Monday, May 06, 2013

Menyoroti Daya Saing Indonesia dan ASEAN Dalam Perspektif Ekonomi Pertahanan

Pada tanggal 8 Agustus 1967, Indonesia bersama dengan Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand membentuk perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Perhimpunan regional tersebut memiliki slogan one vision, one identity, dan one community. Latar belakang dibentuknya ASEAN karena terdapat persamaan letak geografis di kawasan Asia Tenggara, persamaan budaya (Melayu Austronesia), persamaan sebagai negara yang pernah dijajah, dan persamaan untuk menjalin hubungan kerjasama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya.

Diantara negara-negara ASEAN, Indonesia dan Malaysia selama periode 1980-2011 menjadi negara yang memiliki rata-rata pertumbuhan PDB tertinggi, di atas 9% (lampiran 1). Selama kurun waktu tiga periode, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia telah mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2000-2011, dimana pada periode tersebut rata-rata pertumbuhannya sebesar 16,54%.

Pertumbuhan PDB Indonesia selama tahun 2000-2011 sangat menggembirakan, namun pada periode tersebut rata-rata pertumbuhan persentase ekspor barang dan jasa nilainya -1,99%, bahkan pertumbuhan rata-rata penanaman modal asing (PMA) nilainya -42,83%. PMA yang negatif artinya investasi yang keluar lebih besar dari pada investasi yang masuk. Hal ini karena dalam periode 2000-2011, tahun 2000 FDI Indonesia mencapai titik terendah, salah satu penyebabnya adalah kondisi politik di Indonesia yang saat itu belum stabil pasca lengsernya orde baru.

Transformasi Struktural Negara-negara ASEAN
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi (kenaikan pendapatan per kapita), negara-negara di ASEAN mengalami transformasi struktural dalam tahapan proses perubahan ekonomi. Indikatornya dapat dilihat berdasarkan peran sektor pertanian yang terus menurun dan beralih kepada perdagangan dan jasa (lampiran 2). Statistik tersebut, mengindikasikan transformasi struktur produksi akan bergeser dari yang mengandalkan sektor pertanian menuju sektor industri (Chenery, 1979).

Dalam lingkup regional ASEAN, negara yang paling cepat mengalami transformasi ekonomi yaitu Brunei Darussalam. Selama periode 1980-2011, peran sektor pertanian terus mengalami penurunan yang signifikan, yang diiringi dengan peningkatan peranan sektor industri. Sementara itu, Indonesia, pada periode yang sama juga mengalami peningkatan peranan untuk sektor industri. Namun, pada tahun 2000-2011 terjadi penurunan pertumbuhan sektor jasa dan meningkatnya pertumbuhan peran sektor pertanian.

Peningkatan sektor peran sektor industri dalam perekonomian sejalan dengan peningkatan ekspor dan pendapatan per kapita yang terjadi di suatu negara. Ringkasnya, kinerja ekonomi Indonesia masih bisa dikatakan mengesankan bila dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya, implikasi positifnya dapat dilihat dari peningkatan indikator sosial seperti peningkatan usia harapan hidup dan angka melek huruf, serta menurunnya angka kematian bayi (lampiran 3). Untuk menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, perlu difokuskan pada aktivitas ekonomi yang berbasis pada ekspor dan investasi.

Tingkat Ketergantungan Antar Negara-negara di ASEAN
Dalam melakukan kerjasama regional, sesama negara anggota ASEAN akan dipaksa bersaing untuk mencapai level perekonomian yang efisien. Pada situasi persaingan, pasti terdapat ketergantungan suatu negara terhadap negara lain. Biasanya negara yang perekonomian kurang kuat akan bergantung dengan negara yang tingkat ekonominya telah maju. Bahkan dampak yang lebih buruk timbul istilah ketergantungan berkelanjutan terhadap negara yang memiliki bargainining postion yang lebih baik di bidang ekonomi, politik, dll.

Diantara negara-negara ASEAN, Indonesia memiliki ketergantungan dengan siapa? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya menggunakan formula Intra Industry Trade, yaitu: IIT = (X-M) / (X+M) Keterangan:
IIT : Tingkat ketergantungan industri suatu negara dengan negara lain
X : Rata-rata ekspor periode 2003 s.d 2011 (dalam juta US$)
M : Rata-rata impor periode 2003 s.d 2010 (dalam juta US$)

Dengan menghitung formula di atas, diperoleh hasil berikut ini:
Tabel 1. Koefisien IIT Indonesia Terhadap ASEAN, 2002-2011
Sumber: ITC Calculations based on UN COMTRADE statistics, diolah. 
*) Periode analisis tahun 2003-2011

Berdasarkan penghitungan IIT, pada rentang waktu 2002-2011, Indonesia (pada regional ASEAN) memiliki ketergantungan ekspor yang tinggi terhadap negara Kamboja, Myanmar, Filipina dan Laos. Kemudian, Indonesia memiliki ketergantungan impor yang tinggi dengan negara Brunei Darussalam, Thailand, dan Singapura.

Hasil IIT memperkuat argumen ketergantungan yang saya utarakan di awal, dimana Kamboja dan Myanmar yang secara relatif belum terlalu berkembang jika dibandingkan dengan Indonesia, menjadi negara tujuan ekspor yang paling baik untuk Indonesia. Kemudian negera Brunei Darussalam dan Singapura yang secara relatif lebih maju dari Indonesia justru yang menjadikan negara kita sebagai pasar ekspor hasil produksi mereka.

Merujuk kepada statistik ekspor impor, Indonesia memiliki ketergantungan ekpsor ke Kamboja dan ketergantngan impor dari Brunei Darussalam. Komoditas yang diekspor ke Kamboja didominasi oleh komoditas:
  1. Tobbaco and manufactured tobacco substitutes (67,92%)
  2. Paper and paperboard, articles of pulp, paper and board (6,17%)
  3. Cotton (5,05%)

Sedangkan komoditas yang diimpor dari Brunei Darussalam, didominasi oleh komoditas
  1. Mineral fuels, oils, distillation products, etc (99,46%)
  2. Iron and steel (0,39%)
  3. Organic Chemicals (0,07%)


Daya Saing Investasi Negara-negara ASEAN dan Timor Leste
Dalam ekonomi, selain ekspor dan impor, investasi memiliki peranan yang penting. Untuk menarik investasi masuk (capital inflow). Berdasarkan location theory, pengusaha (investor) akan mengambil keputusan berinvestasi di daerah atau negara yang paling baik degan mempertimbangkan beberapa faktor. Keberhasilan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap investasi, dapat diukur dan dibandingkan dengan kemudahan melakukan usaha seluruh negara (185 negara) di dunia.

Pada tahun 2013, berdasarkan kemudahan untuk melakukan usaha, Indonesia menempati peringkat 128 di dunia, Malaysia peringkat 12 dunia, dan Singapura peringkat 1 (terbaik) di dunia (lampiran 4). Secara umum, di antara negara-negara ASEAN, Indonesia berada pada peringkat 6 di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, dan Vietnam.

Penilaian dalam indeks tersebut, terdiri dari beberapa indikator, yaitu: (1) ease of doing business rank; (2) starting a business; (3) dealing with construction permits; (4) getting electricity; (5) registering property; (6) getting credit; (7) protecting investors; (8) paying taxes; (9) trading across borders; (10) enforcing contracts; dan (11) resolving insolvency.

Berdasarkan indikator di atas, secara spesifik, propinsi di Indonesia yang menyandang predikat terbaik dalam kemudahan untuk melakukan usaha yaitu Yogyakarta, Palangka Raya, dan Surakarta. Sementara itu ibukota DKI Jakarta hanya menempati peringkat ke-8, memulai bisnis di Jakarta membutuhkan 45 hari dan harus memenuhi delapan prosedur atau persyaratan (lampiran 5).

Kekuatan Pertahanan Negara-negara di ASEAN
Berdasarkan data GFP 2013, Indonesia menempati peringkat pertama sebagai kekuatan militer terbesar di ASEAN dan nomor 15 di dunia. Kekuatan militer Indonesia pada tahun 2012 naik tiga peringkat menjadi posisi 15 dari tahun sebelumnya (lampiran 6).

Secara umum, antara tahun 2011 dan 2012 tidak terdapat perubahan pada indikator kondisi geografis, jumlah tentara komponen utama & komponen cadangan, alutsista AL, serta konsumsi & cadangan minyak. Kemudian terjadi peningkatan pada indikator financial, land system, dan logistical. Namun terjadi penurunan pada produksi minyak, dan total aircraft. Jadi, agar peringkat militer Indonesia di tingkat dunia bisa menjadi lebih baik, kita perlu meningkatkan indikator yang mengalami penurunan dan atau masih tetap seperti yang telah disebutkan di atas.

Dari semua indikator yang menjadi penilaian skor PwrIndx, Indonesia unggul dalam hal manpower, resources (petroleum), logistical, financial, dan geography dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya (GFP, 2013). Namun, Indonesia masih belum unggul dalam indikator land system, air power, dan naval (lampiran 7). 

Secara sederhana, berdasarkan fakta statistik tersebut keunggulan Indonesia dalam hal kekuatan militer terbesar di ASEAN, ternyata tidak diimbangi dengan ketersediaan alutsista yang memadai. Secara agregat, alutsista AD (land system), AL (naval), dan AU (air power) Indonesia masih kalah dengan beberapa negara ASEAN yang peringkat militernya berada di bawah Indonesia.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2018, June)
Siti Badriah - Lagi Syantik