Wednesday, January 02, 2013

Raksasa Tidur Pemamah Biak



Oleh:
Dedy Arfiansyah
Adistya Sekar Putri

Pesona Biak dan Kepulauan Numfor beserta 42 pulau-pulau kecil lainnya berjejer secara elok pada topografi yang bervariasi, mulai dari daerah pantai yang terdiri dari dataran rendah dengan lereng dan landai sampai dengan daerah pedalaman yang memiliki kemiringan terjal. Luas keseluruhan daratan Kabupaten Biak Numfor di Provinsi Papua sebesar 2.269,84 km2, berbatasan dengan Kabupaten Supiori dan Samudera Pasifik (sebelah utara), Selat Yapen (sebelah selatan), Samudera Pasifik (sebelah timur), dan Kabupaten Manokwari (sebelah barat) . 

Lautan Teluk Cendrawasih diantara pulau-pulau elok di Biak Numfor tampak indah dengan hempasan ombak yang masih alami. Potensi wisata di Biak terdiri dari wisata alam, wisata budaya, dan wisata pendidikan. Di Pulau Owi (Distrik Biak Timur), terdapat objek wisata yang menjadi sejarah basis pertahanan militer komandan pasukan sekutu kawasan Pasifik (Jenderal Max Arthur) saat perang melawan serdadu Jepang pada perang dunia tahun 1942-an (Antara News, 12 Desember 2012).

Salah satu kesitimewaan laut di Biak Numfor yaitu dilengkapi dengan karang laut, tentu saja di dalamnya terdapat habitat beragam jenis ikan dan biota laut lainnya. Potensi alam tersebut menjadi berkah tersendiri bagi penduduk sekitar yang bekerja di sektor perikanan (nelayan). Berdasarkan data statistik Dinas Kelautan dan Perikanan Biak Numfor, pada tahun 2011 jumlah rumah tangga nelayan meningkat sebesar 23,22% dibandingkan tahun 2007. Secara ekonomi, produksi perikanan Biak Numfor pada tahun 2011 sebanyak 17.294,25 ton. Produksi ikan tersebut didominasi oleh Ikan Tenggiri 15,33%; Ikan Ekor Kuning 10,49%; Ikan Alu-alu (Barakuda) 6,42%; ikan Geropa (Kerapu) 4,23%; dan Ikan Merah 4,11%.

Peradaban masyarakat Kabupaten Biak Numfor juga menghiasi daftar panjang daerah yang memiliki keunikan budaya dan potensi tersendiri. Namun sayangnya, dari tahun 2007 s.d 2011 jumlah turis asing yang berkunjung ke Biak Numfor terus menurun, bahkan pada tahun 2011 jumlahnya hanya mencapai 38 orang saja (Kantor Imigrasi Kelas II Biak, 2012).

Makna ‘Raksasa Tidur Pemamah Biak’ terdiri dari dua kata. Pemamah merupakan bercandra dari potensi ekonomi, dan markas pertahanan, sedangkan Biak adalah singkatan dari bila ingat akan kembali. Julukan ‘Raksasa Tidur Pemamah Biak’ memang sesuai untuk kabupaten Biak Numfor karena wilayah tersebut memiliki potensi pariwisata, basis pertahanan militer kawasan Indonesia bagian timur, dan potensi ekonomi yang belum dimanfaatkan secara optimal. Bahkan sumber daya manusia Biak Numfor (sebagai salah satu faktor produksi yang penting) belum terlalu dipersiapkan untuk menjadi tenaga yang terampil dan terdidik.

Kerangka Analisis Inter-Relasi Demografi dan Ekonomi Biak Numfor
Kabupaten Biak Numfor pada tahun 2012 berpenduduk 150.347 jiwa atau meningkat sebesar 15,13% dibandingkan tahun 2011 yang jumlahnya 130.593 jiwa . Komposisi penduduk tahun 2011 terdiri dari 28.301 KK dengan rincian 51,45% laki-laki dan 48,55% perempuan atau dengan sex ratio 105,98%. Secara umum kepadatan penduduk di Biak Numfor pada tahun 2011 yaitu 58 jiwa per km2. Kepadatan penduduk tertinggi berada di distrik Biak Kota yang mencapai 1.006 jiwa per km2, sedangkan yang terendah berada di distrik Bondifuar yang hanya 2 jiwa per km2.
Tabel 1. Jumlah Penduduk Kabupaten Biak Numfor Tahun 1994-2011 









Sumber: Biak Biak Numfor Dalam Angka 2009 dan 2011/2012, diolah.

Berdasarkan grafik di atas, terdapat penurunan jumlah penduduk pada tahun 2003, hal ini disebabkan karena adanya pemekaran wilayah distrik Supiori Utara dan Supiori Selatan menjadi Kabupaten Supiori. Pertumbuhan penduduk Kabupaten Biak Numfor selama kurun waktu 1995-2002 rata-rata 2,30% per tahun, sedangkan dalam kurun waktu 2004-2011 (setelah pemekaran), rata-rata pertumbuhannya 2,25% per tahun. Jadi, dapat dikatakan bahwa pertumbuhan jumlah penduduk di Biak cukup stabil, baik sebelum maupun sesudah pemekaran wilayah.

Tahun 2011, Kabupaten Biak Numfor memiliki penduduk laki-laki terbanyak pada kelompok usia antara 0-4 tahun sebanyak 8.344 jiwa dan terendah pada kelompok umur di atas 75 tahun sebanyak 469 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk perempuan terbanyak pada kelompok 5-9 tahun sebanyak 8.038 jiwa dan terendah terdapat pada kelompok umur 70-74 tahun sebanyak 436 jiwa.

Apabila ditinjau dari rasio ketergantungan (dependency ratio), terdapat penurunan angka ketergantungan dari tahun 2008 hingga 2011 dengan perincian sebagai berikut: 2008= 79,5%; 2009= 79,5%; 2010= 64,1%; dan 2011= 63,8% . Angka 63,8% artinya setiap 100 orang yang berusia kerja (produktif) mempunyai tanggungan sebanyak 64 orang yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Dari indikator tersebut dapat dilihat bahwa pada tahun 2011 penduduk usia kerja di Biak Numfor masih dibebani tanggung jawab akan penduduk muda yang proporsinya lebih banyak dibandingkan tanggung jawab terhadap penduduk tua (59,55% : 4,23%) .

Angkatan kerja pada usia kerja (usia 15-64 tahun) di Kabupaten Biak Numfor tahun 2011 mencapai 61,06% dari jumlah penduduk secara keseluruhan. Angkatan kerja terdiri dari orang yang bekerja dan pengangguran, output dari orang yang bekerja di Biak Numfor dapat berkontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2011 atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp 2.463,2 triliun , artinya pembentukan PDB pada tahun 2011 dari PDRB Biak Numfor hanya menyumbang sebesar 0,04% (Rp 928,9 miliar).

Tabel 2. Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Biak Numfor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan (Tahun 2000) Periode 2008-2011










Sumber: Biak Biak Numfor Dalam Angka 2011/2012, hlm. 211. Diolah.

Menurut klasifikasi Sembilan lapangan usaha, selama periode 2008-2011 belum terjadi perubahan yang signifikan dalam kontribusi terhadap PDRB. Rata-rata tahun 2008-2011, tiga lapangan usaha yang mendominasi di Biak Numfor yaitu: (1) Pengangkutan dan Komunikasi 19,48%; (2) Pertanian 19,18%; dan (3) Perdagangan, Hotel, dan Restoran 17,01%.

Secara garis besar penduduk di Biak Numfor pada tahun 2008-2011 bekerja pada tiga lapangan usaha tersebut. Lebih spesifik, dari masing-masing lapangan usaha: Pengangkutan dan Komunikasi didominasi oleh angkutan laut (27,81%) dan angkutan jalan raya (27,64%); Pertanian didominasi oleh perikanan (53,50%) dan tanaman bahan makanan (25,18%); Perdagangan, Hotel dan Restoran didominasi oleh Perdagangan (85,20%).

Realitas Kemiskinan di Papua (Biak Numfor)
Penduduk Biak Numfor tinggal di provinsi Papua yang memiliki kekayaan SDA sangat berlimpah, namun ketersediaan SDA tersebut tergolong anomali karena sebagian besar penduduk di Papua (termasuk Biak Numfor) hidup dalam keterbelakangan dan kemiskinan. Jumlah penduduk miskin di provinsi Papua pada September 2012 sebanyak 966.590 jiwa (31,11%), angka tersebut sangat jauh di atas rata-rata persentase penduduk miskin di seluruh Indonesia pada tingkat 11,96% (29.132.400 jiwa) . Statisitik penduduk miskin menunjukkan bahwa fenomena kemiskinan tersebar secara merata di tanah Papua. Indikatornya, pada tahun 2010, persentase kemiskinan yang paling rendah di Papua (Kabupaten Merauke: 14,54%) tercatat sebagai wilayah dengan penduduk miskin tertinggi di tanah air.

Kemiskinan adalah kehilangan kesejahteraan atau deprivation of well being (World Bank, 2000). Hidup dalam kemiskinan berarti kondisi dimana prasarana & sarana pendidikan yang tidak memadai dan sarana kesehatan & pola konsumsi buruk (Jhingan, 2000). Secara umum indikator kemiskinan meliputi: (1) kekurangan kebutuhan dasar (makanan & gizi, pakaian, pendidikan, dan kesehatan); (2) ketidakmampuan melakukan upaya-upaya produktif; dan (3) ketertutupan akses terhadap sumber daya sosial dan ekonomi.

Pemerintah selalu berusaha untuk memerangi kemiskinan karena penurunan persentase penduduk miskin merupakan tolak ukur keberhasilan pembangunan pemerintah dalam target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Biak Numfor 2009-2014. Perbandingan kemiskinan (dengan menggunakan indikator PDRB tiap provinsi) secara nasional disajikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 3. Luas Daratan Indonesia dan Jumlah Penduduk Menurut Provinsi Tahun 2010, dan PDRB Provinsi (Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000) Tahun 2011.













Sumber: Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum, Kementerian Dalam Negeri hlm. 4; Hasil Sensus Penduduk 2010, BPS, hlm. 12; Produk Domestik Regional Bruto Provinsi-provinsi di Indonesia menurut Lapangan Usaha, BPS, hlm. 147. Dalam Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia (Agustus 2012).

Jika melihat tabel di atas, Provinsi Papua merupakan daratan yang terluas (sekitar 16,70%) tapi hanya dihuni oleh 1,19% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Kemudian kontribusi PDRB Papua cuma sekitar 0,89% saja. Perbandingan tersebut sangat timpang dengan provinsi lainnya yang jumlah penduduk dan luas wilayahnya lebih kecil, namun menghasilkan PDRB yang lebih besar dari pada Provinsi Papua.

Minimnya kontribusi PDRB mengindikasikan skala ekonomi provinsi Papua mengalami inefisiensi, hal tersebut tentu saja berkorelasi dengan kemiskinan. Di Kabupaten Biak Numfor, jumlah penduduk miskin pada tahun 2011 sekitar 30,31% (39.583 jiwa dari 130.593 jumlah penduduk).
Tabel 4. Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Biak Numfor Tahun 2004-2011
Sumber:. BPS Kabupaten Biak Numfor 2010 dan Biak Dalam Angka 2011-2012. Diolah.

Statisitik kemiskinan di Biak Numfor pada periode 2004-2011 mengalami kecenderungan menurun, dari 50.400 jiwa pada tahun 2004 menjadi 39.583 jiwa pada tahun 2011. Menurunnya jumlah penduduk miskin merupakan salah satu indikator membaiknya makro ekonomi. Meskipun angka kemiskinan di Biak Numfor mengalami penurunan, hal ini tidak berarti bahwa Biak Numfor termasuk dalam kabupaten yang bebas dari kemiskinan. Biak Numfor merupakan salah satu kabupaten yang termasuk dalam kuadran terburuk dari seluruh kabupaten di Indonesia berdasarkan analisis kuadran pengangguran dan kemiskinan.

Kemiskinan di Biak Numfor disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: (1) tidak meratanya penyebaran distribusi SDM (masih terpusat di perkotaan, baik jumlah maupun mutunya); (2) tingginya pengeluaran per kapita, hal ini ditunjang dengan kultur masyarakat yang cenderung konsumtif; (3) kurangnya pemahaman terhadap akar masalah yang dihadapi masyarakat miskin; dan (4) belum optimalnya sistem pengelolaan pertanahan.

Oleh karena itu, SDM di Papua sudah seharusnya dipersiapkan untuk menjadi tenaga yang terdidik dan terampil sehingga dapat memiliki peran besar dalam mensinergikan kekayaan SDA yang dimiliki. Jika kualitas SDM nya mumpuni, maka kombinasi antara SDM dan SDA tersebut akan menghasilkan nilai tambah ekonomi yang besar dan dapat meningkatkan kontribusi PDRB terhadap PDB nasional.

to be continued.... Raksasa Tidur Pemamah Biak Part 2.
Penyelesaian masalah kegagalan pembangunan di Papua nampaknya butuh proses dalam jangka waktu yang lama. Pasay & Nazara (1997) menjelaskan bahwa efiesiensi perekonomian KTI melaju dengan kecepatan 6,91% per tahun, perekonomian KTI akan dapat mengejar Jawa dan Bali membutuhkan waktu setelah 301,60 tahun yang akan datang (setara dengan penghujung minggu pertama Agustus 2287).

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, June)
Christina Aguilera - Fighter