Wednesday, November 21, 2012

Membangun Kapabilitas SDM Guna Meningkatkan Kemandirian dan Daya Saing Dalam Rangka Ketahanan Nasional


Pada tahun 2011, Indonesia merupakan negara urutan nomor 18 dalam kekuatan militer terbesar di dunia (Global Fire Power, 2012). Namun, kuantitas alutsista yang dimiliki masih sangat minim jika dibandingkan dengan beberapa negara, bahkan dengan negara yang peringkat kekuatan militernya di bawah Indonesia (lihat lampiran 1). Kuantitas alutsista yang ada di Indonesia diperparah dengan kualitas (kondisi dan umur pakai) yang memprihatinkan. Mayoritas senjata berusia 25-40 tahun dan tak sedikit yang kurang berfungsi ketika digunakan .

Berdasarkan statistik GFP, Indonesia hanya unggul dalam kuantitas SDM (jumlah penduduk dan jumlah angkatan kerja) yang menempati posisi lima teratas (lihat lampiran 2). Dalam konteks SDM (terutama SDM pertahanan), jumlah tentara di Indonesia hanya 0,178% dari jumlah penduduk atau tiap 1.000 penduduk hanya terdapat 2 tentara. Kondisi ini tentu saja belum menunjukkan kondisi yang ideal, apalagi jika mengakumulasikan kebutuhan pertahanan atas potensi ancaman yang akan terjadi. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia perlu memodernisasikan alutsista dengan mengalokasikan anggaran militer yang sesuai dengan kebutuhan nasional.

Pengadaan alutsista untuk memperkuat pertahanan mutlak diperlukan, proses pengadaan alutsista harus berdasarkan salah satu dari tiga alasan strategis , yaitu: (1) adanya ancaman; (2) sudah habis masa pakai, membahayakan, rusak, atau program modernisasi alutsista; dan (3) atas dasar rencana makro dan berkelanjutan, baik dalam hal pendanaan maupun implementasi proyek, tentang ekspektasi kapabilitas angkatan bersenjata. Namun, minimnya anggaran pertahanan Indonesia (hanya 0,30%) dengan jumlah populasi 4,57% (jika dibandingkan dengan 55 negara lainnya, (lihat lampiran 3)), menyebabkan pemerintah belum cukup mampu untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan Indonesia. Oleh karena itu, alutsista yang sekarang sudah ada harus dipelihara agar usia pakainya (life time) bisa lebih panjang.

Drivers of Change
Sumber daya yang tersedia jumlahnya terbatas (baik yang renewable maupun non-renewable), sementara kebutuhan manusia sifatnya tidak terbatas. Pada masa mendatang, jumlah sumber daya akan semakin sedikit sehingga akan terjadi perebutan sumber daya antar negara dengan motif kepentingan nasional dan kekuasaan (ekspansi ekonomi).

Setiap negara akan memperjuangkan ketahanan nasionalnya, namun itu saja belum cukup karena kita hidup berdampingan dengan negara lain. Jadi pemerintah harus memiliki kebijakan luar negeri untuk mengatur kehidupan internasional (dimensi eksternal). Dalam kebijakan luar negeri tersebut harus berlandaskan national secuirity dengan memperhatikan national interest dan vital interest.

Bentuk ancaman terhadap kedaulatan negara yang terjadi saat ini makin bersifat multidimensional seiring dengan perkembangan globalisasi, hal ini ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan komunikasi. Tidak ada satu negara manapun yang tidak mengalami ketergantungan dengan negara lain, baik small country maupun large country (size of economy).

Negara yang memiliki perekonomian baik (indikatornya negara tersebut merupakan developed country dan emerging country), ternyata memiliki kekuatan militer yang cukup besar (indikatornya peringkat militer versi GFP). Berarti terdapat korelasi positif antara kekuatan ekonomi dengan kekuatan militer. Kekuatan ekonomi yang baik dapat mengalokasikan anggaran pertahanan yang besar, sehingga kekuatan militer juga akan besar (lihat lampiran 3).

Basic Trends
Kawasan Asia Tenggara merupakan regional yang memiliki perekonomian yang cukup baik (lihat lampiran 6) dan kawasan yang kondusif (lihat lampiran 7).  Namun, krisis yang melanda Amerika Serikat pada tahun 2008 dan krisis Eropa baru-baru ini mempengaruhi kemampuan ekonomi tiap negara, termasuk negara-negara di Asia Tenggara. Salah satu efek negatif krisis yang dirasakan Indonesia (dan negara ASEAN lainnya) adalah turunnya volume dan nilai ekspor ke negara tujuan utama (USA dan Eropa). Menurunnya kapabilitas perekonomian suatu negara akan berpengaruh terhadap pengurangan alokasi anggaran pertahanan. Jika anggaran pertahanan minim tentu saja akan sulit untuk melakukan modernisasi (termasuk pemerliharaan) alutsista.

Gambar 1. Anggaran Pertahanan Lima Negara ASEAN Tahun 2004 s.d. 2011.













Sumber: SIPRI Military Expenditure Database, 2012.

Berdasarkan grafik di atas, pada tahun 2010 dan 2011 terlihat dampak krisis berupa penurunan alokasi anggaran pertahanan untuk negara Thailand, Malaysia dan Filipina. Sementara anggaran Singapura relatif stabil dan Indonesia mengalami peningkatan. Walaupun meningkat, tetapi nominal anggaran pertahanan Thailand masih lebih besar dibandingkan dengan Indonesia (lihat lampiran 3).

Selain krisis, terdapat ancaman regional di kawasan ASEAN yang disebabkan oleh konflik Laut China Selatan yang diklaim oleh China, Filipina, Vietnam, Taiwan, Brunei, dan Malaysia. Tentu saja hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi stabilitas kawasan. Konflik tersebut dipicu karena dugaan adanya cadangan minyak dan gas dalam jumlah besar di wilayah Laut China Selatan .

Untuk mengantisipasi ketidakstabilan tersebut, sangat dibutuhkan kemampuan negosiasi dan kerjasama dalam meredam konflik. Tidak dapat dipungkiri ketersediaan alutsista dan SDM pertahanan menjadi deterrent effect agar negara lain tidak menyepelekan posisi Indonesia dalam proses negosiasi tersebut. Berikut ini merupakan gambaran alutsista yang dimiliki oleh lima negara di ASEAN pada tahun 2011, alutsista tersebut dapat menjadi gambaran awal seberapa kuat bargaining power Indonesia dalam mengatasi (atau menghindari) konflik Laut China Selatan.

Tabel 1. Kuantitas Alutsista Lima Negara ASEAN Tahun 2011.






Sumber: Global Fire Power, 2012.

Tabel di atas merepresentasikan persentase kuantitas alutsista yang dimiliki oleh 55 negara militer terkuat di dunia (GFP, 2012). Berdasarkan data (dan asumsi alutsista yang terdapat pada tabel), kekuatan AD Indonesia masih di bawah Thailand dan Singapura. Kekuatan AU Indonesia masih di bawah Thailand, sementara kekuatan AL hampir setara dengan Thailand dan Singapura.

Kondisi krisis Eropa dan Amerika serta potensi konflik Laut China Selatan merupakan kondisi aktual yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah. Selain itu, kesiapan SDM pertahanan juga merupakan faktor penting dalam menciptakan deterrent effect dalam mewujudkan pertahanan nasional.

Key Uncertainty
Sengketa Laut China Selatan dicemaskan dapat menyebabkan pergolakan dalam stabilitas regional ASEAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang akan menderita kerugian jika China sedang mengalami konflik. Ekspor Indonesia ke China yang nilainya sangat besar akan terganggu, efek lain yang menyertai penurunan ekspor yaitu pengurangan permintaan komoditas sehingga terjadi penurunan produksi domestik, dan pada akhirnya akan meningkatkan pengangguran.

Jika sampai terjadi perang terbuka maka akan sangat merugikan perekonomian seluruh dunia. Hal ini karena konflik tersebut melibatkan dua raksasa ekonomi global (China dan Jepang). Belum lagi pihak Amerika Serikat yang akan melakukan intervensi di Laut China Selatan karena diantara negara yang bertikai terdapat 3 negara sekutunya (Jepang, Filipina, dan Vietnam) . Jika kondisi bertambah buruk, diikuti dengan jatuhnya perekonomian global, maka kemungkinan besar bisa terjadi perang dunia ketiga yang disebabkan oleh pertikaian negara-negara besar yang mengasai perekonomian dunia.

Dalam menghadapi potensi ancaman yang serius ini, Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara tidak bisa menjadi dalam posisi yang netral (tidak memihak), melainkan harus bebas aktif. Makna bebas adalah independent of thinking, sedangkan makna aktif adalah freedom of action. Indonesia harus lebih berhati-hati dalam menyikapi dan mengatasi masalah dan mengambil kebijakan, hal tersebut karena walaupun Indonesia tidak terkait dengan sengketa Laut China Selatan, namun posisi yang berada dekat dengan kawasan konflik tentu bisa ikut terkena akibatnya. Oleh karena itu, peningkatan kuantitas dan kualitas SDM pertahanan dan ketersediaan alutsista (detterent effect) sangat dibutuhkan.

Pada kasus Indonesia, key of uncertainty tidak hanya dipengaruhi oleh aspek eksternal saja, akan tetapi aspek internal juga berpengaruh terhadap kuantitas SDM nasional. Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana alam (gempa bumi, tsunami, letusan gunung) karena dipengaruhi oleh letak dan kondisi geografis. Jika terjadi bencana alam, kemudian kita belum siap untuk mengantisipasinya berarti kita akan kehilangan SDM (potensial) karena orang tersebut sudah menjadi korban. Korban yang berjatuhan akibat bencana alam yang kita belum siap secara antisipatif analoginya sama dengan perang tetapi tidak membawa senjata. Oleh karena itu diperlukan manajemen (mulai dari deteksi dini hingga penganggulangan) bencana agar SDM nasional tetap dalam kondisi aman.

Salah satu key of uncertainty lain yang terkait dengan ekonomi dan SDM yaitu pengangguran (unemployment). Pengangguran dapat disebabkan oleh banyak faktor dan eksistensinya bisa disebabkan oleh banyak hal secara insidental (baik faktor manusia taupun faktor alam). Pengangguran dapat menjadi beban dalam perekonomian sehingga kapasitas ekonomi menjadi tidak optimal. Terkait dalam tataran pertahanan, perlu dilakukan kajian optimalisasi peran dan tugas (bentuk aktivitas) TNI pada saat damai agar kinerjanya jadi lebih produktif.

Rules of Interaction
Faktor anggaran pertahanan menjadi poin penting dalam pengadaan dan pemeliharaan alutsista. Jika suatu negara terdapat ancaman atau negara tersebut ingin meningkatkan kapasitas militernya, maka alokasi yang lebih besar untuk pertahanan perlu ditingkatkan. Kondisi tersebut merefleksikan adanya independesi (ketergantungan) antar negara dalam anggaran pertahanan, maksudnya postur anggaran pertahanan suatu negara akan mempengaruhi postur anggaran pertahanan negara lainnya.

Penyebab terjadinya independensi antar negara karena (1) letak geografis suatu negara, terutama yang memiliki perbatasan langsung; (2) bersaing dalam kekuatan ekonomi, sehingga preferensi negara tersebut ingin melakukan ekspansi dan melindungi kepentingan nasional negara tersebut; dan  (3) suatu negara yang (dinilai mengancam dan) dapat memberikan ancaman pada masa yang akan datang. Contoh model independensi, jika Indonesia akan meningkatkan anggaran pertahanan, maka Malaysia dan Thailand juga akan meningkatkan anggaran pertahanan, serta sebaliknya .

Dalam konteks meredam sengketa Laut China Selatan (LCS) yang dampaknya akan mengganggu perekonomian, keamanan, dan stabilitas kawasan, Asean (dan Indonesia) mendesak (atau mengajukan kerjasama dengan) China dengan cara mengajukan proposal tata berperilaku di LCS untuk meredakan ketegangan melalui dialog bukan dengan cara militer . Amerika Serikat juga menyerukan untuk meredakan ketegangan tanpa dengan tegas mendukung sekutunya untuk menghindari adanya ekalasi antara China dan Jepang. Berbicara posisi Indonesia di ASEAN dalam menyikapi pesengketaan di LCS, kita harus menggunakan politik bebas aktif (independent of thinking dan freedom of action) dengan tetap mengutamakan national interest dan vital interest.

Multiple Scenarios
Kapabilitas pertahanan Indonesia saat ini belum memadai, oleh karena itu diperlukan upaya modernisasi pertahanan (alutsista), termasuk pemeliharaan alutsista yang ada (maintenance). Pemerintah telah menunjukkan komitmennya dengan membuat blueprint dalam upaya modernisasi tersebut, tujuannya agar ketika terjadi pergantian pemerintahan maka pembangunan alutsista yang sedang berlangsung tidak akan terganggu. Pembangunan alutsista yang modern dapat meningkatkan kapabilitas pertahanan, jika kekuatan militer besar maka negara dapat menyediakan perlindungan (keamanan) kepada penduduk. Kondisi yang aman dapat mengarah kepada pembentukan SDM, peningkatan produktivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi (Pradhan, 2010).

Kekuatan militer yang besar jangan dipandang sebagai faktor yang menyebabkan situasi dan kondisi nasional menjadi tidak stabil. Indonesia merupakan negara demokratis, dari 167 negara, Indonesia menempati urutan ke-60 dengan skor 6,53 (kategori flawed democracy) . Jadi pembangunan kekuatan militer nasional bukan hal yang perlu dikhawatirkan atau menjadi sesuatu yang menakutkan (lihat lampiran 4).

Sebagian besar alutsista Indonesia masih dipenuhi melalui impor. Untuk mengembangkan industri dalam negeri, pemerintah perlu “memaksa” terjadinya transfer of technology dari negara pengimpor. Kemudian dalam proses transfer teknologi, peran seluruh komponen SDM pertahanan dituntut untuk: (1) learning by doing dalam proses pembuatan alutsista; (2) melakukan kerjasama industri dengan (pakar) luar negeri; dan (3) proses reverse engineering, yaitu mempelajari teknik dari suatu alutsista yang diimpor melalui kerjasama lisensi, tujuannya adalah untuk memahami bagaimana kinerja alutsista tersebut.

Transfer teknologi membutuhkan SDM pertahanan yang kompeten dan profesional melalui investasi pendidikan agar memiliki dasa saing. Oleh karena itu, pendidikan menjadi penting karena manusia merupakan salah satu faktor produksi. Individu dengan human capital tinggi akan menerima pendapatan yang lebih tinggi (karena produktivitasnya tinggi). Seperti investasi lain, pendidikan menghasilkan return (yang dapat dihitung dengan cost-benefit analysis). Tingkat pendidikan yang baik dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi (melalui endowment tenaga kerja) dan menunjang pertahanan nasional.

Skenario lainnya yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan pembelajaran teknologi dan melakukan aktivitas R&D pertahanan. Dengan R&D, maka akan terjadi perkembangan teknologi dan akan meningkatkan produktivitas SDM secara otomatis. R&D yang dilakukan harus bersinergi, sinergitas yang dimaksud yaitu kerjasama antara pemerintah (lembaga litbang yang dimiliki) dengan perguruan tinggi agar inovasi yang dihasilkan sesuati dengan perkembangan zaman. Kemudian sinergitas juga diperlukan antar institusi yang terkait, hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan interaksi riset (pertukaran pengetahuan dan pengalaman) agar hasilnya dapat lebih berkualitas dan dapat meminimalisir ketidakpastian (uncertainty).

Kesimpulan
Era globalisasi saat ini mengalami siklus ekonomi menurun, fenomena tersebut ditandai dengan terjadinya krisis Amerika dan Eropa. Hal ini berpengaruh terhadap kapabilitas ekonomi negara-negara di dunia (termasuk Indonesia dan ASEAN). Efek negatif krisis tersebut diperparah dengan sengketa di Laut China Selatan (LCS) yang bisa mempengaruhi stabilitas kawasan. Belum lagi faktor internal yang menjadi permasalahan tersendiri untuk Indonesia, yaitu rawan bencana alam dan tingkat pengangguran yang masih terbilang tinggi.

Permasalahan internal dan potensi ancaman (eksternal) yang dihadapi perlu disikapi dengan meningkatkan kapabilitas pertahanan dengan malakukan modernisasi pertahanan (alutsista), termasuk pemeliharaan alutsista yang ada (maintenance) sebagai detterent efect. Pembangunan kekuatan militer yang besar bukan hal yang perlu dikhawatirkan atau menjadi sesuatu yang menakutkan karena Indonesia merupakan negara demokratis.

Keterbatasan anggaran yang dimiliki menyebabkan pengadaan alutsista masih harus impor dan kualitas SDM pertahanan masih minim. Untuk mengembangkan industri dalam negeri, pemerintah perlu “memaksa” terjadinya transfer of technology dari negara pengimpor. Selain itu upaya untuk meningkatkan SDM pertahanan diperlukan investasi pendidikan dan aktivitas R&D pertahanan. Dengan adanya R&D, maka akan terjadi perkembangan teknologi dan akan meningkatkan produktivitas SDM.

Mekanisme kerjasama antar negara untuk mengatasi krisis dan ancaman konflik (perang) diperlukan untuk meredam ketegangan. Hal ini karena faktor iindependesi antar negara dalam anggaran pertahanan (postur anggaran pertahanan suatu negara akan mempengaruhi postur anggaran pertahanan negara lainnya).

Upaya peningkatan SDM dan pengadaan alutsista sangat penting untuk meningkatkan bargaining power Indonesia di luar negeri. Pada akhirnya diharapkan tercipta Indonesia yang berdikari secara ekonomi (memilki daya saing) dan berdaulat baik di dalam dan luar negeri (memiliki ketahanan nasional).

-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

Big Picture dalam tullisan ini:

-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

Tulisan ini diajukan sebagai take home UAS mata kuliah Decision Support System for Defense (DSD) tahun 2012. 
Tema: Urgensi Membangun Kapabilitas Sumber Daya Manusia Indonesia Dalam Mendukung Proses Pemeliharaan Alutsista TNI di Masa Depan.

-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

1 comment:

  1. Dgn minimnya kualitas alutsista ditambah minimnya industri pertahanan, Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, yg sering dilecehkan negara2 tetangga perlu memodernisasikan alutsista agar negara2 lain segan dn lbh menghormati Indonesia yng dampaknya nanti terasa jg tuk perkembangan perkonomian

    ReplyDelete

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2018, October)
Britney Spears - I Wanna Go