Wednesday, April 24, 2013

Efektivitas Sistem Pertahanan

Sistem adalah sekelompok elemen atau komponen-komponen yang saling berhubungan dan bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama dengan menerima input dan menghasilkan sebuah output dalam proses transformasi yang teratur (O’Brien dan Marakas, 2005). Sedangkan efektivitas adalah besaran ukuran atau indikator dalam pencapaian sasaran (objektvitas) dan bagaimana hal tersebut dilakukan dalam prosesnya (Yankey dan McClellan, 2003). Efektivitas merefleksikan hubungan antara output dengan tujuan. Semakin besar kontribusi output, maka semakin efektif suatu program atau kegiatan, dan sebaliknya. Jadi, efektivitas sistem atau sistem yang efektif dapat digunakan dalam membantu dan memudahkan pihak yang terkait di dalamnya untuk mendapatkan input, melakukan proses, dan menghasilkan output untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Dalam militer, efektivitas adalah proses dimana angkatan bersenjata mengubah sumber daya yang ada menjadi kekuatan tempur (Allan R. Millet, 1988). Suatu kesatuan militer dapat dikatakan efektif apabila (1) kesatuan tersebut dapat menghasilkan kekuatan tempur (combat power) yang maksimal dari sumber daya yang dimiliki (manusia, SDA, uang, teknologi, dukungan industri, karakteristik sosial, dll), baik secara fisik maupun politis; dan (2) dapat meminimalisir hambatan-hambatan yang membuat efektivitas menurun. Efektivitas sistem terdiri dari tiga variabel, yaitu: (1) operational readiness; (2) mission availability; dan (3) design adequacy (Charles E. Ebeling, 1997).

Kesiapan Operasional (Operational Readiness)
Tingkat operasional dari suatu kegiatan militer meliputi kegiatan penyusunan dan pengembangan konsep atau doktrin dalam penggunaan kekuatan untuk mencapai tujuan strategis dalam suatu operasi. kegiatan tersebut mencakup penentuan posisi, daerah berkumpul, gerakan kesatuan-kesatuan militer menuju posisi atau sasaran, serta pengaturan dukungan logistik. Hal lain yang menjadi perhatian adalah; karakteristik musuh, keadaan medan operasi, logistik musuh, kesatuan yang dapat membantu, serta waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas yang diterima.

Kesiapan operasional terdiri dari kegiatan perbaikan korektif dan tindakan-tindakan preventif, termasuk memperhitungkan waktu tunda (delay time). Kesiapan operasional digunakan sebagai pendekatan dalam mengukur kesiapan tempur, hal ini karena pada praktiknya, kerugian-kerugian (waktu, suku cadang, peralatan, dan risiko lainnya) sangat sulit untuk dihindari atau dicegah, Kesiapan operasional memperhitungkan faktor-faktor berikut: (1) Mean Time Between Maintenance Actions (MTBMA); (2) Mean Maintenance Time (MMT); dan (3) Mean Logistic Delay Time (MLDT).

Seharusnya, Mean Time Between Maintenance Actions (MTBMA) = Mean Time Between Failure (MTBF) dan Mean Maintenance Time (MMT) = Mean Time to Repair (MTTR). Namun, secara teknis tidak demikian karena:
  • MTBMA dan MMT memperhitungkan baik tindakan preventif maupun korektif
  • MTBF dan MTTR hanya memperhitungkan kegiatan korektif saja.
Keterangan:
  • MTBF adalah interval waktu rata-rata dari suatu kondisi tidak siap ke kondisi tidak siap berikutnya pada sebuah alutsista, kondisi tidak siap dapat terjadi karena kegagalan pada sistem maupun karena alutsista tersebut sudah memasuki masa pemeliharaan.
  • MTTR adalah waktu rata-rata untuk menyelesaikan sebuah tindakan perbaikan (korektif) pada saat alutsista dalam kondisi tidak siap digunakan.

Secara matematis, kesiapan operasional dapat dinyatakan sebagai berikut:
RO = MTBMA / (MTBMA + MMT + MLDT)

Kesiapan operasional berbanding terbalik dengan rasio antara kumulasi kegiatan pemeliharaan korektif dan preventif serta semua penundaan yang mungkin terjadi (menunggu suku cadang, uji terbang atau test flight, dll) terhadap waktu aktif total alutsista tersebut beroperasi. Semakin kecil nilai rasio, maka kesiapan operasional makin tinggi, dan sebaliknya. Kesiapan operasional dapat digunakan untuk mengkaji aspek-aspek apa saja yang perlu disempurnakan, contohnya waktu pengiriman suku cadang, waktu pengerjaan pemeliharaan, dll.

Ketersediaan Misi (Mission Availability)
Peran pemerintah dalam pembangunan kekuatan militer juga ikut menentukan efektivitas sistem pertahanan suatu negara. Kemauan politik (political will) sangat penting dimiliki pemerintah untuk mengembangkan dan modernisasi pertahanan. Semua tujuan tersebut dapat tercapai apabila pemerintah memiliki visi dan misi yang tepat dan berkesinambungan, baik pada tingkat politik, strategi, operasi, maupun taktik. Faktanya, keempat tingkatan tersebut terkadang masih tumpang tindih (overlapping). Oleh karena itu, penilaian kegiatan masing-masing tingkatan sebaiknya dilakukan secara terpisah.

Misi yang telah dijabarkan untuk menunjang pembangunan kekuatan pertahanan harus pula didukung oleh ketersediaan finansial (dana), industri pertahanan yang berdaya saing, dan kuantitas & kualitas tentara. Semua itu perlu dipersiapkan untuk menghadapi potensi ancaman yang akan dihadapi. Misi yang dibuat juga harus bisa menyakinkan para politikus yang ada bahwa potensi ancaman dapat membahayakan kepentingan nasional yang berpengaruh pada stabilitas keamanan nasional. Intinya, membuat misi dalam membangun kekuatan pertahanan perlu melihat dua hal, yaitu ancaman (internal & eksternal) dan tuntutan kapabilitas.

Kecukupan Desain (Design Adequacy)
Sebuah sistem yang efektif jika dapat mendukung kesiapan dalam operasi, yaitu siap dalam menjalankan misi dan desainnya sesuai dengan yang diharapkan oleh pengguna (user requirement).


Estimasi Efektivitas Sistem dan Biaya Daur Hidup (Life Cycle Cost)
Biaya daur hidup (life cycle cost) adalah semua biaya yang berhubungan dengan produk untuk seluruh daur hidupnya. Biaya daur hidup mencakup penelitian (pembuatan konsep), pengembangan (perencanaan, desain, dan pengujian), produksi (kegiatan konversi), dan pendukung logistik (iklan, distribusi, garansi, pelayanan pelanggan, perbaikan produk, dll).

Dalam konteks pertahanan, dapat disimulasikan estimasi biaya dan efektivitas dari pemilihan alternatif alutsista yang akan dipilih. Efektivitas dapat dirumuskan berdasarkan dua skenario keputusan atau kebijakan, yaitu: (1) menetapkan biaya dan mencari efektivitas tertinggi; dan (2) menetapkan efektivitas dan mencari biaya yang paling murah. Secara grafis dapat dilihat pada gambar di bawah ini, dimana sumbu vertikal merupakan tingkat efektivitas sistem (performa, kualitas, dll), sedangkan sumbu horizontal merupakan besaran biaya (sesuatu yang harus dibayar atau dikeluarkan).

Gambar 1. Estimasi Efektivitas Sistem dan Siklus Hidup Biaya
Sumber: Commander David R. James, Royal Navy.

Keterangan:
A: Efektivitas sangat tinggi, biaya tinggi
B: Efektivitas tinggi, biaya sangat rendah
C: Efektivitas sangat tinggi, biaya sangat tinggi
D&E: Efektivitas rendah, biaya tinggi

Jika efektifitas yang ditetapkan oleh pembuat kebijakan antara titik D dan E (hanya dua alternatif pilihan), maka tersedia pula dua pilihan biaya. Alternatif terbaik yang dapat dipilih yaitu titik D karena dengan tingkat efektivitas yang sama dapat dicapai dengan biaya yang lebih rendah. Kemudian, jika pembuat kebijakan menerapkan budget yang fleksibel, maka dapat dipilih titik A dari pada titik C. Titik C tidak dipilih karena merupakan outliers, tidak perlu dipilih karena melebihi biaya minimum yang harus dikeluarkan, padahal efektivitas minimum telah tercapai.

Pada titik B menggambarkan biaya yang sangat rasional yang bisa diambil oleh para pembuat kebijakan pertahanan dalam menciptakan efektivitas yang tinggi. Jika pembuat kebijakan ingin meningkatkan efektivitas ke titik A atau C (efektivitas tertinggi), maka biaya (insentif) yang dikeluarkan juga akan meningkat. Hal ini dapat dikatakan inefisiensi, karena harus mengeluarkan biaya yang lebih besar padahal efektivitas di titik B sudah cukup memadai, misal diliat dari besaran efek operasi yang diharapkan, dll.

Perubahan skenario pemilihan titik pada gambar di atas dapat dilakukan dengan analisis kepekaan (sensitivity analysis), yaitu dengan mengubah harga variabel keputusan (biaya dan efektivitas) untuk melihat output yang mungkin bisa mengubah efisiensi. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika kemanan lingkungan internasional yang dinamis, yang akan berdampak terhadap situasi dalam negeri dan mempengaruhi keputusan yang membuat kebijakan pertahanan.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, June)
Christina Aguilera - Fighter