Friday, July 04, 2014

Masihkah Tiga Teladan Masuk Kategori SMA Favorit di Jakarta?

Pada tahun ajaran baru 2014/2015, terdapat sedikit perbedaan jalur masuk dari SMP ke SMA. Tahun ini calon siswa SMA diperkenankan untuk memilih jurusan saat mereka melakukan pendaftaran online, apakah akan memilih IPA, IPS, atau Bahasa. Selain itu, tahapan penerimaan dibagi menjadi tiga, yakni, jalur umum, jalur lokal, dan jalur umum (tahap kedua).

Untuk menentukan seorang siswa dapat diterima di suatu SMA Negeri di Jakarta, ditentukan melalui hasil skor ujian nasional. Tahun ini mata ajar yang diujikan terdiri dari empat, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Berdasarkan data dari situs PPDB, terdapat 132.157 siswa SMP atau sederajat di DKI Jakarta yang mengikuti ujian nasional.

Berikut ini adalah skor persebaran data nilai ujian nasional SMP di DKI Jakarta.
  • 0.00 s.d 5.00 = 0 siswa (0.00%)
  • 5.01 s.d 10.00 = 3 siswa (0.00%)
  • 10.01 s.d 15.00 = 5 siswa (0.00%)
  • 15.01 s.d 20.00 = 250 siswa (0.19%)
  • 20.01 s.d 25.00 = 10.305 siswa (7.80%)
  • 25.01 s.d 30.00 = 74.880 siswa (56.66%)
  • 30.01 s.d 35.00 = 36.007 siswa (27.25%)
  • 35.01 s.d 40.00 = 10.707 siswa (8.10%)

Berdasarkan data di atas, hasil yang diperoleh relatif baik, karena lebih dari 90 persen siswa memiliki nilai rata-rata di atas 6,25. Dari sekian banyak siswa yang memiliki nilai baik dan sangat baik, pasti akan memilih SMA Negeri tertentu karena alasan prestise, biaya pendidikan yang gratis, dan atau alasan lainnya. Siswa tersebut melakukan “seleksi alam” dengan “geser menggeser” peringkat dari tiga pilihan sekolah yang bisa dijadikan opsi. Secara tidak langsung, tentu saja akan timbul sekolah negeri favorit, semi favorit, hingga sekolah negeri “kasta biasa-biasa saja”.

In my heart opinion, tidak ada yang salah dari pengkotak-kotakan kasta antara sekolah favorit dan non-favorit. Andai seluruh siswa tersebut mengikuti ujian secara jujur, tentu akan tercipta persaingan sehat, yang mengarah kepada efisiensi. Masalah mulai timbul ketika “sebagian” dari sebagian besar siswa SMP menggunakan bocoran saat pelaksanaan ujian, bahkan siswa yang notabene-nya sekolah di SMP unggulan atau favorit. Tentu saja ujian dengan menggunakan bocoran akan mendistrosi “Pasar Calon Anak SMA” secara keseluruhan.

Jika kamu, Anda sebagai orang tua, Anda sebagai pengajar, dan siapa saja yang membaca artikel ini terlibat, berada sangat dekat dengan pemakai bocoran, dan atau sangat memaklumi menggunakan bocoran saat ujian nasional sama saja Anda telah melakukan korupsi. (baca artikel tentang korupsi disini).
Sebagai seorang muslim, apabila Anda menganggap makan babi haram, bagaimana mungkin Anda membiarkan korupsi (red: bocoran) tidak haram?  (Prof. M. Quraish Syihab).

Tiga Teladan, ex-RSBI yang Paling “Manusiawi”
Sebelum RSBI dihapuskan, di Jakarta terdapat 10 sekolah negeri favorit yang menggunakan kurikulum RSBI, yaitu: SMA 3 Jakarta, SMA 8 Jakarta, SMA 13 Jakarta, SMA 21 Jakarta, SMA 28 Jakarta, SMA 61 Jakarta, SMA 68 Jakarta, SMA 70 Jakarta, SMA 78 Jakarta, dan SMA 81 Jakarta. Diantara kesepuluh SMA tersebut, secara relatif, SMA 3 merupakan SMA RSBI yang paling manusiawi, karena dinilai “masuknya” lebih mudah dan iklim persaingan dalam hal akademik tidak terlalu tinggi. Bahkan, SMA 3 kini lebih dikenal dengan SMA artis, anak gaul, dan prestasi dibidang non akademik (red: ekskul). Menurut saya (sebagai salah satu orang yang mengajar di SMA 3), pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Akan tetapi, dari pernyataan tersebut juga tidak bisa dikatakan salah.

Pada dasarnya, banyak faktor untuk menentukan suatu sekolah disebut favorit atau tidak, salah satunya dengan melihat kesinambungan input, proses, dan output. Berbicara input, dalam hal ini perlu diperhitungkan kualitas anak SMP yang masuk ke suatu sekolah terkait pengetahuan dan sikap sebagai penunjang. Analisis output, dapat dilihat pada hasil ujian nasional dan seberapa banyak siswa dari SMA tersebut yang dapat diterima di perguruan tinggi favorit, baik melalui jalur tanpa tes maupun dengan tes. Sedangkan yang terpenting adalah prosesnya, ketika anak didik tersebut menimba ilmu selama tiga tahun di sekolah.

Jika berbicara SMAN 3 Teladan, memang akhir-akhir ini belum terlalu menunjukkan prestasi akademik yang menggembirakan, secara relatif jika dibandingkan dengan SMA lainnya yang berada pada satu level. Belum lagi, baru-baru ini SMA 3 dihadapkan pada kasus yang menurunkan elektabilitas SMA 3 di mata masyarakat karena meninggalnya dua orang siswa akibat (diduga) terjadi penganiayaan. Yang perlu saya tegaskan di sini, jangan mengeneralisir suatu kasus pada level SMA 3 secara makro. Terus terang, saya sedih karena ada pihak-pihak tertentu (baik teman, kenalan, dan murid dari non-SMA 3) yang menganggap saya “secara tidak langsung terlibat” karena saya juga (ikut) mengajar di sana. Padahal, kenal dengan pelakunya saja tidak. Jadi, jelas secara output dan proses masih perlu koreksi bersama dari pihak internal. 

Artikel ini akan fokus untuk menganalisis input, apakah Tiga Teladan masih dapat dikatakan favorit atau tidak. Jika berbicara input, ada beberapa SMA yang diuntungkan karena memiliki kluster yang unik sehingga potensi input SDM handal yang mereka dapatkan bisa demikian berlimpah. Misal, kita sebut saja SMA 8 punya SMP 115, SMA 28 punya SMP 41, SMA 68 punya SMP 216, dst. Tentu saja, bibit potensial tersebut akan melakukan “Bedol Desa” ke SMA yang memang dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan prestasi.

Bagaimana dengan Tiga Teladan? Apakah input yang masuk pada tahun ini sudah dapat dikatakan ok? Secara nilai akademik dapat dikatakan iya (dengan asumsi tidak ada yang menggunakan bocoran), karena nilai terendah yang diterima untuk tahun ini yaitu 8.41 (kategori IPA) dan 8.12 (kategori IPS).

Analisis dilakukan hanya menggunakan tahap 1 jalur umum saja, Saya rasa jalur ini lebih representatif menunjukkan tingkat preferensi “pilihan kesukaan” dalam menentukan sekolah ketimbang jalur lokal yang hanya boleh memilih SMA berdasarkan rayon tempat tinggal saja. Pembahasan lebih detail, dapat dilihat pada sub-judul Kategori IPS dan Kategori IPA berikut ini.

Kategori IPS
Berdasarkan data PPDB tahap 1 jalur umum tahun ajaran 2014/2015, jumlah siswa yang diterima di IPS SMA 3 Jakarta, sebanyak 71 orang, yang terdiri dari 35 orang laki-laki dan 36 perempuan. Dari jumlah tersebut, 4 orang laki-laki tidak melakukan lapor diri.

Pilihan pertama dari 71 orang yang dinyatakan diterima di SMA 3 Jakarta, hanya terdiri dari delapan SMA saja, yaitu: SMA 3 Jakarta, SMA 8 Jakarta, SMA 26 Jakarta, SMA 28 Jakarta, SMA 68 Jakarta, SMA 70 Jakarta, SMA 77 Jakarta, dan SMA 78 Jakarta.

  • Dari 71 orang yang diterima di jurusan IPS SMA 3 Jakarta, 74,65% (53 orang) memang menjadikan SMA 3 sebagai pilihan pertama mereka.
  • Selain itu, 18 orang lagi menjatuhkan pilihan pertama mereka di: (1) SMA 26, sebanyak 7 orang; (2) SMA 68, sebanyak 4 orang; (3) SMA 8, sebanyak 3 orang; dan (4) SMA 28, SMA 70, SMA 77, SMA 78, masing-masing tiap SMA sebanyak 1 orang.
  • Sayangnya, dari 71 orang yang diterima, terdapat 4 siswa yang tidak lapor diri. Tiga diantara mereka yang tidak lapor diri bahkan menjadikan SMA 3 sebagai pilihan pertama.
  • Sementara, 1 siswa yang tidak lapor diri karena “hanya” diterima di SMA 3 sebagai pilihan ketiga setelah SMA 26 (pilihan 1) dan SMA 8 (pilihan 2). Selain faktor x yang menyebabkan dia tidak lapor diri, kemungkinan terbesar anak tersebut tidak mau mengambil pilihan ketiganya karena (mungkin) hanya dianggap cadangan “yang tidak benar-benar diinginkan”.


Berdasarkan data di atas, terdapat 53 orang (74,65%) yang memang memilih IPS SMA 3 sebagai pilihan pertama mereka. Kemudian, jika 53 orang tersebut ditelaah lebih lanjut, dapat diketahui fakta selanjutnya bahwa:
  • Dari 74,65%, ternyata 20,75% (11 dari 53 orang) hanya memilih SMA 3 saja sebagai pilihan sekolah mereka yang utama. 11 siswa kategori ini tidak mencantumkan (mengkosongkan opsi) pilihan kedua dan ketiga.
  • Secara spesifik, 11 orang yang benar-benar memilih SMA 3 saja sebagai tujuan sekolah mereka terdiri dari 7 perempuan dan 4 laki-laki.
  • 6 orang lainnya (11,32%), menjadikan IPA SMA 3 Jakarta sebagai pilihan pertama, akan tetapi kenyataannya mereka diterima di SMA 3 jurusan IPS.
  • Sisanya, andai tidak diterima di SMA 3, mereka menjatuhkan pilihan kedua di; (1) SMA 82, sebanyak 16,98%; (2) SMA 1 dan SMA 60, masing-masing sebanyak 7,55%; (3) SMA 26, sebanyak 5,66%; (4) SMA 6 dan SMA 8, masing-masing sebanyak 3,77%; dan (5) SMA 4, SMA 21, SMA 22, SMA 28, SMA 31, SMA 34, SMA 35, SMA 37, SMA 54, SMA 55, SMA 68, dan SMA 112, masing-masing sebanyak 1,89%.
  • Kesimpulannya, jika tidak diterima di pilihan pertama IPS SMA 3, sebagian besar dari mereka akan berharap dapat diterima di SMA 82, SMA 1, SMA 60, dan SMA 26.

Terakhir, bagaimana dengan pilihan ketiga dari siswa kelas X IPS SMA 3 Jakarta?
  • Dari 53 orang yang memilih SMA 3 sebagai pilihan pertama, terdapat 2 orang yang tidak memilih pilihan ketiga. Jadi, 2 orang tersebut hanya mencantumkan pilihan pertama dan kedua saja.
  • Berdasarkan data, jika mereka tidak diterima di SMA 3, mereka berharap pada pilihan terakhir mereka atau pilihan ketiga di: (1) SMA 26, SMA 31, masing-masing sebanyak 9,80%; (2) SMA 60, SMA 82, masing-masing sebanyak 7,84%; (3) SMA 4, sebanyak 5,88%; (4) SMA 2, SMA 46, SMA 55, SMA 68, SMA 70, masing-masing sebanyak 3,92%; dan (5) SMA 8, SMA 23, SMA 29, SMA 30, SMA 36, SMA 38, SMA 39, SMA 79, SMA 90, masing-masing sebanyak 1,96%.
  • Berdasarkan data pilihan kedua dan ketiga, ternyata IPS SMA 82 menjadi pilihan paling favorit setelah SMA 3 Jakarta.

Kategori IPA
Masih menggunakan data PPDB tahap 1 jalur umum tahun ajaran 2014/2015, pilihan pertama siswa untuk kategori IPA yang diterima di SMA 3 Jakarta lebih beragam. Pilihan pertama mereka, meliputi: SMA 3 Jakarta, SMA 6 Jakarta, SMA 8 Jakarta, SMA 26 Jakarta, SMA 28 Jakarta, SMA 48 Jakarta, SMA 54 Jakarta, SMA 65 Jakarta, SMA 68 Jakarta, SMA 70 Jakarta, SMA 77 Jakarta, SMA 78 Jakarta, SMA 81 Jakarta, dan SMA 112 Jakarta.

Keempat belas SMA tersebut dicantumkan sebagai pilihan pertama oleh 105 siswa yang diterima di jurusan IPA SMA 3 Jakarta. Dari 105 orang, jumlah siswa laki-laki sebanyak 52 orang dan perempuan 53 orang. Sayangnya, 4 dari 53 siswa perempuan tidak melakukan lapor diri.
  • Dari 105 orang yang diterima di jurusan IPA SMA 3 Jakarta, 56,19% (59 orang) memang menjadikan SMA 3 sebagai pilihan pertama mereka.
  • Selain itu, 46 orang lagi menjatuhkan pilihan pertama mereka di: (1) SMA 8, sebanyak 9 orang; (2) SMA 6, SMA 70, masing-masing sebanyak 6 orang; (3) SMA 28, 78, masing-masing sebanyak 5 orang; (4) SMA 26, SMA 68, masing-masing sebanyak 4 orang; (5) SMA 65, sebanyak 2 orang; dan (6) SMA 58, SMA 54, SMA 77, SMA 81, SMA 112 masing-masing sebanyak 1 orang.
  • 4 siswa perempuan yang tidak lapor diri, menjadikan SMA 3 sebagai pilihan kedua dan atau ketiga setelah memilih SMA 8 dan SMA 70.

59 dari 105 siswa yang dari awal memilih IPA SMA 3 sebagai pilihan pertama mereka, dapat di-breakdown sebagai berikut.
  • Dari 56,19%, ternyata 30,51% (18 dari 59 orang) hanya memilih SMA 3 saja sebagai pilihan sekolah mereka yang utama. 18 siswa kategori ini tidak mencantumkan (mengkosongkan opsi) pilihan kedua dan ketiga.
  • Secara spesifik, 18 orang yang benar-benar memilih SMA 3 saja sebagai tujuan sekolah mereka terdiri dari 9 perempuan dan 9 laki-laki.
  • 3 orang lainnya (5,08%), menjadikan IPA SMA 3 Jakarta sebagai pilihan pertama dan IPS SMA 3 Jakarta sebagai pilihan kedua, akan tetapi kenyataannya mereka diterima di pilihan pertama, SMA 3 jurusan IPA. 
  • Sisanya, andai tidak diterima di SMA 3, mereka menjatuhkan pilihan kedua di; (1) SMA 35, sebanyak 8,47%; (2) SMA 26, sebanyak 6,78%; (3) SMA 3, SMA 6, SMA 70, masing-masing sebanyak 5,08%; (4) SMA 1, SMA 2, SMA 8, SMA 38, SMA 82, masing-masing sebanyak 3,39%; dan (5) SMA 4, SMA 12, SMA 14, SMA 22, SMA 31, SMA 49, SMA 55, SMA 57, SMA 60, SMA 68, SMA 77, SMA 78 dan SMA 90, masing-masing sebanyak 1,69%.
  • Kesimpulannya, jika tidak diterima di pilihan pertama IPA SMA 3, sebagian besar dari mereka akan berharap dapat diterima di SMA 35, SMA 26, SMA 6, dan SMA 70.


Lantas, bagaimana dengan preferensi ketiga dari siswa kelas X IPA SMA 3 Jakarta?
  • Dari 59 orang yang memilih SMA 3 sebagai pilihan pertama, terdapat 27 orang yang tidak memilih pilihan ketiga. Jadi, hanya 32 orang saja yang mencantumkan pilihan pertama hingga ketiga.
  • Berdasarkan data, jika mereka tidak diterima di SMA 3, mereka berharap pada pilihan terakhir mereka atau pilihan ketiga di: (1) SMA 60, sebanyak 15,63%; (2) SMA 35, sebanyak 12,50%; (3) SMA 1, sebanyak 9,38%; (4) SMA 26, SMA 28, SMA 68, SMA 82, masing-masing sebanyak 3,13%; dan (5) SMA 6, SMA 7, SMA 24, SMA 45, SMA 47, SMA 54, SMA 70, SMA 77, SMA 78, SMA 79, SMA 81, SMA 87, masing-masing sebanyak 3,13%.
  • Berdasarkan data pilihan kedua dan ketiga, ternyata IPA SMA 35 menjadi pilihan paling favorit setelah SMA 3 Jakarta.

Jadi, Ternyata oh Ternyata …
Setelah panjang x lebar, jadi luas banget pembahasan di atas, secara singkat akan dirangkum sebagai berikut (asumsi hanya menggunakan penerimaan tahap 1 jalur umum saja):

  • Jumlah siswa yang diterima di SMA 3 Jakarta tahun ajaran 2014/2015: IPA 105 orang (52 laki-laki dan 53 perempuan) dan IPS 71 orang (35 laki-laki dan 36 perempuan). Nb: walaupun udah seleksi alam, ternyata jumlahnya bisa balance antara cewe dan cowo, keren euy, pertanda kiamat masih lama karena jumlah perempuan belum lebih banyak dari laki-laki, wkwk.
  • Siswa yang tidak lapor diri: IPA 4 orang perempuan dan IPS 4 orang laki-laki.
  • Dari 105 siswa IPA dan 71 siswa IPS yang diterima, secara total, 63,64% menyatakan bahwa pilihan ke-1 mereka adalah di SMA 3 Jakarta.
  • 56,19% dari 105 siswa yang diterima di IPA menjadikan SMA 3 sebagai pilihan ke-1 mereka. 74,65% dari 71 siswa yang diterima di IPS menjadikan SMA 3 sebagai pilihan ke-1 mereka. Artinya, murid baru tahun ini lebih menginginkan IPS dibandingkan IPA.
  • Jadi, tanpa mengabaikan IPA, SMA 3 dapat mulai fokus melakukan spesialisasi dan pembinaan terhadap anak-anak dan pelajaran IPS karena mereka benar-benar menginginkan IPS dan SMA 3.
  • Perlu diingat, peminat IPA di SMA 3, hanya 50% + 6,19%, atau dapat dikatakan hanya separuh lebih sedikit. Pada dasarnya mereka lebih menginginkan untuk mengenyam IPA di SMA 8, SMA 6, SMA 70, SMA 28, SMA 78, SMA 26, dan SMA 68.
  • Oleh karena itu, perlu adanya suasana KBM yang kompetitif, khususnya IPA. Mereka dapat dikatakan downgrade karena tidak diterima pada pilihan pertamanya. Perlu upaya menciptakan dan mengkondisikan suasana belajar dengan SMA yang telah disebutkan di atas, dengan mengadopsi “gaya belajar lokal” SMA 3 itu sendiri.

Kesimpulannya, berdasarkan data-data dan pembahasan di atas, SMA 3 masih menjadi salah satu SMA favorit di Jakarta. Namun, predikat Teladan (menurut saya) masih harus dipertanyakan dan dibuktikan secara lebih lanjut kedepannya. Predikat teladan adalah warisan buah karya masa lalu, jika banyak prestasi dan alumni yang hebat pada masa lalu, belum tentu (berlaku sama) pada masa kini. Sayangnya kita hidup bukan untuk masa lalu, dan akan sangat lalai jika (kita hidup) hanya mengenang masa-masa kejayaan yang lalu saja. Mari kita berkontribusi aktif secara bersama-sama mewujudkan SMA 3 baru yang lebih baik, tidak hanya pencapaian non-akademik tetapi juga prestasi akademik. Jaya-jayalah SMA 3 untuk selama-lamanya.

2 comments:

  1. SMAN 3 JKT........... Nemnya makin kegusur saja ama SMAN 26 Jakarta......KALAH

    ReplyDelete
  2. 1 rayon yg sgt berat bersama SMAN 8 Bukit Duri & SMAN 26 Tebet di jalur Lokal

    ReplyDelete

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2018, June)
Siti Badriah - Lagi Syantik