Monday, February 11, 2013

Dinamika Indonesia, Malaysia, Singapura (IMS) Dalam Bidang Perdagangan, Investasi, dan Pertahanan Keamanan: Kasus Free Trade Zone di Batam 2007-2011

Bagi Indonesia, hubungan bilateral dengan Malaysia maupun Singapura merupakan salah satu prioritas yang penting, di samping dengan Amerika Serikat, China, Jepang, Australia, negara-negara ASEAN, dan negara-negara di Asia Pasifik. Secara umum, hubungan negara Indonesia-Malaysia-Singapura (IMS) masih berlangsung baik dan saling menguntungkan pada hampir semua bidang, antara lain perdagangan, investasi, dan pertahanan keamanan. IMS juga bekerjasama secara regional dan multilateral dalam rangka menghadapi perkembangan isu-isu perdagangan dan investasi, dan kemanan perbatasan.

Tulisan ini akan mengangkat dan menganalisis salah satu isu penting terkait dengan kasus Free Trade Zone (FTZ) di Batam, yaitu, bagaimana kinerja, pencapaian, dan efektifitas FTZ dari perspektif ekonomi politik internasional. Ruang lingkup bahasan akan mencakup tiga hal yaitu: (1) Bagaimana hubungan Indonesia-Malaysia-Singapura (IMS) dalam perdagangan dan investasi; (2) Bagaimana perkembangan dan kemajuan FTZ di Batam sejak awal pembentukannya, dan bagaimana FTZ mempengaruhi kerjasama investasi antara negara IMS; dan (3) Bagaimana prediksi skenario masa depan hubungan Indonesia-Malaysia-Singapura, baik secara bilateral, regional, maupun multilateral serta dampaknya bagi stabilitas dan keamanan regional di ASEAN.

Konsep yang digunakan dalam tulisan ini adalah perdagangan internasional, hubungan bilateral, kerjasama internasional, kepentingan nasional, liberalisme ekonomi, interdependensi, investasi internasional, perjanjian perdagangan, dan zona perdagangan bebas. Tulisan ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.

Hubungan Indonesia-Malaysia-Singapura Dalam Bidang Perdagangan dan Investasi
Singapura merupakan rekan dagang kelima terbesar bagi Indonesia setelah Jepang, Uni Eropa, China, dan Amerika Serikat (selama periode 2007-2011). Sebaliknya bagi Singapura (pada periode yang sama) Indonesia merupakan negara tujuan ekspor nomor empat setelah Malaysia, Hong Kong, dan Uni Eropa (lampiran 1). Sementara itu, Singapura dan Malaysia merupakan dua negara yang menjadi rekan dagang utama (terbesar) satu sama lain. Rata-rata ekspor periode 2007-2011 Singapura ke Malaysia sebesar US$ 40.468,70 juta. Sedangkan ekspor Malaysia ke Singapura pada periode yang sama senilai US$ 26.390,40 juta (lampiran 1).

Data tahun 2007-2011 menunjukkan bahwa negara tujuan ekspor utama (dari total ekspor) Indonesia adalah Jepang (17,59%), Uni Eropa (10,91%), China (9,71%), Amerika Serikat (9,02 %), dan Singapura (8,94 %) (WTO, 2012). Jadi pangsa pasar Indonesia ke lima negara tujuan ekspor tersebut adalah sebesar 56,17% dari keseluruhan ekspor. Pada periode yang sama, negara tujuan ekspor utama Malaysia yaitu Singapura (13,76%) dan negara tujuan ekspor Singapura yaitu Malaysia peringkat 1 (12,13%) dan Indonesia peringkat 4 (10,01%) dari keseluruhan ekspor (WTO, 2012).

Neraca perdagangan antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura menunjukkan tren yang cukup positif. Pada tahun 2007-2011 persentase tren ekspor migas Indonesia ke Malaysia 46,57% dan ke Singapura 42,93%, sementara itu persentase tren ekspor non migas Indonesia ke Malaysia 17,92% dan ke Singapura 3,75%. Kemudian, pada periode yang sama persentase tren impor migas Indonesia dari Malaysia sebesar minus 0,12% dan dari Singapura 20,46%, sementara itu persentase tren impor non migas Indonesia dari Malaysia 23,44% dan dari Singapura 20,77% (lampiran 2).

Krisis moneter yang melanda Amerika Serikat dan Uni Eropa tidak terlalu memberikan dampak yang besar kepada negara Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Banyak investor yang mengalihkan investasinya ke negara berkembang. Berdasarkan data negara berkembang terbaik untuk tujuan investasi yang dirilis oleh Bloomberg Markets tanggal 31 Januari 2013, Indonesia menempati peringkat 10 dengan pertumbuhan PDB terbesar kedua (sebesar 31,3%) setelah China pada tahun 2013-2017. Posisi Malaysia sedikit lebih baik yang menempati peringkat 6 dengan pertumbuhan PDB sebesar 21,8%. Pertumbuhan PDB Indonesia boleh jadi lebih besar dari pada Malaysia. Namun, indeks kemudahan bisnis di Indonesia sangat rendah (128), sedangkan posisi Malaysia dalam kemudahan berbisnis jauh meninggalkan Indonesia (12).

Kerjasama Bilateral dan Internasional vs Kepentingan Nasional
Kepentingan suatu negara adalah kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan kedaulatan negara, keamanan militer, politik, dan ekonomi . Secara umum kepentingan nasional (national interest) didefinisikan sebagai tujuan dan strategi negara baik untuk mencapai kemajuan maupun untuk mempertahankan negara. Kepentingan nasional suatu negara merupakan unsur yang sangat vital, dimana masing-masing negara mempunyai kekuatan dan kepentingan nasional yang berbeda.

Indonesia, Malaysia, dan Singapura memiliki kepentingan nasional dalam kerjasama investasi bilateral. Kepentingan nasional Indonesia dan Malaysia adalah kebutuhan untuk menarik investasi asing (capital inflow) untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, kepentingan nasional Singapura adalah kebutuhan untuk melakukan investasi di luar negeri karena keterbatasan lahan dan Sumber Daya Alam (SDA).

Untuk mewujudkan kepentingan nasional, Indonesia membentuk Pulau Batam sebagai zona perdagangan bebas (FTZ). Alasan dipilihnya Batam karena potensi ekonomi serta kedekatan geografis dengan Malaysia dan Singapura, termasuk pelabuhan dan Bandar udara interasional di sekitarnya, dekat dengan pelabuhan dan bandar udara internasional, dekat dengan jalur pelayaran internasional, dan ketersediaan pelayananutilitas yang baik (terutama listrik dan air). Kerjasama investasi bilateral antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura secara positif dipengaruhi oleh kebijakan FTZ dan pembentukan kerangka kerjasama ekonomi bilateral antara negara IMS.

Efektifitas Free Trade Zone (FTZ) di Batam
Dalam skala regional internasional, Batam terletak pada jalur perlintasan pelayaran internasional di Selat Malaka yang merupakan salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia. Kawasan ini berhadapan langsung dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia serta berada di tengah-tengah kawasan ASEAN Free Trade Area (AFTA). Dengan letaknya yang sangat strategis Batam menjadi salah satu andalan untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.

FTZ merupakan kawasan industri yang mengkhususkan diri di bidang manufaktur untuk ekspor dan menawarkan perusahaan pada kondisi perdagangan bebas dan lingkungan peraturan yang liberal (World Bank, 1992). FTZ merupakan zona industri dengan insentif khusus yang dibentuk untuk menarik investor asing, di mana bahan impor mengalami beberapa tingkat proses sebelum diekspor kembali (ILO, 1998).

Status Batam sebagai FTZ memiliki daya tarik bagi para investor karena kemudahan berusaha, pengurangan pajak perusahaan, repatriasi keuntungan dan kelonggaran kontrol devisa . Namun, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar dapat berfungsi secara optimal. Untuk mengukur efektifitasnya, terdapat beberapa indikator yang diukur melalui dua dari empat misi yang telah ditetapkan, yaitu: (1) menjadikan FTZ Batam sebagai salah satu sentra perdagangan dan industri di kawasan Asia Tenggara; (2) Menjadikan FTZ Batam sebagai salah satu pusat perekonomian regional di kawasan Sumatera.

Pertama, kita mulai analisis Batam sebagai salah satu pusat perekonomian dari lingkup regional Sumatera. Berdasarkan data 10 pelabuhan terbesar kelompok ekspor hasil industri 2007-2010, dua pelabuhan terbesar bukan merupakan area FTZ, melainkan pelabuhan Tanjung Priok di DKI Jakarta dan Tanjung Perak di Jawa Timur (lampiran 4). Pelabuhan terbesar di kawasan FTZ terdapat di Pelabuhan Dumai (Riau) peringkat 3, Pelabuhan Batu Ampar (Kepulauan Riau) peringkat 7, dan Pelabuhan Sekupang (Kepulauan Riau) peringkat 8 (lampiran 4). Di antara 10 pelabuhan terbesar, Pelabuhan Sekupang memiliki rata-rata perumbuhan persentase pertumbuhan per tahun periode 2007-2010 yang paling besar, senilai 26,36% (lampiran 4).

Fakta 10 pelabuhan terbesar di Indonesia diperkuat dengan bukti adanya keterkaitan antara kawasan FTZ, pelabuhan, dan penduduk dengan kecenderungan lokasi industri manufaktur berorientasi ekspor. Studi Wahyudin (2004: Bab 4) menemukan bahwa koefisien korelasi antara industri manufaktur berorientasi ekspor dan luas kawasan FTZ menunjukkan angka terbesar (urutan pertama), kemudian diikuti oleh pelabuhan dan penduduk. Dengan kata lain, industri yang berada di kawasan FTZ kebanyakan merupakan industri berorientasi ekspor. Keberadaan dan besarnya kawasan FTZ, serta pelabuhan berhubungan positif dengan orientasi ekspor. Implikasinya adalah pengembangan ekspor banyak tergantung pada kawasan FTZ dan pelabuhan.

Oleh karena itu, untuk mewududkan Batam sebagai salah satu pusat perekonomian regional di kawasan Sumatera, langkah utama yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan ekspor hasil industri agar status sebagai FTZ dapat menggeser posisi pelabuhan Tanjung Priok dan Tangjung Perak (yang bukan area FTZ) sebagai pelabuhan utama terbesar di Indonesia.

Misi kedua dari pengembangan FTZ di Batam yaitu sebagai salah satu sentra perdagangan dan industri di kawasan Asia Tenggara. Pemilihan kawasan Batam sebagai area FTZ tentu dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Keberhasilan faktor-faktor tersebut dapat diukur dan dibandingkan dengan pencapaian seluruh negara di dunia (185 negara). Pada tahun 2013, berdasarkan kemudahan untuk melakukan usaha, Indonesia menempati peringkat 128 di dunia, Malaysia peringkat 12 dunia, dan Singapura peringkat 1 (terbaik) di dunia (lampiran 7). Secara umum, di antara negara-negara ASEAN, Indonesia berada pada peringkat 6 di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, dan Vietnam (lampiran 7). Jadi, pencapaian Batam (Indonesia) sebagai sentra perdagangan dan industri di kawasan Asia Tenggara masih belum tercapai dan harus ditingkatkan lagi, termasuk tata kelola pemerintahan (lampiran 5 dan 6).

Jika kita bicara lebih spesifik pada tataran nasional, tingkat kemudahan untuk memulai bisnis di 20 kota di Indonesia dapat dilihat pada (lampiran 8). Berdasarkan survey tersebut untuk memulai bisnis, kota termudah adalah di Yogyakarta dan paling sulit di Manado. Untuk kawasan FTZ, Batam menempati peringkat 15 dari 20 kota. Selain itu Batam merupakan kota paling sulit untuk mendaftar properti (registering property), kemudian biaya yang dibutuhkan sekitar 18,5% dari pendapatan per kapita.

Poin yang dapat digarisbawahi di sini, status Batam sebagai FTZ harus lebih dioptimalkan baik pada tingkat nasional (sabagai pelabuhan terbesar dari hasil ekspor industri dan sebagai kawasan yang mudah melakukan usaha) dan pada tingkat internasional (volume perdagangan internasional dan tingkat investasi). Instansi pemerintah pusat dan daerah di Indonesia telah berkerjasama untuk mempromosikan kemudahan dalam memulai usaha yang diikuti dengan kebijakan peningkatan kualitas pendidikan dan inovasi agar menarik investor dan membuat Indonesia (Batam) tetap kompetitif.

Keterkaitan Pertumbuhan Ekonomi, Globalisasi, Regionalisme dan Daya Saing Negara Dalam Paham Neoliberalisme
Globalisasi ekonomi menyebabkan ketatnya persaingan dan semakin cepatnya perubahan lingkungan usaha, untuk dapat menjawab tantangan globalisasi ekonomi dunia dan mampu mengantisipasi perkembangan perubahan lingkungan yang cepat dibutuhkan strategi pembangunan industri di masa depan yang berdaya saing dan berkelanjutan di pasar domestik dan internasional.

Persaingan yang makin mengarah kepada hypercompetition mengharuskan dunia usaha untuk menerima kenyataan bahwa pesatnya perkembangan teknologi telah mengakibatkan cepat usangnya fasilitas produksi, semakin singkatnya masa edar produk (life cycle), serta semakin rendahnya margin keuntungan. Oleh karena itu semua industri harus bisa bertahan (survive) dan berkompetisi dengan produk luar negeri.

Pemerintah menetapkan Kebijakan Free Trade Zone (FTZ) untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, perdagangan, investasi, industri, dan pariwisata di Pulau Batam . Kebijakan dasar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi menurut kaum neoliberalis, yaitu:
  1. Pengurangan peran pemerintah melalui pemotongan pengeluaran pemerintah. Sebagai gantinya, perusahaan swasta lah yang memegang peranan dalam perekonomian.
  2. Pengawasan harga dan subsidi dihilangkan, mulai diadakan penetapan deregulasi terutama dalam pasar keuangan, dan reformasi peraturan tenaga kerja yang menetapkan upah minimum tenaga kerja. Dengan kata lain, distorsi harga harus nol.
  3. Reformasi perdagangan dan kurs (baca: devaluasi) dengan maksud agar tidak terjadi bias ekspor akibat kebijakan subsitusi impor, menurunkan distrosi harga produk-produk perdagangan, serta meningkatkan tingkat persaingan nilai tukar.
Kawasan FTZ diharapkan dapat berperan sebagai kantong perdagangan bebas dalam pabean dan rezim perdagangan yang ditetapkan oleh suatu suatu negara, dimana perusahaan manufaktur asing, terutama yang melakukan produksi industri berorientasi ekspor, mendapat keuntungan dari sejumlah insentif fiskal dan keuangan (Kusago dan Tzannatos,1998). Dengan menciptakan FTZ maka negara akan mendapatkan keuntungan-keuntungan secara ekonomi yang meliputi (1) laba kurs, dimana nilai tukar asing dapat berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan ekspor; (2) penciptaan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan; (3) menarik investasi asing atau Foreign Direct Investment (FDI) melalui Penanaman Modal Asing (PMA) yang akan meningkatkan kapital domestik; dan (4) transfer teknologi dan pengetahuan . Oleh karena itu, penciptaan FTZ adalah sebuah hal yang harus dipertimbangkan, direncanakan dan direalisasikan oleh negara-negara yang menginginkan tercapainya pertumbuhan ekonomi.

Konsep FTZ sendiri difokuskan pada upaya menarik investasi asing dalam bidang industri yang berorientasi ekspor. Melalui sistem ini secara tidak langsung memberikan manfaat selain menghasilkan setoran pajak (PPh), membuka lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja, kemudian manfaat lainya seperti menumbuh kembacngkan industri lokal atau UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang menjadi mitra perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) dan tumbuhnya industri jasa pendukung. Dapat disimpulkan bahwa industri lokal di kawasan FTZ tidak akan terganggu, karena produk yang dihasilkan dari industri (PMA) di daerah FTZ bertujuan ekspor sehingga tidak akan menyaingi atau bahkan sampai mematikan produk lokal.

Skenario Masa Depan Indonesia-Malaysia-Singapura
Gambar 1. IMS-GT Triangle of Complementarity















Sumber: Complementary redrawn after Debrah et al. (2000)

Eksistensi FTZ harus kita optimalkan sehingga Batam dapat berperan positif untuk Indonesia dalam hubungan bilateral, regional, multilateral antara Indonesia-Malaysia-Sigapura. Bentuk skenario yang diuraikan dalam tulisan ini mengadopsi Growth Triangle Debrah et al (2000).

Dalam skenario FTZ di batam, Indonesia harus mengetahui posisi sebagai negara yang memiliki unskilled labor, basic technology, natural resources, dan underdeveloped land. Malaysia memiliki land, natural resources, semi skilled labor, intermediate technology, dan basic infrastructure. Sedangkan Singapura memiliki capital, skilled labor, advanced technology, access to world market, advanced physical infrastructure, dan advanced commercial infrastructure. Ke depan, perlu mekanisme peningkatan kerja sama agar spesialisasi keunggulan masing-masing dapat memberikan benefit satu sama lain. Dengan majunya kerjasama yang menguntungkan, maka stabilitas dan keamanan regional di ASEAN akan tercipta, mengingat Indonesia-Malaysia-Singapura merupakan tiga negara yang berpengaruh di level ASEAN baik secara ekonomi, politik, maupun pertahanan keamanan.

Kesimpulan
Masa depan hubungan Indonesia-Malaysia-Singapura akan tetap diwarnai oleh kepentingan antar negara untuk mempertahankan dan meningkatkan perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan. Sebagai negara terbesar di ASEAN, Indonesia berkepentingan untuk mempertahankan hubungan ekonominya dengan Malaysia dan Singapura, terlebih dalam rangka merealisasikan AFTA. Satu hal yang perlu diingat yaitu kesiapan Indonesia dalam menghadapi globalisasi, jangan sampai kepentingan nasional dikalahkan dengan kerugian yang diperoleh akibat dampak negatif globalisasi.

Optimalisasi Batam sebagai FTZ dapat dilakukan dengan melihat ketidakefektifan yang diukur dalam tulisan ini. Indikator yang perlu diperbaiki seperti tata kelola pemerintahan, kemudahan dalam melakukan dan memulai bisnis, mendaftarkan properti, memeroleh kredit, pembayaran pajak, mendapatkan tenaga listrik, dll   .
Terkait dengan kerja sama regional di Batam, Indonesia harus dapat menata dan mengelola kawasan ini secara profesional. Hal ini karena kerberhasilan pengelolaan FTZ akan berdampak kepada kelancara kerjasama perdagangan bebas antara Indonesia-Malaysia-Singapura, mengingat Batam merupakan kawasan utama bagi pengembangan industri dan investasi Singapura. Selain bidang perdagangan dan investasi, kerjasama dalam bidang pertahanan dan keamanan juga sangat penting agar kelangsungan aktivitas ekonomi dapat tetap terjaga.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter