Monday, February 11, 2013

Patokan-patokan Umum bagi Sistem Perekonomian Indonesia yang Siap Mendukung Sishankam 2014-2024: Sebuah Pemikiran Teoretikal

Jumlah penduduk dunia makin banyak yang tinggal di kota. Dalam konteks dinamika urbanisasi pada tataran global, menarik untuk dianalisis munculnya aglomerasi perkotaan (lampiran 1). Studi Kuncoro (2007: Bab 3) memprediksi bahwa pada tahun 2015, Jakarta berada pada urutan ke-16 aglomerasi kota terbesar di dunia. Sementara itu, Agus Harimurti Yudhoyono memprediksi bahwa perang di masa depan akan terjadi di kota, dimana urbanisasi semakin tinggi dan 50 persen populasi akan tinggal di kota, terutama di Asia. Keterkaitan kedua prediksi tersebut mengindikasikan bahwa di masa depan jumlah penduduk yang terlalu banyak tinggal di perkotaan dapat memicu timbulnya peperangan.

Kondisi perang masa depan yang terjadi di perkotaan muncul karena ketersediaan sumber daya yang tersedia jumlahnya terbatas (baik yang renewable maupun non-renewable), sementara kebutuhan manusia sifatnya tidak terbatas. Pada masa mendatang, jumlah sumber daya akan semakin sedikit sehingga akan terjadi perebutan sumber daya antar negara dengan motif kepentingan nasional dan kekuasaan (ekspansi ekonomi).

Pada tahun 2010 terjadi titik temu antara jumlah penduduk yang tinggal di kota (urban) dan yang tinggal di desa (rural). Pada tahun-tahun berikutnya, jumlah penduduk yang tinggal di kota (urban) jumlahnya makin meningkat dan sudah mulai mengalahkan jumlah penduduk yang tinggal di desa (rural). Jadi, pasca pemilu 2014 akan mulai banyak penduduk yang tinggal di kota (lampiran 2).

Periode 2014-2024 merupakan peluang terakhir NKRI untuk melakukan tinggal landas pembangunan, jika berhasil maka NKRI akan menjadi Negara Industri Baru (Newly Industrializing Countries / NICs) dan menjelma kembali sebagai macan ASEAN. Namun, jika gagal maka NKRI akan menjadi negara yang mengalami deindustrialisasi dan bisa dipandang sebelah mata oleh dunia internasional.

Prediksi Masalah Pertahanan yang Mungkin Muncul Pada Periode 2014-2024
Untuk menjadi NICs dan macan ASEAN, pada periode 2014-2024 Indonesia harus memiliki tujuan pertahanan (defense) yang terencana. Tujuan pertahanan merupakan fungsi dari menjaga kedaulatan dari tantangan, ancaman, dan bahaya yang ada (Kuntjoro-Jakti, 2013). Ancaman merupakan segala bentuk gangguan langsung, tidak langsung, terlihat ataupun tidak terlihat terhadap kedaulatan; basis-basis vital nasional (ekonomi, militer, dan informasi); penduduk; teritorial, ataupun segala bentuk usaha serangan secara konvensional, inkonvensional, maupun asimetrik terhadap suatu bangsa dalam skala nasional (Widodo, 2003).

National interest merupakan hal-hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak yang dianggap membahayakan, sedangkan vital interest merupakan pelanggaran terhadap wilayah NKRI. Berikut ini akan diuraikan beberapa masalah mungkin muncul pada periode 2014-2024 yang berpengaruh terhadap pertahanan Indonesia terkait national dan vital interest.

Pertama, Tantangan Urbanisasi dan Kekeringan
Tingkat kaum urban di Indonesia pada periode 2014-2024 sangat tinggi, berkisar antara 53,7 s.d 60,3 persen (United Nations, 2012). Tingginya jumlah tersebut dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan yang mengancam pertahanan nasional terutama masalah kekeringan.
Gambar 1. Urban Agglomerations by Size Class & Potential Risk of Droughts, 2025











Sumber: United Nations (2012). Department of Economic and Social Affairs, Population Division: World Urbanization Prospects, the 2011 Revision. http://esa.un.org/unpd/wup/Maps/maps_droughts_2025.htm.

Berdasarkan peta potensi risiko kekeringan tahun 2025 di atas, terdapat beberapa titik di Indonesia yang akan mengalami kekeringan (terutama Pulau Jawa dan Sumatera). Selain itu, ibukota DKI Jakarta pada tahun tersebut akan berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa lebih yang juga berpotensi mengalami kekeringan.

Permasalahan air tersebut disebabkan karena ekstraksi air tanah yang berlebihan sehingga menyebabkan penurunan permukaan tanah. Efek negatif dari kekeringan dapat menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan irigasi sehingga sektor pertanian akan terganggu, mempengaruhi kegiatan ekonomi, dan berpengaruh terhadap pertahanan dan stabilitas keamanan NKRI.

Kedua, Tantangan Bencana Alam dan Kelangkaan Pangan (Food Security)
Posisi geografis Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan bencana alam, Selama kurun waktu 1997-2009 terjadi 6.632 bencana alam (Badan Nasional Penanggulangan Bencana 2012). Bencana menyebabkan kerugian (potensi) ekonomi dan ketidakpastian dalam keberlanjutan pertahanan negara. Salah satu efek dari bencana alam yaitu terjadi kelangkaan pangan.

Dalam kondisi bencana tentu saja akan terjadi kelangkaan pangan. Indonesia merupakan negara yang kaya SDA, namun ketersediaan dan aksesibilitas pangan di seluruh Indonesia belum terjamin 100%. Pada tahun 2012, Indonesia menempati peringkat 64 (skor 46,8 skala 100,0) dari 105 negara dalam Global Food Security Index (lampiran 3). Kondisi demikian menyebabkan para pembuat kebijakan menjadikan pengembangan kapabilitas pertahanan menjadi tradeoff dengan pengembangan sektor pertanian (pangan).

Ketiga, Tantangan Krisis Energi (Energy Security)
Energi menjadi faktor penting dalam menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Selama ini, minyak masih merupakan komoditas yang penting karena size dalam perekonomian (ekspor, impor, dan persentase terhadap GDP) dan minyak menjadi sumber penerimaan bagi negara tertentu. Berdasarkan data GFP 2013, negara yang menguasai minyak yaitu negara pemilik atau produsen minyak dan negara konsumen minyak utama atau negara indusri maju (lampiran 8). Fakta tersebut mengindikasikan bahwa produsen atau pengguna minyak menjadi salah satu indikator kuatnya pertahanan militer suatu negara.

Selain ketersediaan (supply) dan penggunaan (demand) energi, perlu diperhatikan pula dampak penggunaan energi terhadap daya dukung lingkungan, misalnya (Yunus, 2008):
  1. Batu bara. Dalam produksinya dapat menghasilkan sulfur dioksida yang mengakibatkan hujan asam.
  2. Reaktor nuklir. Kalau terjadi human error (bocor), maka pemakaian sisa-sisa radio aktif baru akan hilang dalam waktu ratusan tahun.
  3. Emas. Proses pengambilannya perlu penanganan terhadap dampak lingkungan.

Penggunaan energi yang efisien dapat memperpanjang penggunaan (lifetime) terhadap sumber energi tersebut. Dalam penggunaan energi perlu dilakukan beberapa hal yaitu: (1) konservasi energi atau penghematan; (2) diversifikasi sumber energi; dan (3) pindah teknologi, misalnya penggunaan migas ke bio-energi. Pemindahan energi tersebut memerlukan masa transisi, masa peralihan tersebut terjadi jika harga minyak naik.

Kempat, Bahaya Pelanggaran Wilayah NKRI dan Konflik Sosial
Sepanjang sejarah NKRI, pernah terjadi beberapa konflik sosial, antara lain: (1) konflik ideologi politik, PKI 1965; (2) konflik rasial: May 1998, Jakarta; (3) konflik suku: 2000-2001, Kalimantan Barat; (4) konflik agama: 2001, Maluku, Poso; dan (5) konflik separatisme: Aceh, Papua. Kelima contoh konflik tersebut merupakan kategori bahaya yang sangat mengancam kedaulatan NKRI.

Salah satu penyebab separatisme di Papua yaitu kegagalan pembangunan di Papua, yang ukurannya dilihat dari tingkat pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat , sehingga terjadi kersenjangan. Bentuk kesenjangan tersebut dapat dilihat pada terkait dengan luas daratan Indonesia, jumlah penduduk menurut provinsi dan PDRB provinsi 2011 atas dasar harga konstan tahun 2000 (lampiran 9). Papua, yang memiliki luas wilayah terbesar dan kekayaan alam melimpah, ternyata memiliki jumlah penduduk paling paling sedikit dan berkontribusi paling kecil dalam pembentukan PDB.

Jadi, untuk meminimalisir kesenjangan (gap) antar wilayah terutama daerah yang menjadi perbatasan wilayah NKRI perlu dilakukan pemberdayaan di daerah. Jika kita analogikan, Jakarta sebagai rumah dan daerah-daerah perbatasan sebagai beranda rumah. Maka permberdayaan di daerah (beranda rumah) sangat diperlukan agar negara luar yang melihat langsung mengetahui bahwa beranda tersebut merupakan bagian dari rumah kita.

Empat Lakon Masa Depan Indonesia
Dengan melihat potensi besar yang dimiliki, sudah selayaknya Indonesia dapat menjadi negara yang diperhitungkan dalam kancah global. Namun, serangkaian permasalahan berupa tantangan, ancaman, dan bahaya yang telah diuraikan sebelumnya dapat mengganggu kedaulatan NKRI. Oleh karena itu, bagian ini akan menguraikan empat lakon yang dapat diperankankan Indonesia selama periode 2014-2024, yaitu:

A. Lakon “Negara Deindustrialiasi”
Deindustrialisasi adalah menurunnya peran industri dalam perekonomian secara menyeluruh. Hal ini bisa dilihat dari indikator turunnya pekerja di sektor industri, turunnya produk industri, serta turunnya sektor industri dibandingkan sektor lain (Kuncoro (2007: Bab 16)).

Sejak merdeka 67 tahun lalu, Indonesia mengalami perubahan yang ditandai dengan adanya proses transformasi ekonomi. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan peran sektor pertanian yang terus menurun dan beralih kepada perdagangan dan jasa (lampiran 10). Berdasarkan data tahun 2000-2011, Indonesia belum mengalami deindustrialisasi, hal ini karena peran sektor pertanian turun sekitar 1,82% dari rata-rata tiap tahun pada periode 2000-2011 dan meningkatnya sektor perdagangan sebesar 0,88% dan jasa sebesar 0,10% rata-rata tiap tahun periode yang sama (lampiran 11).

Berdasarkan kontribusi sektor yang terdapat dalam perekonomian, memang Indonesia belum mengalami gejala deindustrialisasi. Namun, jika dilihat statistik beberapa industri unggulan berdasarkan Kebijakan Pembangunan Industri nasional (KPIN), terdapat fluktuasi bahkan kecenderungan pertumbuhannya turun (jumlah pekerja, dan produk industri), yang artinya tidak efisien dalam perekonomian. Penyebabnya yaitu produk industri lokal kalah saing dengan produk internasional, baik dari sisi harga maupun kualitas.

Kondisi turunnya daya saing mencerminkan hilangnya keunggulan kompetitif dari sektor industri. Implikasnya, peran industri negara akan menurun dan pada akhirnya membuat investor menarik investasinya dari sektor industri ke sektor lain, atau bahkan melakukan relokasi ke negara lain.

B. Lakon “Negara Industri Baru (Newly Industrializing Countries / NICs)”
Dalam mewujudkan Indonesia menjadi NICs, Indonesia memerlukan pembangunan industri (industrialisasi). Tujuan dari kebijakan industrialisasi antara lain: (1) meningkatkan pendapatan nasional; (2) mengatasi masalah pengangguran melalui penyerapan tenaga kerja; dan (3) meningkatkan devisa dari hasil ekspor. Prasyarat yang harus dipenuhi dalam membangun industri yaitu setiap industri harus layak secara teknis dan ekonomi (economically sound) agar dapat memberikan keuntungan baik kepada investor atau ekonomi secara keseluruhan.

Pengangguran di dunia selama periode 2000-2011 berkisar pada level 6 persen. Pada region Asia, Asia Tenggara merupakan wilayah yang tingkat penganggurannya paling tinggi sebesar 5,4 persen.

Gambar 2. Grafik Unemployment Rate, 2000-2011










Sumber: Global Employment Trends 2012. Preenting a Deeper Jobs Crisis

Pengangguran di dunia selama periode 2000-2011 berkisar pada level 6 persen. Pada region Asia, Asia Tenggara merupakan wilayah yang tingkat penganggurannya paling tinggi sebesar 5,4 persen. Indonesia pada periode tahun yang sama, angka penganggurannya hampir sama dengan tingkat pengangguran di dunia. Oleh karena itu, diperlukan upaya industrialisasi agar dapat berkontribusi terhadap perekonomian.

Pembangunan dan pengembangan Indonesia menjadi NICs jangan menjadi industri yang menjadi proyek politik semata. Maksudnya proses pengembangan tersebut dibuat seolah-olah memiliki prioritas yang tinggi, namun dalam tahapannya menyebabkan pemborosan capital, skill, dan waktu. Oleh karena itu, dalam pengembangannya harus didukung dengan faktor produksi (capital, labor, resources, dan technology), cocok untuk dikembangkan dalam jangka waktu lama (life cycle panjang), dan memiliki keterkaitan dengan sektor atau industri penunjang lainnya (terintegrasi dari hulu ke hilir) dalam satu mata rantai.

Dalam jangka panjang, jika industri-industri di Indonesia sudah mulai bangkit, tahap selanjutnya adalah membangun industri pertahanan yang dapat menunjang kapabilitas militer Indonesia. Jika hal itu dapat terwujud, ke depan Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan pereokonomian terkuat di dunia dan memiliki industri pertahanan yang maju sehingga dapat meningkatkan peringkat militer Indonesia dan mewujudkan pertahanan dan keamanan nasional.

C. Lakon “Inlander ASEAN”
Dari semua indikator yang menjadi penilaian skor PwrIndx, Indonesia unggul dalam hal manpower, resources (petroleum), logistical, financial, dan geography dari negara ASEAN lainnya (GFP, 2013). Namun, Indonesia masih belum unggul dalam indikator land system, air power, dan naval (lampiran 13).

Secara sederhana, berdasarkan fakta statistik tersebut keunggulan Indonesia dalam hal kekuatan militer terbesar di ASEAN, ternyata tidak diimbangi dengan ketersediaan alutsista yang memadai. Secara agregat, alutsista AD (land system), AL (naval), dan AU (air power) Indonesia masih kalah dengan beberapa negara ASEAN yang peringkat militernya berada di bawah Indonesia.

Satu hal yang perlu diperhatikan, penghitungan alutsista di Indonesia jangan terlalu agregatif dalam lingkup statistik, sebab banyak dari indikator lainnya yang berada di atas dan di bawah negara-negara ASEAN. Skor agregatif dapat menyebabkan pesimistis, sehingga perlu adanya analisis lanjutan untuk membuktikan Indonesia di regional ASEAN bukan sebagai bangsa yang inlander.

Salah satu efek negatif dari bangsa yang inlander, penduduknya merasa minder atau ‘terjajah’ dengan bangsa lain walaupun mereka tinggal di tanah air sendiri. Dengan begitu, negara lain akan mulai berani mengusik Indonesia dan akan banyak bermunculan kasus terkait pertahanan yang akan mengganggu kedaulatan NKRI.

D. Lakon “Macan ASEAN”
Berdasarkan data GFP 2013, kekuatan militer Indonesia pada tahun 2012 naik tiga peringkat menjadi posisi 15 dari tahun sebelumnya. Indonesia menempati peringkat pertama sebagai kekuatan militer terbesar di ASEAN. Berikut ini merupakan 15 negara terbesar pada tahun 2012.

Tabel 1. 15 Negara Dengan Kekuatan Militer Terbesar di Dunia, 2012





Sumber: GFP, 2013

Kenaikan posisi Indonesia dalam peringkat militer terbesar di dunia dapat dilihat pada (lampiran 7). Secara umum, antara tahun 2011 dan 2012 tidak terdapat perubahan pada indikator kondisi geografis, jumlah tentara kompenen utama & komponen cadangan, alutsista AL, serta konsumsi & cadangan minyak. Kemudian terjadi peningkatan pada indikator financial, land system, dan logistical. Namun terjadi penurunan pada produksi minyak, dan total aircraft. Jadi, agar peringkat militer Indonesia di tingkat dunia bisa menjadi lebih baik, kita perlu meningkatkan indikator yang mengalami penurunan dan atau masih tetap seperti yang telah disebutkan di atas.

Dalam membangun kapabilitas militer sebagai macan ASEAN, kita perlu melihat indikator lainnya yaitu indeks demokrasi dunia (lampiran 4) dan rating stabilitas ASEAN (lampiran 5). Rating stabilitas Indonesia di regional ASEAN cukup baik, nilai merah (buruk) terdapat pada stabilitas ekonomi dan stabilitas sosial. Penyebabnya masih banyak terdapat tantangan, ancaman, dan bahaya yang diuraikan dalam artikel ini. Kemudian dari indeks demokrasi, skor Indonesia berada pada peringkat kedua di antara negara ASEAN lainnya dan peringkat 60 di dunia. Posisi Indonesia berada di bawah Thailand yang menempati urutan ke-58. Implikasinya, pembangunan kekuatan militer di Indonesia bukan merupakan sesuatu hal yang menakutkan karena Indonesia merupakan negara demokrasi.

Patokan Umum Sistem Perekonomian Indonesia Masa Depan
Di masa depan, Indonesia menghadapi dua skenario. Skenario pertama, Indonesia akan menjadi negara NICs dan macan ASEAN, sedangkan skenario kedua, Indonesia akan menjadi negara yang mengalami deindustrialisasi dan bisa dipandang sebelah mata oleh dunia internasional. Keberhasilan atau kegagalan dari dua skenario (atau empat lakon) yang akan dijalani Indonesia sangat tergantung dari profesionalisme setiap elemen masyarakat dan pemerintah dalam mengatasi tantangan, ancaman, dan bahaya.

Upaya dalam menjaga kedaulatan NKRI perlu didukung oleh sistem ekonomi dan sistem pertahanan keamanan yang perlu terus dikembangkan sesuai dengan kemauan zaman. Pemikiran-pemikiran ekonomi selalu dan sangat merupakan produk zaman dan tempat; ia tak bisa dilihat berdiri sendiri terlepas dari dunia yang digambarkannya. Dan dunia berubah – dalam satu proses transformasi yang terus menerus – maka pemikiran ekonomi pun berubah.

Fleksibilitas diperlukan dalam menghadapi lingkungan yang dinamis. Namun, perubahahan tersebut jangan ke arah yang salah. Indonesia telah menempuh kebijakan intervensi industri yang salah arah, hal ini disebabkan karena sektor perusahaan besar milik negara secara tidak efisien menggunakan sumber daya yang seharusnya dapat digunakan dengan lebih produktif di tempat lain dan peraturan dan perizinan yang berbelit-belit (Hill, 1997: 18). Oleh karena itu, perlu dibenahi birokrasi dan efisiensi sumber daya.

Kesimpulan
Pada periode 2014-2024, Indonesia akan menghadapi tantangan (T), ancaman (A), dan bahaya (B) yang mengancam kedaulatan. Bentuk T.A.B. yang dihadapi pada masa depan antara lain: (1) urbanisasi dan kekeringan; (2) bencana alam dan kelangkaan pangan (food security); (3) krisis energi (energy security); dan (4) pelanggaran wilayah NKRI dan konflik sosial. Upaya mengatasi T.A.B. tersebut dapat diskenariokan dengan empat lakon. Skenario pertama Indonesia akan menjadi negara industri baru dan macan ASEAN, kemudia skenario kedua Indonesia akan mengalami gejala deindustrialisasi dan menjadi bangsa yang inlander di lingkup ASEAN.

Pembangunan kapabilitas militer diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dalam mengatasi ancaman internal dan eksternal ditengah minimnya alutsista yang dimiliki. Salah satu strategi jangka panjang yang dapat ditempuh yaitu dengan membangun industri pertahanan. Dalam membangun industri pertahanan, kebijakannya ditentukan oleh kuantitas dan kualitas sumber daya dan luas geografi tiap negara. Pembangunan dan pengembangan industri pertahanan tersebut harus didukung dengan faktor produksi, cocok untuk dikembangkan dalam jangka waktu lama (life cycle panjang), dan memiliki keterkaitan dengan sektor atau industri penunjang lainnya (terintegrasi dari hulu ke hilir).

1 comment:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, January)
Christina Aguilera - Fighter