persentase Anggaran Pertahanan dan Populasi di Asia Tenggara Tahun 2012 
 












Sumber: Lampiran Essay Tema No. 2 UTS IDE, UNHAN. Diolah.

Posisi strategis Indonesia dengan luas wilayah dan jumlah penduduk terbesar di ASEAN bertolak belakang dengan alokasi anggaran pertahanan yang dimiliki. Sebaliknya, Singapura yang jumlah penduduknya hanya sekitar 0,80 penduduk ASEAN, memiliki porsi anggaran paling besar yaitu 35,74 persen dari total keseluruhan anggaran pertahanan di kawasan.

Fungsi Anggaran Pertahanan
Anggaran pertahanan dapat berfungsi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, mengarah kepada pembentukan SDM, menyediakan perlindungan kepada warga negara, meningkatkan produktivitas, dan menyediakan manfaat langsung teknologi (Pradhan, 2010).

Tabel 3. Fungsi Anggaran Pertahanan 
 
Sumber: 
1) UNCTAD (1980-2009), diolah. Perkembangan Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi Negara di Asia Tenggara Tahun 1980 – 2009 (persen)
2) Human Index Development, HDI (2011). United Nations Development Programme (UNDP).
3) Andi Wijayanto, Universitas Pertahanan Indonesia (2012). Ancaman Dalam Kajian Pertahanan: Stability Rating for Southeast Asia 2012: Slide ke-28.
4) The Global Competitiveness Index 2012 – 2013 Rankings and 2011 – 2012 Comparisons, The Global Competitiveness Report 2012 – 2013 (2012). Produktivitas yang tinggi mencerminkan daya saing yang tinggi, dan daya saing yang tinggi berpotensi memungkinkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan selanjutnya akan meningkatkan kesejahteraan penduduk.
5) The Networked Readiness Index (NRI), Global Information Technology Report, WEF (2012). NRI menunjukkan sejauh mana negara maju dan berkemang di seluruh dunia memanfaatkan TIK untuk meningkatkan daya saing, sehingga memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi.

Hingga saat ini, Singapura memiliki persentase anggaran pertahanan tertinggi sehingga mengindikasikan secara tidak langsung memiliki kekuatan militer terbesar di kawasan ASEAN. Negara-negara tetangga lain seperti Myanmar, Vietnam, dan Malaysia (termasuk Singapura) menguasai 78,89% dari total anggaran pertahanan di ASEAN.

Keempat negara tersebut sangat concern dengan kekuatan militernya yang tercermin dari anggaran pertahanan yang mereka alokasikan. Anggaran pertahanan tersebut memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam waktu yang lama (1980 – 2009), dimana rata-rata pertumbuhan ekonominya mencapai enam persen. Fakta tersebut memperkuat argumen Pradhan (2010), yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi mempengaruhi anggaran pertahanan dan anggaran pertahanan bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Indikator lain dapat dilihat pada tebel di atas, negara dengan Garhan tinggi, kondisnya cenderung aman. Dengan situasi aman, maka inovasi dan R&D dapat dilakukan, sehingga produktivitas tinggi dan berdaya saing. Efek positifnya terjadi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas SDM yang diukur berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Korelasi dan Regresi Anggaran Pertahanan Dengan Indikator Data Terlampir
Jika anggaran pertahanan sedemikian penting, variabel-variabel apa saja yang mempengaruhi anggaran pertahanan?. Berdasarkan data terlampir, terdapat data anggaran pertahanan, PDB, jumlah penduduk, PDB per kapita, dan jumlah penduduk per kapita. Data tersebut diolah menggunakan analisis korelasi dan regresi dengan software SPSS17.

Tabel 4. Korelasi Anggaran Pertahanan dengan Indikator Data Terlampir

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa:
  • Korelasi antara anggaran pertahanan dengan PDB sebesar 0,235 >> Terdapat korelasi positif. Nilai signifikansinya 0,514 >> tidak signifikan. 
  • Korelasi antara anggaran pertahanan dengan jumlah penduduk sebesar -0,067 >> Terdapat korelasi negatif. Nilai signifikansinya 0,855 >> tidak signifikan. 
  • Korelasi antara anggaran pertahanan dengan anggaran pertahanan per kapita sebesar 0,703 >> Terdapat korelasi positif. Nilai signifikansinya 0,023 >> signifikan. 
  • Korelasi antara anggaran pertahanan dengan PDB per kapita sebesar 0,640 >> Terdapat korelasi positif. Nilai signifikansinya 0,046 >> signifikan. 
  • Jadi, anggaran pertahanan memiliki korelasi positif secara signifikan dengan anggaran pertahanan per kapita dan PDB per kapita. Hal ini penting, mengingat bukan hanya nominal Garhan saja yang tinggi (pertumbuhan), akan tetapi harus ada unsur pemerataan Garhan (pembangunan) yang dapat dinikmati oleh tiap penduduk. 
Tabel 5. Regresi Anggaran Pertahanan dengan Indikator Data Terlampir

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa:
  • Nilai konstanta dari persamaan sebesar 2,376. 
  • Koefisien PDB 0,025 dengan signifikansi 0,158 >> tidak signifikan. Jadi, variabel PDB tidak memberikan pengaruh terhadap anggaran pertahanan di dalam model. 
  • Koefisien Penduduk -0,028 dengan signifikansi 0,317 >> tidak signifikan. Jadi, variabel jumlah penduduk tidak memberikan pengaruh terhadap anggaran pertahanan di dalam model. 
  • Koefisien anggaran pertahanan per kapita 14,294 dengan signifikansi 0,066 >> tidak signifikan. 
  • Jadi, variabel anggaran pertahanan per kapita tidak memberikan pengaruh terhadap anggaran pertahanan di dalam model. Koefisien PDB per kapita -0,965 dengan signifikansi 0,118 >> tidak signifikan. Jadi, variabel PDB per kapita tidak memberikan pengaruh terhadap anggaran pertahanan di dalam model. Jadi, berdasarkan ke-4 variabel di atas, tidak terdapat variabel yang memiliki pengaruh terhadap anggaran pertahanan. Penyebabnya adalah variasi lokus negara (cross-sectioal) hanya sepuluh negara, variasinya terlalu kecil. Sehingga hubungan antara anggaran pertahanan dan pertumbuhan ekonomi tidak selalu konklusif.
Kesimpulan
Indonesia mendapatkan banyak ancaman yang mengganggu kedaulatan NKRI. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan intervensi dengan melakukan tindakan, salah satunya dengan mengalokasikan anggaran pertahanan yang jumlahnya sesuai dengan kebutuhan sektor pertahanan. Anggaran pertahanan terbukti dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, mengarah kepada pembentukan SDM, menyediakan perlindungan kepada warga negara, meningkatkan produktivitas, dan menyediakan manfaat langsung teknologi. Besaran nominal anggaran pertahanan tidak harus secara dalam nominal saja yang tinggi (pertumbuhan), akan tetapi harus ada unsur pemerataan anggaran pertahanan (pembangunan) yang dapat dinikmati oleh tiap penduduk secara merata.

Leave a Reply

My fav song, 1 s.d 30 November 2014
Pharell Williams - Happy