DI TENGAH kehidupan digital, membaca justru menjadi aktivitas
yang nyaris tak terhindarkan. Orang membaca sejak bangun tidur: notifikasi
telepon genggam, pesan singkat, caption media sosial, judul berita, hingga
potongan percakapan di berbagai platform digital.
Aktivitas membaca
tampak semakin sibuk, tetapi tidak selalu diikuti pemahaman yang lebih dalam.
Perubahan itu
terlihat dari cara masyarakat mengonsumsi informasi. Bacaan semakin pendek,
cepat, dan berpindah dari satu layar ke layar lain.
Banyak artikel
disimpan untuk dibaca nanti, tetapi jarang benar-benar diselesaikan.
Buku dibeli,
ditandai, lalu berhenti di beberapa halaman awal. Di tengah arus informasi yang
bergerak tanpa jeda, perhatian menjadi semakin mudah terpecah.
Karena itu,
persoalan literasi hari ini tampaknya tidak lagi sesederhana anggapan bahwa
masyarakat malas membaca.
Orang Indonesia
membaca setiap hari, bahkan mungkin lebih sering dibanding masa sebelumnya.
Persoalannya
terletak pada kemampuan bertahan pada satu bacaan, mengikuti alur penjelasan,
dan memahami gagasan secara utuh.
Kebiasaan membaca
cepat perlahan ikut mengubah cara masyarakat menyerap pengetahuan. Ringkasan,
poin-poin singkat, dan cuplikan informasi menjadi semakin dominan.
Tidak sedikit orang
merasa cukup memahami suatu isu hanya dari potongan video, utas media sosial,
atau beberapa slide penjelasan. Bacaan panjang mulai dianggap terlalu lambat di
tengah ritme digital yang serba cepat.
Padahal, membaca
mendalam membutuhkan proses yang berbeda.
Ada kesabaran untuk
mengikuti argumen secara runtut, memahami konteks, dan mempertimbangkan
berbagai sudut pandang.
Kemampuan semacam
itu tidak terbentuk dari informasi yang terus dikonsumsi secara sepintas.
Ketika masyarakat
semakin terbiasa membaca sekilas, ruang untuk mencerna persoalan secara utuh
ikut menyempit.
Dampaknya tidak
berhenti pada kebiasaan membaca, tetapi juga memengaruhi cara memahami
persoalan sehari-hari.
Banyak isu publik
akhirnya diperdebatkan hanya dari potongan pernyataan yang beredar cepat di
media sosial.
Persoalan ekonomi,
politik, hingga kebijakan publik sering disederhanakan menjadi kalimat pendek
yang mudah dibagikan dan memancing reaksi cepat.
Akibatnya, ruang
untuk memahami persoalan secara lebih jernih menjadi semakin terbatas. Orang
lebih cepat membentuk pendapat sebelum membaca penjelasan lengkapnya.
Kesabaran untuk
memeriksa data, melihat hubungan sebab-akibat, atau mempertimbangkan konteks
perlahan berkurang.
Padahal, banyak
persoalan publik tidak pernah benar-benar sederhana.
Kecenderungan itu
juga terlihat dalam data internasional.
Jika skor membaca
PISA dipadukan dengan produktivitas tenaga kerja antarnegara, tampak pola yang
cukup konsisten: negara dengan kemampuan membaca lebih tinggi umumnya memiliki
produktivitas yang lebih besar.
Polanya bergerak
dari kelompok negara dengan literasi dan produktivitas rendah menuju kelompok
negara dengan literasi dan produktivitas lebih tinggi.
Indonesia masih
berada pada kelompok negara dengan kemampuan membaca dan produktivitas yang
relatif rendah.
Hubungan itu memang
tidak dapat disederhanakan sebagai sebab-akibat langsung.
Namun, pola tersebut
menunjukkan bahwa kemampuan membaca bukan sekadar persoalan akademik, melainkan
berkaitan dengan kapasitas memahami informasi, mengolah pengetahuan, dan
mengambil keputusan secara lebih baik.
Kondisi ini penting
dibaca sebagai peringatan. Literasi yang lemah bukan hanya membuat orang sulit
memahami bacaan sekolah, tetapi juga membatasi kemampuan kerja, adaptasi
teknologi, dan partisipasi dalam ekonomi yang semakin bertumpu pada
pengetahuan.
Tantangan literasi
hari ini karena itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan ajakan membaca.
Di tengah penggunaan
internet dan media sosial yang terus meningkat, banyak platform digital
dirancang untuk mempertahankan perhatian selama mungkin melalui arus konten
yang cepat dan terus berganti.
Dalam situasi
seperti itu, bacaan panjang semakin sulit bersaing dengan informasi singkat
yang dapat dikonsumsi dalam hitungan detik.
Di saat yang sama,
perkembangan kecerdasan buatan membuat informasi menjadi semakin mudah
diperoleh.
Ringkasan buku,
penjelasan materi, hingga jawaban atas berbagai pertanyaan kini dapat
dihasilkan dalam waktu singkat.
Karena itu,
tantangan literasi tidak lagi sekadar mencari informasi, melainkan
mempertahankan kemampuan memahami persoalan secara mendalam.
Pemerintah juga
perlu mulai melihat literasi sebagai bagian dari ekosistem digital, bukan
semata urusan buku cetak dan perpustakaan.
Selama ini, ruang
digital lebih banyak dipenuhi konten singkat yang mengejar perhatian cepat.
Karena itu, platform
pendidikan, media publik, dan layanan digital pemerintah dapat mulai
memperbanyak format penjelasan mendalam yang tetap ramah dibaca di ruang
digital, seperti serial esai populer, kelas bacaan daring, atau konten
pengetahuan berformat panjang yang disajikan secara bertahap.
Pendekatan semacam
ini lebih realistis dibanding sekadar mengajak masyarakat mengurangi penggunaan
gawai, karena kebiasaan membaca hari ini memang telah berpindah ke ruang
digital.
Tantangannya bukan
mengembalikan masyarakat ke cara membaca masa lalu, melainkan membangun
lingkungan baru yang membuat bacaan panjang tetap punya tempat di tengah
perubahan teknologi.
Pada akhirnya,
kemampuan membaca mendalam mungkin akan menjadi salah satu keterampilan paling
penting di tengah arus informasi yang semakin bising.
Ketika jawaban
instan tersedia di mana-mana, kemampuan bertahan pada satu bacaan, memahami
konteks, dan mengikuti alur pikiran secara utuh justru menjadi semakin
berharga.
Hari Buku Nasional dapat menjadi pengingat bahwa membaca bukan hanya soal menambah informasi, tetapi juga menjaga kemampuan berpikir secara jernih dan utuh.
Penulis: Dedy Arfiansyah
Editor: Ferril Dennys
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Artikel ini telah tayang di Kolom Kompas pada tanggal 12 Mei 2026
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

0 Komentar