Saturday, July 26, 2014

SMA Negeri di Jakarta Dalam Statistik 2014: Panduan Memilih Sekolah Tahun 2015

Sekitar separuh dari pemilih pada pemilu 2014 merupakan first voters, dan yang sebagiannya berasal dari kelompok umur siswa SMA sekarang (Prof. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Ph.D).

Beberapa puluh tahun ke depan, mereka akan mengisi berbagai posisi di segala bidang pekerjaan. Tidak berlebihan jika kita katakan bahwa sebagian nasib Indonesia mendatang ditentukan oleh eksistensi anak SMA saat ini. Oleh karena itu, pendidikan yang berkualitas wajib ditempuh oleh seluruh anak negeri, tanpa terkecuali.

Tiap orang tua berharap bisa menyekolahkan anaknya pada sekolah terbaik yang dapat mereka akses. Perihal memilih sekolah memang tidak semudah yang kita bayangkan. Hal tersebut karena perlu mempertimbangkan banyak faktor, seperti kondisi finansial keluarga, nilai ujian siswa ybs, jarak tempuh + akses transportasi, keamanan, status sosial keluarga & sekolah yang dituju, dll. Semua faktor tersebut kadang menjadikan pilihan seseorang menjadi kurang rasional, sehingga menganggap wajar statement "Sekolah di mana pun sama saja, yang penting tergantung manusianya".

Statement sekolah di mana pun sama jangan dijadikan mindset!. Bersekolah (termasuk kuliah) di sekolah A tentu berbeda dengan sekolah B. Anggep aja sekolah ibarat cowo atau cewe yang mau dijadiin pacar, apa iya semua cowo atau cewe itu sama?! Ga kan! begitu juga sekolah. Perbedaan tersebut mencakup banyak hal, bahkan perbedaan masa depan. Sebelum kita memilih sekolah, pilihlah dan upayakan dapat yang terbaik. Statement sekolah di mana pun sama, diperbolehkan berlaku (dengan asumsi) setelah kita telah mengusahakan yang maksimal tetapi hasil berbicara lain. Kendati demikian, dengan catatan kita harus bersungguh-sungguh dan berusaha mencapai level individu terbaik pada sekolah (yang menerima kita) yang sebenarnya bukan menjadi tujuan utama kita.

Beberapa Prakiraan Gambaran Umum dari Situasi dan Kondisi Penerimaan Jalur Domisili Dalam DKI Tahap 1 Umum dan Tahap 2 Lokal Pada Tahun 2013 dan 2014
Persaingan antar SMA Negeri di Jakarta dalam penerimaan siswa baru sangat kompetitif, terutama di Kotamadya Jakarta Selatan dan Jakarta Timur (baca di sini: Pola Spasial SMA Negeri Unggulan di Jakarta). Secara total, jumlah siswa yang dapat diterima di seluruh SMA Negeri di Jakarta (Tahap 1 Umum) hanya 10,53% (berdasarkan penghitungan penulis) dari total 132.157 siswa SMP atau sederajat yang mengikuti UN di Jakarta.

Proses penerimaan tersebut secara alamiah menimbulkan sekolah unggulan dan non-unggulan, walaupun pada saat ini sudah tidak ada lagi status sekolah unggulan (baca di sini: Tren Penerimaan Siswa baru dari Tahun ke Tahun) dan RSBI telah dihapuskan (baca di sini: Sekolah RSBI Dihapuskan). Berikut ini rilis statistik SMA Negeri unggulan di Jakarta tahun 2014, data diolah berdasarkan provinsi PPDB SMA Domisili Dalam DKI Tahap 1 Umum dan Tahap 2 Lokal.

Jalur Domisili Dalam DKI Tahap 1 Umum

Tabel 1. Peringkat Sekolah Negeri di DKI Jakarta (Tahap 1 Umum), 2014.


Sumber: Diolah dari data PPDB.

Pada tahap 1 umum, SMA yang mengalami penurunan peringkat paling drastis yaitu SMA Negeri 46 (zona 9, Jakarta Selatan) dan SMA Negeri 106 (zona 12, Jakarta Timur). Sedangkan, peringkat SMA Negeri 5 (zona 1, Jakarta Pusat) meningkat paling signifikan jika dibandingkan dengan SMA lainnya di Jakarta.

Penurunan drastis peringkat pada SMA 46, mungkin karena kasus yang terjadi pada bulan November 2013 tentang pembajakan bus (baca di sini: Ahok: Sekolah Negeri Bukan Untuk Siswa yang Sok!), dan pernah punya sejarah siswa yang tawuran (baca di sini: Meredam Emosi dan Belajar Kembali). Memang kedua hal tersebut belum terlalu dapat men-generalisir penyebab SMA 46 "kurang diminati secara relatif" pada tahun ini. Namun, secara preferensi, kasus per kasus yang terjadi di suatu SMA dapat menjadi pertimbangan khusus bagi siswa dan orang tua siswa untuk memilih sekolah.

Jalur Domisili Dalam DKI Tahap 2 Lokal

Tabel 2. Peringkat Sekolah Negeri di DKI Jakarta (Tahap 2 Lokal), 2014.


Sumber: Diolah dari data PPDB.

Pada tahap 2 lokal, SMA yang mengalami penurunan peringkat paling drastis yaitu SMA Negeri 55 (zona 11, Jakarta Selatan). Sedangkan, peringkat SMA Negeri 52 (zona 4, Jakarta Utara) meningkat paling signifikan jika dibandingkan dengan SMA lainnya di Jakarta.

Penurunan drastis peringkat pada SMA 55, mungkin karena gedung sekolahnya sedang direhab. Hal ini menyebabkan lokasi KBM harus mengungsi, belum lagi fasilitas (sarana dan prasarana) penunjang yang kurang memadai. Selain itu, waktu belajar pun juga kadang berubah menyesuaikan sekolah. Hal tersebut ditambah kenyataan bahwa untuk sewa "gedung baru" tentu saja orang tua siswa perlu mengeluarkan biaya tambahan (red: semacam SPP), dari yang seharusnya gratis. Berikut ini adalah curahan hati seorang siswa SMAN 55, (baca di sini: Pembangunan Gedung di SMAN 55 Jakarta).

Pada bagian awal artikel ini, telah disinggung mengenai kurang rasionalnya pilihan orang tua dan siswa dalam memilih suatu sekolah. Maksud dari kurang rasional yaitu masih banyak peserta yang mendaftar bukan pada urutan pilihan yang sesuai (misal menjadikan sekolah unggulan pada pilihan kedua atau ketiga, sementara pilihan pertamanya memiliki grade di bawah pilihan kedua dan ketiga). Artinya jika pada pilihan pertama tidak diterima, maka dipastikan tidak akan diterima pula pada pilihan kedua dan ketiga. Selain itu, banyak siswa yang hanya memilih dengan satu atau dua opsi sekolah saja, padahal sistem memperbolehkan untuk memilih tiga sekolah. Dengan tidak memanfaatkan semua pilihan, sungguh merupakan sebuah keputusan yang kurang bijak. Belum lagi, ada yang memilih sekolah dengan hanya melihat jarak dan berdasarkan opini orang lain, tidak melihat data nilai masuk dari tahun ke tahun.

Ketidakrasionalan tersebut dapat timbul karena kurangnya informasi yang diterima oleh sebagian besar siswa (dan juga orang tuanya). Selain itu, faktor coba-coba "mengadu hoki" dengan asumsi nilai tahun ini sedang turun juga selalu terjadi dari tahun ke tahun. Menurut saya, hal tersebut kurang rasional karena data historis memiliki peran penting dalam memilih sekolah.
  • Tahap 1 Umum: Perbedaan nilai masuk semua SMA Negeri di Jakarta pada tahun 2014 (jika dibandingkan tahun 2013) yaitu 2,67% (berdasarkan penghitungan penulis).
  • Tahap 2 Lokal: Perbedaan nilai masuk semua SMA Negeri di Jakarta pada tahun 2014 (jika dibandingkan tahun 2013) yaitu 0,19% (berdasarkan penghitungan penulis).

Dari data di atas, memang pada tahun 2014, pola penerimaan nilai masuk SMA Negeri di Jakarta mengalami penurunan, baik pada jalur umum (2,67%) maupun jalur lokal (0,19%). kendati menurun, persentasenya sangatlah kecil. Artinya, pada tahun 2014, pola penerimaan masih sama dengan tahun 2013. Jadi, sebaiknya orang tua siswa tetap berpedoman pada nilai tahun lalu dan jangan random plus nekat memilih sekolah bagus jika nilai anaknya tidak terlalu memadai.

Jika tidak ada faktor x lain yang sangat memengaruhi, maka fungsi matematis masuk ke suatu SMA Negeri di Jakarta pada tahun 2014 dapat disimbolkan dengan 0,19 < x < 2,67. Pada range tersebut, perubahan hanya berjalan normal dan sama seperti tahun lalu. Perubahan signifikan dapat terjadi jika suatu sekolah mengalami kasus per kasus yang luar biasa yang berkontribusi pada peningkatan atau penurunan elektabilitas sekolah tersebut. Semisal:

Pada kasus SMA 3, dalam penerimaan Tahap 1 Umum mengalami penurunan 10 peringkat. Boleh jadi dikatakan kasus kematian siswa berpengaruh terhadap preferensi pilihan sekolah. Penyebab lainnya mungkin faktor competitiveness akademik yang mulai tergerus. Namun, pada Tahap 2 Lokal, justru SMA 3 naik 8 peringkat. Kemungkinan besar karena secara relatif (berdasarkan zona), SMA 3 masih memiliki nama besar. Begitu pula dengan SMA 6 dan SMA 70 yang pasca tawuran besar, kini peringkatnya berangsur membaik.

Dominasi SMA Negeri Unggulan Sebagai Penggerak Revolusi Mental
SMA Negeri unggulan tentu saja didominasi oleh siswa yang high quality kece badai. Namun, sebelum berbicara kualitas, mari kita tinjau kuantitas. Berikut ini disajikan data jumlah siswa SMA Negeri paling banyak di DKI Jakarta.
Tabel 3. 10 Sekolah Negeri Yang Memiliki Siswa Terbanyak, 2014.
Sumber: Diolah dari data PPDB.

Berdasarkan tabel di atas, ternyata SMA 70 merupakan sekolah negeri yang memiliki jumlah siswa paling banyak di DKI Jakarta, disusul oleh SMA 78 (rank 2) dan SMA 3 (rank 3). Waduh, ngeri nih, pantesan SMA 70, SMA 6, dan SMA 46 pernah tawuran besar. Ternyata pasukannya satu angkatan aji gile! Ibarat perang, mereka itu China dan Amerika yang punya tentara banyak. Semoga ke depan, tawurannya yang lebih pake otak aja, aamiin. Hal yang menarik terjadi pada SMA 78, jika kita lihat, kuota untuk IPA diperbesar pada tahap 2 lokal, sementara pada tahap 1 umum jumlah siswa IPS-nya hampir 2 kali tahap lokal. Mungkin ini salah satu strategi yang bisa diterapkan sekolah lain untuk mendapatkan input terbaik. Lantas, bagaimana dengan kualitas? Berikut ini disajikan data 50 SMAN unggulan di Jakarta.

Tabel 4. 50 Sekolah Negeri Unggulan di DKI Jakarta, 2014.
Sumber: Diolah dari data PPDB, Tahap 1 Umum dan Tahap 2 Lokal.

Berdasarkan tabel di atas, ex sekolah RSBI (tulisan bercetak merah) di Jakarta masih menempati peringkat Top 50, dengan SMA 8 Jakarta berada pada posisi puncak (rank 1) dan SMA 3 jakarta pada urutan buncit (rank 36). Kemudian, dari top 10 sekolah unggulan, sebagian besar fokus dispesialisasikan pada jurusan IPA. Berikut ini merupakan jumlah siswa di masing-masing sekolah top 10, tahun 2014:



      
  • SMA 8, IPS 36 orang, IPA 295 orang (1:8)
  • SMA 39, IPS 33 orang, IPA 214 orang (1:6)
  • SMA 78, IPS 107 orang, IPA 292 orang (1:3)
  • SMA 28, IPS 76 orang, IPA 185 orang (1:2)
  • SMA 34, IPS 109 orang, IPA 183 orang (1:2)
  • SMA 61, IPS 73 orang, IPA 141 orang (1:2)
  • SMA 68, IPS 113 orang, IPA 188 orang (1:2)
  • SMA 81, IPS 73 orang, IPA 180 orang (1:2)
  • SMA 21, IPS 147 orang, IPA 150 orang (1:1)
  • SMA 26, IPS 111 orang, IPA 112 orang (1:1)

Berdasarkan jumlah siswa, SMA unggulan fokus dan ingin melakukan spesialisasi pada program IPA. Terkait program revolusi mental dalam debat cawapres, Jusuf Kalla pernah mengatakan harusnya lembaga perguruan tinggi sinergis dan melakukan fokus spesialisasi, misalnya UI fokus pada hal A, ITB fokus pada hal B, IPB fokus pada hal C, dst. Jika mengaplikasikan konsep tersebut pada lingkup SMA, akan ada sedikit rasa ketidakadilan.

Ketimpangan mulai muncul pada kualitas akademik (terutama jalur SNMPTN), katakanlah SMA 8, SMA 28, dan SMA 81, jika dibandingkan dengan SMA non-unggulan lain di Jakarta. Ketika mereka melakukan fokus pada IPA, tidak menutup kemungkinan akan "mengambil jatah" SNMPTN SMA lain yang berasal dari IPA, bahkan dari IPS.

Titik beratnya pada anak IPA yang mengambil jatah IPS. Secara pribadi saya tidak keberatan dengan pilihan kuliah lintas jurusan dari asal jurusan di SMA. Namun, konsep ini menyalahi spesialisasi yang dari awal sudah dibentuk). Mungkin, "pasar bebas" akan lebih fair jika melalui jalur tes atau SBMPTN, tapi tidak untuk SNMPTN.

Solusi yang dapat dilakukan, perlu intervensi antara pihak kampus dan sekolah. Kedua pihak perlu berkoordinasi agar tujuan mulia spesialisasi dapat terlaksana. Pihak kampus dapat mengintervensi berupa kuota dari SMA Negeri unggulan dan non-unggulan baik kota maupun daerah dengan mempertimbangkan unsur pemerataan. Selain itu pihak sekolah dapat menghimbau siswanya agar memilih kuliah sesuai dengan jurusan di SMA saat ini. Jelas aja banyak orang IPA yang kerja di bank, wong dari SMA aja udah "murtad" kalo gini terus kapan Indonesia punya scientist?.

Memang IPA belum tentu unggul segalanya, kemudian IPS dan Bahasa bukan jurusan yang undervalue. Semuanya memiliki keunggulan masing-masing yang perlu disinergikan. Yang jadi masalah di sini yaitu kadang ada orang tua yang memaksakan kehendak anak untuk masuk IPA atau IPS dan atau masuk ke Universitas dan Fakultas tertentu.
Bentuk bakti anak kepada orang tua bukan dengan memaksakan kehendak orang tua (red: misal wajib masuk IPA, atau harus kuliah di FKUI). Jangan memintanya untuk menjadi ranking 1, tapi suruhlah anak belajar dengan sungguh-sunguh, hasilnya serahkan kepada Tuhan. (Prof. Quraish Shihab, Ph.D)

Beberapa Potensi Jual Beli Bangku Kosong yang Mungkin Muncul di SMA Negeri Unggulan
Menurut Neraca (12/7/2014), saat ini diduga masih terjadi jual beli bangku sekolah di Jakarta (baca di sini: Tren Penerimaan Siswa baru dari Tahun ke Tahun). Dari sumber tersebut diketahui tarifnya berkisar Rp 5 juta per siswa (SD), Rp 5-10 juta per siswa (SMP), dan Rp 7,5-15 juta per siswa (SMA). Mungkin hal tersebut dapat diminalisir oleh Kadisdik DKI (Lasro Marbun) dengan menerapkan sanksi tegas berupa pencopotan kepala sekolah jika terjadi praktik jual beli bangku.

Hal yang perlu diperhatikan selanjutnya yaitu "jual beli" pasca penerimaan siswa baru telah usai. Apakah "jual beli bangku kosong" masih merupakan sebuah kecurangan atau tidak. Misal, SMA A menerima 100 orang pada tahap 1 umum, 101 orang pada tahap 2 lokal, dan 1 orang pada tahap 3 umum, sehingga total siswa yang diterima melalui domisili dalam DKI sebanyak 202 orang. Namun, jika pada tahap 1 umum dan tahap 2 lokal, katakanlah siswa yang tidak lapor diri sebanyak 7 orang, jadi siswa yang terdapat di SMA tersebut kini tinggal 195 orang. Bila 7 bangku kosong (sisa kuota) itu dimanfaatkan oleh SMA tersebut ketika pertengahan semester dan atau ketika angkatan (yang dimaksud) naik ke kelas XI dan XII, masihkah ini disebut kecurangan?.

Jika mengisi bangku kosong (red: pindah ke sekolah negeri) pada tahun berikutnya merupakan kecurangan, mungkin proses penerimaan siswa harus diperketat. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu mengadopsi perguruan tinggi, dimana tidak bisa pindah universitas (contoh: semester 1-4 kuliah di FEUI, semester berikutnya kuliah di FE UGM). Jadi, siswa yang pada awalnya tidak dapat negeri, ketika mereka kelas XI atau XII tidak bisa pindah ke sekolah negeri. Hal tersebut berlaku sama untuk sesama sekolah negeri, siswa SMA negeri X tidak bisa pindah ke SMA Negeri Y. Intinya, tidak ada status siswa pindahan pada sekolah negeri, kecuali dari negeri ke swasta.

Sekedar intermezzo untuk kelas X tahun masuk 2014! jika telah ada confirmed (dari pihak yang lebih expert) kalau pindah ke sekolah negeri bukan merupakan kecurangan, maka siswa yang tadinya tidak diterima di SMA Negeri unggulan top 10, bisa pindah ke sekolah tersebut pada kelas XI atau XII. Saya memiliki rekomendasi sekolah unggulan top 10 di Jakarta, yang masih memiliki bangku kosong karena pada saat penerimaan ada siswa mereka yang tidak melakukan lapor diri. Berikut ini datanya.

Tabel 5. Jumlah Siswa Yang Tidak Lapor Diri di SMA Negeri Unggulan (Top 10), 2014.

Wuih, tuh liat data di atas. Kalo ada yang masih ngiler sama SMA unggulan, udah deh kelas XI atau XII pindah aje. SMA 68 banyak banget tuh sampe 13 orang. Tapi yang pasti harus sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku (di sekolah tersebut) ya guys.

Penutup
Saya akan mengulangi lagi menyajikan fakta menarik dan beberapa permasalahan yang dihadapi generasi emas Indonesia (kelas X, tahun masuk 2014). Upaya ini sekaligus dilakukan sebagai panduan dalam memilih sekolah (terutama SMA) pada tahun 2015 dan tahun-tahun selanjutnya.

Pertama, situs PPDB saat ini belum mampu menjelaskan atau mensosialisasikan pemilih untuk bersikap rasional. Disamping itu, kurang pula "dimengerti", baik oleh siswa maupun orang tua tentang pemilihan jurusan. Seperti yang telah saya kemukakan, IPA masih jadi pilihan yang utama (selain IPS dan Bahasa). Singkatnya, presumption bahwa IPA adalah gen unggul telah bertengger di mindset sebagian besar pemilih.
Oleh karena itu, sebaiknya:
Dinas Pendidikan Pemprov DKI 
  • Tahun depan, tidak perlu dibuka Tahap 3 Umum, hal tersebut karena siswa yang diterima lewat tahap ini hanya satu atau dua orang, atau kurang dari 5 orang. Tahap 3 Umum memberikan harapan palsu (PHP) bagi siswa yang tidak diterima pada tahap 1 umum dan tahap 2 lokal untuk mencoba mendaftar kembali (pada sisa-sisa waktu yang sangat sedikit dengan masuknya tahun ajaran baru). Dikiranya, ini Indonesian Idol atau X-Factor yang ada wild card. Iye kali yang diterima segitu dikitnya dalam suatu tahap.
  • Agar pemilih lebih rasional, sebaiknya dibuat nilai keketatan seluruh SMA Negeri di Jakarta. Tujuannya agar siswa (dan orang tuanya) dapat memilihi SMA dengan urutan prioritas yang benar, sehingga peluang masuknya menjadi lebih besar. Caranya sangat mudah, yaitu dengan cara membagi kuota (bangku) yang tersedia suatu SMA pada tahun ini dengan jumlah siswa peminat tahun lalu (pada pilihan pertama), kemudian dikalikan 100%. Makin kecil skor yang didapat, berarti makin sulit untuk masuk ke SMA tersebut. Jadi urutan pilihan dari yang skor nya paling kecil ke yang paling besar. Kalo emang Disdik DKI dan atau tim PPDB butuh SDM buat ngolah atau nganalisis data, saya juga bersedia, hehe.

Pihak Sekolah, Setiap tahunnya, di website masing-masing sekolah, sebaiknya disajikan rangkuman statistik (data atau informasi detail dalam bentuk tabel) mengenai:
  • Perkembangan nilai sekolah dari tahun ke tahun dan prioritas pilihan SMA ke-1, ke-2, dan ke-3 dari siswa yang telah diterima. Tujuannya, kita bisa mengetahui bagaimana preferensi siswa terhadap suatu sekolah, apakah masuk kategori favorit atau tidak (baca di sini:  Masihkah Tiga Teladan Masuk Kategori SMA Favorit di Jakarta?).
  • Asal SMP dari siswa yang telah diterima. Tujuannya agar dapat diketahui dari mana saja asal SMP siswa yang diterima di suatu sekolah (baca di sini: Pola Spasial SMA Negeri Unggulan di Jakarta).
  • Tempat tinggal siswa, sehingga dapat membantu pemerintah membaca peta tempat tinggal dan tujuan sekolah siswa. Dengan begitu, diharapkan pemerintah dapat membaca data tersebut untuk mengambil kebijakan dalam upaya langkah-langkah mengatasi kemacetan.

Kedua, berdasarkan data PPDB jumlah siswa peserta UN SMP dan sederajat pada tahun 2014 sebanyak 132.157 orang. Sementara itu kursi yang tersedia untuk SMA (menurut Neraca) tahun ini sebesar 16.727 orang (12,66%) dan SMK 15.719 orang (11,89%).

Saya telah melakukan penghitungan untuk Tahap 1 Umum penerimaan SMA tahun 2014, hasilnya seluruh SMA Negeri di Jakarta (SMA 1 s.d SMA 115) menerima 10,53% siswa. Jadi, jika digabung dengan Tahap 2 lokal, kemungkinan jumlah siswa yang diterima di SMA Negeri sekitar 20-an%.

Walaupun penghitungan manual melebihi jumlah kuota SMA yang bersumber pada Neraca (berbeda sekitar kurang lebih 8%), tetapi maknanya sama. Persaingan untuk mendapatkan sekolah negeri (khusus tingkat SMA), tidak melampaui 25% dari total siswa yang ada. Artinya, persaingannya sangat sulit, jadi jangan sia-siakan kesempatan yang Tuhan telah berikan kepadamu.

Ketiga, pendidikan merupakan langkah bersama untuk menjadi lebih baik. Jangan mengotori dunia pendidikan dengan hal-hal yang tidak seharusnya. Perlu dijaga keseimbangan antara persaingan dan kerjasama.

Terakhir, apapun yang terjadi, di mana pun institusi belajar, jurusan apapun kita, percayalah semua orang tidak bisa menjadi sukses secara instan, diperlukan perjuangan yang keras.  Hidup memang tak harus dimulai dengan tertawa. Saat kita pertama kali lahir ke dunia pun, kita sudah menangis. Hidup adalah harapan, harapan yang selalu hadir seperti terbitnya mentari pagi. Sekecil apapun peran kita kelak, tetaplah menjadi bagian dari Indonesia dengan berkontribusi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

24 comments:

  1. Suka kasian sama anak yg masuk SMA Unggulan, tp bukan yg ikut seleksi dari awal tahun, jadi pindah sekolah di tengah tengah. (Misal tahun kedua nya). Kadang mereka ga bisa ngikutin atau ngejar temen2nya. Mungkin memang standard anaknya juga sudah beda.

    ReplyDelete
  2. Sebenarnya saya kurang setuju, banyak juga anak-anak yang lulus UN dengan nilai tinggi berkat contekan (bocoran), kita tidak bisa pungkirin hal itu ada setiap tahunnya dan akhirnya diterima di SMA Unggulan, sehingga menjadi kurang adil bagi sebagian yang lainnya.
    Masalah dia bisa mengikuti atau ngejar teman-temannya, seharusnya SMA yang dipredikatkan sebagai 'Unggulan' itu bisa mengadakan seleksi masuk pindahan/seleksi siswa mutasi dengan standar yang sedemikian sehingga jika siswa tersebut memang layak untuk mengikuti pelajaran dengan level yang lebih tinggi ya sah-sah saja menurut saya untuk pindah ke SMA yang lebih 'Unggulan'.
    Menurut pendapat saya, kurang adil rasanya kalau hanya menyeleksi siswa baru/pindahan hanya dari nilai UN. Apalagi UN isinya hanya pilihan ganda, kemungkinan terjadinya faktor keberuntungan sangat besar. Masih banyak aspek-aspek lain seperti track record rapor SMP 3 tahun, psikotes, kepribadian, emosional, dsb. yang menjadi faktor lebih penting dari sekedar nilai UN. Sebagian cara seperti itu sudah dilakukan SMA Swasta unggulan di Jakarta, tapi masih banyak juga SMA swasta yang hanya sekedar mencari profit (bisnis pendidikan), jadi kualitas penerimaan tidak dijaga.
    Namun ya balik lagi ke sistem yang dibuat Kemendikbud, sayangnya untuk sistem penerimaan sekolah negeri masih belum sampai kesana.

    ReplyDelete
  3. Pengalaman nih...Amit-amit deh. Masak adek gw SMP kemerin Juara teruss, rata2 UN 9,5 udah kelempar kepilihan ke 2.
    PPDB Online (Jalur Umum) 2014/2015. kasihan banget. padahal pinter banget.
    ternyata pas liat rata2 di Statistik UN Jalur Umum rata2nya tuh SMA 8 : 9,602 ... paraahhh !

    ReplyDelete
  4. 81 nilainya makin kegusur aja sama 28.
    oiya Om....SMAN Unggulan MH Thamrin Jakarta kok gak ada ?
    itu bagus banget looh om. OSN nya kemarin banyak bantu dapetin medali Emas, Perak & Perunggu ........buat kontingen OSN DKI Jakarta. Sehingga menjadi juara Umum

    ReplyDelete
  5. SMAN 8 JKT, Nemnya sangaarrrr..................

    ReplyDelete
  6. Mindset IPA masih adl gen unggul jadi pilihan Utama ? enggak juga. Buktinya gw baca di 8 BukitDuri, Juara peraih nilai UN tertinggi Nasional se-Indonesia 2014 dgn nilai 39,75 (atau rata2 9,938) dari SMPN 99 Jakarta........kok malah masuk jurusan IPS di 8.
    Gw baca arsip PPDB Online 2014 arsip yg keterima di SMA 8. Berarti mmg sdh set up Cita-Cita

    ReplyDelete
  7. SMA 13 Juga keren tu NEM nya.....hihihihihihihi

    ReplyDelete
  8. SMA 8 Bukit Duri. Muridnya Cakep-Cakep. Anaknya pinter-pinter en' diem-diem

    ReplyDelete
  9. SMA 8 JKT, kereeen. Gw sekeluarga 'ma adik2 gw bekas alumni sini.
    skrg pd di UI n ITB. Yg bungsu kuliah di Jepangi malah

    ReplyDelete
  10. SMAN 8 (2015). Barusan sy liat di website 8 (2015) ada 152 anak (44%) SNMPTN (2015) Jalur Undangan. Sumpah. Keren bett ... !!

    ReplyDelete
  11. Masa kanak-kanak adalah masa EMAS, masa yang tepat untuk mengeksplorasi "multiple intelegency" mereka. kunjungi : https://goo.gl/aHicxc

    ReplyDelete
  12. Informasinya keren dan sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  13. sekolah ketika siswa-siswinya masih bimbel di luar, di sekolahnya ga dapet ilmu dari gurunya, mending ke.. laut aje. mending bimbelnya jdi sekolah ya pak buk.. angkat tangan klo gurunya malah yg asik ngajar di bimbel, sedangkan di sekolahnya sendiri kurang diperhatiin transfer ilmunya. sedih jg klo gt org yg ga bisa bimbel karna suatu hal, dana misalnya. . ga juga sih. pendidikan paling utama dri orang tua. doa usaha, ga slamanya usaha perlu fulus yg besar.
    un, maaf.. bukan pemuja hasil itu untuk dijadikan bahan seleksi ke lembaga pendidikan tahap slanjutnya. anak ui ugm itb yg DO mengundurkan diri ga sedikit ko. alumni sma unggulan, peringkat 1 sini? adaa salah di SMAnya? SMPnya? bukan penjamin kk

    ReplyDelete
  14. mas tolong dibuat summary ppdb sma tahun 2015 ini ya terima kasih

    ReplyDelete
  15. SMA 8 Jakarta. Parah banget. PPDB 201/2016......Tahap Umum yg MIA ampuuun deh NEMnya. Paling kecil 383,5 (2015).... Gila coiy. Mana tahaaaannn. Itu sama aja rata2 NEM terendah hampir 96.
    Trus Tahap 2 Lokal paling kecil juga gila : 92,5 (2015)..... Bener2 org sakti.
    Trus Tahap 3 Umum (bangku kosong) paling kecil : 380,5. Itu mah rata2 : 95,1....
    Mesti ada Tahap apalagi ? ..... biar masuk MIA di SMA 8.....di bawah 92 aja CUMI #CumaMimpi

    ReplyDelete
  16. wah sma gue masuk 50 besar (SMA 33). gile berarti jakbar ketinggalan banget ya dari segi pendidikan dibanding selatan dan timur. peringkat 1 jakbar aja cuma peringkat 9 (SMA 78).

    ReplyDelete
  17. Selamat siang Mas Dedy Arfiansyah.

    Saya ingin menanyakan link terkait untuk mendapatkan data PPDB SMA di Jakarta.
    Hal ini saya perlukan untuk tinjauan pustaka skripsi saya.

    Selain itu, apakah ada indikator lain selain PPDB untuk menentukan kualitas sekolah?

    ReplyDelete
  18. Malam Mas Iman.

    Data PPDB tsb sy dapatkan di situs PPDB itu sendiri, silakan googling. Namun, data tsb ga selalu muncul, kadang bisa hilang untuk beberapa saat.

    Kualitas sekolah ditentukan oleh banyak faktor. Secara garis besar dapat dibagi menjadi input (nilai masuk, asal SD, dll), proses (kualitas guru, metode KBM yang digunakan, fasilitas sekolah, dll), dan output (nilai UN, siswa yang dapat diterima di PTN, dll).

    ReplyDelete
  19. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  20. Hm... sangat disayangkan ternyata sekolah yang saya tempati sekarang tak masuk dalam kategori 50 besar sama sekali. Orang tua saya sangat menyesal, padahal NEM saya termasuk cukup tinggi. Hal ini diputuskan oleh saya dan jujur saya juga menyesal kenapa mengikuti ajakan teman dan bukannya orang tua. Semester 3 nanti, mereka memutuskan untuk memindahkan saya ke sekolah yang lebih baik. Semoga saja ke depannya calon mantan sekolah saya ini akan lebih maju dari sekarang. Aamiin

    ReplyDelete
  21. Ada referensi untuk ppdb jakarta tahun 2016 ini? Krn statistik menunjukkan average turun tapi tetap saja sekolah favorit passing gradenya sangat tinggi.
    Btw, apa ada data yang bisa melihat sebaran nilai UN berdasarkan kecamatan atau lokal?
    Tks artikelnya

    ReplyDelete

Contact

Contact me:

Facebook: Dedy Arfiansyah

Linkedin: Dedy Arfiansyah

Youtube: @darfians

Twitter: @DArfians

Line: @darfians

Instagram: @darfians

Email: ianomics@gmail.com

Email: dear51@alumni.ui.ac.id

Carousell: https://carousell.com/darfians

Address:

Jl. Setiabudi II Jakarta Selatan

Work Time:

Monday - Friday, from 10am to 6pm

Phone:

+62 813 177 60 888

My Fav Song (2018, July)
Celine Dion - I'm Alive