Wednesday, May 29, 2013

Skenario Jumlah Pasukan TNI Dalam Pusat Misi Pemeliharaan Dunia

Indonesia merupakan negara nomor satu di kawasan ASEAN dan peringkat 15 dari 68 negara (skor PwrIndx: 0,7614) yang memiliki kekuatan militer terbesar di dunia (Global Fire Power, 2013). Salah satu indikator dalam indeks tersebut adalah manpower. Secara detail, indikator manpower diukur berdasarkan enam sub-indikator, yaitu: (1) total populations; (2) available manpower; (3) fit for service; (4) reaching military age annually; (5) active military manpower; dan (6) active reserve military manpower.

Keunggulan Indonesia dalam indikator manpower hanya terdapat pada jumlah penduduk dan jumlah angkatan kerja, kedua sub-indikator tersebut menempati peringkat lima teratas dari 68 negara. Namun, untuk sub-indikator lainnya, jumlah tentara hanya mencapai 0,180% dari jumlah penduduk. Dengan kata lain tiap 1.000 penduduk di Indonesia hanya terdapat dua tentara. Tentu saja kondisi demikan belum menunjukkan kondisi ideal, apalagi jika dihadapkan dengan potensi tantangan, ancaman, dan bahaya yang semakin kompleks.

Untuk mengantisipasi dan mengatasi hal-hal yang mengganggu kedaulatan, dibutuhkan SDM pertahanan yang profesional baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Secara ideal, jumlah tentara perlu ditingkatkan dan kesejahteraannya dijamin. Namun, pemikiran tersebut bertolak belakang dengan strategi yang akan menyusutkan jumlah pasukan TNI secara bertahap, sehingga pada tahun 2029 jumlah pasukan diproyeksikan hanya tinggal 300.000 personil (Jakarta Greater, 13 April 2013).

Berdasarkan sejarah peperangan yang telah terjadi di dunia, minimnya SDM pertahanan tidak selalu bersifat komplementer terhadap ketersediaan alutsista (asumsi: menggunakan teknologi tinggi). Namun, kuantitas dan kualitas SDM pertahanan yang profesional dapat dipastikan menjadi komplemen dalam pengadaan (termasuk operasional) dan pengembangan alutsista.

Secara rasional, jika terjadi ancaman yang perang, maka negara akan menambah kapasitas jumlah tentaranya, termasuk dengan melibatkan komponen pendukung dan komponen cadangan sebagai alternatif. Jadi, rasio intensitas tentara dan output berupa kedaulatan NKRI memiliki hubungan positif terhadap pertahanan nasional. Hal tersebut wajar karena dengan bertambahnya intensitas SDM pertahanan akan dapat meningkatkan rasa aman dan menjadi deterrent effect untuk negara lain.

Optimalisasi SDM Pertahanan Indonesia
Dalam skala nasional, TNI sebagai komponen utama pertahanan berkewajiban mempertahankan kedaulatan NKRI. Kemudian, dalam skala internasional, TNI juga memiliki tugas pokok untuk berperan serta dalam menjaga perdamaian dunia seperti yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945. Dua peran yang sangat berbeda kepentingan tersebut membuat negara harus memiliki kapabilitas untuk mengalokasikan jumlah ketersediaan tentara agar kedua fungsi tersebut tidak saling tradeoff.

Untuk mengatasi tradeoff, perlu dibuat skenario tentang jumlah ideal tentara yang dimiliki baik pada saat damai atau perang. Alokasi jumlah tentara yang ideal menjadi penting untuk menghindari masalah pokok dalam “pasar tentara”, yaitu ketidakseimbangan antara persediaan dan kebutuhan tentara (Case & Fair, 1999: 529, dimodifikasi). Permasalahan dalam pasar tentara dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: 
  1. Persediaan lebih besar dari pada kebutuhan tentara (SARMY > DARMY).
  2. Persediaan kurang dari pada kebutuhan tentara (SARMY < DARMY).
  3. Persediaan sama dengan kebutuhan tentara, namun permasalahan terletak pada mekanisme penyalurannya (SARMY ≠ DARMY). Sehingga DARMY & SARMY tidak dapat bertemu pada tempat dan waktu yang sama. 

Bertolak dari latar belakang di atas, tulisan ini akan fokus kepada sejauh mana upaya optimalisasi SDM pertahanan di Indonesia akan berhasil, khususnya dalam peran ganda dalam menjaga kedaulatan NKRI dan perdamaian dunia. Penjelasanya akan dilengkapi dengan prediksi masalah-masalah pertahanan yang akan dihadapi oleh seluruh negara di dunia. Dalam jangka panjang, diharapkan Indonesia dapat lebih siap dalam menghadapi tantangan, ancaman, dan bahaya terkait dengan prediksi masalah yang diperkirakan akan muncul, baik skala nasional maupun global.

Kuantitas Ideal Dalam Memenuhi Peran Ganda TNI
Kondisi minimnya kuantitas tentara Indonesia di tengah luas wilayah (darat dan laut) terbesar ke-7 di dunia menjadi permasalahan tersendiri. Hal ini diperparah dengan kualitas dan kesejahteraan tentara yang belum optimal. Jika memperhitungkan tugas pokok dalam menjaga ketertiban dan perdamaian dunia, alokasi kuantitas tentara dalam menjaga kedaulatan NKRI otomatis akan berkurang (asumsi: tidak memperhitungkan masa damai dan perang).

Sejak 1 Agustus 1957 hingga 3 September 2010, TNI telah menjalankan PMPP ke beberapa negara di dunia dalam memelihara perdamaian dunia.
Gambar 1. Jumlah Personil Yang Dikirim Dalam Misi PMPP TNI, 1957-2010


Sumber: TNI Dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian, PMPP TNI 2011. Diolah.

Berdasarkan gambar di atas, selama periode 1957 hingga 2010, TNI memili kontribusi yang besar dalam menjaga perdamaian dunia. Secara agregat, jumlah pasukan yang telah dikirim selama periode tersebut adalah: (1) Kongo: 6.067 personil; (2) Lebanon: 5.743 personil; (3) Mesir: 5.355 personil; (4) Kamboja: 3.967 personil; dan (5) Bosnia: 1.190 personil.

Jika dibandingkan dengan 68 negara militer terkuat di dunia (dengan asumsi mengabaikan luas wilayah), sebenarnya jumlah tentara Indonesia tiap 1.000 penduduk bukan persoalan yang serius. Bahkan termasuk kontribusi Indonesia dalam mengirimkan TNI ke daerah konflik di luar negeri. Namun jika terjadi ancaman peperangan seperti di negara konflik maka kita harus menyediakan setidaknya 14 sampai dengan 45 tentara tiap 1.000 penduduk dan atau dengan memobilisasi sumber daya sipil menjadi sumber daya militer.

Untuk mewujudkan jumlah 14 s.d. 45 tentara bukan merupakan hal yang sulit untuk Indonesia, mengingat jumlah penduduk dan angkatan kerja yang besar. Namun kebijakan tersebut harus menggunakan asumsi tidak adanya diminishing margial of return. Tujuannya agar produktivitas tentara tinggi (walaupun dengan kuantitas yang minim) sehingga dapat melindungi dan menjaga NKRI kapan saja ketika dibutuhkan. Sebagai alternatif, dapat dilakukan wajib militer untuk warga sipil sehingga dalam proses upaya peningkatan kuantitas SDM pertahanan tidak membuat disinsentif dalam perekonomian.

Prediksi Masalah Pertahanan Masa Depan
Ke depan, Indonesia dan dunia akan menghadapi tantangan, ancaman, dan bahaya yang semakin kompleks dan diluar perkiraan saat ini. Jika disederhanakan, konflik yang timbul saat ini baik di dalam negeri maupun diluar negeri disebabkan oleh faktor ekonomi dan non-ekonomi. Secara umum, penyebab konflik tersebut saya bagi menjadi empat hal, yaitu: (1) kekeringan; (2) kelangkaan pangan; (3) krisis energi; dan (4) pelanggaran batas wilayah.

Kekeringan
Jumlah penduduk yang terus meningkat menyebabkan kebutuhan air sebagai faktor utama dalam kelangsungan hidup menjadi kian penting. Pada masa mendatang, air dapat menjadi komoditas yang menyebabkan peperangan, sehingga kelangkaan air merupakan masalah pertahanan yang penting.
Gambar 2. Urban Agglomerations by Size Class & Potential Risk of Droughts


Sumber: United Nations (2012). Department of Economic and Social Affairs, Population Division: World Urbanization Prospects, the 2011 Revision. http://esa.un.org/unpd/wup/Maps/maps_droughts_2025.htm. 

Berdasarkan peta potensi risiko kekeringan tahun 2025 di atas, jika dikaitkan dengan dengan negara-negara yang terjadi konflik. Negara Kongo, Lebanon, Mesir, Kamboja, dan Bosnia memiliki tantangan terhadap permasalahan air, baik dalam waktu dekat ataupun jangka panjang. Ketersediaan logistik berupa air sangat mempengaruhi peta kekuatan suatu negara.

Di Indonesia, terdapat beberapa titik yang akan mengalami kekeringan (terutama Pulau Jawa dan Sumatera). Selain itu, ibukota DKI Jakarta pada tahun tersebut akan berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa lebih yang juga berpotensi mengalami kekeringan.

Kelangkaan Pangan
Tiap negara yang memiliki anggaran terbatas, biasanya tidak memiliki banyak pilihan untuk memenuhi semua kebutuhannya. Kondisi tradeoff tersebut menyebabkan timbul opportunity cost yang harus dipilih. Kebutuhan utama manusia berupa pangan selalu menjadi tradeoff dengan kebutuhan dalam mengembangkan kapabilitas pertahanan (butter vs gun).

Jika mengambil sampel lima negara konflik terbesar, dimana TNI telah mengirimkan personil dalam rangka PMPP, maka kelima negara tersebut juga dapat dianalisis berdasarkan indeks ketahanan pangan. Pada tahun 2012, Kongo merupakan negara yang menjadi juru kunci (peringkat 105) dengan skor 18,4. Walapun Indonesia kaya SDA, namun ketersediaan dan aksesibilitas pangan di seluruh Indonesia belum terjamin 100%. Pada tahun yang sama, Indonesia menempati peringkat 64 (skor 46,8 skala 100,0) dari 105 negara (Global Food Security Index, 2013).

Ketidaktersediaan pangan di suatu negara mengindikasikan ketergantungan yang besar suatu negara terhadap negara lainnya. Ketergantungan tersebut bukan hanya disebabkan karena pangan tidak tersedia namun bisa juga dalam hal ketergantungan impor dengan negara yang lebih efisien dalam berproduksi. Ketika melakukan operasi (domestik dan peran PMPP di luar negeri), TNI harus memiliki logistik yang cukup untuk kebutuhan mereka dan mampu untuk menjalankan salah satu tugas dalam menyediakan bantuan makanan di daerah bencana atau perang.

Krisis Energi
Energi menjadi faktor penting dalam menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pertumbuhan ekonomi akan dapat berkontribusi pada pertahanan negara. Selama ini, minyak masih merupakan komoditas yang penting karena size dalam perekonomian (ekspor, impor, dan persentase terhadap GDP) dan minyak menjadi sumber penerimaan bagi negara tertentu.

Berdasarkan data GFP 2013, negara yang menguasai minyak yaitu negara pemilik atau produsen minyak dan negara konsumen minyak utama atau negara indusri maju. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa produsen atau pengguna minyak menjadi salah satu indikator kuatnya pertahanan militer suatu negara. 

Pelanggaran Batas Wilayah
Sepanjang sejarah dunia, konflik atau perang yang terjadi antar negara disebabkan oleh perebutan wilayah, hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang melatarbelakangi. Motivasi utama dalam pelanggaran batas wilayah karena memperebutkan sumber daya yang terdapat dalam wilayah tersebut (motif ekspansi suatu negara).

Di Indonesia pelanggaran batas wilayah seringkali terjadi terutama dengan negara yang berbatasan dengan daratan secara langsung. Memang solusi perbatasan wilayah bukan cuma dengan menjaga perbatasan semata, justru pemberdayaan masyarakat setempat dan pembangunan infrastruktur yang menunjang yang akan membuat penduduk setempat peduli terhadap pertahanan. Jika masyarakat perbatasan dan kehidupan sudah terfasilitasi dengan baik, maka negara lain juga akan sungkan untuk melakukan perluasan wilayah.

Penutup
TNI memiliki peran ganda dalam menjaga kedaulatan wilayah NKRI dan ikut berkontribusi dalam menjaga perdamaian dunia. Saat ini, jumlah tentara hanya dua dari tiap 1.000 penduduk, jumlah tersebut bisa dikatakan optimal ketika dalam masa damai. Namun, ketika perang kuantitasnya harus ditingkatkan menjadi 4 sampai dengan 45 tentara tiap 1.000 penduduk.

Pada masa mendatang, tantangan, ancaman, dan bahaya akan semakin beragam dalam bentuk yang belum dapat diperkirakan pada saat ini. Namun, berdasarkan pengalaman peran PMPP TNI di negara konflik, kita perlu memperhatikan dimensi lain dalam pertahanan negara, misalnya permasalahan kekeringan, kelangkaan pangan, krisis energi, dan pelanggaran batas wilayah. Alokasi dan distribusi jumlah personil dapat lebih diutamakan pada wilayah atau negara yang memiliki masalah-masalah tersebut.

Penguatan pada empat permasalahan di atas dapat mengantisipasi gangguan pertahanan dalam jangka panjang. Jika kondisi tersebut tercipta, peran TNI akan menjadi lebih ringan sehingga kuantitasnya tidak perlu terlalu banyak (harus disertai dengan alutsista yang modern). Dengan mengirimkan pasukan atau personil ke kancah dunia, berarti Indonesia secara tidak langsung telah menjalin kerjasama dengan negara lain.dan berperan dalam menciptakan perdamaian dunia.

0 Comment:

Post a Comment

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2019, June)
Christina Aguilera - Fighter