Friday, December 14, 2012

Ganjil Genap Jokowow, Kebijakan Economically Unsound

Bulan Maret 2013, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berencana mengurangi kepadatan lalu lintas dengan menerapkan kebijakan pelat nomor ganjil-genap bergantian dalam selang waktu sehari. Kebijakan ini berlaku di jalur yang volume lalu lintasnya tinggi dan efektif pada pukul 06:00 s.d 20:00 (kecuali pada akhir pekan dan hari libur nasional). Untuk melihat lokasi mana saja yang menjadi target kebijakan ganjil-genap, lihat Tempo, 11 Desember 2012. Kemudian pertanyaan yang muncul kemudian yaitu: “Kenapa harus kebijakan pelat ganjil-genap? Akankah kebijakan tersebut berjalan efektif? Apakah Jokowi pengen banget dibilang Joko(wow) gitu?!”.

Strategi kebijakan penerapan pelat ganjil-genap bukan merupakan yang pertama kali dilakukan. Kebijakan tersebut pernah dipakai di beberapa negara di benua Afrika, Korea Selatan dan India, namun kebijakan ini selalu gagal karena butuh waktu delapan bulan sampai satu tahun untuk persiapannya dan transportasi massal belum maksimal (Viva News, 7 Desember 2012).

Kondisi transportasi umum di Jakarta, baik kuantitas (kendaraan dan sarana prasarana pendukung) maupun kualitas (pelayanan, termasuk keamanan) masih minim. Jika kebijakan pelat ganjil-genap diberlakukan di sekitar lokasi yang dilewati bus Trans Jakarta, strategi ini juga kurang tepat. Pasalnya, hingga saat ini manajemen bus TJ kinerjanya masih jauh dari optimal, mulai dari waktu tunggu, sistem antrean, kondisi di dalam bus, fasilitas bus yang mulai rusak, dll.

Terkait persiapan pemberlakuan ganjil-genap, Jokowi hanya menyiapkan waktu sekitar 5 bulan saja (terhitung dari pertama kali menjabat tanggal 15 Oktober 2012 hingga rencana penerapan kebijakan ganjil-genap pada Maret 2013). Tentu saja kebijakan ini akan gagal, belum lagi transportasi massal yang belum menunjang.

Kebijakan Ganjil Genap: Economically Unsound
Kenapa artikel ini berbicara tentang Jokowi yang memang sudah wow tapi pengen dibilang wow sehingga namanya berubah menjadi Jokowow? Strategi ini diterapkan Jokowi supaya dibilang Jokowow karena memang agak kurang rasional. Kebijakan ganjil-genap akan kurang layak secara ekonomi (economically unsound) dan dibuat seolah-olah mempunyai prioritas yang tinggi. Dikhawatirkan dalam jangka menengah dan panjang kebijakan ini akan membuang capital yang langka, skill, dan waktu, yang pada akhirnya akan menambah beban bagi perekonomian. Fakta tersebut akan diperkuat dengan argumen berikut ini:

Pertama, tidak didukung transportasi massal yang kuat
Pemerintah belum memiliki kepedulian terhadap angkutan massal, sehingga banyak kasus ketidaknyamanan dan ketidakamanan jika menggunakan kendaraan umum. Selain itu infrastruktur yang ada juga masih semrawut, misalnya tempat umum yang menjadi lahan untuk berjualan, jalan yang menjadi lahan parkir sesuka hati, dan bus yang ngetem di sembarang tempat. Angkutan sekaliber bus TJ-pun waktu tunggunya masih sangat lama dan penumpang harus rela berdesakan di dalam bus.

Pembangunan sistem angkutan umum (yang layak) mutlak diperlukan sebelum memberlakukan kebijakan ganjil-genap, hal ini karena angkutan umum tersebut secara otomatis harus dapat menampung penumpang yang tidak menggunakan kendaraan pribadinya. Satu hal yang perlu digarisbawahi, kebijakan ini tidak berlaku untuk kalangan atas dan menengah ke atas yang memiliki kendaraan lebih dari satu. Bahkan akan menimbulkan tren baru bagi kalangan menengah untuk memiliki kendaraan lebih dari satu (konsumtif). Hal ini jelas rasional, dengan pertimbangan ongkos yang dikeluarkan untuk angkutan umum selama satu bulan (maksimal 15 hari) masih lebih mahal jika dibandingkan dengan menggunakan kendaraan pribadi.

Kedua, bersifat ambisius dan sangat berisiko
Keputusan untuk memberlakukan ganjil-genap bisa dikatakan menunjukkan sikap yang egois dan ambisus karena melakukan diskriminasi terhadap “kendaraan si miskin”. Sebelum lebih jauh, bedakan definisi antara orang miskin (benar-benar miskin) dengan orang miskin yang hidupnya pas-pasan (hanya memiliki 1 motor dan ongkos transportasi yang terpaksa harus dikeluarkan akibat kebijakan ganjil-genap). Siapa yang dirugikan di sini? Apakah orang kaya akan terkena dampaknya? Jawabannya sudah sangat jelas, penerapan ganjil-genap merupakan kebijakan yang tidak (selalu) tepat sasaran, perlu dilakukan kajian secara lebih dalam.

Kemudian pembatasan kendaraan ini dapat menghambat penjualan kendaraan bermotor dan berisiko menurunkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Penerapan ganjil-genap tidak menyentuh pokok permasalahan. Hal yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan pengendalian produksi kendaraan bermotor dan manajemen lalu lintas yang baik (selain kebijakaan ganjil-genap).

Ketiga, rumit dalam penerapannya (manajemen, dan perlengkapannya)
Jumlah kendaraan di Jakarta sudah sangat banyak, sehingga mekanisme kontrol terhadap kendaraan tersebut tidak akan cukup jika hanya dengan memasang CCTV. Selain itu jumlah polisi lalu lintas yang mengatur dan mengawasi penerapan kebijakan ini jumlahnya terbatas, Analoginya kita lihat saja motor (secara bergerombol) yang masih masuk jalur busway, apakah polisi lalu lintas bisa melarangnya? Apalagi dengan instrumern kebijakan pelat nomor, tanpa kesadaran masing-masing individu, akan sulit mata polisi (dan CCTV) untuk melakukan pengawasan.

Jadi, secara teknis kebijakan ini masuk terlalu prematur untuk dikembangkan karena menuntut keahlian teknis dan manajerial untuk operasional, pemerliharaan, dan pengawasan ditengah ketidaksadaran masyarakat akan tata tertib berlalu lintas yang baik.

Rekomendasi Kebijakan
Artikel ini bukan berarti kontra dan membatasi kebijakan pelat ganjil-genap, namun pada perkembangannya akan memperoleh hambatan dan kemampuan serta fasilitas tidak mendukung. Kebijakan ganjil-genap akan mendistrosi perekonomian sehingga memungkinkan gagal untuk mencapai skala efisiensi dan produktivitas menjadi lebih rendah.

Beberapa rekomendasi kebijakan (pendukung) yang dapat dilakukan dalam penerapan ganjil-genap, antara lain:
  1. Mempelajari secara teknis sistem ganjil-genap dari negara lain yang telah berhasil menerapkan strategi ini. Hasil pengamatan tersebut baru akan relevan diaplikasikan dengan kondisi di Jakarta dengan situasi dan kondisi yang tidak jauh berbeda
  2. Melakukan kajian atau studi penelitian kebijakan ganjil-genap untuk melihat seberapa besar potensi dampak positif dan negatif yang ditimbulkan
  3. Pembenahan transportasi massal yang menyeluruh, terutama bus Trans Jakarta, angkutan umum penunjang, dan sarana prasarananya
  4. Manajemen lalu lintas yang lebih baik
  5. Melakukan evaluasi dan review terhadap kebijakan yang nantinya akan dijalankan

Dalam jangka panjang, terkait dengan kluster atau wilayah dapat dilakukan alternatif kebijakan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas, antara lain:
  1. Menelaah hubungan atau keterkaitan antara (syarat) lokasi tempat produksi tertentu dengan tempat tinggal pekerjanya
  2. Bekerjasama dengan pengembang untuk menyediakan tempat tinggal sementara yang tidak jauh dari lokasi kerja, tujuannya agar jarak tempuh yang dilalui semakin singkat dan produktivitas meningkat
  3. Mengatur kembali tata ruang dengan melarang atau memindahkan objek tertentu seperti mall, sekolah, dll dari lokasi lalu lintas yang sangat tinggi, tujuannya untuk mengurangi kemacetan
  4. Melakukan dispersi (penyebaran) pusat aktivitas perekonomian ke luar Jakarta

Semua kebijakan di atas diharapkan dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di Jakarta, sehingga ketika jumlah penduduk bertambah banyak tidak terjadi hal-hal yang dikhawatirkan (daya dukung lingkungan yang memburuk). Tujuan penting lainnya dari kebijakan di atas yaitu dengan manajemen lalu lintas yang baik, sehingga tidak terjadi tradeoff antara penambahan jumlah kendaraan bermotor (pertumbuhan ekonomi) dengan kualitas manusia dan lingkungan.

Artikel terkait:

1 comment:

  1. aslay,,, hhmm mantep banget infonya, dan pandangnya tentunya, ane males baca beritanya, tapi udah ada kajianya disini, maju terus bang :D

    http://dwachange.blogspot.com/

    ReplyDelete

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2018, July)
Celine Dion - I'm Alive