Sunday, March 10, 2013

Kebijakan Industrialisasi

McKinsey Global Institute (MGI), dalam laporannya "The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia's Potential" menyebutkan tahun 2030 ekonomi Indonesia akan menempati posisi ke-7 Dunia, mengalahkan Jerman dan Inggris. Prediksi MGI memang benar dapat terjadi, akan tetapi agar prediksi tersebut dapat tercapai, banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh kita semua. Salah satu starategi yang dapat ditempuh yaitu kebijakan industrialisasi. Industrialsiasi dapat didefinisikan sebagai proses perubahan struktur ekonomi dimana terdapat kenaikan kondtribusi sektor industri dalam permintaan konsumen, PDB, ekspor, dan kesempatan kerja (Chenery, 1986). Tujuan dari industrialisasi adalah peningkatan efisiensi, daya saing, sinergitas hulu - hilir, serta keseimbangan supply - demand.

Sayangnya, kebijakan industrialisasi di Indonesia menghadapi beberapa permasalahan yang menyebabkan kinerjanya menjadi kurang optimal. Apa permasalahan mendasar dalam industrialisasi di Indonesia? Apakah perbedaan antara  industrialisasi dengan membangun pabrik-pabrik industri? Mengapa instrumen competition policy and competition law menjadi penting dalam pembangunan industri? Pada sektor apa kita harus fokus, apakah sektor industri atau malah sektor pertanian? Keempat pertanyaan tersebut akan dijawab secara eksklusif oleh guru besar FEUI, Prof. Dr. Ine Minara S. Ruky (IMSR) berikut ini.

DA: Dalam kebijakan industrialisasi terdapat pengusaha yang ingin kong-kalikong dengan pemerintah. Jika pengusaha dapat melobi pemerintah, maka industrialisasi tidak akan berjalan. Bagaimana menurut Ibu?
IMSR:  Industrialisasi itu, disetiap tahapannya, punya target yang ingin dicapai dan untuk mencapainya diperlukan kebijakan tertentu. Jadi, kebijakan industri dibuat untuk mencapai target-target tersebut, agar bisa lanjut ke tahapan yang lebih tinggi. Kebijakan yang dirancang sejak awal itu, harus dipegang dan diterapkan secara konsisten. Sebagai contoh, di tahap awal industrialisasi, biasanya dipilih Import Substitution Strategy. Secara konsep, proteksi untuk industri penghasil barang-barang yg tadinya diimpor harus diturunkan secara bertahap dan besarannya tidak boleh terlalu tinggi. Buat pengusaha, tentu saja lebih menguntungkan jika diproteksi terus. Oleh karena itu, ada kecenderungan untuk melobi penguasa ketika tiba masanya proteksi harus diturunkan, agar kebijakan industri dibuat untuk kepentingan mereka. Biasanya, hasil lobi itu juga menguntungkan penguasa. Nah jika kemudian pemerintah karena lobi tersebut menjadi tidak konsisten dalam mengambil kebijakan industri, maka industrialisasi tidak akan jalan. Target di setiap tahapannya bisa jadi tidak tercapai dan dampaknya, keberlanjutan industrialisasi, terganggu. Pilihan untuk industri yang akan dibangun juga bisa jadi dilobi ke jenis-jenis yang menguntungkan pelaku usaha tertentu. Contoh lain, ketika pasar berkembang lebih luas dan terbuka peluang bagi lebih banyak untuk pelaku usaha baru. Incumbent biasanya melobi untuk menutup entry itu, melalui kebijakan pemerintah. Ini bisa mengganggu pencapaian efisiensi secara keseluruhan.


DA: Apakah terdapat perbedaan antara industrialisasi dengan membangun pabrik-pabrik industri?
IMSR: Kalau dipelajari, inti dari industrialisasi antara lain adalah bahwa pembangunan industri, di tahap awalnya, tidak boleh meninggalkan sektor dimana sebagian besar penduduk bekerja disitu. Di UDC biasanya sektor ini adalah sektor pertanian. Secara gradual, melalui industrialisasi, kedua sektor harus tumbuh bersama, karena penduduk yang bekerja di sektor ini nantinya, akan menjadi pasar bagi hasil industri. Di tahap awal, industri yang dibangun juga adalah yang mendukung sektor pertanian. Pendapatan yang meningkat di sektor ini, akan menjadi sumber tabungan yang nantinya akan menjadi sumber investasi. Melalui industrialisasi, transformasi struktural berjalan secara gradual dan mulus, sehingga economic development berjalan secara berkelanjutan. Pembangunan industri, juga membutuhkan dukungan sektor-sektor lain seperti pendidikan, keuangan/perbankan dan jasa-jasa lainnya. Industrialisasi mencakup semua proses tersebut, sementara membangun pabrik, hanya membangun pabrik-pabrik saja. Di sini, yang menjadi pertimbangan utama adalah, apakah investasi di pabrik tersebut memberikan return on investment yang tinggi atau tidak bagi investornya. Jika tidak, maka pabrik tersebut tidak akan dibangun.

DA: Mengapa instrumen competition policy and competition law sangat penting dalam pembangunan industri? 
IMSR: Competition policy dianggap penting berdasarkan asumsi/anggapan bahwa "melalui persaingan, keadaan menjadi lebih baik. Industri menjadi lebih efisien. Bagi konsumen tersedia pilihan yang lebih banyak, harga yang rasional dan kualitas yang lebih baik". Secara teori, benchmark-nya adalah "perfect competition". Namun di dunia nyata. untuk masuk ke dan keluar dari industri tidak bebas, information tidak perfect, barang yang diproduksi juga tidak homogen. Di dunia nyata, yang "common terbentuk" adalah struktur pasar tidak sempurna, khususnya oligopoli, sementara karakteristik pasar ini adalah adanya interdependensi antar pelaku usaha. Interdependensi ini cenderung mendorong oligopolist untuk kolusi. Kolusi menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang pada akhirnya menciptakan harga monopoli. Dengan bersepakat, mereka juga bisa berperilaku seperti monopolist. Barrier to entry juga bisa mendorong perusahaan untuk memperoleh posisi dominan di pasar. Secara konsep, kondisi ini berpotensi memunculkan "abuse of dominant position". Ini dianggap tidak fair (unfair competition). Competition law mencegah/melarang kegiatan-kegiatan dan atau kesepakatan-kesepakatan/perjanjian-perjanjian yang merugikan tersebut. Tujuan dari competition law pada prinsipnya adalah advokasi fair competition.

DA: Indonesia pernah kehilangan momentum sebanyak dua kali untuk melakukan industrialisasi. Menurut Ibu, apakah Indonesia efisien melakukan industrialisasi? atau justru fokus saja kepada sektor pertanian, dimana sektor ini cukup potensial apabila dikembangkan (SDM dan SDA mendukung)?
IMSR: Salah satu kelemahan utama dari sektor pertanian adalah ketergantungan yang tinggi terhadap iklim, Uncontrol variable lebih banyak. Economic growth akan lebih lamban, ketidakpastian lebih tinggi. Industri, dianggap lebih bisa diandalkan dari sisi ini. Namun ya itu tadi, yang harus dilakukan adalah industrialisasi "yang benar" tentunya, bukan hanya membangun pabrik-pabrik. Negara besar seperti Indonesia, dengan penduduk yang besar, tampaknya akan sulit jika hanya bertumpu pada sektor pertanian saja, apalagi sekarang, konversi lahan pertanian ke industri dan pemukiman serta untuk kegiatan bisnis lainnya sudah sedemikian tinggi.

Untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baik, Prof. Ine Minara menyarankan membaca buku Industrialisasi di Indonesia karangan Thee Kian Wie. Semoga dengan kebijakan industrialisasi yang tepat, prediksi MGI terkait ekonomi Indonesia yang bisa menempati peringkat 7 dunia dapat terwujud pada tahun 2030.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

AskFM: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2017, September)
Britney Spears (Sam Tsui Cover) - Hold It Against Me